Hujan turun perlahan sejak sore, seperti biasa, tanpa aba-aba. Aku duduk di ruang tamu, menggenggam secangkir teh hangat yang sudah tak lagi mengepul. Di luar, lampu jalan mulai menyala satu per satu. Ada ketenangan yang lembut, tapi juga sunyi yang menggema terlalu dalam. Kadang, aku membayangkan suara masa lalu seperti hujan: tidak pernah berteriak, tapi selalu terdengar jelas. Hari ini, aku kembali membuka kotak kecil di lemari—kotak yang dulu sudah pernah ingin kubuang, tapi tak pernah benar-benar tega. Isinya tetap sama: tiket bioskop, selembar foto, kunci gantungan, dan sebuah notes kecil berisi coretan tangannya. Semua milik Revan. Semua yang sudah tak ada gunanya, tapi masih terlalu bermakna. “Aku udah janji sama diriku sendiri buat nggak buka ini lagi,” gumamku, lirih. Tapi ak

