Siapa Dia?

2230 Kata
“ Kau dari mana saja?” Langkah Kleo terhenti mendengar suara itu. Ia menatap sosok ayahnya yang tampak duduk di ruang tamu, menunggu dirinya dengan koran di tangan. Ya, hanya dia yang hobi membaca koran malam malam. “ Habis dari rumah teman, berkeliling sebentar lalu pulang. Apa mau lihat catatan driveku di mobil?” Tanya Kleo. Sepertinya hubungan mereka berdua tidak sedekat hubungan antara ayah dan anak seperti biasanya. Mendengar itu, Qian berdiri, melangkah ke arah putranya. Menatap pemuda itu dari ujung rambut sampai ujung kaki “ Bukankah sudah ayah bilang berkali kali, kurangi keluyuran dan pergi pergi begitu jika tidak untuk urusan sekolah! Awas saja kalau nilaimu semester ini turun!” Tunjuk Ayahnya dengan tatapan tajam. Kleo menghembuskan napasnya kesal “ Tapi ayah, Kleo tidak akan turun peringkat. Jadi ayah tenang saja.” “ Bukan hanya peringkat tapi juga nilaimu harus di atas semester kemarin. Ayah akan menghukummu jika nilaimu sampai turun.” Ancam ayahnya dengan wajah serius. “ Bisakah aku makan dulu? Sejak tadi aku bahkan belum makan.” Kleo hendak beranjak. Tapi, langkahnya terhenti saat melihat ibunya turun dari tangga. “ Kapan ibu pulang?” Tanyanya dengan wajah tak suka. Biasanya, anak selalu bahagia saat melihat ibunya pulang. Apalagi setelah pergi dalam waktu yang lama. “ Apa apaan ini Kleo? Ibu baru pergi dua minggu dan kau sudah tidak taat peraturan? Kenapa kau justru membuat ayahmu marah?” Tanya ibunya. Ternyata watak ke dua orang tuanya sama saja. “ Baiklah, aku akan pergi ke kamar dan belajar sampai jam 10 malam. Kalian puas? Bye!” Kleo berlari menuju kamarnya “ Kleo! Kleo! Dengarkan kalau ibu bicara! Kenapa kau pergi begitu saja! Kleo!” Teriak ibunya “ Ini semua gara gara kau. Kalau saja kau tidak pergi pergi terus maka Kleo akan terurus. Menjadi ibu kok tidak bisa merawat anak.” Celetuk ayah Kleo dengan nada tinggi Mendengar itu, Bianca menoleh lalu menatap suaminya tajam “ Apa ini salahku? Bukankah kau yang seharian dengannya? Urus dong anakmu. Ini kenapa aku tidak mau menambah anak, kau tidak bisa menjaga anak dengan benar!” Balasnya tak kalah dengan nada tinggi “ Kalau kau tidak berniat jadi ibu yang baik, kenapa masih kembali ke sini? Berani sekali membentak suamimu! Besok apa lagi keahlianmu?” Senyum Qian dingin “ PERSETAN!” Celetuk Bianca lalu beranjak ke luar rumah dengan wajah marah. Di kamar, Kleo menutup rapat telinganya. Ia memakai Aerphonenya kemudian menyalakan musik dengan keras, bola matanya memerah, jari jarinya mengepal menahan marah. Ingin berteriak dan mengadu tapi pada siapa? Ternyata apa yang dilihat sempurna tidak selalu indah. Kleo memang hidup bergelimang harta, ia juga memiliki fisik yang sempurna, prestasi yang bagus. Tapi tidak dengan kondisi keluarganya yang porak poranda. Semuanya hanya mementingkan prestasi, harta dan tahta. Sejak kecil, Kleo tidak mengenal apa itu kedamaian. Itu kenapa ia merasa muak melihat sikap Adit pada Regan, kasih sayangnya, kondisi keluarganya yang bahagia walau serba kekurangan. Kleo marah kenapa ia tidak merasakan hal itu di rumahnya sendiri yang terlihat serba sempurna. Seperti biasanya, ibunya pasti mabuk mabukan di luar sana, hang out hingga larut malam dan tak jarang pulang diantar oleh pria yang jauh lebih muda. “ Seandainya aku bisa memilih, aku lebih suka hidup sederhana tapi bahagia.” Gumam Kleo dengan mata berkaca kaca. Ambil harta ini, tapi kembalikan masa kecilku yang dulu penuh warna. Tanpa Kleo sadari, seseorang memperhatikannya dari luar jendela yang mulai gelap, menatapnya kemudian tersenyum dingin sebelum akhirnya menghilang. Apa kalian pernah merasa diperhatikan seseorang saat sedang sendiri? Jika ia... Kalian tidak sendiri ----***---***---***---- Benar saja, di luar sana, Bianca menghentikan laju mobilnya di sebuah Bar ternama di kota itu. Ia masuk ke dalam, menelefon teman temannya dan berhura hura di sana. Menikmati hiburan malam, berjoget dan menghamburkan uangnya. Hingga.... Tatapannya tertuju pada sosok yang tampak berjalan di antara kerumunan orang yang tengah berpesta Sosok pemuda yang tampak sangat rupawan, dengan tatapan mata biru yang menawan. Sosok itu mengulas senyum ke arahnya. Senyum yang langsung membuat Bianca b*******h untuk mengejarnya. Entah siapa pemuda itu, dia tidak asing. Penampilan Kasual dengan kemeja hitam yang kontras dengan kulit putihnya, rambut emasnya berkilau diterpa sinar lampu remang bar. Ia melangkah menuju toilet. Dan bodohnya, Bianca mengikuti “ Tunggu!” Teriaknya mengejar. Sosok itu pun berhenti melangkah, menoleh dengan senyum yang memikat “ Boleh temani tante? Kita bisa bersenang senang malam ini. Kalau kau mau, tante bisa memenuhi apa pun keinginanmu, tampan.” Rayu Bianca mengeluarkan beberapa uang kertas dari tasnya “ Menarik, tapi bukankah saya seumuran dengan putra anda. Apa itu tidak membuat anda ingat padanya?” “ Sstt lupakan itu. Aku hanya ingin bersenang senang. Bagaimana?” Tanya Bianca mendekat, mencoba meraba lengan kokoh pemuda di depannya Pemuda itu mengangguk “ Tapi jangan di sini. Bagaimana jika di rumahku saja?” Tawar pemuda itu “ Orang tuamu?” Bianca berbinar senang “ Aku tinggal seorang diri. Tidak punya keluarga.” “ Oh begitu! Baguslah! Ayo, jangan membuang waktu.” Ajak Bianca bahagia. Ya, begitulah ibu Kleo, ia senang menghamburkan uang demi pria pria muda yang bisa di bayar. Malam itu pun begitu. Sudah sering terdengar gosip seperti itu di media, tapi mereka membuang muka dan uang pun bisa menutupi segalanya. Pagi menjelang, Kleo ke luar dari kamarnya dengan mata sembam. Ia bahkan terlihat pucat, tentu saja, sejak kemarin, perutnya tidak terisi makanan sedikit pun. Pagi itu, ia tampak sudah rapi dengan seragam sekolah dan almamater OSIS yang ia kenakan. “ Sarapan dulu, biar otaknya encer nanti di sekolah. Nanti sakit malah nyalahin orang tua.” Celetuk ayahnya melangkah ke meja makan Kleo menarik napas panjang, setidaknya ia memang harus makan. Maka dengan berat hati walaupun merasa tersindir pemuda itu mengikuti ayahnya ke meja makan dan duduk di kursinya. “ Roti tuan?” Tanya pelayan menawarkan “ Ya, selai keju.” Jawab Kleo “ Tidak! Kau tidak boleh makan itu. Minum buah lalu makan telur saja! Itu lebih bervitamin. Pelayan, sediakan telur dan sushi ikan salmon untuk tuan muda!” Perintah ayahnya “ Tapi ayah tahu aku tidak suka telur.” “ Kau harus suka, supaya lebih kuat dan cerdas. Ayah tidak mau kelak kau jadi beban keluarga saja. Lulus sekolah kau harus diterima di universitas ternama pilihan ayah. Apa kau mengerti?” Perintah Qian. Mendengar itu, bola mata Kleo berkaca kaca, ia menatap ayahnya dalam “ Ayah, boleh aku bertanya sesuatu?” “ Hmm tanyakan saja.” “ Apa ayah masih menyayangiku?” Deg Qian langsung menatap wajah putranya. Kenapa Kleo menanyakan hal seperti itu? “ Tentu! Karena itu ayah mau yang terbaik.” Jawab Qian tegas “ Tapi ayah, itu bukan yang aku sukai. Semuanya, kenapa aku merasa, ayah ingin sebuah robot, bukan anak. Sebenarnya ayah ingin menjadikanku seperti siapa?” Tanya Kleo kemudian berdiri dari duduknya. Qian menghela napas panjang. Ya, sebenarnya ia terobsesi pada siapa sampai memaksa Qian seperti itu? “ Tenang saja, aku tidak benar benar ingin jawaban dari ayah. Aku sudah kenyang.” Kleo kemudian berdiri dari duduknya kemudian melangkah pergi, meninggalkan Qian yang terdiam mengambil napas panjang. Kenangannya mengingat masa lalu... Masa di mana ia masih mengenakan seragam putih abu abu. Betapa terpesonanya ia pada seorang sosok, sosok pemuda yang terlihat berkuasa, cerdas, tampan dan juga banyak dipuja. Apa pun yang ia mau harus jadi nyata, sosok yang tidak mampu ia kejar, sosok yang sangat sempurna. Berbeda dengan dirinya yang culun, seberapa kuat pun ia belajar, ia tidak bisa menyamai sosok itu. “ Kau harus jadi seperti dia, Kleo.” Gumamnya dengan tatapan penuh obsesi Setibanya di sekolah, Kleo memejamkan mata beberapa detik sebelum akhirnya turun dari mobilnya. Wajah pemuda itu benar benar pucat, terlihat sakit dan penampilannya terlihat berbeda. Hari itu, Kleo lebih pendiam, baik di ruang OSIS atau kelas. Mungkin ia sudah tidak tahan lagi dengan sikap kedua orang tuanya. Saat jam istirahat, Kleo melangkah lunglai menuju ruang kepala sekolah. Tapi... Langkahnya terhenti saat melihat kerumunan siswa yang tengah berkumpul di taman, mereka seperti membahas sesuatu. Penasaran, Kleo mendekat. Regan yang juga melihat kerumunan itu pun berlari ke sana. “ Ada apa?” Tanya Regan pada salah satu siswa yang memegang ponsel “ Ini lihat, ada istri pejabat yang telanjang di halte bus kemudian menabrakkan dirinya ke bus yang lewat tadi malam!” Tunjuk siswa itu memperlihatkan video pada Regan yang langsung berubah pucat. Ia melirik Kleo yang tampak terdiam, mematung, pucat. “ Bubar!” Perintahnya dengan suara gemetar Bagaimana tidak, sosok dalam video itu tidak lain adalah Bianca, ibu kandung Kleo Entah bagaimana perasaannya saat ini, melihat ibu kandungnya sendiri menjadi konsumsi publik dengan adegan memalukan. Kleo tidak terlihat cemas akan keadaan ibunya yang dikabarkan selamat tapi harus dirawat khusus di rumah sakit. Beruntung sopir bus mengerem tepat waktu. “ Kleo, kau mengenal sosok itu?” Tanya teman sekelas Kleo yang jelas jelas tahu itu ibu kandung Kleo “ AKU BILANG BUBAR SEKARANG!” Bentak Kleo akhirnya. Mereka pun segera bubar tapi tetap membicarakan video itu di sepanjang jalan. Melihat kondisi Kleo yang mematung dengan wajah pucat dan otot leher menegang karena marah, Regan menjadi simpati. Entah bagaimana perasaan hancur yang Kleo rasakan saat ini. “ Kleo, kau baik baik saja?” Tanya Regan mendekat Tapi, pemuda itu justru menatapnya tajam “ Kau sangat pucat, apa kau sakit?” Regan mencoba menyentuh lengannya. Sebelum... Pemuda itu menahan lengan Regan kemudian menghempasnya kasar “ Jangan pura pura peduli dan sok akrab denganku! Persetan dengan kalian semua.” Tekannya “ Walau bagaimanapun kita harus menjenguk tante Bianca di penjara bukan?” “ Itu bukan urusanmu!” Kleo justru melangkah gontai kembali ke kelasnya. Regan menghela napas panjang. Ia hendak kembali ke kelas, tapi... Langkahnya tertahan saat melihat sosok yang selama ini ia cari tampak duduk di dekat pohon beringin tua sembari membaca buku. Senyum di wajah Regan mengembang, pemuda itu, apakah benar namanya Alankar seperti yang dikatakan Miss. Jenn? Dia terlihat menawan seperti biasanya. Anehnya, dia yang notabene lebih tampan dan lebih menarik dari pada Kleo, kenapa selalu menyendiri? Tidak dikerubuti gadis gadis yang antusias seperti mereka mengerubuti Kleo. Cukup aneh bukan? Apa karena pemuda itu senang menyendiri? Regan berlari ke arahnya dengan penuh semangat “ Hai.” Sapanya. Tapi... Pemuda itu masih fokus membaca dengan kaca mata minus yang menghiasi kedua mata birunya “ Alankar?” Deg Sontak, pemuda itu langsung menutup buku dan menatap Regan. Benar benar sosok yang tampan, apalagi saat itu membuka kacamatanya, menatap Regan intens “ Dari mana kau tahu nama itu?” Tanyanya penuh dengan aura dingin Regan duduk di sisinya, mengambil buku yang dipegang pemuda itu “ Filsafat modern? Kau suka filsafat?” Tanyanya sok akrab “ Aku bertanya dari mana kau tahu nama itu?” Tanya pemuda itu merampas kembali bukunya “ Itu namamu kan? Benar kan?” Senyum Regan Pemuda itu memalingkan wajah hendak berdiri. Ia merapikan jaket kulit mahal yang dikenakannya. Dan benar saja, ada nametag di seragamnya yang bertuliskan Alankar, tapi Regan tidak bisa melihat nama panjangnya “ Kau mau ke mana Alankar?” Tanya Regan berdiri Sosok itu menatapnya tak suka “ Ah maksudku kak Alankar. Maaf, terdengar tidak sopan.” “ Aku akan ke perpustakaan lama. Kau mau ikut?” Senyum sinis pemuda itu Regan terdiam Perpustakaan lama? Bukankah itu tempat terlarang? Kenapa sosok ini begitu sering ke sana? “ Takut? Ya sudah!” Alankar melangkah pergi, sementara Regan mematung di tempatnya. Haruskah ia ikut? “ Alank... Belum sempat Regan memanggil, sosok itu sudah menghilang. Entah ke arah mana, langkahnya memang selalu cepat dan tidak tertebak. “ Huft. Gak pernah suka sama cowok. Sekalinya suka malah dinginnya mengalahkan beruang kutub. Maunya nerkam mulu.” Gerutunya kesal. “ Tapi kan dia tadi bilang mau ke perpustakaan lama kan? Apa aku harus ke sana juga. Ya sudahlah kan aku tidak sendirian. Ya, aku akan ke sana.” Senyum Regan yakin kemudian melangkah menuju perpustakaan angker yang terlarang itu. Setibanya di sana, benar saja, ia melihat sosok Alankar membuka dan memasuki perpustakaan itu. Bahkan ia tidak terlihat takut sama sekali. Regan hendak mengikuti, tapi... Seseorang menahan pergelangan tangannya Regan menoleh, ia langsung memasang wajah kesal melihat siapa yang menahannya. Lagi lagi Kleo, kenapa pemuda itu ada di sana? Bukankah tadi Kleo sudah terlihat masuk ke kelasnya? “ Lepaskan!” Tekan Regan “ Kembali ke kelasmu sekarang! Bukankah sudah aku bilang tempat ini terlarang! Bisa gak sih jangan ngeyel?” Tanya pemuda itu terlihat kesal Regan menahan emosi “ Kenapa sih? Tadi saja ada siswa yang masuk ke sana kok. Malah bolak balik terus. Dia gak apa apa! Kenapa kalian mendramatisi seakan akan perpustakaan itu memiliki kutukan! Menyebalkan!” Celetuk Regan kesal “ Kau murid baru di sini. Kau tidak tahu apa pun. Tidak ada yang berani mendekati perpustakaan itu. Pintunya terkunci, hanya orang gila atau hantu yang bisa masuk ke sana.” Tekan Kleo Regan mengernyit “ Apa katamu?” “ Ya, hanya orang gila atau hantu yang mau masuk ke sana.” “ Tapi barusan, siswa itu masuk ke sana! Aku lihat! Jadi menurutmu aku ini buta gitu?” Kleo mengulas senyum kemudian melepaskan genggamannya di lengan Regan “ Bagaimana bisa? Lihat, pintunya saja digembok dan dirantai!” Tunjuknya Regan langsung menoleh, dan... Deg Bola matanya membundar melihat pintu perpustakaan itu benar benar dirantai. Apakah tadi ia berhalusinasi? Atau.... Kata kata Kleo benar? Hanya orang gila atau hantu yang mau masuk ke sana.. Lagu siapa Alankar sebenarnya? Wajah gadis itu berubah pucat dan tegang Hingga tiba tiba... Bruk “ Kleoooo!!!” Teriaknya Kleo tiba tiba ambruk tidak sadarkan diri. Kulitnya benar benar panas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN