(Sudut Pandang Revan) Aku duduk di balkon apartemen, memandangi kota yang perlahan ditelan malam. Lampu-lampu jalanan berkedip di kejauhan, samar seperti ingatan yang mulai pudar tapi tak pernah benar-benar hilang. Di dalam, istriku tertidur lebih awal malam ini. Katanya lelah. Tapi aku tahu ada jarak yang tak kasatmata di antara kami akhir-akhir ini—dan aku tak yakin bisa menyalahkannya. Sudah seminggu sejak aku membaca surat dari Aleta. Tapi kalimatnya masih tinggal di benakku seperti gema yang enggan reda. “Jika waktu bisa bicara, aku harap ia akan membisikkan padamu semua hal yang tak sempat kukatakan.” Aku nyaris bisa mendengar suaranya mengucapkan kalimat itu. Penuh luka, tapi juga penuh keberanian. Aku menyesap kopi yang sudah dingin. Aneh. Dulu Aleta selalu cerewet soal kebia

