Pagi itu...
Irene mengulas senyum menatap wajah tampan adiknya yang terpejam sementara darah segar merembes ke bantalnya. Irene sama sekali tidak peduli, baginya, asalkan Alankar tidak ke mana mana, semuanya sah sah saja. Ia mendekati wajah Alankar, membelai rambutnya lembut, ingin mengecup pipinya. Tapi...
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu yang cukup keras. Tak lama kemudian, ibunya membuka pintu. Ia begitu terkejut melihat kondisi putranya
“ Irene! Apa yang kau lakukan?” Teriaknya hendak masuk. Tapi... Irene justru menodongkan sisa vas yang tadi ia pukulkan ke Alankar.
“ Jangan mendekat ibu! Jangan! Atau aku akan menusukkan vas ini padamu!” Ancamnya benar benar gila.
“ Apa kau pikir ibu takut? Adikmu bisa mati kalau kehilangan banyak darah! Jangan menjadi gila!” Sabina malah memaksa masuk. Tidak ada seorang ibu pun yang takut mati demi anaknya. Apalagi Sabina sangat menyayangi Alankar
“ Baiklah kalau begitu, jika kau membawa Al, maka aku yang akan mengakhiri hidupku!” Irene mengarahkan runcing vas itu ke lehernya hingga membuat kulitnya luka dan berdarah
“ Irene jangan gila!” Teriak Ibunya panik.
“ Tidak ada yang bisa memisahkanku dengan Alankar! Tidak akan! Ibu aku sangat mencintainya! Apa kau mengerti itu?” Irene meneteskan air mata
Ya, aku sangat mencintainya
Entah sejak kapan rasa itu bermula
Saat ia lahir, aku sangat menyukainya... Dia adikku yang sempurna
Semakin dewasa, aku ingin menjaganya...
Tapi semakin hari, aku semakin tergila gila. Hingga, entah sejak kapan rasa ini berubah, dari sekedar sayang menjadi sebuah perasaan.
Aku tidak rela, siapa pun memandangnya dengan kagum
Dia... Hanya boleh menjadi milikku dan selamanya bersamaku.
Hanya bersamaku
“ Irene, lepaskan nak! Lepaskan benda itu! Tolonggg!!” Teriak Sabina panik
Di sisi lain, Alankar sudah mulai pasi dan di sisi lain, Irene berusaha mengakhiri hidupnya.
“ Baiklah! Ibu tidak akan mengambil Alankar. Tapi tolong, jangan lakukan hal bodoh! Jangan menyakiti dirimu sendiri sayang. Jangan!” Pinta Sabina akhirnya
“ Menjauh! Ke luar dari kamarku!” Pinta Irene
Dengan berat hati, Sabina memutuskan ke luar dari ruangan putrinya
Brak
Irene langsung menutup pintu dan menguncinya. Ia mengulas senyum menatap Al yang terpejam di atas ranjangnya
“ Mulai sekarang, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita Al. Tidak akan ada.” Senyumnya duduk di sisi ranjang kemudian membelai rambut Alankar lembut
Sabina menangis cemas di luar sana, haru meminta tolong pada siapa? Bagaimana jika hal buruk terjadi pada putranya?
Jauh dalam paniknya. Tiba tiba... Ia melihat Jennifer melangkah masuk dengan senyum ramah nan sopan
“ Maaf tante, apa Alankar ada? Dia berjanji akan ke rumah sakit menjenguk temannya. Jadi menurut saya lebih baik jika kita berangkat bersama.” Ujar gadis berparas manis itu
Sabina yang sedih menangis sesenggukan
“ Tolong! Tolong saya!” Pintanya memegang tangan Jennifer penuh harap. Ia tidak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa.
----***----***----***----
15 menit kemudian...
Jennifer memberanikan diri mengetuk pintu kamar Irene. Wajahnya memerah usai mendengar apa yang Ibu Alankar ceritakan, tentang obsesi Irene pada adiknya sendiri.
Tok tok tok
Jennifer kembali mengetuk pintu itu pelan. Berkali kali, sampai akhirnya... Irene membukanya pelan
Jennifer cukup terkejut melihat luka di leher gadis itu
“ Apa maumu?” Tanya Irene tak suka
“ Tidak ada, aku hanya ingin melihat keadaan Alankar saja.” Jawab Jennifer berusaha tenang
“ Dia baik baik saja.” Irene hendak membuka pintu. Tapi... Jennifer menahannya
“ Lepaskan! Kau mau apa? Kau mau memisahkanku dengan Alankar Hmm? Menjauh!” Teriak Irene menggila.
“ Kau tidak mengerti kak, Alankar juga menyayangimu. Aku bisa melihat hal itu di matanya.” Tekan Jennifer. Seketika, Irene mematung.
“ Ya, dia juga menyukaimu, aku bisa melihat hal itu. Jadi biarkan Alankar dirawat. Jika dia sembuh, kalian bisa bersama selamanya kan? Tapi jika terjadi sesuatu yang buruk dan dia tidak tertolong, maka kau tidak akan mendapatkan apa apa.” Tutur Jennifer
“ Dia menyukaiku?” Irene mulai terpengaruh
Jennifer mengangguk pelan
“ Aku bisa melihat hal itu. Bolehkah aku masuk?” Tanyanya
Irene pun membuka pintu dan mempersilahkan Jennifer masuk. Melihat kondisi Alankar, Jennifer sedikit bergidik ngeri. Bagaimana bisa seseorang begitu mencintai hingga rela melukai.
“ Dia terlihat menyedihkan, biarkan dia dibawa ke rumah sakit. Dia butuh pertolongan.” Pinta Jennifer
“ Tidak! Dia tidak boleh dibawa kemanapun. Bagaimana jika dia meninggalkanku? Bagaimana jika dia memben....
Brak
Seseorang memukulkan sesuatu ke kepala Irene. Sesuatu yang membuat ucapannya terhenti. Irene merasa pusing, memegangi kepala belakangnya dan menoleh, ia melihat ibunya menggenggam sesuatu yang barusan dipukulkan ke kepalanya.
“ Maafkan ibu nak, maaf. Ibu terpaksa melakukan hal ini.” Ujarnya dengan mata berkaca kaca
Irene limbung, ia kemudian terjatuh ke lantai, pingsan.
“ Ayo tante! Kita bawa Alankar ke rumah sakit!” Ajak Jennifer
“ Iya, tante akan memanggil pelayan agar membantu membawanya ke mobil.” Sabina langsung beranjak, memanggil beberapa pelayan pria untuk menggotong tubuh Alankar ke mobil dan bergegas ke rumah sakit.
Sepanjang jalan, Jennifer tak berhenti memikirkan ucapan Regan kemarin. Cerita yang tak masuk akal darinya, kenapa semuanya seakan terasa nyata.
“ Jangan membohongiku dengan cerita seperti ini, kau pikir aku akan percaya? Masa depan? Itu semua terdengar seperti dongeng.” Jennifer berdiri usai mendengar cerita dari Regan
Regan mengulas senyum, ia tahu, reaksi Jennifer mungkin akan seperti itu. Maka, ia berdiri menjajari gadis itu.
“ Jika kau tidak percaya, besok pagi datanglah ke rumah Alankar. Irene akan melakukan hal buruk padanya. Kau mungkin tidak akan mempercayaiku, tapi kebenaran yang akan membuatmu sadar, semua itu tertulis di buku catatan milik Alankar di masa depan. Jika kau memang menyayanginya, kau pasti akan datang kan?” Tutur Regan kemudian membiarkan Jennifer beranjak pergi.
“ Omong kosong.” Celetuk Jennifer kemudian melangkah pergi. Meninggalkan Regan sendirian.
Lalu kenapa sekarang semua ucapan Regan seakan menjadi kenyataan? Apakah Regan berkata jujur?
Setibanya di rumah sakit, Jennifer melihat Regan yang menunggunya di depan lobi, mengulas senyum padanya yang mengartikan terima kasih. Setidaknya, dengan pertolongan Jennifer, Alankar baik baik saja.
Usai mengurus pengobatan Alankar bersama Sabina, Jennifer menemui Regan.
“ Kau masih belum mempercayaiku?” Tanya Regan penuh harap. Jennifer menghembuskan napas berat, ia menatap Regan dengan tatapan sukar diartikan.
“ Mungkin ini hanya sebuah kebetulan. Apa yang kau katakan menjadi kenyataan.” Tuturnya masih tak yakin
Regan menghembuskan napas kesal, ia mengusap rambutnya yang masih terlihat berantakan. Bagaimana caranya membuat Jennifer percaya?
“ Jika kau tidak mempercayaiku maka sia sia saja. Alankar akan celaka, dia bisa saja tidak selamat. Dan takdir akan kembali ke muaranya, pengorbananku akan sia sia.” Tuturnya sedih
“ Kau serius saat mengatakan Alankar akan meninggal di sekolah itu?” Jennifer masih meyakinkan dirinya. Regan mengangguk, air matanya tidak mungkin berdusta.
“ Perkataanmu sulit dipercaya. Tapi aku juga tidak ingin hal buruk terjadi, beberapa waktu lalu, aku mendapatkan penawaran kerja honorer di SMU Adirangga. Aku akan menerimanya, dengan begitu aku bisa mencegah hal buruk terjadi.” Tuturnya yang seketika membuat Regan menoleh. Ia teringat akan isi diary itu, bukankah Jennifer memang memilih menjadi guru honorer di SMU Adirangga? Apakah ini sebuah kebetulan? Atau memang takdir akan kembali ke muaranya?
“ K-kau akan mengajar di sana?” Tanya Regan pucat. Jika satu takdir terjadi, maka ada kemungkinan takdir berikutnya akan terjadi juga.
“ Iya, jadi aku bisa memantau dengan baik.” Jawab Jennifer yakin. Regan menghela napas, setidaknya itu bisa membantunya menyelamatkan Alankar.
“ Aku akan menjenguk Alankar, kau mau ikut ke ruang rawatnya?” Tanya Jennifer
Regan menatap bayangan wajahnya di cermin. Rambutnya masih berantakan dan ada plester di pipinya
“ Setidaknya aku harus memperbaiki penampilanku dulu sebelum tampil di depan keluarganya. Lihatlah! Aku seperti orang yang baru saja kehilangan akal.” Celetuknya
Mendengar itu, Jennifer mengulas senyum
“ Kau mau aku membantumu?” Tanyanya. Regan mengernyit
“ Ayo! Ikut aku sebentar!” Ajak Jennifer kemudian.
Beralih ke lain tempat, Irene tampak mulai membuka mata. Rasanya sangat pusing, ia mencium bau aroma obat yang menyengat kuat.
“ Kau sudah sadar nak?” Tanya seorang wanita dengan nada lembut, sosok yang tak lain adalah ibunya. Irene baru sadar, ia berada di rumah sakit saat itu.
“ Di mana Alankar?” Tanyanya
Sabina meneteskan air mata, bagaimana caranya agar Irene tidak lagi mengganggu kehidupan adiknya? Agar Irene sadar, Alankar sedarah dengannya.
“ Ibu, aku bertanya di mana Alankar?” Tekan Irene berusaha duduk.
“ Dia sedang di rawat.” Jawab Ibunya berat
“ Di rumah sakit ini? Aku ingin menemuinya.” Irene melepas infus di tangannya kemudian hendak bergegas turun. Tapi, Sabina dan dua suster lain mencekal lengannya.
“ Sadarlah Irene! Dia adikmu! Adik kandungmu! Jangan bersikap seperti ini!” Teriak Sabina tak tahan
“ Tidak ada yang boleh memisahkanku dengan Alankar, tidak siapa pun termasuk ibu.” Tutur gadis yang sudah kehilangan kewarasannya gara gara cinta buta itu.
Maka terpaksa, Sabina menyetujui ke dua suster itu menyuntikkan sesuatu di lengan putrinya. Obat yang akan membuat Irene lunglai, tenang kemudian kembali tertidur.
-----***-----***-----***------
Di ruangan yang berbeda, Alankar mulai membuka mata. Ia merasakan kepalanya sakit luar biasa. Tentu saja, pemuda bermata biru itu memiliki banyak jahitan di kepalanya. Tapi, yang membuatnya heran adalah... Saat ia terbangun, ia melihat Maria menunggu di sisinya. Bagaimana bisa gadis itu berada di sana? Tampak Adit juga berdiri di sisi Maria bersama rekan OSIS lainnya.
“ Kami mendengar kau mengalami kecelakaan, jadi kami memutuskan untuk menjengukmu.” Tutur Adit membuat Alankar mengerti. Tapi kenapa Maria juga berada di sana? Bukankah ia hanya siswi baru?
“ Kak, maaf, aku ikut ke sini. Tadi panitia memintaku latihan untuk pentas seni. Aku mendengar kau mengalami kecelakaan, jadi aku memaksa ikut. Apa semuanya baik baik saja?” Tanya gadis itu lembut.
Alankar mengangguk pelan, apalagi saat Maria memberanikan diri memegang tangannya
“ Cepat sembuh kak, SMU Adirangga sepi tanpa kehadiranmu.” Ujarnya
“ Ehem!” Celetuk beberapa OSIS lainnya melihat kedekatan Maria dengan Alankar.
Tak lama kemudian...
Tok tok tok
Klek
Terdengar suara pintu ruangan Alankar di buka. Senyum mengembang di wajah pemuda itu saat melihat Regan dan Jennifer melangkah masuk.
Sebaliknya, Adit dan Maria menatap Regan tak suka. Bagaimana bisa gadis itu justru terlihat makin modis dengan rambut yang dipotong sebahu? Luka di pipinya juga terlihat mulai memudar. Dan siapa gadis lain yang berdiri bersamanya itu?
“ Apa aku mengganggu?” Tanya Regan menatap Maria dengan tatapan jengkel. Semua yang terjadi pada Regan adalah ulah gadis licik itu.
“ Tidak, masuklah!” Pinta Alankar
“ Al, kami balik duluan. Kelas belum usai. Cepat sembuh, SMU membutuhkanmu.” Tutur teman temannya menjabat tangan Alankar kemudian beranjak pergi dari ruangan itu. Menyisakan Regan, Jennifer, Maria dan Adit.
Regan melangkah ke sisi Alankar
“ Kau sudah terlihat lebih baik.” Tutur pemuda itu.
“ Ya, aku tidak akan terluka cukup parah jika yang menyerangku memiliki nyali untuk tidak menyerang diam diam.” Celetuk Regan melirik Maria yang kemudian berdiri dari duduknya.
“ Kak, aku pulang duluan ya. Aku tidak mau mengganggumu. Beristirahatlah! Dan jika lapar, jangan lupa makan bekal yang aku buatkan di atas meja.” Tutur Maria begitu manis. Ia kemudian melirik Regan tajam dan bergegas beranjak ke luar, disusul Adit yang juga menatap Regan tak suka.
“ Hmm dia menyiapkanmu bekal?” Senyum Regan sinis
“ Ya, sepertinya begitu. Dia gadis yang baik.” Jawab Alankar
“ Baik? Apa menurutmu dia tidak akan memberikan racun atau jampi jampi di dalamnya?” Sindir gadis itu. Alankar bisa melihat, Regan sangat tidak menyukai Maria. Mungkinkah ia merasa cemburu?
“ Kau cemburu?”
“ Apa? Cemburu? Itu membuang buang waktuku! Aku hanya ingin melihat keadaanmu saja. Tapi sepertinya, Alankar yang populer sudah baik baik saja. Jadi aku permisi!” Celetuk Regan hendak beranjak. Sebelum...
“ Tunggu!” Alankar menahan pergelangan lengannya
Deg
Jantung Regan seakan maraton, ia tak mau wajahnya yang merona terlihat.
“ Terima kasih sudah mau menjenguk.” Tutur pemuda itu membuatnya meleleh.
Sebaliknya, Jennifer menatap lengan Regan yang digenggam oleh Alankar dengan hati terbakar. Kenapa ia merasa cemburu?
“ Aku buru buru!” Celetuk Regan melepaskan genggaman pemuda itu kemudian berjalan ke luar ruangan. Saat membuka pintu, Regan kaget melihat Jack yang berdiri di depannya.
“ Kak Jack?” Senyum Regan senang
“ Aku mencarimu di ruanganmu. Tapi kau tidak ada di sana. Jadi aku memutuskan untuk menjenguk Alankar, rupanya kau berada di sini?” Senyum pemuda itu getir
“ Iya kak, aku menjenguk kak Alankar. Bagaimana kabar kakak?” Tanya Regan, ia melihat buket bunga yang tampak digenggam Jack di tangannya
Bunga yang sebelumnya ia petik untuk Regan
“ Aku baik baik saja. Dan kau juga terlihat lebih baik.” Senyum Jack pucat
“ Bunga itu?” Regan mengernyit
“ Oh ini kebetulan aku membelinya dari anak anak di depan rumah sakit, karena tidak tega. Aku berencana memberikannya pada Al.” Jawab Jack bohong.
“ Kalau begitu silahkan masuk! Aku akan ke ruanganku dan mengurus check out dari rumah sakit ini. Aku menunggumu di rumah ya.” Senyum Regan riang kemudian bergegas pergi. Meninggalkan Jack yang menatapnya sendu. Pemuda itu kemudian menatap bunga di tangannya dan membuangnya ke tong sampah
“ Kenapa kau tidak mengerti, aku menyukaimu.” Gumamnya getir
Sementara itu...
Di lain tempat, Maria terus mengumpat kesal. Bagaimana bisa Regan masih terlihat baik baik saja?
“ Sudahlah, sebaiknya kau tenang saja. Ada banyak cara untuk mengucilkan gadis itu.” Hibur Adit usai mengecup bibirnya di dalam lift
“ Cara apa lagi? Kita sudah melakukan banyak cara! Ya sudahlah, sepertinya aku butuh ke kamar mandi! Tunggu saja di halaman rumah sakit!” Celetuk Maria kesal kemudian segera ke luar setelah pintu lift terbuka.
Gadis itu benar benar merasa sangat kesal, harusnya ia melenyapkan Regan saja. Padahal ia sudah berharap lebih, Irene akan menyakiti Regan setelah mendengar kata kata darinya. Lalu kenapa Regan masih baik baik saja?
Ia melangkah menuju Toilet dengan wajah masam. Mencuci wajahnya yang terlihat kusam, kemudian menatap bayangannya di cermin
Tapi tiba tiba...
Deg
Wajah cantiknya berubah pucat saat melihat ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Seseorang yang tak lain adalah...
“ Kak Irene?”
Ya, Irene menatapnya kemudian mengulas senyum sinis. Menyembunyikan belati di belakang punggungnya.