Aku tak pernah meminta apa pun
Bagai air yang mengalir, bagiku hanya takdir yang berhak memilih
Sampai akhirnya kembali ke muara kematian nanti
Tapi, Tuhan menghadirkan rasa ini...
Rasa yang membuatku ingin melawan takdir, untuk pertama kalinya.
Regan melangkah ke luar dari halaman rumah sakit itu, sesekali ia menoleh ke arah lantai 4 di atas. Tempat Alankar dirawat, Regan tidak tahu kalau Alankar juga memperhatikannya dari balik tirai jendela, melihat gadis itu berjalan ke luar dengan tenang. Syukurlah, setidaknya Regan baik baik saja.
Alankar hendak menutup tirainya, sebelum...
Tiba tiba sebuah mobil mendekati Regan, gadis itu mengernyit. Lalu tiba tiba, seseorang ke luar dari mobil itu.
“ Nona bisa membantu kami tentang alamat ini? Barangkali anda tahu?” Tanya sosok pria bertubuh tinggi tegap. Regan menatap kertas di tangannya, mengernyit
Ia tidak menyadari, seseorang mengendap endap di belakangnya dengan seutas sapu tangan yang sudah dibasahi dengan obat bius. Melihat hal itu, Alankar bergegas ke luar dari kamarnya. Wajah tampannya terlihat benar benar panik, tapi... Saat hendak membuka pintu lift, seseorang memegang pundaknya
“ Kak, mau ke mana?” Tanyanya yang tak lain adalah Maria
Gadis itu baik baik saja? Bukankah tadi di toilet ia bertemu dengan Irene?
Benar, itu Maria. Ia mengulas senyum dan terlihat benar benar tenang. Tidak ada satu pun bekas goresan di kulitnya. Alankar mencoba mengabaikan, ia tidak menjawab dan bergegas memencet tombol lift
“ Kak, ada yang ingin aku katakan.” Maria tetap berusaha mengikuti Alankar. Bahkan ia juga masuk ke dalam lift.
“ Bukankah tadi kau bilang akan pulang? Kenapa masih di sini?” Tanya pemuda itu tanpa menatap.
“ Iya, aku ingin mengatakan sesuatu kak. Mungkin aku tidak akan bisa mengikuti pentas seni itu. Ini kunci rumahnya.”
Deg
Alankar mengernyit, barulah ia menatap Maria. Apa sebenarnya yang ingin dikatakan gadis itu? Ia menyerahkan kunci rumah megah itu ke tangan Alankar
“ Aku akan pindah sekolah. Pamanku yang lain bersedia merawat dan menyekolahkanku ke luar kota. Maafkan aku kak, mungkin ini terakhir kali kita bertemu. Terima kasih untuk semua kebaikannya.” Tutur Maria dengan mata berkaca kaca
Alankar menggeleng, wajahnya memerah
“ Kau tidak bisa pergi kemanapun sebelum pentas seni itu.” Tekannya menatap Maria
“ Tapi kak... Aku tidak bisa. Aku harus pergi. Besok siang jam 2 aku akan pergi. Ini memang mendadak, tapi tidak ada alasan untukku bertahan di sini.” Jawab gadis itu berat.
Mendengar itu, Alankar bahkan seakan lupa dengan bahaya yang mungkin akan menimpa Regan di luar sana. Ia justru sibuk memegang pundak Maria.
“ Jika aku bilang tidak ya tidak! Selama kau masih siswa di sekolah Adirangga, kau harus mematuhi apa yang aku perintahkan! Kau mengerti?” Ujarnya memerintah
Maria hanya bisa menundukkan wajahnya, menahan air matanya yang hampir menetes
“ Tidak ada alasan untukku bertahan di sini kak. Aku tidak memiliki siapa pun. Adirangga memang sekolah yang luar biasa. Tapi sekolah lain juga tidaklah buruk. Paman sedang sakit, aku harus merawatnya.” Tutur Maria kemudian melepaskan pegangan Alankar di bahunya
“ Maria kau harus tetap di sini.”
“ Kenapa kak? Apa ada alasan yang membuatku harus tinggal?” Tanya Maria memancing
Alankar menghembuskan napas berat
“ Tidak ada bukan? Terima kasih untuk semua bantuannya kak.” Ujar Maria, kemudian...
Deg
Gadis itu tiba tiba mengecup pipi Alankar sebelum akhirnya berlari pergi. Meninggalkan Alankar yang mematung meraba pipinya. Kenapa rasanya begitu hangat? Apa Alankar memiliki perasaan pada gadis itu.
“ Maria!!” Alankar berusaha mengejar Maria. Ia benar benar lupa akan Regan. Entah apa yang terjadi pada Aninditha Regantara di luar sana.
Sementara itu, Maria menghentikan langkahnya di depan toilet. Ia mengatur napas, jantungnya berdegup kencang. Sebelum akhirnya, sepasang tangan menariknya masuk ke dalam toilet itu. Benar, itu adalah Irene yang sejak tadi menunggunya.
Apa yang sebenarnya terjadi?
“ Aku sudah mengatakan kalau aku akan pergi ke luar kota besok kak. Apa sekarang kau sudah percaya?” Tanya Maria
“ Dia melarangmu?” Tanya Irene mengernyit
“ Ya, tapi itu karena pentas seni, bukan karena hal lain. Aku juga sudah mengembalikan kunci rumah itu dan dia menerimanya. Bukankah itu sudah merupakan bukti bahwa kak Alankar tidak memiliki perasaan apa pun padaku.” Tutur Maria meyakinkan
Irene mengulas senyum
“ Baguslah kalau begitu. Aku akan tetap memantaumu! Kau harus benar benar pergi, baru uang itu akan aku berikan padamu. Jika benar bukan kau gadis itu, maka kau akan selamat. Tapi jika kau lah gadis yang Alankar sukai, maka aku akan membuat hidupmu bagai di neraka.” Tekan Irene dengan tatapan tajam
Maria menghela napas tegang, kakak Alankar ini benar benar sangat mengerikan. Tapi uang 20 juta yang ia janjikan bukan uang yang sedikit, Maria bisa bersenang senang dengan uang itu. Untuk apa ia berpura pura menyukai Alankar.
“ Aku bisa memastikan kalau bukan aku yang kak Alankar sukai tapi Regan. Lihatlah! Aku meminta beberapa orang untuk menculik Regan dan kak Alankar langsung berlari cemas ke luar dari kamarnya. Bukankah itu artinya dia mencintai gadis itu. Tadi di ruangannya juga kak Alankar terlihat sangat bahagia karena Regan baik baik saja. Memang, aku yang menyerang dan melukai Regan waktu itu, tapi bukan karena aku cemburu kak. Aku hanya tidak suka padanya, tidak ada alasan lain.” Cerita Maria meyakinkan.
“ Aku pernah melenyapkan kekasih Alankar, jadi kalau memang wanita itu adalah pilihannya, dia juga tidak akan pernah bahagia.” Celetuk Irene
Maria mengulas senyum licik
Mereka tidak menyadari, Alankar mendengar semua itu dari balik pintu. Ya, bukankah ia mengikuti Maria tadi.
Jari jarinya mengepal erat, Irene benar benar keterlaluan. Tapi, Marialah yang justru membuat hati Alankar sakit. Ia mengira Maria adalah gadis yang baik, cantik dan manis. Tapi ternyata, gadis itu benar benar berbisa. Alankar jadi teringat apa yang Regan katakan sebelumnya, bahwa ia datang untuk melindungi Alankar dari rasa sakit dan pengkhianatan orang orang di sekitarnya. Apakah Regan sudah mengetahui semuanya? Kalau benar begitu, dari mana Regan tahu?
“ Berani sekali mereka mencoba mempermainkan hidupku. Mereka belum tahu siapa Alankar sebenarnya.” Gumam pemuda itu kemudian bergegas pergi. Bagaimanapun caranya, ia harus menyelamatkan Regan. Semoga ia belum terlambat
Alankar berlari ke luar dari rumah sakit, ia bahkan mengabaikan rasa pusing yang kembali mendera kepalanya. Berharap Regan baik baik saja. Tapi... Setibanya di sana...
Alankar tidak melihat Regan di mana pun. Wajah tampannya berubah panik. Di mana Regan?
“ Regan!” Teriaknya mencoba mencari ke segala arah.
Mobil itu masih berada di sana. Tapi Alankar tidak melihat siapa pun di dalam mobil. Itu membuat pemuda paling populer di sekolah Adirangga itu semakin pucat.
“ Regan!” Teriaknya hingga urat leher menegang
Tetap saja, Alankar tidak bisa menemukan Regan.
Jauh dalam paniknya, tiba tiba...
“ Al..” Seseorang memegang punggungnya. Alankar hampir saja memukul orang itu karena kaget. Beruntung, ia bisa mengendalikan diri. Alankar mengambil napas lega saat melihat Jennifer berdiri menatapnya bingung.
“ Kau mencari Regan?” Tanyanya dengan nada lembut
“ Ya.”
“ Dia ada di dalam ruang UGD.” Jawaban Jennifer justru semakin membuat Alankar tegang.
“ Apa? Apa yang terjadi? Dia baik baik saja?” Tanya Alankar panik. Ia bahkan tak menunggu Jennifer memberi jawaban, malah langsung berlari panik ke ruang UGD.
Jennifer mengulas senyum
“ Kalau semua cerita Regan benar, seperti takdir memang sudah berubah.” Gumamnya mengulas senyum
Ya, sepertinya Alankar tidak akan menderita karena mencintai orang yang salah. Tapi apakah benar, takdir bisa salah?
Pemuda itu berlari cepat menuju UGD. Tapi setibanya di sana... Ia justru melihat Regan baik baik saja. Gadis itu tengah berbicara dengan dokter. Di sisinya ada 2 orang pria yang tampak terkapar di ranjang rawat penuh luka.
“ Regan!” Panggil Alankar
Regan menoleh, entah kenapa, Alankar begitu tenang melihat Regan baik baik saja. Itu terlihat konyol, Regan mengernyit menatap Alankar yang tampak sexi karena basah oleh keringat.
“ Kak Alankar? Bagaimana bisa di sini?” Tanya gadis itu mendekat
Ya, aku ingin melindunginya...
Aku takut ia terluka gara gara diriku,
Dan aku tidak akan membiarkan itu ~ Alankar
Deg
Bola mata Regan membundar saat tiba tiba Alankar memeluknya hangat
“ Syukurlah, kau baik baik saja.” Ucap pemuda itu terengah engah.
“ Memangnya aku kenapa?” Tanya Regan mengernyit, walaupun ia merasa begitu senang melihat Alankar begitu mencemaskannya.
“ Tadi aku melihat dua pria itu mencoba menjahatimu. Jadi aku ke luar dari kamar dan mencarimu. Aku kira mereka akan melakukan sesuatu yang kejam padamu.”
“ Oh mereka.” Regan tersenyum mengerti
“ Bagaimana mereka bisa berada di UGD?” Tanya Alankar
“ Aku menghajar mereka kak. Jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku sabuk hitam di karate, aku bisa melindungi diriku dan juga... Kau.” Senyum Regan manis.
Alankar mengulas senyum, ia lupa... Regan bisa bela diri.
“ Kakak terlihat sangat cemas, apa kakak mencemaskanku?” Tanya Regan mengulas senyum bahagia.
Barulah Alankar sadar dan melepaskan pelukannya.
“ Ti- tidak. Tidak secemas itu! Aku hanya tidak mau salah satu siswi Adirangga mengalami hal buruk. Ya sudah, aku akan kembali ke ruanganku.” Ujarnya memalingkan wajah kemudian beranjak pergi
“ Kak... Kak Alankar.” Panggil Regan, dan Alankar tak mendengarkan, ia terus melangkah menjauh, menyembunyikan gurat merah di wajahnya. Regan tidak boleh melihat wajahnya, jika itu terjadi, gadis itu bisa berbangga diri.
Tapi Alankar tidak akan tinggal diam, ia akan membalas siapa pun yang menyakiti dirinya.
Saat pemuda itu tiba di depan ruangannya dan membuka pintu, ia mengernyit melihat Ibunya dan Irene berada di sana.
“ Ya ampun Al, kau dari mana saja nak?” Tanya Sabina panik mengusap peluh yang membanjiri kening putranya. Sebaliknya, Alankar menatap Irene tajam
“ Tidurlah di ranjangmu! Ibu akan memanggilkan dokter untuk memeriksamu.” Pinta Ibunya cemas. Tapi...
“ Kenapa dia ada di sini?” Celetuk Alankar menunjuk Irene tak suka
“ Al, maafkan aku. Aku khilaf, aku tidak akan mengulangi semuanya. Kau tahu? Ini karena aku terlalu menyayangimu. Maafkan aku ya.” Pinta Irene memelas
Alankar mengulas senyum sinis. Bagaimana bisa Irene bersikap sepolos itu padahal selama ini ialah dalang yang telah membuat kisah cinta Alankar berantakan.
“ Sayang, kakakmu tidak akan mengulangi hal itu lagi. Dia sudah berjanji pada ibu.” Tutur Sabina mencoba menenangkan putranya
“ Tentu, ia tidak akan mengulangi hal itu. Karena aku tidak akan tinggal di kediaman Adirangga lagi.” Tekan Alankar dengan rahang tegas.
“ Apa? Kau bilang apa?” Tanya Ibunya cemas
“ Ya, ibu. Aku tidak akan tinggal di rumah itu. Ibu bisa tinggal dengannya tapi aku tidak sudi tinggal serumah dengannya!” Tekan Alankar, terlihat jelas pemuda itu benar benar marah.
“ Alankar, tidak nak. Bagaimana bisa ibu hidup jika kau tidak ada di rumah? Ibu akan kehilangan akal karena mencemaskanmu. Ibu mohon maafkan Irene, dia tidak melakukan semua itu dengan sengaja.” Pinta Ibunya membujuk
“ Oh begitu? Jadi membunuh seseorang demi obsesi gilanya, membuat teman teman wanitaku menderita, memukul dan hampir melenyapkanku demi memuaskan perasaan terlarangnya yang menjijikkan, apakah itu semua juga tidak sengaja? Ibu pilih saja! Ibu mau tinggal denganku? Atau tinggal dengannya. Yang jelas, aku tidak akan pernah mau menganggapnya saudara apalagi tinggal serumah dengannya!” Tekan pemuda itu.
“ Nak, jangan berbicara seperti itu. Kau dan Irene...
“ Ibu, biar aku yang pergi.” Potong Irene dengan wajah tertunduk. Rasanya sangat sakit melihat sikap Alankar yang seperti itu padanya. Ia benar benar mencintai Alankar, karena itu.. melihat kebencian Alankar yang begitu besar, membuat hatinya sangat terluka.
“ Irene, pikirkan semuanya dengan kepala dingin.” Pinta ibunya
Irene mengulas senyum menatap wajah adiknya itu
“ Hari ini aku mengalah Al, tapi dengan memutus hubungan darah ini, aku menjadi lebih bersemangat. Suatu saat nanti, aku pasti bisa memilikimu. Pasti!” Ujarnya membuat Alankar menatapnya tajam
“ Kau yang akan datang padaku, itu janjiku!” Imbuh Irene kemudian melangkah ke luar dari ruangan itu dengan perasaan tertekan.
“ Ibu lihat itu? Dia masih bisa mengatakan kata kata menjijikkan itu. Bagaimana bisa seorang kakak mencintai adiknya sendiri. Apa dia sudah gila.” Alankar kemudian duduk di sisi ranjangnya, menghembuskan napas kesal.
Sementara itu, Sabina meneteskan air matanya. Ingin rasanya mengejar Irene, tapi putrinya memang telah melakukan kesalahan. Ia hanya bisa duduk di sisi putranya, menenangkan Alankar. Mungkin memang Sabina yang telah melakukan kesalahan karena telah membiarkan rasa terlarang itu tumbuh besar di hati putrinya. Harusnya ia bisa mencegah hal itu sejak dulu. Sabina hanya bisa diam, karena itu bisa saja membongkar masa lalunya sendiri. Kenapa Irene bisa memiliki perasaan seperti itu, mungkin karena masa lalu Sabina juga. Sabina mengalami pelecehan dari kakak kandungnya sendiri hingga harus hamil dan melarikan diri dari rumahnya. Benar, Irene adalah anak dari hasil hubungan sedarah Sabina dengan kakaknya sendiri. Beruntung, kekasih Sabina “ Ayah Alankar “ masih mau menerimanya. Merawat Irene dan menganggap Irene anak kandungnya sendiri. Menutupi aib istrinya.
Sabina menyeka air mata mengingat semua itu.
“ Kau istirahatlah, ibu akan memanggilkan dokter.” Pinta Ibunya membantu Alankar berbaring
“ Ibu tidak akan pernah meninggalkanmu nak.” Senyum Sabina mengusap kening Alankar penuh kasih sayang. Itu kenapa Sabina sangat menyayangi Alankar, karena Alankar adalah buah cinta sejatinya. Putranya bersama orang yang sangat ia cintai. Sementara Irene... Ia adalah wujud aib yang coba Sabina simpan dalam dalam, walaupun Sabina juga sangat menyayanginya.
“ Ibu, katakan pada dokter.. aku ingin pulang, ada sesuatu yang ingin aku lakukan di sekolah besok.” Pinta Alankar memegang lengan ibunya
“ Bagaimana dengan kondisimu sayang?” Tanya Sabina membelai rambut putranya
“ Aku sudah baik baik saja. Tolong katakan pada dokter, aku ingin pulang.”
“ Baiklah! Kau tunggu di sini ya. Ibu akan mengurus semuanya.” Senyum Ibunya lembut kemudian meninggalkan Alankar ke luar dari ruangan itu.
Seperginya Sabina, Alankar menatap langit langit kamar rawat itu. Ia kemudian mengulas senyum sinis.
“ Ya, ada hal besar yang harus aku lakukan besok.” Senyumnya sinis
----***----***----***----
Malam itu, Regan tidak bisa memejamkan mata, rasa dari pelukan Alankar tadi terus membekas di benaknya. Regan yakin, Alankar mulai menyukainya. Pengorbanannya tidak akan sia sia, takdir pasti akan berubah.
“ Kau belum tidur?” Tanya Jack yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu kamar, memperhatikan Regan
“ Eh kak Jack? Apa itu?” Tanya Regan menatap piring yang dibawa Jack untuknya
“ Mie instant, kau belum makan bukan?” Jawab pemuda itu mengulas senyum kemudian menyerahkan piring di tangannya ke hadapan Regan. Tentu saja, gadis itu terlihat gembira dan langsung menyantapnya. Jack duduk di sisi Regan, menatap si cantik yang tengah asyik makan itu.
“ Regan.”
“ Hmm.”
“ Sebenarnya di mana keluargamu? Apa mereka tidak pernah mencarimu?” Pertanyaan Jack membuat Regan berhenti menyuap. Regan menghela napas panjang.
“ Maafkan aku ya kak, aku menjadi bebanmu di sini.” Ujarnya sedih
“ Ah tidak, bukan, bukan begitu. Aku hanya heran, bagaimana bisa mereka tidak mencarimu. Setidaknya mengirimu surat.” Tutur Jack
“ Ini kemauanku kak, jika boleh jujur, ayahku hanya tinggal berdua dengan ayah. Dan beliau baru saja meninggal. Aku hanya memiliki seorang sepupu. Satu satunya keluargaku.” Tutur Regan menyeka air matanya
“ Maaf. Aku tidak bermaksud melukai perasaanmu. Kau bebas tinggal di sini selama kau mau. Lagi pula aku juga sendirian.” Jack mencoba menggenggam tangan Regan. Tapi, gadis itu justru menarik tangannya, menghindar
“ Kak, aku ingin tidur, ini sudah sangat larut.” Ucapnya berdalih
Jack pun mengangguk kemudian berdiri
“ Sampai jumpa besok.” Ucapnya lalu ke luar dan menutup pinta kamar Regan pelan.
Regan mematung, menatap pintu itu. Sepertinya ia menyadari, Jack memiliki perasaan padanya.
“ Maafkan aku kak, kau orang yang baik. Tapi hatiku sudah memilih tuannya.” Gumamnya menatap mie instant di tangannya.
Ya, saat hati memilih tuannya..
Bahkan raga tak mampu melerai...
Karena terkadang, rasa lebih berkuasa dari pada nyawa.
Regan menggulung dirinya dalam selimut, berharap pagi segera datang. Rasanya tak sabar menunggu hari esok dan bertemu dengan Alankar. Tanpa Regan tahu, besok Alankar akan mematahkan hatinya
Benar, takdir telah mengintai dan bersiap siap untuk terjadi.
Next part : Pengakuan Alankar