Lampu ruang kerja David masih menyala samar, temaram, menimpa wajah lelah seorang pria yang tertidur di balik laptop yang belum sempat dimatikan. Kertas-kertas berserakan. Pulpen tergeletak di antara buku catatan. Dan di tengah kesunyian itu… mimpi perlahan menyusup. Awalnya samar. Hanya seperti dengung angin. Tapi lalu… terdengar suara. Tangis bayi. Tangis lirih itu memanggilnya, seolah datang dari balik kabut. Dalam mimpinya, David berdiri di koridor putih yang dindingnya seperti rumah sakit, tapi tak ada jendela. Hanya lorong yang memanjang tak berujung, diselimuti kabut putih yang menyesakkan d**a. Langkahnya perlahan menyusuri lorong itu. Tangis bayi semakin nyata. Ia membuka pintu. Sebuah ruangan kosong. Sederhana. Serba putih. Dan di tengah ruangan itu—sebuah baby crib

