Jam menunjukkan pukul 21.00 ketika suara pintu utama terbanting keras. Langkah kaki berat terdengar menggema di lorong rumah yang sepi. Rurayya yang sedang duduk membaca buku di ruang keluarga sontak menoleh. Madiev sudah tidur di atas, rumah benar-benar hening. David berdiri dihadapannya, wajahnya gelap, rahangnya mengeras, matanya menajam menusuk ke arah Rurayya. “Rurayya.” Suaranya rendah, tapi menyimpan gemuruh badai. Rurayya bangkit dari duduknya, berusaha bersikap tenang. “Kamu sudah pulang,” katanya pelan. “Mau makan? Saya—” “Duduk.” Rurayya mengernyit, apa lelaki ini kumat menjadi penjahat lagi? “Kenapa tiba-tiba marah?” Pertanyaan itu dijawab dengan tawa sumbang. “Masih bisa ya.. Kamu pura-pura berlagak nggak tau apa-apa seperti ini.” Deg Jantung Rurayya mencelos. Peras

