Lahore menyambut Rurayya dengan debu tipis, panas kering, dan riuh pasar yang tak pernah tidur. Ia menginjakkan kaki dengan langkah pasti, mengenakan jaket lapangan berlogo Global Insight, dan tas ransel yang menggantung penuh peralatan jurnalistik. Tak ada rasa ragu. Di sinilah ia seharusnya berada. Hari-harinya padat. Ia menyusuri perbatasan yang dijaga militer, mewawancarai para pengungsi, dan berbicara dengan jurnalis lokal yang diam-diam menulis dari balik bayang-bayang ketakutan. Tapi di balik tekanan dan bahaya, ia tersenyum. Ia kembali hidup. Pagi-pagi ia menulis laporan investigasi, sore mengunjungi wilayah konflik, dan malam duduk di balkon penginapan, menyeruput teh s**u sambil mengedit hasil wawancara. Rurayya duduk di sebuah tenda pengungsian, sedang mewawancarai seorang i

