Bermuka Dua...

2108 Kata
Ada pelangi setelah hujan... Terkadang, rasa takut yang ada adalah cara Tuhan membuat kita mengerti Bahwa tenang itu, ada setelah kecemasan... Regan merasakan raganya begitu b*******h, ia duduk di taman belakang sekolah, masih dengan seragamnya, tidur di atas rerumputan menikmati pemandangan yang luar biasa indah dipadu dengan sepasang mata biru yang menatapnya teduh di sisi. Perlahan, ia merasakan sentuhan Alankar menjalar di pipinya, memainkan rambut panjangnya, pemuda itu mendekat, paras yang bak pinang dibelah dua dengan malaikat di dalam tokoh fiktif, hidung mancungnya menyentuh pipi Regan, membuat mata gadis itu terpejam. Cinta telah membuatnya gila, hingga tidak bisa membedakan mana yang nyata dan hanya ilusi belaka. Bahkan ia bisa merasakan kehangatan pada jiwa tak beraga. Regan mengecup pelan bibir pujaannya, mendesah bersama berat napas yang saling mengikat. Memegang leher pucat Alankar dan membawa tubuh pemuda itu ke atasnya. “ Kau yakin?” Tanya Alankar “ Hanya dua hal yang bisa aku pikirkan saat berada di dekatmu. Cinta dan Nafsu, bagaimana bisa aku menolak?” Senyumnya dengan nada berat. Maka, dengan senang hati, Alankar melepas satu persatu kancing seragam sekolah Regan, meraba pahanya. Dan saat gadis itu tengah asyik menikmati semuanya dengan mata terpejam. Tiba tiba “ Regan, mau mencintai hantu jahat itu?” Deg Suara itu membuatnya membuka mata. Entah kenapa, tiba tiba Regan berada di dalam kelas. Itu seperti dejavu, ia seperti kembali pada saat terakhir melihat Jessy duduk di bangku tak jauh darinya. Wajah cantik gadis itu terlihat pucat. Apa ini? Kenapa Regan seakan menjelajahi waktu itu kembali? Apakah waktu mencoba menjelaskan sesuatu padanya? Ting tong Bel pulang berdenting nyaring, dengan cepat, Jessy berdiri merapikan buku bukunya. Regan mencoba menyapanya, tapi... Saat ia mencoba berdiri, tiba tiba ada dirinya yang lain berlari mendekati Jessy. Ya, itu seperti Regan diperlihatkan dengan jelas kejadian dahulu. “ Jessy kau mau membantuku? Aku berjanji akan memberikan nomor Kleo padamu, atau mungkin alamatnya? Tapi ikutlah denganku ke perpustakaan sekali lagi.” Ajak Regan memegang lengan gadis itu. Namun, bersamaan dengan itu... Regan melihat sesosok bayangan terlihat berdiri di dekat dirinya yang lain. Sosok yang terlihat sangat menyeramkan, wajahnya penuh luka, pakaian seragamnya penuh dengan darah dan bau amis yang menyeruak. Terlihat sangat menyeramkan. “ Alankar?” Gumam Regan seakan tak percaya. Ya, walaupun wujudnya seperti itu, Regan masih bisa mengenalinya dengan baik. Kenapa Alankar berdiri di belakangnya? “ Ti-tidak! Lepaskan aku! Lepaskan! Tolong jauhi aku! Lepaskan aku!” Teriak Jessy ketakutan. Baru Regan sadari, yang Jessy maksud adalah sosok di belakangnya yang justru tersenyum mengerikan. Sosok itu mencoba memegang lengannya juga. Tapi... Jessy justru melepaskan genggaman Regan dan berlari membabi buta. Regan ikut berlari, mencoba mencegah kecelakaan itu terjadi, akan tetapi, saat Jessy menghentikan langkahnya di sisi jalan dan ketakutan, tiba tiba sosok itu muncul, mendorongnya hingga tubuhnya tertabrak bus, terlindas dengan mengerikan Ya, Jessy meninggal bukan karena ceroboh. Ia meninggal karena didorong oleh sosok Alankar yang mengerikan. Seakan tak percaya, Regan melangkah mundur, lututnya seakan gemetar “ Tidak! Itu tidak mungkin benar! Alankar tidak mungkin melakukan hal itu. Ini tidak mungkin!” Gumamnya