Pagi itu matahari belum terlalu tinggi. Sinar lembut menembus jendela kaca dapur. Rurayya tengah memanggang roti dengan tenang, aroma mentega meleleh mulai memenuhi udara. Ia memotong buah kecil-kecil dan menatanya dalam mangkuk, tak sadar bahwa bisikan pelan para pelayan senior di sudut ruangan mulai mengarah padanya. “Pura-pura kalem. Ternyata bisa juga cari muka,” Ani berucap sambil membersihkan meja, nadanya tajam namun dibuat seolah kasual. “Malam-malam ngendap nyolong buah, paginya nyiapin sarapan. Dasar... enggak tahu malu.” Beberapa pelayanan lain menyetujui, karena bagi mereka, mendiang Nyonya Mawar tetaplah yang terbaik. “Udah tahu bukan siapa-siapa. Malah ngambek di kamar biar dikasih perhatian,” sambung Ani, suaranya sedikit lebih tinggi, seolah ingin memastikan Rurayya me

