Pembelaan & Rencana David

1004 Kata

Pagi itu matahari belum terlalu tinggi. Sinar lembut menembus jendela kaca dapur. Rurayya tengah memanggang roti dengan tenang, aroma mentega meleleh mulai memenuhi udara. Ia memotong buah kecil-kecil dan menatanya dalam mangkuk, tak sadar bahwa bisikan pelan para pelayan senior di sudut ruangan mulai mengarah padanya. “Pura-pura kalem. Ternyata bisa juga cari muka,” Ani berucap sambil membersihkan meja, nadanya tajam namun dibuat seolah kasual. “Malam-malam ngendap nyolong buah, paginya nyiapin sarapan. Dasar... enggak tahu malu.” Beberapa pelayanan lain menyetujui, karena bagi mereka, mendiang Nyonya Mawar tetaplah yang terbaik. “Udah tahu bukan siapa-siapa. Malah ngambek di kamar biar dikasih perhatian,” sambung Ani, suaranya sedikit lebih tinggi, seolah ingin memastikan Rurayya me

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN