Perjanjian Dengan Yang Mati

2185 Kata
Dibalik ruang gelap itu, jam berdenting nyaring. Padahal sudah bertahun tahun lamanya, tapi jam itu tidak pernah mati. Sosok itu menatap jam dinding dengan tatapan tajam, ia tahu sesuatu yang besar pasti akan datang. Waktu yang sudah lama ia tunggu akan kembali. Seberkas ingatan waktu itu seakan membekaskan emosi. Ia merapatkan rahang, jari jarinya mengepal erat, sorot matanya penuh kemarahan “ Kau akan dikenang sebagai sosok yang buruk! Kau akan dikecam dan dihilangkan! Kau akan mati bahkan namamu tidak akan diingat di sini!” Tekan suara orang dari masa lalu seolah kembali nyaring, suara saat detik detik kematian mendekat. Tawanya yang lepas “ Lepaskan aku!” Teriak Alankar saat itu, ia tidak bisa berbuat apa pun dengan tangan yang terikat ke belakang. Sosok di depannya justru membuka resleting celana lalu mengencingi dirinya. “ Kau harus mati Al, tidak boleh ada yang terlalu sempurna di dunia ini.” Seringainya. Lalu... “ Aaarrkkhh!!” Tidak ada yang mendengar jeritannya, tidak ada yang menolong atau mungkin tidak peduli. Setiap jiwa jahat yang tertinggal adalah serpihan roh yang penuh dendam, begitu pula Alankar, sama seperti korban korban pembunuhan yang kejam lainnya, Alankar tidak bisa mengingat dengan jelas detik detik kematiannya. Hanya sekelumit wajah yang ia kenali, ia bahkan tidak ingat siapa yang membunuhnya. Seseorang? Atau justru lebih banyak? Yang ia tahu, rasa sakit hati di dalam dadanya begitu besar, rasa kecewa yang tertinggal dan membuat jiwanya tidak tenang. Bahkan selama puluhan tahun, yang ia pikirkan hanya bagaimana caranya ia membalas dendam. “ Keadilan untukku akan datang. Akhirnya.” Senyumnya dengan urat leher menegang Ia kemudian berbalik, seluruh seragamnya seakan dipenuhi dengan darah, wajah tampannya berubah mengerikan. “ Kutuk Aku!” Teriaknya dengan suara menggema. Bersamaan dengan itu, seluruh buku di perpustakaan lama seakan jatuh berserakan di lantai Ya, Kutuk Aku! Hanya kutukan yang membuatku kuat bersama waktu yang terus berlari cepat. ----***----***----***---- Flash back kejadian 4 hari yang lalu... Tok tok tok Sosok tua itu membuka mata yang memang tidak pernah terpejam erat, sudah 25 tahun ia tidak bisa terlelap dalam damai. Jemarinya mencoba meraih kaca mata yang tergeletak di atas tempat tidur tak jauh dari sisinya. Entah siapa yang mengetuk pintu di jam 12 malam begitu. Tok tok tok Suara ketukan itu kembali terdengar, pelan tapi begitu jelas “ Tunggu sebentar!” Ujarnya kemudian menuruni ranjang dan melangkah pelan ke arah pintu ruang tamu. Prof. Sammuel membuka pintu rumahnya pelan. “ Siapa?” Tanyanya Tapi hening, tidak ada siapa pun. Mungkin itu ulah anak anak nakal yang iseng memainkan pintu. Prof. Sammuel ingin menutupnya, tapi... Tatapannya terarah pada sesuatu yang tergeletak di bawah di dekat keset depan pintu. Kening tuanya mengernyit, sebuah amplop? Siapa yang mengantarkan amplop malam malam begini? Ia pun kembali menutup pintu dan membawa amplop itu masuk. Beberapa menit kemudian, ia duduk di ruang tamu, menyalakan lampu dan membuka amplop itu. Akan tetapi... Bola matanya seketika memanas, ia gemetar. Bagaimana tidak, amplop itu berisi tentang foto foto kematian istrinya di masa lalu. Ada 2 lembar surat lama yang ternyata adalah sobekan dari buku diary milik istrinya. Buku yang hilang sehari sebelum Miss. Jenn ditemukan tewas. Tulisan yang berisi “ Tolong! Tolong aku! Seseorang akan melenyapkanku. Aku tahu itu! Beberapa hari ini aku tidak bisa tidur, seseorang selalu mengetuk pintu dan tidak ada seorang pun saat aku membukanya. Tolong aku! Aku tidak ingin membuat Sam cemas. Ini terjadi sejak aku memutuskan untuk merenovasi perpustakaan itu.” Air mata Prof. Sammuel menetes turun Ia melanjutkan membaca lembar ke dua... Dia akan datang, aku hanya ingin membantunya. Dia tidak terlihat seperti yang tampak. Aku tidak tahu ia akan menyakitiku atau tidak. Tapi jika sesuatu terjadi itu karena ulahnya. Sosoknya sering muncul di perpustakaan lama, bagai anak malang yang kesepian, aku hanya ingin menolongnya. Namanya, Alankar Adirangga. Dia adalah mantan siswa private lesku dahulu, nama yang terpaksa dihilangkan hanya karena ketidak adilan. Sedikit lega aku bisa melihatnya kembali walaupun itu tidak nyata. “ Alankar?” Prof. Sammuel kembali menyimpan foto foto itu ke dalam amplop. Apakah benar istrinya melihat hantu? Hantu yang selama ini menjadi legenda? Jika itu benar, Prof. Sammuel tidak akan pernah bisa memaafkan hantu itu. Bahkan jika ia bukan manusia, Prof. Sammuel akan mengejar wujudnya sampai ke neraka sekalipun. Malam itu juga, ia bergegas mengambil senter dan kunci mobil. Menyetir ke arah sekolah Adirangga. “ Ada apa profesor?” Tanya satpam membuka gerbang sekolah Profesor Sammuel tidak mengatakan sepatah kata pun, ia hanya turun dari mobilnya kemudian menyerahkan kuncinya pada satpam dan bergegas masuk. Pria tua yang hampir pensiun itu mengacak acak berkas berkas lama di komputer tentang nama Alankar Adirangga. Tapi sama sekali tidak ia temukan satu pun informasi terkait nama tersebut, padahal ia sangat yakin, itu tulisan istrinya. Memang sudah berlalu selama 25 tahun tapi ia masih ingat dengan detail. “ Perpustakaan lama.” Ingatnya. Bukahkah istrinya menyebutkan perpustakaan lama di dalam carikan kertas itu. Ia pun bergegas mengambil kunci dan berjalan di tengah dingin malam menuju tempat paling angker di sekolah itu. Anehnya, saat tiba di perpustakaan itu, ia mendengar suara jam dinding berdenting nyaring. Padahal, ia sangat yakin, jam di sana tidak tersentuh selama 40 tahun terakhir, bahkan sebelum ia menjabat menjadi kepala sekolah. Bagaimana mungkin baterainya masih bertahan? Profesor Sammuel langsung membuka kunci perpustakaan dan melangkah masuk tanpa pikir panjang. Ia bahkan tidak peduli tentang rumor itu jika itu menyangkut tentang kematian istrinya. Sedikit heran, melihat betapa megah dan besarnya perpustakaan dua lantai itu. Buku buku di sana masih tersusun rapi. Ia menyalakan senter ke segala arah, berjalan menuju rak rak yang berjejer rapi, mencari satu persatu kemungkinan tentang apa yang ia cari. Mencoba menelisik ke bagian rak administrasi, hingga... “ Ketemu!” Serunya saat melihat catatan siswa siswi pada 40 tahun yang lalu. Tapi, baru saja ia hendak membaca datanya... Klek Seluruh lampu di perpustakaan itu menyala, bahkan lampu kristal di tengah ruangan. Membuat jantung tua Prof. Sammuel berdebar kencang. Tentu saja ia kaget, bukankah harusnya semua lampu itu mati? Ia bergegas menyobek lembar informasi tentang Alankar lalu menyimpannya di saku. Kepala sekolah tua itu tahu, ada yang tidak beres dengan tempat itu. Maka ia bergegas buru buru turun. Tapi... “ Anda mencari ini?” Sapa sebuah suara membuatnya menoleh ke sebuah arah. Tampak seorang siswa duduk di sana dengan buku diary usang di tangannya. Siswa yang seolah tak pernah ia lihat selama ini. “ Siapa kamu? Kenapa malam malam begini berada di perpustakaan ini? Bukankah kamu tahu perpustakaan ini terlarang?” Tanyanya tegas. Tapi... Diary siapa yang berada di tangannya? Sosok itu mengulas senyum, berdiri kemudian melangkah ke arah Prof. Sammuel “ Katanya, ada dua orang yang memiliki kemampuan bisa melihat orang yang sudah mati. Pertama, dia yang punya kemampuan, ke dua, dia yang sebentar lagi akan mati. Menurut anda, anda masuk kategori yang mana?” Tanyanya dengan sorot mata kosong “ Jangan bercanda dengan orang tua dan cepatlah ke luar!” Tekan Prof. Sammuel “ Anda tidak ingin buku ini?” Tanya sosok itu menunjukkan nama yang tertera di kulit diary. Jennifer Audy “ Itu buku diary milik istri saya.” “ Bukankah anda harus memintanya dengan sopan?” Senyumnya menatap Prof. Sammuel tajam “ Siapa kamu?” Profesor Sammuel mulai mengerti, tak ada kehidupan di mata sosok itu. Tidak mungkin seorang siswa berkeliaran malam hari dengan seragam sekolah. Terlebih ia terlalu mencolok jadi Prof. Sammuel tidak mungkin tidak mengenalnya. “ Saya bertanya siapa kamu?” Tanyanya sekali lagi “ Minggu, 27 Juni 25 tahun silam. Anda pikir kenapa Miss. Jenn berusaha mencari tahu tentang perpustakaan ini dan mencari tahu tentang saya? Apakah dia pernah menceritakan tentang masa lalunya pada anda?” Tanya sosok itu menyeringai, darah segar tampak mengalir dari bola matanya. Prof. Sam melangkah mundur, tapi sosok itu semakin cepat melangkah ke arahnya. “ Dia sangat mencintai saya sebelum bertemu dengan anda. Dan cinta itu belum benar benar hilang.” “ Tidak mungkin!” “ Jika saya masih hidup, apakah menurut anda dia akan memilih anda?” “ K-kau... Alankar?” “ Menurut anda kenapa dia menyembunyikan diary ini dari anda? Menyembunyikan diary dari suami sendiri. Bukankah itu mencurigakan? Anda bisa membacanya sekarang.” Sosok itu menyerahkan buku Diary Miss. Jenn ke tangan tua Prof. Sammuel “ Bacalah!” Senyumnya, kemudian perlahan tubuhnya berubah menjadi sosok mengerikan yang penuh dengan darah, menyeramkan. “ Baca!!” Teriaknya Prof. Sammuel berlari ke luar perpustakaan, mencoba menguncinya secepat mungkin. Tapi, tiba tiba suasana di luar hujan, sebelumnya bahkan tidak ada gemuruh, ia melihat darah merembes dari bawah kakinya, membuatnya ketakutan. Ia tak bisa bergerak, lalu tiba tiba, di suasana yang mencekam... “ Anda takut?” Deg Buka di tangannya terjatuh karena kaget. Bagaimana tidak, sosok tadi tiba tiba berada di sisinya, begitu dekat. “ Bisa pasangkan bola mata saya?” Tanyanya membuka tangannya. Benar saja, bola matanya yang penuh darah tergenggam di sana “ Tidak! Pergi! Pergi dari saya! Pergi!” Teriak Prof. Sammuel Namun... Tiba tiba, semuanya menjadi gelap. Ia membuka mata dengan napas terengah engah. Sangat membingungkan, tiba tiba ia berada di dalam perpustakaan itu, terduduk di kursi yang tadi diduduki Alankar. Kenapa ia bisa kembali berada di dalam? Pria tua itu benar benar ketakutan. Ia mendapati diary istrinya di atas meja. Segera mengambilnya kemudian mencoba membuka pintu. Tapi... “ Tolong!” Teriaknya saat menyadari pintu itu terkunci dari luar. Bahkan kunci itu terjatuh di tanah, tidak ada hujan di luar sana. Lalu apa yang terjadi? “ Bukankah anda yang mengunci pintu itu tadi?” Senyum Alankar melangkah dari arah lantai dua. Ia terlihat kembali dengan wujudnya yang setampan dewa Yunani. “ Apa sebenarnya yang kau inginkan? Kenapa melakukan semua ini? Jadi begini caramu membunuh semua anak yang memasuki perpustakaan ini? Kau menakuti mereka?” Tanya Prof. Sammuel yang mulai terbata. Dadanya terasa sangat sakit. Berada di situasi begitu sangat amat tidak cocok dengan usia dan penyakitnya. “ Aku? Apa kau sangat yakin? Hahaha ya mungkin memang aku. Tapi aku akan membiarkanmu hidup, dengan satu syarat.” “ Apa?” Tanya pria tua itu mulai pucat “ Dapatkan kembali daftar nama semua orang yang berada dalam satu kelas denganku 40 tahun yang lalu, terutama anggota OSIS.” Perintah Alankar berhenti melangkah di hadapan Prof. Sammuel “ Kenapa aku harus membantumu?” “ Kau harus membantuku. Jika tidak, kau kan meninggal dengan cara yang mengenaskan. Kau mau itu?” Senyum Alankar “ Ti-tidak.” “ Kau tidak akan pernah tahu, siapa yang berada di balik kematian istrimu.” “ A-apa?” Wajah Prof. Sammuel memucat “ Kau pikir hantu sepertiku bisa membunuh seseorang? Apa kau sangat yakin istrimu meninggal gara gara kutukan perpustakaan ini? Kau pikir aku mau terkurung seorang diri di sini dan menghabiskan seluruh waktu sendirian? Kau pikir aku mau menakuti siapa pun yang datang ke sini?” Prof. Sammuel terdiam Apa mungkin Miss. Jenn dibunuh? Tapi kenapa? Ia meremas diary istrinya itu dengan pikiran yang berkecamuk “ Kau mau membantuku? Kau akan hidup dan bisa mencari tahu tentang istrimu lebih lama. Kau bisa tahu kenapa istri dan anakmu bisa menjadi korban kecelakaan.” Senyum Alankar menghasut “ Bagaimana aku bisa mempercayaimu? Hanya hantu yang penuh dendam yang bergentayangan sepertimu.” “ Kalau begitu kau tidak akan bisa ke luar dari tempat ini.” Alankah berbalik kemudian kembali melangkah menuju tangga. Prof. Sammuel terlihat berpikir, apakah semua kata kata Alankar benar? Kenapa ia harus berbohong? Tidak ada keuntungan bagi hantu untuk berbohong bukan? Lalu jika benar Miss. Jenn dibunuh, bukankah itu artinya sekarang adalah kesempatannya untuk mencari tahu dan mengungkapkan kebenaran? Jika ia meninggal malam ini, mungkin kebenaran itu akan terkubur bersama jasadnya dan Miss. Jenn tidak akan mendapatkan keadilan untuk selamanya. Maka dengan berat hati, pria tua itu membuka suara “ Baiklah! Bantu aku ke luar! Aku masih ingin hidup. Sebagai gantinya aku akan mencari daftar nama itu!” Teriaknya yakin Mendengar itu, Alankar mengulas senyum, perlahan tubuhnya menghilang bagaikan asap. Kemudian... Klek Pintu perpustakaan kembali terbuka. Prof. Sammuel bergegas ke luar dan berlari menuju ruangannya. Tapi, baru saja ia hendak membuka pintu ruangannya... Bruk Seseorang menghantam leher belakangnya, ia tak sadarkan diri. Kondisi itu juga diperburuk dengan serangan jantungnya yang kambuh. Saat terbangun... Ia sudah berada di rumah sakit. Menggenggam dua tangkai lili putih di tangannya. Flash back Off Prof. Sam meneteskan air mata saat menceritakan semua itu dengan bibir pucat pada Regan yang mendengarkan dengan saksama. “ Tidak mungkin hantu bisa memukul kepala seseorang bukan?” Tuturnya getir “ Ada yang mencoba membunuhku.” Imbuhnya Regan memegang tangannya lembut. “ Saya akan membantu anda. Saya akan mencari tahu apa yang terjadi pada Miss. Jenn sebenarnya.” Ujarnya membuat sosok tua itu mengernyit “ Kenapa? Kenapa kau mau mempertaruhkan hidupmu nak?” “ Pertama, Miss. Jenn memperlakukan saya dengan baik. Membuat saya merasa nyaman. Ke dua... Regan menghentikan ucapannya Bagaimana ia bisa melanjutkan. Bisa saja ia dianggap gila. “ Ke dua?” Prof. Sammuel menunggu jawaban “ Tidak ada apa apa, saya menganggap anda seperti orang tua saya. Saya tidak akan membiarkan anda sendirian.” Senyum Regan tulus Sosok di depannya mengulas senyum manis “ Semoga tuhan selalu memberkatimu nak.” Ujarnya membelai rambut Regan lembut Ke dua... “ Karena aku jatuh cinta pada Alankar” Ya, aku tidak ingin dia tersiksa lebih lama
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN