Mencari Senja...

2214 Kata
“ Dia kekurangan cairan, perutnya sama sekali tidak terisi makanan. Fisiknya lelah, pemuda ini hanya butuh istirahat. Dalam beberapa hari, ia akan pulih.” Tutur dokter saat menangani Kleo Regan segera menghubungi ayahnya agar menghubungi keluarga Kleo, mengabarkan bahwa putra mereka tengah dirawat karena drop. Benar saja, tak lama kemudian, Qian dan tergopoh gopoh bersama ayah Regan. Wajahnya terlihat sangat panik, wajar saja, Kleo adalah putra tunggal di keluarganya. “ Terima kasih ya Regan, kau sudah membawa Kleo ke rumah sakit.” Tutur Qian ramah “ Bukan saya paman, tadi teman teman yang membawa Kleo tadi. Saya ke kantin dulu ya. Semoga Kleo segera sadar.” Tutur Regan Ayah Kleo mengangguk sedih “ Regan, ayah ikut ya, ayah lapar sekali.” Tutur ayahnya Regan mengangguk dan mereka pun berangkat ke kantin bersama. Setelah memesan 2 mangkok mie instan, mereka duduk pada sebuah bangku. Ayah Regan terlihat kelaparan, ia bersemangat sekali memakan mie di hadapannya sambil sesekali menyesap teh hangat yang dihidangkan. Mungkin ayahnya memang sangat lapar, ia bahkan tidak bertanya dari mana Regan mendapatkan uang. “ Ayah, boleh Regan bertanya sesuatu?” Tanya Regan mengawali. Ayahnya hanya mengangguk sambil memakan kembali mie instannya. “ Ayah tahu nama Alankar?” “ Uhuk uhuk.” Seketika semua mie yang ada di mulut ayahnya terbatuk ke luar. Matanya langsung menatap Regan nanar, seolah ketakutan ia menyudahi makan, meminum tehnya tandas “ Ayah kenapa? Ayah terdengar kaget?” Regan curiga. Apakah benar, Alankar bukan manusia? Bagaimanapun, ia tidak terlihat gila, jika diperhatikan, pemuda itu bisa muncul kapan saja dan menghilang saat ia suka, sikapnya dingin, tidak ada yang bicara dengannya selain Miss. Jenn waktu itu dan kita semua tahu, Miss. Jenn adalah sosok hantu. Jadi besar kemungkinan, sosok sesempurna Alankar juga merupakan bayangan dari kematian. Walaupun Regan tidak mau mendengar spekulasi itu, ia tetap ingin tahu. “ Ayah?” “ Dari mana kau tahu nama itu?” Ayahnya justru balik bertanya. “ Tidak dari siapa pun, sepertinya aku melihat penampakan hantu di perpustakaan itu. Nama yang tertera di seragamnya bertuliskan Alankar.” Tutur Regan memancing “ Jauhi dia! Jauhi dia! Jangan mendekati sosok itu! Jangan bicara padanya!” Tekan ayahnya dengan nada tinggi. Seolah sangat ketakutan Sebaliknya, wajah Regan berubah pucat. Jadi benar? Alankar tidak ada di dunia nyata? Kenapa ayahnya terlihat sangat takut, apakah ayahnya mengenal Alankar? “ Kenapa? Dia terlihat sangat manis. Dia begitu baik.” “ DIA TIDAK BAIK! DIA TIDAK BAIK!” Tekan ayahnya berdiri. Beberapa pasang mata memperhatikan mereka “ Kau ingat cerita ayah tentang pewaris tahta sekolah itu? Tentang anak pengusaha yang kaya raya itu? Namanya Alankar Adirangga! Ya, nama itu nama yang terkutuk. Regan, ayah sangat menyayangimu nak. Tolong jauhi sosok itu, tolong dengarkan ayah. Ayah tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu.” Adit kembali duduk, memegang wajah putrinya lembut dengan mata berkaca kaca “ Ayah, bagaimana mungkin dia jahat? Dia yang menyelamatkan diriku dari kecelakaan waktu itu. Mungkin saja, ini Alankar yang berbeda bukan? Mungkin dia bukan yang ayah kenal.” Regan berkata kaca. Demi Tuhan! Ia tidak akan rela kalau Alankar nya ternyata sosok roh jahat yang ditakuti “ Pemuda itu bertubuh tinggi dengan kulit putih, ia sering mengenakan jaket kulit berwarna hitam yang tentu saja membuatnya terlihat menawan. Setiap ia melangkah tidak ada satu pun tatapan yang lepas dari dirinya. Warna rambutnya coklat keemasan, dengan sepasang mata biru yang memikat. Dia menjabat sebagai ketua OSIS di sekolah, memiliki sekretaris OSIS bernama Raditya yang sekaligus salah satu sahabatnya. Ia dikagumi banyak orang, ia nakal tapi berprestasi.” Tutur ayahnya mengingat Deg Semua penggambaran ayahnya, mengapa begitu nyata? Seakan itu benar benar Alankar yang ia temui. Jadi benar? Alankah hanya hantu? “ Bagaimana ayah bisa tahu?” Air mata Regan menetes turun “ Ayah adalah Raditya, salah satu sahabatnya. Dulu dia selalu membebankan tugas tugas OSIS kepada ayah. Dia sangat diktator, suka memerintah tapi tidak suka membantah. Sosoknya begitu kuat hingga ayah Kleo tidak berkutik. Ayah Kleo sangat culun waktu itu. Ia sangat menyukai Alankar, tapi Alankar menjadikannya bahan bulli. Bahkan setiap hari, tidak ada hari tanpa kasus yang dibuat Alankar, seluruh siswa dibuat kagum sekaligus takut dengan sosoknya. Dia bisa menyiksa siapa saja, melecehkan siapa pun yang ia suka, bahkan pernah satu kali seorang guru honorer wanita mencoba bersikap tegas padanya. Tapi seminggu kemudian, guru itu ditemukan mabuk, telanjang dan terikat di perpustakaan. Tentu saja, semua orang menduga itu ulah Alankar. Hanya Alankar yang mampu melakukan hal itu. Bahkan setelah kematiannya yang misterius, perpustakaan yang merupakan tempat favoritnya mencari mangsa dan belajar, justru menjadi angker. Ia tetap berkuasa walaupun wujudnya sudah tidak ada di dunia ini.” Cerita sang ayah benar benar membuat Regan meremas roknya. Bayangan sikap dingin Alankar, sikap acuh tak acuhnya, senyum sinisnya, apa mungkin semuanya benar? “ Ayah, kenapa aku bisa melihatnya? Jika semua itu benar, kenapa dia menyelamatkanku? Kenapa juga Jessy yang meregang nyawa? Aku juga masuk ke dalam perpustakaan itu bukan? Kenapa?” Tanya Regan dengan suara getir Ayahnya terdiam, apa yang harus ia katakan? Jika ia menjawab, maka semua rahasia masa lalu akan terbongkar. Dan itu akan menjadi ancaman untuk hubungannya dengan Regan juga bagi Qian dan Kleo “ Kenapa ayah diam? Apa ayah sendiri kurang yakin dengan mitos itu?” “ Regan, ayah hanya meminta. Tolong... Menjauh jika ia menampakkan diri di depanmu lagi. Ayah mohon. Ayah sangat mencemaskanmu.” Tutur Adit memegang tangan putrinya lembut. Tapi, Regan melepas sentuhannya kemudian berdiri “ Ayah jangan khawatir. Regan sudah dewasa, jadi Regan bisa menjaga diri.” Ujarnya kemudian melenggang pergi meninggalkan ayahnya yang menangis terisak menumpukan ke dua tangan di meja. “ Maafkan Ayah Regan.” Gumamnya sedih Ya, maafkan ayah. Sementara itu, di sana... “ Tuan, Kleo sudah sadar.” Tutur dokter membuka pintu. “ Apa boleh saya menemuinya?” Tanya Qian “ Silahkan!” Qian bergegas masuk, melihat putranya yang tengah berusaha untuk duduk dengan infus yang melekat di tangan “ Ayah.” Senyum Kleo pasi “ Kleo apa apaan ini? Ayah sudah bilang kan, sarapan! Jangan telat makan, bagaimana kau bisa jatuh sakit begini. Lalu bagaimana tentang pelajaranmu. Kau bisa ketinggalan pelajaran, mana dokter mengatakan kau harus istirahat selama beberapa hari! Kenapa kau tidak mau menurut pada ayah! Kenapa? Kau sama seperti ibumu. Selalu membuat ulah dan merepotkan saja. Sekarang dia justru terbaring di rumah sakit. Huft, ayah harus membereskan semuanya!” Tekan Qian. Bahkan ia tak menanyakan perasaan dan kondisi Kleo “ Jadi bagaimana? Kau merasa sangat sakit? Apakah tidak bisa sekolah atau mengikuti les minggu ini?” Tanya Qian mendekat, memegang kening Kleo yang terasa sangat panas “ Sial! Kau benar benar sakit rupanya.” “ Ayah, tahu caranya memperbaiki kesehatanku?” Tanya Kleo mengulas senyum pucat. “ Apa?” “ Tolong ke luarlah dari ruangan ini!” Pinta Kleo Deg “ Siapa yang akan menjagamu kalau aku ke luar? Kau pikir kau bisa menjaga dirimu sendiri? Lemah!” “ Ayah tolong! Ke luarlah!” Pinta Kleo. Ia benar benar tidak tahan kali ini, bola matanya berkaca kaca menahan pedih. Hingga tiba tiba... Klek Seseorang membuka pintu, Regan mengulas senyum. Entah sejak kapan ia berdiam di luar, entah ia mendengar percakapan mereka atau tidak, Kleo langsung memalingkan wajah menyembunyikan kesedihannya “ Tadi saya mendengar dokter mengatakan Kleo sudah bangun. Jadi saya masuk, paman boleh beristirahat. Biar saya yang menjaga Kleo.” Senyumnya getir. “ Kau yakin nak?” Tanya Qian Regan mengangguk cepat “ Lagi pula saya dengar tante kecelakaan. Paman pasti repot, biar saya yang merawat Kleo sementara waktu. Bukankah keluarga paman sudah banyak membantu kami.” Senyum Regan tulus “ Baiklah kalau begitu. Jaga Kleo baik baik ya, perhatikan makannya. Jangan sampai ia drop, jangan izinkan makan makanan luar, harus yang higienis. Paman ada meeting, terima kasih sudah membantu.” Senyum Qian mengusap pundak Regan kemudian melangkah ke luar. Ia bahkan tidak mengatakan apa pun pada Kleo yang sepertinya hanya bisa menarik napas kesal “ Kau juga ke luar saja sana! Aku ingin sendirian!” Perintahnya tanpa menatap, masih memalingkan wajah. Tidak lucu kalau Regan melihat air matanya bukan? “ Kau mau tinggal di rumahku beberapa waktu?” Tanya Regan yang seketika membuat Kleo menatapnya. “ Aku sakit! Apa kau buta? Aku harus di rawat!” Tekannya. Mendengar itu, Regan mendekat, ia kemudian mengusap air mata Kleo yang meluncur turun “ Apa ada larangan bagi laki laki untuk menangis? Kenapa kau bersikap angkuh? Hmm kau ini seperti keong ya. Keras di luar tapi lunak di dalam. Apa kau betah di rumah sakit?” Tanyanya lembut Kleo terdiam, ia menatap tangan Regan dengan jantung berdegup. Tangan yang menyapu air matanya, air mata yang justru semakin meluncur deras tanpa sadar. “ Tinggalkan aku!” Pintanya kemudian menangis sesak. “ Kleo... “ Tolong abaikan dan jangan pedulikan aku. Tinggalkan saja aku!” Isaknya. Kini Regan mengerti, kenapa Kleo terlihat begitu angkuh dan sombong. Ia hanya berusaha kuat, kuat hidup di tengah kekerasan. Keluarga yang Regan kira sangat sempurna tapi ternyata bagai cangkang kosong yang menyiksa. Untuk apa harta jika itu mencekik lehernya? Benar, Regan mendengar semuanya. Semua perkataan ayah Kleo, sikap acuhnya dan tekanan yang ia berikan agar Kleo terlihat sempurna. “ Kau mau ikut ke rumah?” Tanya Regan sekali lagi. Kleo terdiam Harga diri membuatnya bungkam “ Kleo tidak apa apa. Di rumahku tidak akan ada yang menekanmu. Ini untuk sementara saja.” “ Bagaimana dengan ayahmu?” “ Ayah akan senang jika kau menginap. Entah kenapa, ayahku sepertinya lebih menyayangimu dari pada diriku.” Tawa Regan. Mendengar itu, Kleo mengulas senyum. Senyum yang begitu menawan, senyum yang seharusnya dilindungi oleh keluarganya. ----***----***----***---- Hari itu senja menyapa dengan lembut, saat sebuah taxi mendarat di halaman kecil kediaman Regan. “ Hati hati nak!” Ayah Regan tampak memapah Kleo untuk turun dari mobil, kepalanya masih sempoyongan. “ Kenapa Regan tidak ikut naik taxi saja?” Tanya Kleo “ Dia sedang ada urusan, katanya dua jam lagi dia akan pulang.” Jawab Adit ramah “ Mari masuk! Kau harus banyak beristirahat. Paman akan buatkan bubur khusus untukmu. Ayo!” Ajak Adit membantu Kleo memasuki rumahnya. Benar, rumah itu terasa begitu hangat. Ada banyak foto di bingkainya, foto foto Regan dan ayahnya sejak ia kecil sampai remaja. Terlihat jelas, mereka saling menyayangi. Adit mempersilahkan Kleo tidur di kamarnya yang cukup sempit, menyelimutinya dengan penuh kasih sayang, mengompres keningnya. Semua itu tidak pernah Kleo dapatkan dari ke dua orang tuanya selama ini. Beberapa menit, pria tua itu pergi ke arah dapur, memasakkan bubur ala kadarnya untuk Kleo kemudian membawakan bubur hangat itu ke kamar. “ Ayo coba dimakan, maaf nak, tidak ada lauk selain telur. Harusnya bubur ayam malah jadi bubur telur.” Tawa renyah pria tua itu menyuapkan makanan ke mulut Kleo. Senyumnya terlihat begitu tulus walaupun Kleo bukanlah anaknya sendiri. Hal itu membuat air mata Kleo menetes “ Kenapa? Apa ada yang sakit?” Tanya Adit cemas “ Buburnya keasinan ya?” Tebaknya khawatir Kleo menggeleng pelan kemudian menghembuskan napas berat. Bisa bisanya ia terharu dengan perbuatan yang sesederhana ini. “ Ini sangat lezat paman. Boleh aku habiskan?” Tanya Kleo Adit mengangguk senang, benar saja Kleo menghabiskan bubur itu. Kondisinya jauh merasa lebih baik saat berada di rumah Regan. Rumah itu begitu penuh dengan kasih sayang dan ketulusan. Usai melahap bubur itu, Kleo meminum obat dokter yang membuatnya tertidur sementara Adit memperhatikannya iba “ Anak yang begitu sempurna, kenapa Qian membuatmu menderita sementara ia memiliki banyak harta. Jika nanti sesuatu yang buruk terjadi padaku, tolong jaga Regan nak. Paman hanya percaya padamu.” Gumam pria itu kemudian menutup pintu pelan. Entah hal buruk apa yang ia maksud Jam menunjukkan angka 7 malam saat Regan mengetuk pintu dan melangkah masuk ke rumahnya. Ia baru selesai bekerja di toko roti itu. “ Kau baru pulang? Apa sudah makan?” Tanya Adit cemas “ Iya ayah sudah, Kleo mana?” Tanya Regan “ Dia sedang tidur di kamar ayah sejak tadi. Mungkin ia sudah lama tidak beristirahat.” Jawab ayahnya Mendengar itu, Regan langsung melangkah menuju kamar ayahnya. “ Kleo!” Tok tok tok “ Kleo!!” “ Regan, jangan mengganggunya. Dia sedang sakit.” “ Ck, tidak apa apa ayah. Aku butuh bantuannya. Ayah tidur gih sana sana!” Celetuk Regan yang hanya ditanggapi dengan senyum oleh ayahnya Beberapa saat kemudian, pintu kamar dibuka. Kleo tampak berbeda, ia berantakan, rambutnya tidak beraturan dan pakaian yang ia kenakan hanya kaos usang milik ayah Regan. Tapi kenapa, rasanya ia jadi lebih tampan? “ Ada apa?” Tanyanya tak suka “ Ikut aku sebentar!” Tanpa bada basi, Regan menarik lengan Kleo “ Ke mana? Aku masih sakit!” Tolak pemuda itu “ Bukankah kau berjanji akan membantuku memilihkan kado untuk Profesor besok.” Ingat Regan “ Kapan? Aku tidak pernah berjanji!” Celetuk pemuda itu dengan tatapan tajam “ Ah berarti kau berjanji di dalam pikiranku. Jadi ayo tepati! Ayok! Nanti tokonya keburu tutup!” Ajak Regan memaksa “ Jalan kaki?” “ Iya tokonya dekat kok. Cuma setengah kiloan lah!” “ APA?” “ Kenapa? Takut encok? Dih anak mama banget sih.” “ Ya sudah ayo!” Ujar Kleo kemudian Regan tersenyum senang. Mereka tidak menyadari, seseorang memperhatikan mereka dari tirai yang dibiarkan terbuka, seseorang yang tidak lain adalah... “ Alankar” Ia mengulas senyum kemudian berbalik dan menghilang bersama angin “ Kalian tidak akan mati sebelum merasakan penderitaan yang aku rasakan.” Gumamnya bersama suara angin
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN