Brendy melepaskan kedua tangan yang menggenggam tangannya.
"Hentikan! Adra aku ikut denganmu ayo kita pergi." Brendy menoleh ke arah Adra setengah mendongak kan kepala.
Adra tersenyum karena Brendy lebih memilih nya.
"Brendy kumohon..." Ucap Ale dengan suara lirih.
Adra mengabaikan adiknya, ia menarik tangan gadis itu berjalan menuju mobil silver dan membuka kan pintu untuk Brendy dan diikuti dengan dia yang masuk di sisi berlawanan untuk menyetir.
Ale hanya melihat nya dengan tatapan sendu, dari luar ia menatap gadis yang berada di dalam mobil kaca duduk bersama sang kakak bersebelahan.
Hingga mobil silver itu berbelok dan menyisahkan sedikit butiran butiran debu yang terbang akibat gesekan ban mobil.
Ale tidak ada tujuan lain saat ini, selain menuju kantor karena usaha membawa gadis itu telah gagal maka ia memutuskan untuk pergi ke kantor.
******~~~********
"Adra kita mau kemana?" tanya gadis di sebelah.
"Ikuti saja, kita hampir sampai." Ucap Adra dengan posisi fokus menyetir.
15 menit kemudian Adra sudah sampai di sebuah gedung yang besar walau bukan yang terbesar di Los Angeles tetapi cukup besar.
Gedung itu adalah sebuah perusahaan mendiang ayah Adra dan Ale suaminya Shilla yaitu Aric Zallio.
Saat mereka berdua memasuki pintu utama, Brendy menjadi sorotan pegawai yang bekerja di perusahaan itu, karena yang berjalan di samping nya adalah bos nya, yaitu Adra Zardian pemilik atau pewaris saham utama dari perusahaan A&A Group.
"Semua orang memandangku Ar, apa aku terlihat buruk?" Kata Brendy berbicara pelan sambil menunduk.
"Tentu tidak, dia hanya mengagumi kecantikan mu." goda Adra sambil tersenyum.
"Adra... Aku serius." Ucap Brendy dengan wajah tersipu malu.
Adra dan Brendy kini sampai di sebuah ruangan besar tentu itu adalah ruang kerjanya, kini mereka berada di sofa, disamping kiri sudah ada Adra.
"Ar mengapa kau mengajakku kesini?" tanya Brendy kebingungan.
Adra mendekatkan wajah ke gadis itu, sehingga gadis itu sedikit memundurkan kepalanya.
"Sekarang kau akan menjadi sekretaris ku okey?" Suara Adra terdengar lembut.
"Apaaaaa?" Brendy Membulatkan mata.
"Yaaa, benar Brendy, kau akan menjadi sekretaris pribadiku sekarang apa kau mau?" Tanya Adra.
"Ta...tapi...aku sudah bilang tidak bisa kan Ar." menolak ajakan Adra untuk ke tiga kalinya.
"Tak apa Brendy aku akan mengajarimu." paksa Adra.
Plok plok plok
Tiba-tiba ada suara tepuk tangan dari arah belakang.
"Ale?" Kedua orang itu syok bersamaan saat Ale sudah berada di belakang.
20 menit yang lalu....
Ale berdiri di depan ruang kerja nya, di jendela ia melihat Adra membawa sosok wanita di kantor yaitu Brendy.
"Kenapa kakak membawa dia kesini?" dengan melihat kedua orang tersebut.
"Sebaiknya aku masuk ke ruangan kakak, kemana lagi jika tidak membawanya ke ruangan nya?" Ucap Ale menebak.
Dengan cepat lelaki itu berjalan ke ruangan sang kakak, dan bersembunyi di balik lemari besar penuh dengan buku-buku.
20 menit End.....
Plok plok plok
Tiba-tiba ada suara tepuk tangan di belakang.
"Ale?" Kedua orang itu syok bersamaan saat Ale sudah berada di belakang.
"Kau begitu lancang sekali Ale, memasuki ruanganku tanpa izin." ucap Adra.
Adra berdiri hendak memukul adiknya tapi Brendy melerai dan berdiri di hadapan Adra.
"Sudah hentikan! kalian sudah dewasa, tapi seperti anak kecil." lerai Brendy.
"Minggir lah Brendy, tangan ku sudah tak kuat ingin melanyutkan kepalanya yang bodoh itu." Adra yang kian emosi.
"Brendy ikutlah denganku." ajakan Ale dengan memohon.
"Tidak." balas singkat Brendy.
"Kau dengar itu? Dia sama sekali tak ingin denganmu." ejek Adra.
Lalu Ale menunjukan map ping itu yang berisi surat lamaran milik gadis itu dan mengangkat di atas.
"Hmmm kau yakin tidak ikut denganku?" menggoyangkan map itu.
"Itu milikku, berikan padaku!" tangan Brendy ingin mengambil namun Ale menghindari itu.
"Berikan map nya atau aku-" ucapan Adra terpotong.
"Atau apa?" Ale menaikan alisnya.
"Sudah hentikan! kalian ini seperti anak kecil sekali." teriak Brendy.
"Sadarlah Brendy! ini kau yang membuat ku seperti ini." Ale tak mau kalah.
"Bukan karena dia.. tapi karena dirimu Ale." Adra tersenyum mengejek.
"Sudah diam! Ale kembalikan map itu!" pinta Brendy.
"Akan aku kembalikan....tapi....kau harus ikut denganku." Syarat yang di ucapkan Ale.
"Tidak.. apa kau punya syarat lain?" Tanya Brendy kesal.
Ale mencoba menimang nimang pertanyaan Brendy.
"Hmm tidak ada.. hanya itu.. percayalah aku tidak akan menyakitimu." Terlihat wajah Frustasi Ale karena Brendy susah sekali di ajak kompromi.
Gadis itu tidak ada pilihan lain selain menuruti kehendak Ale, dia tidak ingin melihat kedua saudara ini ribut ditambah ini adalah kantor.
"Baiklah aku ikut denganmu." Brendy tidak punya jawaban lain.
Hampir 30 menit Adra dan Ale bertengkar, Adra yang tidak ingin gadis itu pergi dengan adiknya mau tidak mau harus membiarkan mereka pergi, lagipula Adra yakin tak mungkin dia menyakitinya lagi.
~~~~~~~~~*********~~~~~~~~~~
"Sampai." Ale mengerem mobilnya tepat di tempat yang ia tuju.
"Dimana ini?" gadis itu kebingungan.
Tanpa menunggu lama Ale mengajak Brendy ke sebuah studio yaitu dimana disana terdapat fotografer profesional yang hasilnya sangat menakjubkan, dengan para model-model yang sungguh bisa di bilang sempurna untuk ukuran paras dan tubuh yang indah.
"Ini...ini tempat pemotretan kan?" Ucap Brendy dengan menoleh ke kiri dan kanan.
"Bukan Brendy." jawab Ale.
"Lalu?" Brendy menghentikan langkah kakinya.
"Tempat pembuangan buaya.... jelas ini adalah tempat pemotretan Brendy, apa dirimu tidak lihat di sekeliling sini ada beberapa model dan fotografer?" lalu Ale berjalan ke depan diikuti Brendy di belakang.
Beberapa saat kemudian....
Ada dua orang lelaki yang sedikit menyukai gaya perempuan John dan Josh mereka berdua kakak beradik John sebagai perias model dan Josh sebagai penata pakaian.
"Apakah gadis ini?" John menatap dari atas sampai bawah dengan mengigit alat Make up di bibirnya.
"Ya John." Ale berdiri
"Josh menurut mu bagaimana?" John Menatap ke saudaranya.
"Baiklah kita akan mencoba terlebih dahulu." Mereka terus memandangi lekuk tubuh Brendy.
"Brendy berdirilah! kenalkan ini John dan Josh." Ale memperkenalkan mereka berdua kepada Brendy.
"Ya tadi aku sempat dengar namanya." Brendy berdiri dan memberi jabat tangan kepada mereka.
"Ya sudah ayo cepat lakukan!" perintah Ale dengan sedikit menaikan volume suaranya.
Dengan cepat John dan Josh membawa gadis itu ke dalam mengandeng nya dengan ke kiri dan ke kanan.
"Ale apa yang kau lakukan?" Teriak Brendy ketika dua orang itu membopong tubuhnya.
Hingga kini Brendy benar-benar di bawa di sebuah ruangan dan menghilang Ale hanya tersenyum kecil.
"Kau tahu Brendy semakin kau mencoba menjauhiku semakin membuatku merasa bersalah atas semua ini" gumam Ale suara lirih.
"Berapa banyak air mata yang tumpah di saat itu selalu mengingat kan ku betapa jahatnya aku kepadamu ...sabarlah kumohon aku akan menggantikan nya dengan tangisan yang baru....tangisan kau dan aku maksudnya?" ucap Ale dalam hati dan tersenyum senyum sendiri.
Membuat orang jika melihat nya menganggap nya sedikit gila, untung saja tidak ada orang.
Hingga beberapa saat Ale duduk di kursi dan memejamkan matanya beberapa menit.
______________________________________