Hamil

1000 Kata

Pagi menjelang dengan langit yang kelabu. Udara dingin menusuk kulit bahkan sejak langkah pertama keluar dari kamar. Rurayya duduk di meja makan hanya untuk sekadar menyentuh cangkir teh, tanpa benar-benar meminumnya. David sudah pergi ke kantor sejak pukul tujuh, membawa Madiev yang tetap ceria meski sempat mengigau malam sebelumnya. Gumaman anak itu terus mengusik pikirannya. “Aku mimpi punya adik…” Bukan sekali dua kali Rurayya mencoba menepis ingatan itu, meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanya karena kecapean dan pikiran yang berantakan. Tapi perasaan ganjil di tubuhnya masih menggantung. Perutnya masih bergejolak, dan tubuhnya seperti terlalu berat untuk digerakkan. Bukan lelah biasa. Bukan cuma maag. Ia memberanikan diri keluar. Mengenakan masker, hoodie besar, dan kacamata hita

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN