Regan gemetar, wajahnya pucat pasi, ingin melangkah pun kakinya tak mampu setelah melihat kebenaran apa yang baru saja ia lihat. Regan terduduk di bangku akademik setelah mendengar langsung kebenaran tentang Miss. Jenn yang selama ini ia kenal dengan senyum ramahnya.
Perlahan, kenangan tentang Miss. Jenn kembali tereplay di pikirannya. Saat pertama kali ia melihat sosok itu di sisi Prof. Sammuel, pantas saja, saat Miss. Jenn menegur dan menyapanya, Regan menjadi pusat perhatian di sekolah itu. Jelas saja bukan, ia bicara sendiri saat itu. Bagai orang gila.
Kenangan saat Miss. Jenn menemuinya di ruangan guru sejarah yang tiba tiba berubah jadi Gudang. Kenangan tadi saat ia bicara di ruang OSIS tapi tidak ada siapa pun di sana. Regan gemetar. Apa yang terjadi dengan dirinya.
Bahkan saat ini, ia masih gugup memegang selebaran koran lama di tangan. Koran yang memperlihatkan wajah Miss. Jenn. Persis sama dengan yang ia temui beberapa kali ini. Senyumnya, tatapan matanya. Koran dari 25 tahun yang lalu, memberitakan tentang seorang guru paruh baya yang meninggal karena kecelakaan di tengah rencananya untuk membuka kembali perpustakaan yang sudah tertutup selama 15 tahun.
“ Kau yakin, ini Miss. Jenn yang kau temui?” Tanya Kleo menyerahkan segelas air ke hadapannya. Regan langsung menenggak air itu tandas kemudian mengatur napas.
“ Iya, aku sangat yakin. Dia orangnya.” Tuturnya gemetar
Kleo duduk di sisinya
“ Kau ini merepotkan saja. Pergi berobat gih ke dukun atau apa pun. Dari pada dikira gila.” Celetuknya dengan nada mengejek. Regan hanya diam, wajahnya begitu pucat.
“ Miss. Jenn adalah istri dari Prof. Sammuel. Beliau dikenal begitu ramah dan baik, itu menurut ayah. Karena ayah juga salah satu muridnya. Beliau mengajar sejarah di sini. Bersama Prof. Sammuel yang waktu itu mengajar matematika. Prof. Sammuel sangat mencintai istrinya dan begitu perhatian. Oleh karenanya, ia mengizinkan rencana istrinya untuk membuka kembali perpustakaan lama itu. Tapi baru berniat merenovasinya, kecelakaan itu terjadi. Mobil Miss. Jenn nyangkut di rel kereta api. Entah bagaimana bisa seperti itu. Yang jelas tubuhnya hancur terseret jauh. Beberapa anggota tubuhnya bahkan tidak ditemukan. Jadi kisah Miss. Jenn menjadi urban legend di sini. Banyak yang mengaku melihat penampakannya sekilas. Karena itu sifat Prof. Sammuel berubah dingin. Ia merasa bersalah karena telah mengizinkan istrinya berencana membuka kembali perpustakaan itu. Pria malang itu mengutuk dirinya sendiri, merasa bersalah pada istrinya.” Cerita Kleo seraya menyeruput air putih di tangannya
Regan mengingat, waktu pertama kali melihat Miss. Jenn, justru saat itu Miss. Jenn berada di sisi Prof. Sammuel. Dia menemani suaminya kemanapun suaminya pergi.
“ Waktu itu, aku melihat Miss. Jenn justru berada di dekat Prof. Sammuel. Jadi mungkin Miss. Jenn juga ingin profesor berhenti menyalahkan dirinya sendiri.” Regan berdiri dari duduknya
“ Jangan aneh aneh! Bersikap normal saja! Apa maumu? Mau terkenal sebagai indigo begitu? Kau tidak akan mendapatkan banyak uang karena hal itu.” Celetuk Kleo menyebalkan
“ Tenang saja, aku tidak gila tenar seperti keluargamu!” Balas Regan kemudian melangkah ke luar
“ Hei kau mau ke mana?” Teriak Kleo. Regan tak mendengarkan, ia justru berlari cepat, menjauh. Tak ingin Kleo mengikutinya
Gadis itu terdiam, pandangannya tertuju pada ruang kepala sekolah tak jauh dari tempatnya berdiri. Tanpa sadar, Regan melangkah ke sana. Setibanya di depan pintu, Regan mengetuk pintu itu pelan. Ia tidak tahu apa yang ia lakukan benar atau salah. Ia hanya ingin Prof. Sammuel berhenti menyalahkan diri dan Miss. Jenn merasa tenang.
Setelah mengetuk pintu, terdengar suara Profesor memintanya masuk. Benar saja, saat Regan membuka pintu itu, ia melihat sang Profesor tengah sibuk dengan laptop di depannya. Sementara di sisinya, Miss. Jenn berdiri, menatapnya getir, mengulas senyum yang benar benar manis. Wanita itu benar benar setia berada di sisi suaminya. Melihat hal itu, mata Regan berkaca kaca
“ Ada apa?” Tanya Prof. Sammuel dingin
Regan melangkah pelan, ia masih menggenggam koran itu. Meletakkan koran itu di meja, membuat sang Profesor mengernyit
“ Apa ini?” Tanyanya
“ Itu berita tentang Miss. Jenn 25 tahun yang lalu.” Jawab Regan mencoba tenang
“ Siapa namamu dan ada perlu apa membawa koran ini ke mari?” Nada bicara Prof. Sammuel mulai meninggi. Ia memang tidak pernah mau membaca koran itu, bahkan tidak ingin mendengar berita apa pun tentang istrinya.
“ Maafkan saya Profesor. Mungkin kedatangan saya begitu lancang. Saya hanya ingin mengatakan beberapa kali sa-saya bermimpi bertemu dengan Miss. Jenn. Beliau terlihat sangat sedih karena profesor masih menyalahkan diri sendiri untuk kematian yang dialaminya. Saya...
“ Ke luar!”
Deg
Sorot mata pria tua itu memerah, terlihat jelas ia terluka karena cintanya yang luar biasa pada mendiang istrinya. Cinta yang tak akan pernah lekang dimakan usia.
“ Saya hanya tidak ingin anda dan Miss. Jenn sedih. Saya peduli pada anda, tolong dengarkan saya.” Pinta Regan berkaca kaca
“ Siapa kamu? Saya bahkan tidak mengenalmu! Jadi jangan mempermainkan kisah tentang istri saya! Jika saya mau saya bisa mengeluarkanmu dari sekolah ini. Jangan main main dengan saya! Ke luar dari ruangan ini!” Perintahnya emosi
“ Prof...
“ Ke luar! Saya tidak ingin mendengarkan apa pun lagi! Pergi!” Bentaknya berdiri dari kursi
Regan pun terpaksa berdiri lalu menunduk hormat dan melangkah ke luar. Ia tidak ingin membuat kekacauan, tidak ada orang normal yang akan percaya akan kata katanya. Tapi Regan bisa mendengar dari luar pintu, pria tua itu menangis, mengutuk dirinya sendiri di dalam ruangan sana.
Benar saja, Profesor Sammuel memegang koran itu dan memeluk foto istrinya ke dadanya. Ia terisak, menangis tersedu sedu, betapa ia mencintai wanita yang telah menemaninya selama 20 tahun itu.
“ Maafkan Aku, Jenny, aku yang membuatmu mengalami kecelakaan itu. Aku yang mengizinkanmu membuka tempat terkutuk itu. Aku mengorbankanmu. Maafkan aku sayang. Aku tidak pernah merasa tenang setelah kematianmu dan putra kita. Aku tidak bisa tidur tenang, aku kesepian, sangat kesepian.” Isaknya tersedu sedu
Hancur yang sebenarnya adalah...
Saat kita tenggelam dalam penyesalan ..
Dan kita tidak pernah bisa kembali untuk memperbaikinya...
Tidak pernah...
Regan memilih melangkah ke arah taman, lalu duduk pada bangku kosong di sana. Wajah cantiknya terlihat benar benar sedih. Regan mengeluarkan ikat rambut dari sakunya kemudian mengikat rambut panjangnya asal. Air matanya menetes turun, ia merasa tidak tega pada pasangan itu. Pasangan beda dunia yang amat sangat saling mencinta. Bagaimana caranya agar Prof. Sammuel tidak berduka lagi? Ini sudah 25 tahun, bahkan air matanya belum kering juga. Ia masih meratapi kematian istri tercintanya.
Jauh dalam sedihnya...
Tiba tiba, Regan merasakan seseorang duduk di sisinya. Saat menoleh, Regan memucat, ia melihat Miss. Jenn duduk di sisinya. Sosok yang jelas jelas sudah lama tak bernyawa. Ada rasa takut plus bingung di hati Regan. Entah ia harus berlari atau diam
“ Terima kasih ya.” Tutur Miss. Jenn seketika membuat Regan menatapnya sendu.
Sosok itu benar benar keibuan, sangat cantik dan juga ramah. Perlahan, rasa takut di hati Regan memudar. Apalagi saat Miss. Jenn memegang tangannya lembut. Regan jadi teringat akan sosok ibu yang tak pernah ia temui.
“ Sammuel memang begitu. Dia menjadi keras setelah aku dan putra kami Langit pergi. Kecelakaan itu tidak hanya merenggut nyawa kami. Tapi juga merenggut hatinya. Dia bahkan tidak pernah tersenyum setelah ini. Dia hidup bagai orang mati, menyendiri, kesepian, dan meratap. Aku sangat mencintai dia, dia yang dulu begitu ceria dan penyayang. Maukah kau melakukan sesuatu untukku?” Tanyanya menatap iris Regan lekat
“ Tapi beliau tidak akan pernah percaya pada apa yang saya katakan. Mungkin saya akan dikeluarkan dari sekolah ini.” Tutur Regan ragu.
“ Jangan mengatakan apa pun. Buat dia mengerti.” Tutur wanita itu meneteskan air mata
“ Bagaimana caranya?” Regan benar benar terlihat ingin membantu
“ Lusa adalah hari ulang tahunnya, saat aku masih di sisinya, aku selalu memberikan seikat bunga lili putih kesukaannya, aku memberikan jam tangan sebagai kado. Dia sering lupa menaruh jam tangannya di mana. Jam tangannya selalu saja hilang. Tolong lakukan hal itu, beri dia seikat bunga mawar putih dan kado jam tangan.” Tutur hantu itu berkaca kaca
Regan terdiam
Bukan enggan, tapi bagaimana caranya membantu? Sedangkan ia juga kekurangan. Regan tidak akan bisa membeli semua itu.
“ Kenapa? Apa kau merasa berat?” Tanya Miss. Jenn getir
Regan mengambil napas berat, ia berusaha mengulas senyum. Bagaimana mungkin ia tega menolak permintaan itu
“ Akan saya lakukan. Saya berjanji, saya akan membuat Profesor kembali tersenyum.” Ujar Regan akhirnya. Sosok itu pun mengulas senyum kemudian membelai punggung Regan lembut
“ Kau gadis yang benar benar baik.” Tuturnya terharu.
Ya, bagaimanapun caranya, aku harus menolong Miss. Jenn
Dia satu satunya wanita yang baik padaku sejak pertama kali di sini. Dia membuatku merasa nyaman.
Setidaknya... Aku bisa sedikit membantu. ~ Regan
-----***----***----***-----
Ting tong
Bell tanda pulang berbunyi, Regan merapikan buku bukunya ke dalam tas kemudian menarik napas panjang
“ Ayo Regan, kamu pasti bisa!” Gumamnya. Entah apa yang ingin Regan lakukan. Jantungnya berdetak kencang seakan ingin berperang. Gadis itu kemudian ke luar dari kelas bersama teman temannya. Satu satunya sosok yang bisa membantu kesulitannya sudah ada di dalam pikirannya.
Regan menunggu sosok itu ke luar dari kelasnya. Dan saat ia ke luar, tekad Regan justru menyusut. Ya, orang itu adalah Kleo, sepupunya
Kleo tampak melangkah santai dengan tas di pundak, pemuda berambut brown Curli itu memang sangatlah rupawan. Baru ke luar dari kelas saja, banyak wanita yang cari perhatian. Ada yang mencoba melangkah bersamanya, ada yang coba menyapa dan masih banyak lagi. Hal itu semakin membuat Regan ciut.
Melihat Regan mematung di dekat mobilnya, Kleo mengulas senyum sinis yang membuat Regan ingin sekali mengacak acak wajahnya.
“ Tumben? Mau mengotori mobilku?” Tanyanya. Baru menyapa saja sudah semenyebalkan itu.
“ Aku ada perlu! Bisa mengantarku pulang gak? Kita bicara di mobil.” Ajak Regan menundukkan wajah. Dia malu, tentu sangat malu. Ini sama saja ia merendahkan diri serendah rendahnya di depan musuh terberat.
“ Masuklah!” Tutur pemuda itu kemudian masuk ke dalam mobilnya. Reganpun menyusul, membuka pintu jok belakang. Tapi...
“ Hei! Duduk di depan! Kau kira ini taxi? Aku bukan sopirmu!” Tekan Kleo
“ Iya iya maaf.” Reganpun duduk di sisi Kleo dan itu membuat semua siswi menatap Regan tajam.
Pemuda itu menyalakan mesin mobilnya kemudian melaju ke luar dari halaman sekolah
“ Katanya ada perlu! Ngomong saja!” Celetuk pemuda itu tanpa menoleh.
Regan menghela napas
“ I- itu, aku berencana untuk membantu hantu Miss. Jenn. Dia ingin Profesor kembali tersenyum.” Regan membuka suara
“ Masih saja seputar hantu? Apa tidak ada yang mau menjadi temanmu? Makanya kau selalu membahas tentang hantu?” Kleo mengejek
“ Huft! Kalau tidak mau membantu turunkan saja aku! Jangan mengejek!” Tekan Regan kesal
Kleo mengulas senyum
“ Apalagi sekarang?” Tanyanya membuat Regan berbinar binar
“ Miss. Jenn mengatakan bahwa lusa adalah ulang tahun Profesor Sammuel. Jadi dia memintaku untuk membelikan kado yang biasa ia belikan untuknya.” Cerita Regan penuh semangat
“ Kado? Kado apa? Kau yakin tidak sedang berhalusinasi kan?” Tanya Kleo ragu
“ Kau pikir aku suka meminta bantuanmu? Itu memalukan. Tapi dari pada aku berhutang pada orang lain, lebih baik aku berhutang padamu. Aku tidak punya uang untuk membeli kado itu. Terlebih aku tidak mengerti tentang barang barang pria. Bisakah kau membantuku? Aku berjanji aku akan menggantikan semuanya nanti jika aku sudah bekerja.” Sanggup Regan. Kleo meminggirkan mobilnya, ia menghentikan mobil itu di sisi jalan. Lalu menatap mata Regan yang berbinar binar serta penuh semangat. Mungkinkah semua itu hanya halusinasi Regan? Bagaimana bisa ia tahu kalau lusa adalah hari ulang tahun kepala sekolahnya itu?
“ Ternyata kau dan ayahmu sama saja! Suka minta minta. Apa kalian tidak bisa hidup tanpa meminta?” Kleo justru menghinanya
Regan mengernyit
“ Kalau tidak mau membantu jangan menghina! Aku tidak suka kau menyebut nyebut nama ayah! Apa kau pikir aku suka meminta bantuanmu Hmm.” Regan memegang knop pintu mobil
“ Kau mau ke mana?” Tanya Kleo menahan lengannya
“ Lepaskan! Aku bisa mencari bantuan lain. Aku akan bekerja paruh waktu. Tapi tidak akan membiarkan kau menghina harga diriku.” Jawab Regan ketus
Kleo menghela napas
“ Baiklah! Ke luar saja! Aku tidak mau direpotkan oleh benalu sepertimu.” Senyumnya sinis membiarkan Regan membuka pintu.
Gadis itu turun dari mobil Kleo kemudian menendang bannya kesal.
“ Dasar pelit! Medit! Kikir! Sok kaya!” Teriak Regan kesal saat mobil itu melaju pergi meninggalkan dirinya. Salahnya sendiri minta tolong pada sosok seperti Kleo. Regan harus memutar otak lagi, bagaimana caranya agar ia mendapatkan uang tanpa harus meminta tolong pada sepupunya yang menyebalkan itu.
Di sana, Kleo menghembuskan napas berat
“ Maaf Regan, aku hanya tidak mau kau terlalu jauh memikirkan urusan tentang hantu. Mungkin dengan begini kau akan berhenti.” Gumamnya.
Ya, Kleo tidak mau Regan tersesat karena kisah hantunya. Dia ingin Regan menyerah. Tapi bukan Regan namanya, kalau tidak keras kepala.
Gadis itu justru menghampiri setiap toko di sepanjang jalan menuju rumah, menawarkan jasa setengah hari untuk bekerja. Walaupun tidak ada yang menerima tawarannya.
Hingga sore menjelang, Regan masih berputar putar di sana. Kleo yang sebenarnya kepikiran akhirnya mengikuti Regan. Benar saja, Regan masih sibuk melamar kerja, bahkan ia masih belum mengganti pakaian sekolahnya
“ Gadis itu benar benar keras kepala.” Gumam Kleo dari dalam mobil barunya. Ia kemudian menghubungi seseorang.
Tak lama setelah itu... Regan hampir putus asa, ternyata mencari kerja itu sangat susah, apalagi paruh waktu sedangkan dia masih sekolah. Gadis itu terduduk lemas di emperan sebuah toko. Hingga tiba tiba..
“ Hei, kenapa kau duduk di sini? Aku melihatmu sejak tadi berputar putar apa kau sedang membutuhkan pekerjaan?” Tanya pemilik toko ke luar menghampiri Regan
“ Iya, tapi tidak ada yang mau menerima anak sekolah.” Jawab Regan lemas
“ Bagaimana kalau membantuku saja? Kebetulan ada banyak orderan kue hari ini dan yang biasa membantu tidak datang. Jika kau mau aku akan membayarmu 900 ribu untuk 2 hari. Kau boleh datang membantu di sore sampai malam hari. Bagaimana?” Tawar pemilik toko itu
“ Benarkah? Gajinya besar sekali? Anda tidak bercanda kan?” Regan langsung berdiri senang. Bola matanya berbinar binar
“ Tidak! Ayo masuk saja. Tapi sebelum itu kau makan dulu. Sepertinya kau belum makan, dari pada lemas saat bekerja nanti. Ayo!” Ajaknya
Tentu dengan senang hati, Regan menurut. Ia masuk ke dalam toko itu dengan perasaan sangat bahagia.
Sementara itu... Sang pemilik toko melirik ke arah Kleo yang tersenyum padanya.
Ya, Kleo dalang yang menyuruhnya.
Pemuda itu kemudian menutup kembali jendela mobil dan melaju pergi
Bagaimana perasaan Kleo pada Regan sebenarnya?