“ Regan!”
“ Dia kenapa?” Tanya Alankar saat tiba di rumah Jack. Terlihat jelas dari wajahnya. Ia begitu khawatir apalagi saat melihat ada banyak bekas sayatan di lengan, dan pipi Regan, rambut panjangnya terlihat dipotong acak dan berantakan.
“ Aku tidak tahu, saat aku tiba kemarin lusa dia sudah seperti ini. Ada tulisan di tangannya.” Tutur Jack menunjukkan bekas sayatan di lengan Regan yang membentuk sebuah nama “ ALANKAR “
“ Kita bawa dia ke rumah sakit! Kenapa kau tidak segera membawanya? Kau mau dia mati?” Tekan Alankar dengan wajah memerah. Sebaliknya, Jack menatap Alankar dingin
“ Kau bisa membaca tulisan itu kan? Di sana jelas tertulis namamu. Aku yakin yang melakukan hal ini adalah orang yang terkait denganmu, bisa fansmu atau seseorang yang dekat.” Tekan Jack tak suka apalagi saat melihat Alankar memegang tangan Regan
“ Apa maksud perkataanmu ini Jack? Aku tidak tahu apa pun!” Balas Alankar kesal
“ Ya, aku tahu. Kau tidak mungkin melakukan hal serendah ini. Tapi tolong menjauhlah dari Regan. Lihat apa yang terjadi padanya saat kau berada di sekitarnya. Menjauhlah!” Pinta Jack dengan mata berkaca kaca
Mendengar itu, Alankar mengulas senyum sinis
“ Kau tidak berhak memerintahku! Regan bukan keluarga atau kekasihmu. Aku tidak akan menjauhinya!” Tutur pemuda itu kemudian membopong tubuh Regan dan membawanya ke mobil tanpa permisi.
“ Al!” Teriak Jack mencoba mengikuti dan mencegah. Tapi, bukan Alankar namanya kalau mendengarkan. Pemuda itu justru melaju, membawa Regan bersamanya, menuju Rumah Sakit. Meninggalkan Jack yang menatap kepergiannya dengan jari jari mengepal menahan emosi.
“ Karena kau berkuasa, bukan berarti kau bebas melakukan apa pun Al, aku tidak akan membiarkanmu melukai Regan lagi.” Gumamnya dengan mata berkaca kaca
Ya, satu kebencian telah dibentuk oleh takdir. Akankah semuanya benar benar terjadi?
Takdir selalu menemukan jalan untuk kembali pada muaranya.
Tanpa Alankar sadari, sebuah mobil mengikutinya dari belakang. Mobil milik Irene.
----***----***----***----
Tak lama kemudian, Alankar tiba di rumah sakit terdekat. Ia langsung menggendong Regan dan membawanya masuk ke dalam agar gadis itu segera mendapatkan perawatan yang baik.
“ Siapa yang telah melakukan kekerasan padanya?” Tanya dokter mengernyit curiga
“ Saya tidak tahu, dia sudah seperti ini saat saya datang. Tolong obati dia!” Pinta Alankar mengusap rambutnya jengah.
“ Di mana walinya?” Tanya dokter lagi, tentu saja, itu karena ia melihat Regan masih muda. Dan yang membawanya juga masih sangat muda
“ Saya harus berbicara dengan walinya, sekarang!” Pinta dokter itu penuh penekanan.
Melihat tatapan mencurigakan di depannya, Alankar mengulas senyum dingin, menatapnya sinis
“ Tugas anda mengobati secepat mungkin! Bukan menanyakan hal hal yang tidak terlalu penting, untuk itu anda dibayar bukan?” Balas pemuda itu dengan ucapan yang cukup tajam.
Dokter itu mengambil napas berat kemudian mengangguk.
“ Saya akan mengobatinya, tapi kamu tidak boleh ke mana mana! Tunggu di sini!” Pinta dokter, sudah jelas, ia mencurigai Alankar
“ Jika saya mau, saya bisa membeli rumah sakit ini! Jadi jangan macam macam dengan saya. Anda mengerti! Obati dia!” Tekan Alankar
Tak lama kemudian, seseorang yang melihat kesalah pahaman itu melangkah mendekatinya.
“ Alankar?” Sapanya lembut. Pemuda itu menoleh dengan kening mengernyit, terlihat kesal.
“ Ada apa ini?” Tanyanya yang ternyata Jenn, guru les Alankar yang baru. Tentu saja Jenn berada di rumah sakit, bukankah ayahnya sedang sakit
“ Pemuda ini membawa seorang gadis ke mari. Gadis itu terlihat terluka karena dianiaya, seseorang telah menyuntikkan obat terlarang ke tubuhnya. Saya hanya menanyakan dimana walinya, tapi dia malah mengancam dengan kata kata yang tidak sopan.” Celetuk dokter muda itu memaparkan kejadian yang sebenarnya
Jenn mengulas senyum
“ Dia murid les saya dok, saya sangat mengenalnya, dia tidak mungkin melakukan hal itu. Lagi pula, jika memang Alankar yang melakukannya, Alankar tidak akan membawanya ke mari bukan?” Ujarnya membuat dokter itu menghela napas mengerti.
“ Kau dengar itu? Jadi obati dia secepatnya!” Ujar Alankar masih dengan nada penuh tekanan.
“ Baiklah kalau begitu.” Dokter itu pun bergegas masuk ke ruangan Regan dan memberikan penanganan padanya.
Jenn tersenyum menatap Alankar yang tampak kesal kemudian duduk di kursi tunggu sembari mengusap rambut Bownnya.
“ Siapa dia?” Tanya Jenn duduk di sisinya
“ Murid baru di sekolah, bukankah dia masih tanggung jawabku juga sebagai ketua OSIS dan pewaris Adirangga? Dokter itu saja yang bodoh!” Celetuknya emosi
“ Sabar, tidak semua hal bisa diselesaikan dengan emosi bukan?” Jenn mengambil kesempatan memegang tangan Alankar, mengusapnya pelan, menenangkan.
Dan itu membuat Irene yang melihat dari kejauhan semakin kesal. Bisa bisanya guru les itu mengambil kesempatan.
Tak lama kemudian, dokter ke luar dari ruangan Regan
“ Bagaimana keadaannya?” Tanya Alankar berdiri
“ Dia sudah stabil, mungkin tidak lama lagi akan sadar. Sebaiknya kau pulang ke rumahmu, ada banyak perawat yang menjaganya di sini.” Tutur dokter itu masih dengan nada tak suka ke arah Alankar kemudian beranjak pergi
“ Aku rasa dokter itu tidak akan lama berada di sini. Dia sangat menyebalkan!” Gerutu Alankar kemudian bergegas memasuki ruangan Regan, diikuti Jenn
Melihat Regan yang biasanya ceria saat ini berada dalam kondisi yang menyedihkan, entah kenapa perasaan Alankar sedikit tercubit. Entah siapa yang tega melakukan hal ini. Tapi bukankah Regan jago bela diri? Jadi sudah jelas, pelakunya main belakang, mungkin ia membius Regan saat masuk ke rumah, atau mungkin pelakunya lebih dari satu orang.
Jauh dalam lamunnya..
“ Alankar, dia sangat cantik. Apa dia pacarmu?” Tanya Jenn menyadarkan pemuda itu yang kemudian menggeleng, menghembuskan napas berat
“ Ayahmu di rawat di sini?” Tanyanya mengalihkan topik. Jenn mengangguk
“ Kalau begitu kau bisa kan sekalian menjaga Regan di sini? Aku harus kembali ke rumah. Besok setelah selesai jam sekolah, aku akan kembali.” Tanya Alankar yang tentu saja membuat Jenn senang. Alankar meminta bantuannya, dan itu cukup membuatnya merasa berharga.
“ Dengan senang hati.” Jawab Jenn menatap iris biru Alankar yang benar benar memikat
“ Baiklah, aku pulang dulu.” Alankar menatap Regan sekilas, kemudian bergegas ke luar. Meninggalkan Jennifer yang mengulas senyum senang.
Jennifer benar benar menjaga Regan saat itu, ia bahkan tidak beranjak dari sisinya. Sampai larut malam, seorang suster datang dengan beberapa peralatan di nampannya.
“ Saya ingin memeriksa dan memberinya obat. Anda bisa tunggu di luar?”
Jenn mengernyit, kenapa rasanya ia pernah mendengar suara suster itu, terdengar begitu familier. Tapi karena sosok itu menggunakan masker yang menutupi hidung dan bibirnya, Jennifer ragu.
“ Bisa ke luar sebentar?” Tanya suster itu lagi.
Jenni pun mengangguk, ia meninggalkan Regan sendirian tanpa ada keraguan.
Benar saja, saat Jennifer ke luar, suster itu melepaskan maskernya. Ia tak lain adalah Irene, kakak Alankar.
Irene melangkah mendekati Regan, menatap wajahnya dengan raut kesal. Kenapa gadis yang disukai Alankar terlihat sangat cantik walaupun sedang terluka? Ia merogoh sesuatu dari nampannya, sebuah belati kecil.
“ Kau ingin memiliki Alankar? Maka kau harus berhadapan denganku, Irene Adirangga. Karena Alankar tidak akan pernah menjadi milik siapa pun kalau aku masih hidup.” Tuturnya kemudian mengarahkan belati itu ke jantung Regan.
Irene hendak menghujamkan belati itu ke d**a Regan. Sebelum...
Deg
Darah segar menetes saat tiba tiba sebuah tangan menahan belatinya di udara. Irene tercekat melihat Regan membuka mata. Ia bahkan mampu menahan serangan Irene yang dilakukan sekuat tenaga.
“ Lalu kenapa kalau kau Irene Adirangga? Apa kau pikir aku takut?” Senyum Regan kemudian mendorong Irene terjatuh di lantai.
Regan melepas semua alat bantu dan infus dari tubuhnya. Gadis itu kemudian turun dari ranjang rawat, meraih pisau buat dari nakas dan menudingkannya pada Irene yang masih memucat sedikit syok.
“ Kau pura pura sakit? Sepertinya kau sangat licik.” Tekan Irene dengan mata memerah. Regan mengulas senyum
“ Aku memang sakit, tapi aku tidak koma. Setidaknya dengan memejamkan mata aku bisa tahu salah satu musuh dalam selimut bagi Alankar. Dan ya, aku memang ingin melindunginya dari semua bahaya bahkan dari dirimu!” Ancam Regan.
Irene melayangkan tangannya, ingin menampar Regan. Tapi, Regan justru memegang lengannya dan dengan mudah memutarnya. Membuat Irene merasa sakit.
“ Pergi dari ruanganku, atau aku akan memberi tahu Alankar siapa kau sebenarnya. Kau mau dia tahu kalau kakak tersayangnya sebenarnya mencintai adiknya sendiri? Kau mau Alankar menjauhimu?” Bisik Regan
Irene menggeleng, baru kali ini ada gadis yang berani melakukan hal ini padanya. Apakah Regan tidak takut akan akibatnya?
“ Aku tidak akan membiarkan kekasih Alankar hidup.” Irene masih bisa melawan. Mendengar hal itu, Regan mengernyit
“ Kekasih? Siapa yang mengatakan hal itu? Aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan Alankar!” Ujarnya memancing. Sekarang giliran Irene yang mengernyit bingung.
Regan sengaja melepaskan pegangannya di tangan Irene. Ia kemudian duduk di sisi ranjang, Irene berdiri dengan wajah kesal
“ Jika kau bukan kekasihnya, lalu kenapa Alankar dengan repot membawamu ke sini?” Tanya Irene
“ Entahlah, yang jelas hubunganku dengan Alankar kurang baik. Kenapa aku bisa menjadi kekasihnya? Seseorang telah menipumu.” Senyum Regan sinis
“ Tidak mungkin Maria menipuku!”
“ Maria? Kau tahu? Marialah yang menyerangku tempo hari. Dia menyerangku, karena tidak suka aku terlalu dekat dengan Alankar, sama sepertimu. Oh atau mungkin perasaannya pada Alankar sama sepertimu? Tapi aku lihat, dia jauh lebih cerdas, buktinya.. dia bisa membuatmu menyerang orang yang salah.” Senyum Regan
“ AWAS KAU!” Tunjuk Irene kemudian memasang kembali maskernya dan beranjak ke luar dengan wajah dipenuhi kemarahan.
Reganpun turun dari ranjang dan bergegas ke luar. Langkahnya terhenti saat Jennifer menghadangnya di pintu.
“ Kau sudah sadar?” Tanyanya
Regan mengernyit, Jennifer memang masih sangat muda tapi Regan masih bisa mengenali wajah cantiknya, senyum ramahnya dan tatapannya yang begitu menenangkan.
“ Miss. Jenn?” Senyum Regan senang kemudian memeluk gadis yang kebingungan itu.
“ Miss. Jenn, ini benar benar anda kan? Ya Tuhan! Ini benar benar keajaiban.” Seru Regan menatap iris Jennifer lekat. Tentu saja, Jennifer kebingungan. Dari mana Regan bisa tahu namanya? Bagaimana Regan mengenalnya? Sedangkan ia merasa baru pertama kali bertemu dengannya.
“ Apa kita saling mengenal?” Tanya Jennifer
Regan mengajak Jennifer ke dalam ruangannya. Ia kemudian menutup pintu dan menangis memeluk gadis itu.
“ Kau mungkin tidak mengenalku. Tapi aku sangat mengenalmu, Jennifer guru les pribadi Alankar, usiamu masih 20 tahun minggu depan, ayahmu saat ini sedang sakit. Ibumu meninggal saat kau masih kecil, warna favoritmu merah, kau memiliki zodiak Aries. Kau menyukai Alankar sejak pertama kali melihatnya, tapi kau tidak pernah ingin memilikinya. Kau sangat menyukai lagu lagu klasik.” Tutur Regan menjabarkan semuanya yang tentu saja semakin membuat Jennifer mengernyit
“ Oh ya, kau juga selalu membawa diary berwarna cokelat di saku jaketmu.” Tunjuk Regan
Benar saja, Jennifer mengeluarkan diary dari balik jaketnya. Wajah gadis itu menjadi pucat.
“ Siapa kau sebenarnya? Apa kau seorang peramal?” Tanyanya gugup
Regan memegang tangan Jennifer lembut. Gadis itu meneteskan air mata, mencoba mengatur napas.
“ Akhirnya aku bertemu denganmu. Aku akan menceritakan semuanya padamu. Aku yakin kau bisa membantuku. Kau satu satunya orang yang bisa membantuku dan bisa dipercaya.” Tutur Regan kemudian mulai menceritakan yang sebenarnya.
Sementara itu, di sana...
Irene baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Ia melepas masker, sarung tangan dan semua hal yang berbau suster dari tubuhnya kecuali seragam yang ia kenakan. Malam sangat larut, jadi ia yakin semua orang sudah tertidur. Irene pun memilih turun, memasuki rumah dan segera bergegas ke kamarnya. Ia benar benar marah, berani sekali Maria mengerjainya. Tapi ia tidak mau begitu saja percaya pada Regan. Bisa jadi Regan yang berbohong.
Baru saja ia hendak menyalakan lampu kamarnya, tiba tiba...
Klek
Irene tersentak
Bagaimana tidak, seseorang menyentuh sakelar lampu sebelum ia menyalakannya. Seseorang yang tak lain adalah... Alankar. Wajah Irene langsung berubah pucat. Bagaimana Alankar bisa memasuki kamarnya? Apakah Alankar sudah mengetahui semuanya?
“ Kenapa kau di sini? Siapa yang memberimu kunci kamarku?” Tanyanya gugup
Alankar melangkah mendekatinya, melihat tatapan mata birunya, Irene mengerti. Alankar pasti sudah mengetahui semuanya.
“ Apa apaan ini kak? Aku adikmu! Adik kandungmu!” Tanyanya dengan urat leher menegang
“ Al, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku hanya suka mengoleksi barang barang bekasmu. Lalu kenapa? Bukankah semua orang memiliki hobi yang berbeda? Apa aku melakukan kesalahan?” Tanya Irene berusaha tenang
Alankar menggeleng, mengulas senyum dingin
“ Kenapa kau mengenakan seragam suster? Kau mengikutiku? Kau ingin mencelakai Regan?” Pertanyaan Alankar semakin meruncing.
Irene tak menjawab, ia membuang muka
“ Jawab aku! Apa kejadian yang menimpa Anastasya kekasihku dulu adalah ulahmu juga?” Tanya Alankar mengingat pacar pertamanya yang dulu meninggal karena tenggelam saat mereka bertiga berenang di danau bersama.
“ Cukup! Ke luar dari kamarku!” Pinta Irene tidak berani menatap adiknya.
“ Aku sudah lama tahu tentang perasaanmu itu kak, tapi jangan sakiti orang orang di sekitarku! Kenapa kau tidak bertanya padaku siapa yang aku sukai Hmm?” Alankar memegang bahu Irene kuat
“ Al sudah aku bilang, aku tidak memiliki perasaan apa pun! Jadi jangan asal menuduh!” Irene masih mengelak
“ Benarkah?”
Tiba tiba...
Brak
Irene seakan sesak saat Alankar mendorongnya ke dinding kemudian mendekatkan wajahnya, menyatukan hidungnya dengan Irene. Nafsunya langsung melonjak, apalagi merasakan hembusan napas Alankar yang menyapu wajahnya. Ia menatap bibir Alankar dalam dalam, ingin rasanya hasrat untuk mengecupnya. Irene tidak bisa mengendalikan dirinya. Hingga...
“ Bagaimana jika aku mengatakan kalau aku juga menyukaimu?” Tanya Alankar
Deg
Jantung Irene langsung terpompa cepat, ia mengulas senyum kemudian menarik kerah kemeja adiknya mendekat. Ya, Irene tidak bisa mengendalikan dirinya, ia hendak mengecup bibir Alankar. Sebelum...
Brak
Pemuda itu mendorongnya ke tempat tidur dan menatapnya tajam.
“ Menjauh dariku! Kau menjijikkan!” Celetuk pemuda itu kemudian hendak melangkah ke luar dari kamarnya
“ Al! Al! Kau mau ke mana? Al!” Irene berusaha menahannya. Tapi... Tenaga Alankar jauh lebih kuat untuk membuka pintu. Hingga tiba tiba....
Brak
Alankar terdiam, darah segar menetes dari kepalanya
Irene gemetar memegang sisa vas yang barusan ia pukulkan ke kepala adiknya sendiri.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?