Bab | 17

1102 Kata
Proses pemotretan kini selesai, Brendy sedikit lelah karena hampir beberapa jam berpose di depan fotografer. Ia menyenderkan kepalanya di tembok dengan duduk di kursi putih yang sepi. "Hai." ucap Ale melangkah mendekati gadis itu. "Ale." Brendy menoleh ke sumber suara. "Bagaimana apa kau menyukainya?" Tanya Ale. "Tidak sama sekali." Brendy mengelengkan kepala pelan. "Aku menemukan map pink punyamu Brendyz sekarang kau tidak perlu mencari pekerjaan, karena aku sudah mencarinya untukmu." Ucap Ale duduk di sebelah Brendy. "Ale dengar! jangan bersikap baik kepadaku karena itu tidak akan mengubah semuanya." mata yang tadi menatap entah kemana, kini menjadi menatap lelaki di samping nya itu. "Aku mengerti dan aku sadar bahwa insiden kemarin sangat melukai dan menyakiti mu, setiap detik aku tidak bisa bernafas lega karena setiap detik aku akan merasa bersalah bahkan detik ini juga." Ale memegang kedua pundak Brendy Miru. Gadis itu hanya diam saja mendengar itu semua. "Katakan dimana kesalahanku? Aku memohon maaf padamu, jika dimatamu masih bersalah, baiklah katakan, aku akan mencoba memperbaiki nya Brendy." kepala Ale sedikit melihat kebawah karena Brendy yang menunduk. "Kenapa kau diam saja? katakan hukuman apa yang pantas untukku?" Kini Ale berganti memegangi kedua tangan gadis itu. "Lepaskan aku!" ronta Brendy. Drt...drt...drt..... Suara ponsel Brendy bergetar. "Hallo Brendy, apa Ale menyakitimu?" suara Adra memotong pembicaraan mereka berdua. "Tidak Adra." balas Brendy. "Kenapa lama sekali? cepatlah kembali! aku cemas memikirkan mu Brendy." suara Adra dari telepon. "Baik Adra aku akan segera-" ucap Brendy terpotong ketika Ale merampas ponsel dari tangan Brendy. "Tenanglah kakak, aku akan mengantar nya dengan selamat." ucap Ale dan langsung mematikan telepon nya. "Kau ini tidak sopan Ale." Brendy memarahi lelaki itu karena merampas ponselnya tanpa izin. "Sudah larut bisakah kita kembali saja?" Ucap Brendy. "Kita belum selesai pembicaraan tadi." singgah Ale mematikan sambungan telepon. Brendy mengabaikan kata-kata Ale, ia langsung berdiri dan berjalan menuju mobil, dengan terpaksa Ale mengikutinya dari belakang. "Brendy tunggulah aku!" teriak Ale. Ketika sudah sampai di depan mobil, tiba-tiba sebuah motor melaju kencang, Ale yang melihat mobil itu langsung berlari menghampiri Brendy menarik tangan nya dan memeluknya hingga keduanya terjatuh dengan posisi Ale di bawah Brendy di bawah. "Aaahhhh." teriak wanita itu. "Awas....." Teriak Ale dengan menahan bobot tubuh Brendy, dan tangan Ale kini tergores jalanan aspal kasar, membuat tangannya sedikit terluka tentu raut wajah Ale yang sedikit meringis menahan kesakitan. "Ale apa yang terjadi?" Brendy Menatap Ale bingung. "Apa kau tidak lihat Brendy? Kau hampir tertabrak dan aku menyelematkan mu."  Ale berbicara sembari menahan sakit. "Cepat bangun Brendy kau ini berat sekali." ujar Ale. "Ah.. Ale maafkan aku." Brendy mencoba bangun dari pelukan itu. Ale menahan sakit di tangannya yang memberet dan sedikit mengeluarkan darah. Brendy mencoba membantu Ale berdiri, dengan tenaga yang dimilikinya dan mencari tempat duduk. "Ale bersabarlah! aku akan membeli obat." ucap Brendy hendak melangkah pergi namun tangan nya di cegah oleh Ale dengan tangan satunya yang tidak terluka. "Jangan pergi Brendy! aku tidak ingin kau ceroboh lagi."  Ucap Ale mengengam tangan mungil itu. "Tanganmu terluka Ale." dengan terpaksa Brendy duduk di samping lelaki itu. "Tidak sakit, tidak akan sakit jika ini untuk melindungi mu." ucap Ale masih meringis kesakitan. "Aku akan meminta bantuan John dan Josh." Brendy mengamati luka ditangan Ale yang cukup serius walaupun tidak begitu parah. "Untuk apa?" Tanya Ale. "Ya Ale, kita akan pulang dan lukamu akan segera sembuh nanti." Brendy Meniup beret luka di tangan Ale. "Kita tidak akan pulang Brendy." balas Ale. "Kenapa?" "Cobalah lihat Brendy bagaimana aku bisa menyetir jika dengan keadaan seperti ini." Kata Ale sambil memajukan tangan ke wajah gadis itu. "Aku akan meminta bantuan John dan Josh untuk mengantar kita pulang." sahut Brendy. "John dan Josh sudah pulang dan yang lainya, aku juga tidak seberapa akrab, lalu fotografer yang memotret dirimu pasti sibuk dengan urusannya." papar panjang lebar Ale. "Lalu kita akan kemana?" "Kita akan mencari hotel di dekat sini, untuk urusan mobil biar Vick dan Kennedy mengurus ini semua." Ucap Ale tersenyum kepada Brendy. Brendy yang tadinya mencoba mendinginkan luka Ale langsung melemparkan tangan Ale "Awww s**t ...." Rengek Ale. "Apa?? Tidak Ale, aku akan menelpon Adra." Brendy mencari ponsel nya tapi ia tidak sadar bahwa ponselnya tadi di rampas Ale. "Tidak usah! Adra ada meeting dan itu sangat penting." ucap Ale berbohong. "Ale dimana ponselku?" Brendy Menggerayangi tubuhnya sendiri. "Baterai ponselmu habis lalu tadi aku buang." tentu Ale berbohong mana mungkin batre habis ia buang. "Apaaaaa??" Brendy Memukul pundak Ale dengan sedikit kasar. "Aahww.. sudahlah kita tidak ada waktu, cepat jalan sebentar nanti kita akan menemukan hotel atau motel, yang penting saat ini adalah bagaimana kita bisa istirahat." celoteh Ale panjang lebar dengan memegangi tangan satunya yang terluka. Keduanya berjalan ditemani matahari terbenam, menandakan hari telah sore, angin bersepoi berirama menambah kehangatan kedua orang  tersebut. Tak perlu berjam-jam mencari nya, kini Ale dan Brendy sudah di depan resepsionis hotel tersebut dan menyewa 1 kamar. Mereka berdua pun memasuki kamar. "Tunggu Ale, kenapa tidak dua kamar?" Suara pelan di telinga Ale. "Uangku tidak cukup Brendy menyewa dua kamar." mana mungkin pemilik perusahaan tidak punya uang ...itu hanyalah kebohongan semata yang di lontarkan oleh Ale. "Apakah kita berdua tidur disini?" Ucap Brendy Dengan mengibaskan selimut nya. "Ya." balas Ale singkat. "Brendy tunggulah sini, jangan kemana-mana!" perintah Ale dan langsung pergi menutup pintu. Brendy hanya menuruti perintah nya dengan duduk di kasur yang sudah siap. 15 menit kemudian... Lelaki itu datang membawa dua kantong plastik bewarna putih di tangan kirinya, dan satu kantong plastik merah yang isinya seperti box makanan. "Apakah lama?" Ale yang kini berdiri di depan Brendy. "Apa itu?" Tanya gadis itu agak memundurkan kepala. "Ini aku membelikan pakaian untukmu, cepat gantilah! dan yang ini makan malam untuk kita." Ucap Ale menaikan tangan kiri. "Kau bilang tadi tidak punya uang"? Sahut Brendy Tersenyum masam. "Aku hutang." singkat Ale. "Aku bukan anak kecil yang bisa kau bodohi okey? " Brendy kesal Mengerucut kan bibir. "Sudahlah untuk apa berdebat tidak penting, cepat ganti pakaian di kamar mandi." tindas Ale. Brendy mengambil kantong plastik yang berisi kaos biasa lalu berjalan menuju kamar mandi. "Kau tidak ganti?" Brendy melangkah keluar dari kamar mandi. "Bagaimana aku bisa ganti jika tangan kanan ku terluka."  Ale memijat tangan kanan dengan tangan kirinya. "Apa kau keberatan jika aku meminta bantuan padamu?" Mata Ale melirik ke arah Brendy. Brendy tidak ingin berlama-lama melihat muka lelaki itu, tapi bagaimana pun juga tanpa Ale yang menyelamatkan nya mungkin ia yang di posisi tersebut bahkan lebih parah dan juga tangan nya terluka karena dirinya. "Apa?" Dengan nada lemas. "Buka lah bajuku!" Ale menegapkan d**a nya seakan anak kecil yang di mandikan oleh ibunya. "APAAAAAA?" Kini bukan nada lemas melainkan nada syok yang di lontarkan Brendy. ______________________________________
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN