Langit mendung seperti merestui kegelisahan yang berkecamuk dalam d**a Rurayya. Udara kota terasa pengap, walau angin lembut sempat menerpa kulitnya. Ia melangkah pelan, menyusuri jalan-jalan kecil di sisi kota yang asing, penuh wajah tak dikenal. Jaket hitam kebesaran menyamarkan tubuh mungilnya yang menggigil. Di depannya, sebuah bangunan kecil bertuliskan "Klinik Umum" dengan lampu redup dan tirai jendela yang tertutup rapat. Tidak ada senyum hangat di tempat ini. Tidak ada sapaan ramah seperti di puskesmas atau rumah sakit besar. Rurayya berdiri di depan pintu selama beberapa menit. Tangannya hendak mengetuk, tapi mundur lagi. Hatinya berontak. Sebuah suara kecil dalam dirinya menangis: “Apa lo benar-benar mau ngelakuin ini, Rau?” Tapi suara yang lain lebih keras: “Lo harus- “Eh