berkaca kaca “ Kenapa kau belum percaya Regan? Di bisa memanipulasi semuanya! Dia mengerikan! Dia mengerikan! Bebaskan aku! Bebaskan aku!” Tangis jiwa lain di belakang Regan. Jessy yang menangis dengan tubuh transparan. “ JESSY?” “ Aku mohon! Jauhi dia! Dia sangat jahat. Alunan jari jarinya menjebak aku dan semua korbannya di dalam nada yang seolah menggema indah. Dia makhluk terkutuk! Dia tak seharusnya bebas! Tolong aku! Tolong!” Perlahan, tubuh Jessy menghilang kemudian lenyap tak bersisa. Bersamaan dengan itu, terdengar ramai suara yang membuat kepala Regan rasanya ingin pecah. “ Jauhi dia! Jauhi dia! Dia makhluk jahat! Dia makhluk terkutuk! Jauhi dia!” Suara suara itu seakan menggema di seluruh dinding. Menyatu bersama udara yang berubah pekat. Menggagahi setiap helaan napas. Hingga.... Deg Waktu seakan kembali berdetak. Regan membuka mata, rupanya ia tertidur di kelas. “ Syukurlah, semuanya hanya mimpi. Tapi... Mimpi apa yang semenyeramkan ini?” Gumam Regan menyeka air matanya yang benar benar menetes, sebelum... Suara alunan melodi di tempat itu menggema bersama angin yang berembus semilir. Semua siswa sudah pulang, Regan sengaja menunggu di ruangannya agar hening sebelum akhirnya terlelap tidur tadi. Ia menunggu sosok itu muncul, mengobati rindu yang entah sejak kapan mulai membibit di hati. Perlahan, ia membereskan tas kemudian melangkah ke luar. Baru saja berniat ke ruang musik memenuhi nada yang mendayu indah, ia sudah melihat sosok itu berdiri di depan kelas, mengulas senyum ke arahnya. Benar kata Prof. Sammuel, tidak ada yang bisa menolak pesonanya. Ingin rasanya Regan memeluk dan menggapai tubuh tegap itu bagai di mimpi tadi. Akan tetapi ia sadar, Alankar tidaklah nyata. Sejenak, Regan terdiam bayangan wajah Jessy tadi seakan mengganggu dirinya. Bahkan sampai detik ini, ia tidak tahu seperti apa Alankar yang sebenarnya. Kenapa ia harus meninggal? Apa hubungannya dengan perpustakaan itu? Jika ia memang jahat, kenapa Miss. Jenn begitu dekat dengannya? Jauh dalam lamunannya... “ Ikut aku! Aku ingin menjelaskan sesuatu.” Ujar Alankar kemudian berbalik dan melangkah menjauh. Seperti biasanya. Regan pun mengikuti dengan senang. Mereka duduk di bawah pohon beringin besar tepat di belakang gedung kelas Biologi Adirangga. Beberapa detik, suasana hening. Regan melirik ke arah Alankar yang menatap langit lekat. Ia terlihat begitu berbeda dengan sosok dalam mimpinya tadi. Entah, apakah mimpi itu benar benar nyata? Regan meremas roknya, ingin bertanya tapi lidahnya begitu kelu untuk berucap. “ Apa kau tahu saat seseorang meninggal dalam kemarahan, ia bisa menjadi dua sisi yang berbeda. Entah apa pun yang mereka katakan, aku tidak benar benar ingat, apakah aku benar benar telah menyakiti banyak orang atau tidak. Mungkin saja, iya karena itu adalah wujud amarahku dan disaat seperti itu, aku tidak bisa mengingat apa pun yang terjadi. Kalau kau ingin menjauh, maka tinggalkan aku sendirian. Jika memang aku jahat, aku pasti sudah lama menyakitimu.” Tutur Alankar tanpa menatap Benar, jika ia memang jahat, ia pasti sudah menyakiti Regan sejak awal. “ Al.. “ Aku sudah lama meninggal, hanya itu yang aku tahu. Ada dendam yang begitu besar di dalam hatiku tapi aku tidak tahu dendam apa itu. Aku bahkan tidak mengingat dengan jelas bagaimana kematianku. Yang terjadi setelah itu, namaku menjadi nama terkutuk, tidak ada satu pun yang datang ke perpustakaan, tempat itu dikunci, dan aku kesepian dengan julukan hantu yang jahat. Jadi tak apa jika kau mau menjauh!” Ia kemudian menatap Regan. Bola mata birunya berkaca kaca “ Alankar tidak! Aku tidak akan menjauhimu dengan alasan apa pun. Aku mengerti bagaimana rasanya kesepian. Aku yakin kau tidak akan melakukan semua itu. Aku sangat yakin, karena itu... Aku dan Prof. Sammuel akan membantumu, mencari data data siswa di masa itu. Aku berjanji. Tapi aku mohon, jangan pernah menjauh.” Regan menahan lengan kemeja Alankar agar tidak beranjak “ Kenapa? Aku hanya sosok dari masa lalu. Aku tidaklah nyata.” Tutur pemuda itu getir “ Karena kau penyelamatku. Aku jatuh cinta padamu sejak hari itu. Aku tidak akan rela jika kau menjauh.” Jawab Regan Mendengar itu, Alankar mengulas senyum pucat “ Bagaimana kau bisa mencintai jiwa yang sudah lama tidak beraga?” Gumamnya “ Kenapa tidak? Aku akan selalu berada di sisimu.” Tutur Regan yakin. Sebelum... Drrrtttt drrrtttt Ponselnya berdering. Tertera nama Kleo di layarnya “ Huft, kenapa nyamuk ini selalu mengganggu!” Gerutunya kesal “ Angkat saja. Aku tidak akan ke mana mana!” Ujar Alankar “ Tunggu sebentar!” Regan berdiri kemudian mengangkat telefon dari sepupunya itu. Ia tidak sadar, Alankar menatapnya tajam, senyum lembut di wajahnya berubah menyeramkan dan penuh maksud. Perlahan, ia melirik ke atas sana, ada banyak sekali jiwa jiwa malang yang terikat dibalik tembok sekolah Adirangga itu. Salah satunya adalah Jessy, dengan senyum mengerikan... Alankar memainkan mata pada sosok yang terlihat ketakutan itu. Arwah arwah malang yang terjebak. Bagaimana sebenarnya Alankar? “ Kau di mana? Ini sudah sangat sore! Cepat pulang!” Teriak Kleo di seberang “ Jangan bawel! Aku mau pulang kapan saja itu urusanku. Sudah dulu, aku akan menutup ponselnya!” Celetuk Regan kesal. “ Hei! Ayahmu jatuh sakit. Apa kau masih bergumul dengan para hantu itu. Baiklah diam saja di sana! Pulang saja nanti saat paman dimakamkan!” Tut tut tut Kleo mematikan ponsel Wajah Regan berubah pucat mendengar kabar ayah tersayangnya sakit. Bagaimana mungkin? Bukankah tadi ayahnya baik baik saja? “ Alankar... “ Ayahmu sakit?” Regan mengangguk cepat “ Pergilah! Bukankah aku selalu berada di sini. Kau bisa menemuiku kapan saja.” Ujar sosok itu tenang “ Benarkah?” Regan merasa senang. Melihat sikap Alankar yang mulai luluh padanya “ Ya.” Reganpun segera menggendong tasnya dan berlari pulang. Meninggalkan Alankar yang menatapnya dingin “ Raditya sakit? Apakah itu mungkin?” Ujarnya mengulas senyum kemudian melangkah dengan tangan di dalam saku celana. Seperginya Regan, tempat itu penuh dengan teriakan dan tangisan. Benar benar seperti sekolah berhantu yang seharusnya ----***----***----***---- 15 menit kemudian, Regan tiba di halaman rumahnya dengan napas terengah engah. Ia bahkan berlari sekuat tenaga dari sekolah. Bergegas mengetuk pintu rumah yang terlihat tertutup. Jam memang sudah menunjuk pada angka 5 sore hari. Regan mengetuk pintu beberapa kali karena panik. Tapi... Saat seseorang tiba tiba membukanya, bola mata Regan membundar, bagaimana tidak, yang membuka pintu tidak lain adalah ayahnya. Dan ia terlihat sangat sehat, melihat putrinya yang terengah engah, kening tua Adit mengernyit “ Ada apa nak? Kenapa kau terlihat begitu lelah dan berkeringat? Kau berlari dari sekolah?” Tanyanya polos. Bisa ditebak, Ayah Regan tidak tahu apa apa Regan mengerti saat melihat Kleo keluar dari kamar ayahnya dengan senyum jahat sembari menggigit apel. “ Kau tiba cepat sekali? Apa ada hantu yang mengejarmu?” Sindir Kleo menyebalkan. Kepala Regan seakan mengebulkan asap tebal, sudah jelas Kleo mengerjai dirinya “ Dasar ikan cupang!” Teriak Regan kemudian melangkah masuk melewati ayahnya lalu melepaskan tas dan memukulkannya pada Kleo berkali kali. “ Regan, ada apa nak? Kasihan Kleo, di bisa sakit!” Adit mencoba melerai. Tapi tidak bisa, putrinya sudah seperti hulk yang tenggelam dalam amarah. Ia mengejar, memukuli, menggigit lengan Kleo dengan gemas. “ Aku akan membunuhmu sekarang juga! Dasar menyebalkan! Kau pikir bercanda membawa bawa nama ayah itu bagus Hmm? Bagaimana kalau ayahmu yang sakit keras hah? Gimana???” Teriak Regan “ Aww sakit beruang!” Teriak Kleo saat Regan menggigit lengannya gemas. Bekas gigitan itu bahkan memar di kulit putihnya “ Biarkan! Aku puas sekarang!” Celetuk Regan kemudian duduk dan menenggak gelas air di mejanya tandas Ia mengipas ngipas dirinya dengan tangan. “ Sebenarnya ada apa ini?” Tanya Adit duduk di sisi putrinya “ Dia sibuk bermain main di sekolah dengan para hantu paman. Makanya aku menelefon dan mengatakan kalau paman sedang sakit.” Jawab Kleo dengan niat bercanda Tapi, tidak dengan Adit, wajahnya berubah pucat. “ Apa ini tentang Alankar?” Tanyanya berat. Regan mengatur napas. Ia sudah tahu, ayahnya tidak menyukai nama itu. Bisa bisanya Kleo bercanda menyebut nyebut soal hantu di depan sang ayah. “ Ayah, Kleo hanya bercanda.” “ Lalu kenapa pulang sesore ini? Regan, jauhi Alankar. Jika kau melihat penampakannya, menjauhlah. Menjauhlah!” Tekan Adit dengan napas tertahan, wajahnya berubah merah “ Alankar?” Kleo mengernyit “ Ayah tidak suka kau berdekatan dengannya! Sengaja atau tidak menjauh darinya! Kau tidak tahu betapa jahatnya dia!” “ Ayah, tapi Alankar tidak sejahat itu. Ayah mungkin salah paham saja, kalau dia jahat, dia akan menjauhiku sejak awal kan.” “ REGAN!” DEG Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya, Adit berdiri dengan wajah marah sembari membentak putrinya “ Kalau ayah bilang jauhi dia ya jauhi! Jangan membantah atau ayah .... Adit tidak melanjutkan kata katanya, sepertinya... Ia menutupi sesuatu “ Atau apa ayah? Ayah tidak mengenalnya dengan baik. Dia baik.” Bela Regan “ Tidak ada orang baik yang membuat nyawa orang lain seperti mainan! Andaikan kau tahu apa yang terjadi dengan ibumu.” Tekan Adit “ Ibu?” Regan mengernyit Wajah Adit berubah pasi. Kenangan yang begitu ingin ia lupakan seakan menggores hatinya kembali. Ia tak menjawab lagi kata kata Regan, Adit justru beranjak ke kamarnya sembari menyeka air mata. “ Siapa Alankar? Hantu itu lagi? Kenapa paman seperti sangat membencinya?” Tanya Kleo mengusap rambut curlynya ke belakang. Regan menatapnya marah “ Puas kamu sekarang! Kalau sudah sembuh cepatlah pulang! Gara gara kamu, ayah membentakku untuk pertama kalinya.” Tunjuk Regan kesal “ Apa? Gara gara aku? Mana ada orang tua yang mau anaknya menjadi gila?” Senyum Kleo sinis Brak Regan memukul meja kemudian beranjak ke kamarnya. Ia terlihat benar benar marah “ Alankar? Apa mitos tentang hantu penunggu perpustakaan itu memang benar? Bagaimana bisa sosok tak kasat mata membuat Regan seperti ini. Aku harus mencari tahu.” Gumam Kleo Di luar sana, sosok Alankar mengulas senyum kemudian menghilang... Ya, kau memang harus mencari tahu... Putra Qian!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN