Di dalam ruangan rias John dan Josh sibuk dengan aktifitas nya masing-masing, John mendandani Brendy dengan keahliannya, sedangkan Josh mencari ukuran baju yang pass bentuk tubuh, wajah, dan tema untuk Brendy.
"Jadi kau kekasih nya Ale ya bery?" Tanya John dengan mengulas kan blush-on di pipi Brendy.
"Brendy John bukan Berry." Brendy kesal membenarkan perkataan John memanggil namanya yang salah.
"Ya Brendy, apakah dirimu kekasihnya?" Kini John mengibaskan bedaknya untuk sentuhan pelengkap.
"Tidak .... sama sekali tidak... John, tolong beritahu aku kenapa Ale membawa aku ke sini?" tanya Brendy masih dengan mata tertutup karena John yang menyuruh.
"Menurutmu?" Balas John.
"Entahlah John." Balas Brendy dengan membuang nafas.
"Selesai." ucap John ketika selesai melapisi bibir Brendy dengan lipstik.
Tiba-tiba Josh datang dengan membawa gaun biru yang jatuh di bagian pundak dengan adanya tali sebagai hiasan.
"Oh no.. jangan bercermin dulu babe." John memutar badan Brendy ketika ia membuka mata dan ingin bercermin.
"John berikan baju ini! Berdy memakai ini segera!" Josh memberi sebuah gaun biru kepada John.
"Brendy ..bukan berry atau berdy!" sahut Brendy semakin kesal.
Setelah Brendy berganti pakaian di ruang ganti, ia langsung keluar menemui John dan Josh yang tidak jauh dari ruangan itu.
"Kau sungguh cantik Brendy." John tersenyum melihat Brendy sangat cantik dengan make up yang tidak terlalu menor di wajah.
"Sudah kuduga bahwa baju itu cocok untukmu." Josh menatap kagum dari atas sampai bawah.
Setelah hampir 1 jam Ale menunggu Brendy, di ruang rias ternyata ia tertidur karena ruangan yang mendukung sepi dan dingin menyatu jadi satu yaitu ngantuk.
"Ale bangunlah!" Josh menggoyang goyangkan pundak Ale.
Ale terbangun diikuti sedikit mengeliat gaya khas bangun tidur.
"Hoamzzzz." uap Ale.
"Kau lama sekali Josh sehingga aku tertidur." Ale mengedipkan mata mencoba menormalkan penglihatan nya.
Plok plok plok plok plok plok suara sedikit tepuk tangan yang pelan, Josh memberi kode untuk John.
Dan seketika itu John membawa Brendy keluar dari ruang rias, ia menuntut pelan Brendy berjalan.
Ale yang sedari matanya berat dan mengantuk sekarang menjadi membelakakan mata melihat apa yang ia lihat adalah Brendy Miru.
"Apa yang kau lihat Ale? mereka berdua tidak mengizinkan diriku bercermin." pertanyaan Brendy di lemparkan kepada Ale.
"Aleeeee." teriak Brendy.
"A..ah..iyaa.. kau sangat cantik." Ale meneguk ludahnya sendiri.
"Ehemm.. lalu kita kemana?" Brendy yang sedikit malu.
Mana mungkin ia tidak tahu, ketika John merias dirinya, dari gerak gerik jari John sebenarnya Brendy mengetahui bahwa make up nya adalah make up sentuhan tertata, tapi Brendy hanya masa bodoh dengan itu, toh dia bercermin atau tidak sama saja... sama-sama cantik menurut dia.
"Kalian berdua pergilah! nanti masalah uang kita urus di belakang." Ale mengusir dua saudara itu dan mereka berdua pergi.
"Brendy kau sungguh cantik." Ale berjalan mendekati gadis itu.
"Stop! jangan melangkah lagi Ale! Sekarang beritahu aku apa maksudmu?" Tanya Brendy di berikan kepada Ale.
Ale menuntut gadis itu dengan hati-hati, dan menghampiri 1 ruangan yang berisi beberapa fotografer profesional.
"Begitu cantik." Ucap beberapa fotografer memuji kecantikan Brendy.
Ale terkekeh kecut, "ya. Dia adalah ke.ka.sih.ku ini memang cantik." Ucap Ale begitu bangga tersenyum ke arah Brendy.
"Ale apa yang kau lakukan? Apa kau mau menjual ku?" Tindas Brendy berbisik kepada Ale.
"Kau akan menjadi seorang model Brendy." ucap santai Ale.
"Apaaaaa?" Tak percaya, namun Brendy berusaha menyembunyikan rasa histeris itu di depan para fotografer.
"Kau cukup bergaya bisa kan?" Ucap Ale dengan tersenyum kepada di depan fotografer.
"Ale kau sakit jiwa." Geram Brendy mencubit sedikit pinggang Ale.
"Ahw.. sudahlah! kita tidak punya banyak waktu." Balas Ale sambil menahan ringgis cubitan Brendy.
"C'mon! kita disini tidak untuk melihat kalian hanya saling mencubit?" Ucap salah satu fotografer yang membawa kamera.
"Ah ya sayang.. sekarang kau disana!" Perintah Ale tersenyum.
"Apa maksudmu Ale,apa maksud semua ini apa?" Batin Brendy pusing memikirkan hal itu.
Dengan kaki yang sedikit gemetar, hati yang begitu meresahkan, perasaan yang bercampur aduk, Brendy melangkah ke sebuah background seperti sebuah altar yang di bawahnya sudah penuh dengan bunga-bunga dan disitu terdapat sebuah satu kursi besar seperti singgasana ratu.
Beberapa penata gaya dan beberapa fotografer memberi sedikit arahan gaya kepada Brendy, tak harus menunggu lama dengan cepat Brendy sudah tidak sedikit kaku dari gaya sebelumnya.
"Tahan one...two.. three." ucap salah satu fotografer.
Lampu flash menerangi wajah bak bidadari itu, beberapa fotografer rela bergaya jongkok maupun duduk demi menghasilkan sebuah hasil yang sempurna dan penempatan angel yang tepat.
"Aleeeee... Aku akan membunuhmu setelah semua ini." Batin Brendy sudah tak sabar.
______________________________________