Memo

1033 Kata

Lahore International Medical Centre – Kamar ICU 02 Ruangan itu dingin, beraroma antiseptik, sunyi kecuali bunyi mesin monitor detak jantung yang berdetak pelan, seperti pengingat bahwa waktu terus berjalan… dan nyawa Rurayya masih bergantung di ujungnya. David berdiri di ambang pintu, tubuhnya tegak tapi matanya kosong. Ini pertama kalinya dalam dua tahun, ia melihat Rurayya dari jarak sedekat ini. Tapi Rurayya bukan perempuan yang dulu ia kenal. Perempuan itu terbaring lemah, nyaris tak bisa dikenali. Kepalanya diperban sebagian, lengan kirinya digips dan dibebat dengan kabel infus dan selang-selang. Matanya terpejam. Wajahnya pucat. Terlalu pucat. Di pojok ruangan, beberapa staf medis dan relawan internasional masih sibuk mencatat grafik perkembangan. Tiba-tiba seseorang mengetuk p

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN