Tragedi Sebelum Kado

2104 Kata
Pagi harinya, Regan menatap kotak jam tangan di mejanya. Jam yang sangat bagus dan antik selain itu harganya cukup mahal. Pasti profesor menyukainya. Ia juga sudah menyiapkan bunga lili putih pagi pagi sekali. “ Kau yakin ingin memberikannya pada profesor?” Tanya Kleo tampak mengenakan kaos usang milik ayah Regan. Gadis itu mengangguk pelan. “ Kalau kau merasa sehat, kenapa kau tidak pergi ke sekolah?” Tanya Regan mengernyit, pasalnya, Kleo terlihat segar bugar. Tapi ia justru terlihat mager ke sekolah “ Aku betah di sini jadi jangan memerintah. Terserah mauku mau di mana saja. Aku juga merasa belum sehat.” Tutur Kleo dibumbui batuk ringan yang mengada ada “ Terserah deh.” Regan ke luar dari ruangannya usai memasukkan semua kado itu ke dalam tas nya. Ia pamit pada ayahnya kemudian bergegas “ Regan, kau tidak mau makan dulu?” Tanya ayahnya usai mengelus rambut anaknya manja “ Aku sudah membawa bekal ayah. Oh ya, jika Kleo merepotkan usir saja dia!” Lirik Regan tajam “ Hus kamu ini. Hati hati di jalan ya.” Pinta sang ayah. Regan tersenyum, memeluk ayahnya kemudian beranjak ke luar. Kleo tersenyum melihat betapa manisnya keluarga mereka. Meskipun rumah mereka berdindingkan kayu, hidup seadanya dan sangat sederhana, tapi... Justru Kleo merasakan keluarga itu hangat akan cinta. Sangat hangat. “ Kleo, mari sarapan! Paman buatkan nasi goreng dengan telur mata sapi spesial ini!” Ajak Adit “ Iya paman.” Kleo pun sarapan bersama Adit yang begitu terlihat menyayanginya. Regan beruntung memiliki ayah sebaik itu. Sementara itu, di sana.... 15 menit kemudian, Regan tiba di depan gerbang sekolahnya. Tapi... Keningnya mengernyit saat melihat ada ambulance yang bertengger di halamannya. Seluruh siswa berkumpul mengerubungi sosok tubuh yang tampak digotong menuju ambulance itu. Regan melihat Miss. Jenn tampak menangis di koridor sana. Jangan jangan... Regan segera berlari mendekat, benar saja, tubuh tua profesor yang tampak digotong dengan alat bantu pernapasan. Apa yang terjadi? “ Regan, bantu saya.” Pinta Miss. Jenn memegang pundaknya lembut “ Kau sudah menyediakan kado itu? Saya tidak mau Sam, menderita sampai akhir. Tolong, bawa kado itu ke rumah sakit. Saya akan menemaninya. Saya tunggu kamu di sana. Kamu bisa kan?” Tanya Miss. Jenn Regan mengangguk pasti. Beberapa saat kemudian, Ambulance itu pun berangkat menuju rumah sakit terdekat. Meninggalkan Regan yang mematung seorang diri. “ Apa yang terjadi pada profesor?” Tanyanya pada salah satu siswi “ Entahlah, tubuhnya ditemukan pingsan di dalam ruangan kepala sekolah.” Tutur siswi itu kemudian beranjak pergi. Karena kejadian itu, sekolah diliburkan dari mata pelajaran sehari. Regan berniat untuk langsung pergi menemui Prof. Sammuel di rumah sakit. Tapi.. langkahnya terhenti sebelum ke luar dari gerbang saat melihat Alankar tampak menatapnya dari depan ruang kelas 2 IPA. Hatinya terasa berat, walau bagaimanapun banyak pertanyaan yang ingin Regan tanyakan padanya. Maka, dengan tekad bulat walaupun menurut semua orang Alankar adalah sosok yang kejam, Regan memutuskan untuk menghampirinya. Sosok itu tidak beranjak, tidak seperti biasanya. Ia hanya diam mematung dengan tatapan kosong, bersender di dinding sekolah dengan tangan dilipat di depan d**a. Sulit untuk meyakini sosok itu sudah lama tiada. “ Kau sudah tahu siapa aku sebenarnya bukan?” Tanyanya menatap Regan dengan wajah pucat. Regan mengangguk berat “ Lalu kenapa masih menghampiriku?” “ Aku tidak takut.” Jawaban Regan membuat sosok itu mengulas senyum dingin. “ Aku tahu kau ingin menanyakan sesuatu, aku juga tahu orang tuamu pasti akan melarang jika kau berusaha ingin tahu tentangku. Karena itu, aku tidak pernah menyebutkan namaku.” Tutur sosok itu. Regan mengerti, ia menatap pangerannya itu lekat “ Kau yang menyelamatkanku waktu itu kan?” Tanya Regan “ Ya.” Jawab Alankar Regan tersenyum lega, akhirnya ia menemukan sosok penyelamat yang selama ini ia cari. Sosok yang telah menjadi satu satunya penolong saat nyawanya hampir hilang. “ Aku tahu, aku yakin itu, kau memang orangnya.” Tutur Regan berkaca kaca. Lalu... Deg Alankar terdiam saat tiba tiba Regan refleks memeluk tubuhnya. Gadis itu menangis di dadanya “ Terima kasih. Aku sangat ingin hidup, entah apa yang akan terjadi pada ayah jika aku pergi.” Gumamnya. Tapi perlahan Regan merasakan tubuh Alankar menghilang, ia membuka mata dan benar saja, tangannya memeluk udara hampa. Alankar menghilang, tampak pemuda itu melangkah pergi “ Tunggu!” Teriak Regan mengejar “ Apa kau semurahan itu? Berani sekali memelukku tanpa izin.” Celetuk arwah itu mengulas senyum dingin. Regan tersipu, ia mengikuti Alankar untuk duduk di taman. Sekolah itu telah kosong, semua siswa memilih pulang. “ Kenapa kau mengikutiku? Kau tidak takut aku akan menyakitimu?” “ Kau tidak mungkin menyakitiku.” Jawab Regan yakin “ Bagaimana kau bisa yakin? Bukankah banyak rumor tentangku.” Senyum Alankar membuka buku “ Karena aku menyukaimu.” Tutur Regan gamblang. Alankah menutup bukunya, ia menatap Regan tak yakin “ Ya, aku gila bukan? Aku menyukaimu. Tidak mungkin orang yang menyelamatkanku adalah orang jahat. Pasti ada yang salah, aku yakin.” Tutur Regan penuh semangat “ Sebaiknya kau jangan mendekat!” Alankar justru berdiri “ Kenapa?” Regan menjajari sosok itu “ Aku ini tidak nyata, aku sudah banyak merasakan ketidak nyamanan saat hidup. Biarkan aku sendirian saat ini. Jangan mendekat dan jangan mengatakan hal aneh lagi!” Tekan sosok itu kemudian beranjak dengan tangan di dalam saku celana “ Alankar tunggu!” Regan kembali mengejar. Ia tidak tahu kalau sosok itu mengulas senyum melihat Regan yang begitu antusias untuk mengejar dirinya. Regan bahkan mungkin lupa pada permintaan Miss. Jenn dan kado yang telah ia siapkan. Ia justru sibuk mengikuti Alankar yang terus melangkah menjauh. “ Alankar aku mohon berhenti melangkah! Aku ingin bicara denganmu!” Teriak Regan mengikuti. Tapi hantu itu justru menghilang dan muncul kembali di depan ruang musik, masuk dan memainkan piano dengan begitu merdunya. Reganpun berlari ke sana, benar saja, Alankar terlihat begitu menikmati alunan nada yang ia mainkan. Regan mengulas senyum, ia mengusap peluhnya “ Tolong jangan pergi!” Pintanya dengan napas terengah engah “ Aku ini jahat Regan, aku yang menjadi penyebab semua hal buruk terjadi.” Tutur sosok itu menatap Regan Gadis itu menggeleng cepat “ Tidak! Bukan kamu! Aku yakin itu. Kematian Jessy dan semuanya, itu tidak mungkin ulahmu. Ada apa sebenarnya? Kenapa namamu seakan menjadi misteri di sini?” Tanya Regan mendekat Alankar terdiam, ia tak ingin mengingat apa pun yang menyakitkan di masa lalu. “ Kau tahu? Aku akan sabar menunggu cerita darimu.” Senyum Regan mengerti. Alankar mengulas senyum dingin “ Kau sangat tampan.” Ujar Regan kagum “ Ya, aku tahu.” Tutur pemuda itu “ Kau tahu kau mengingatkanku pada sepupuku Kleo, sifatnya sangat mirip denganmu.” Cerita Regan “ Ya, aku tahu dia.” “ Kau menyebalkan. Kenapa semuanya kau bilang ya aku tahu, ya aku tahu! Huft. Tak bisakah kau pura pura terkejut?” Regan mengembungkan pipinya kesal. “ Dia berbeda dengan ayahnya. Mungkin ayahnya terobsesi denganku, makanya ia membentuk Kleo agar menyerupaiku.” Ujar Alankar “ Paman Qian? Jadi kau juga mengenalnya? Wow jadi kau ini mungkin seumuran dengan ayah?” Regan takjub “ Ya, aku mengenalnya dengan baik. Apa ayahmu tidak pernah menceritakan itu?” “ Ya, ayah pernah bercerita. Dia ingin aku menjauhimu. Jujur, mendengar cerita tentangmu sangat mengerikan. Tapi... Kenyataannya tidak seperti itu.” Tutur gadis itu senang “ Kenyataan tidak bisa terlihat hanya dari kulit luar saja.” “ Aku senang, akhirnya aku bisa bicara denganmu seperti ini. Kau tahu? Ini membuatku bahagia. Kau bukan hantu yang jahat, jika kau memang jahat, kau pasti sudah menyakitiku. Di sini tidak ada siapa pun bukan?” Ujarnya senang. Alankar melirik ke arah jam dinding, waktu berjalan begitu cepat. Jam menunjukkan angga 4 sore dalam sekejap, sosok itu mengulas senyum dingin. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Benarkah ia sosok yang baik? Apakah semua cerita tentangnya hanyalah dusta? Melihat sosok di depannya hanya diam, Regan mengernyit. Hingga... Ting tong ting tong ting tong ting tong Jam berdenting 4 x pertanda hari sudah senja. “ Selamat tinggal Regan!” Senyum Alankar “ Apa? Kenapa? Kau mau ke mana?” Tanya Regan panik. Apalagi saat tubuh itu perlahan memudar lalu menghilang berbaur bersama angin. “ Alankar!!” Teriak Regan mencari ke segala arah. Pemuda itu tidak ditemukan dimanapun. Regan menghela napas kesal, hingga... Tatapannya terarah pada tulisan yang terletak di secarik kertas tempat Alankar tadi duduk. Tulisan yang seketika membuat senyumnya mengembang. “ TERIMA KASIH SUDAH MENEMANIKU. AL” Regan bahkan mencium tulisan itu dan meletakkannya di dalam saku. Tapi di mana Alankar? Sosok itu muncul di depan sebuah jam besar, di tangga menuju lantai 2 di perpustakaan lama. Ya, itu adalah jam kematiannya. Jam yang mengikat dirinya berada di sana. Tetes darah mengalir dari mata pemuda berparas tampan itu, ia mengulas senyum “ Tidak ada yang bisa menolak keinginanku.” Gumamnya ----***----***----***---- Benar saja, saat Regan berjalan ke luar dari sekolah itu... Ia baru teringat sesuatu. “ Astaga!” Keluhnya menepuk kening saat mengingat kondisi kepala sekolah tadi. Regan bergegas membuka tasnya, bunga lili putih itu bahkan sudah terlihat layu “ Bagaimana ini.” Regan hampir menangis melihat wujud bunga yang tadinya segar. Bagaimana bisa ia lupa dan malah duduk mengobrol bersama Alankar. Gadis itu bergegas mencari angkot, ya, ia terpaksa harus menahan traumanya. Regan harus segera sampai di sana. Beruntung tidak ada yang terjadi sampai akhirnya ia tiba di halaman Rumah Sakit Sejahtera. Tempat di mana Profesor Sammuel dirawat. Regan langsung menemui resepsionis rumah sakit dan menanyakan ruangannya. Regan berlari menuju lift, mencoba menemukan ruangan gurunya yang ternyata berada di lantai 3. Sesampainya di sana, ia melihat Miss. Jenn tampak duduk di depan ruang tunggu. “ Maafkan sa... Regan menghentikan ucapannya saat melihat suster ke luar dari ruangan itu. Ia tidak mau di cap sebagai orang gila. “ Kasihan sekali ya pria tua itu. Dia hidup sebatang kara, bahkan tidak ada yang menemaninya saat sakit. Jadi ingat ayah.” Tutur suster itu pada rekannya “ Ya, di dalam kondisi serangan jantung begini harusnya ada yang menemaninya.” Jawab rekannya “ Maaf, apakah Prof. Sudah sadar?” Tanya Regan menghadang “ Profesor Sammuel?” “ Iya.” “ Tadi beliau sempat sadar, hanya saja saat jam 12 siang tadi beliau kembali mengalami serangan jantung. Dan beliau kritis sampai saat ini, kesempatan hidupnya sangat kecil. Kau muridnya?” Tanya suster tadi usai menjelaskan. Regan mengangguk sedih “ Boleh saya masuk?” Tanyanya “ Tentu, kasihan sekali. Dia sendirian.” Tutur sang suster kemudian beranjak. Regan melangkah ke depan ruangan itu, membuka pintunya pelan. Benar saja, kondisi profesor Sammuel terlihat menyedihkan. Mata tuanya terpejam, entah apa yang telah menimpanya. “ Maafkan saya.” Tuturnya pada Miss. Jenn yang hanya mengulas senyum manis padanya “ Tidak apa apa, syukurlah kau mau datang.” Senyum wanita itu, ia benar benar sangat baik. Walaupun Regan tahu, sosok itu pasti merasa kecewa padanya. Regan mendekati Prof. Sammuel kemudian memegang tangannya hangat. “ Prof, selamat ulang tahun. Maaf Regan terlambat. Tapi Regan membawakan profesor hadiah. Sebenarnya ini bukan dari Regan, tapi dari Miss. Jenn.” Tuturnya berkaca kaca, mendengar desah napas yang bahkan terdengar sulit untuk berembus. Miss. Jenn mengangguk Mengiyakan agar Regan membuka tasnya dan memberikan kado itu sekarang. Sayangnya, diantara semua bunga, hanya 2 tangkai yang masih segar. Regan memberikan bunga itu ke tangan Prof. Sammuel. “ Ini bunga lili kesukaan profesor. Miss. Jenn juga menitipkan ini.” Regan menyerahkan kotak jam tangan ke tangan tuanya. “ Katakan padanya, Aku sangat mencintainya dan itu dimulai dari kata selamanya.” Pinta Miss. Jenn “ Prof. Miss. Jenn bilang dia sangat mencintai profesor dan itu dimulai dari kata selamanya.” Bisik Regan Deg Tiba tiba, ia merasakan napas sang profesor mulai terasa berat, terlihat jari jarinya bergerak. Miss. Jenn tersenyum senang melihat hal itu. Begitu pula Regan. “ Katakan padanya, dia harus hidup. Kalau dia pergi, siapa yang akan menaburkan mawar merah kesukaanku diatas makam?” Isak Miss. Jenn Regan pun kembali mendekati telinga sang Profesor “ Miss. Jenn ingin profesor bertahan hidup, jika profesor pergi, siapa yang akan menaburkan mawar merah di atas makam Miss. Jenn?” Air mata sang profesor mengalir turun. Perlahan, kelopak matanya bergerak “ J-Jenny.” Gumamnya berkali kali Betapa besar cintanya pada sang istri, hingga mampu membawanya kembali dari pintu kematian. “ Panggilkan dokter!!” Teriak Miss. Jenn Regan pun segera berlari ke luar, mencari dokter. Benar saja, kelopak mata tua itu perlahan terbuka, samar samar, Profesor Sam bisa melihat wujud istrinya, merasakan genggaman tangannya, bahkan bisa mendengar suaranya. Betapa ia merindukan Miss. Jenn “ Sam, bangunlah! Bangun sayang! Kamu pasti bisa! Ayo bangun!” Ujar suara itu membuat Prof. Sammuel meneteskan air mata. Walaupun kemudian wujud itu kembali samar dan memudar, setidaknya ia tahu, Miss. Jenn berada di sisinya. Ya, masih menemaninya Benar benar cinta sejati
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN