Plak
Maria memegang pipinya yang terasa nyeri. Tiba tiba saja, saat membuka pintu seseorang menamparnya, mendorongnya masuk hingga ia hampir saja terhuyung jatuh.
“ Berani sekali kau mendekati adikku! Kau siapa? Kau tidak pantas bermimpi bersamanya! Alankar tidak pantas untuk gadis pemorot sepertimu!” Tunjuknya dengan wajah marah. Sosok yang tak lain adalah Irene. Ia mengikuti Alankar sejak pagi sampai sore, melihat semuanya mulai dari ruang musik sampai rumah itu.
Maria mengerti, gadis ini mungkin kakak dari Alankar.
“ Berani sekali kau meminta rumah pada adikku, apa yang sudah kalian lakukan? Apa kau menggunakan wajah cantikmu untuk menggoda adikku Hmm? Kau mau aku merusak wajah itu?” Irene mengeluarkan cutter dari sakunya, membuat bola mata Maria membundar takut. Kenapa sosok seperti Alankar memiliki kakak psikopat seperti itu.
“ Kak, aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan kak Al. Dia mengizinkanku tinggal di sini karena aku tidak memiliki tempat tinggal.” Tuturnya dengan suara gemetar. Mendengar itu, Irene mengulas senyum, ia mendorong Maria kemudian menarik rambut panjangnya kasar. Irene menodongkan cutter itu tepat di sisi wajah Maria, membuat gadis itu semakin susah menelan saliva karena takut.
“ Aku bisa melakukan apa pun! Jangan coba coba menipuku!” Ancam Irene
Maria mencoba melawan, ia mendorong Irene kemudian mencoba berlari. Tapi...
“ Aaaww!” Irene kembali menarik rambutnya dan menendang tubuhnya dari belakang hingga jatuh tersungkur.
“ Kau mau coba coba kabur? Dasar perempuan murahan! Apa kau memberikan tubuhmu pada Alankar sebagai balasan Hmm?” Irene mengalungkan cutter itu ke leher Maria
“ Kak tolong jangan! Jangan! Aku.. aku...
Maria ketakutan, apalagi merasakan cutter itu mulai mengiris lehernya
Ia sadar, kakak dari Alankar ini bukan sekedar melindungi adiknya, ada emosi di dalam dirinya. Ada cinta terlarang yang coba ia sembunyikan. Ia bukan marah karena Maria diberikan rumah, tapi karena takut kehilangan Alankar. Maria bisa merasakan itu. Ia bisa mati jika Irene terus menekannya. Maka dengan berat hati...
“ Regan!” Tutur Maria tiba tiba. Irene mengernyit
“ Re-Regan adalah gadis yang disukai Alankar.” Ucapnya gugup. Benar, ia harus mengorbankan seseorang. Dan Regan orang yang tepat
“ Siapa Regan?”
Benar saja, pegangan Irene mulai longgar, ia melepaskan Maria yang terbatuk dengan wajah memerah. Hampir saja nyawanya melayang.
“ Jelaskan padaku siapa Regan? Kenapa rumah ini diberikan padamu? Jika adikku memang menyukai Regan kenapa kau yang dia perhatikan?” Tanya Irene dengan tatapan curiga
“ Regan sama sepertiku, dia murid baru di sekolah. Dia satu satunya gadis yang bisa membuat kak Al penasaran, kak Al selalu mengikutinya. Sepertinya kak Al menyukai Regan. Dia sangat cantik.” Tutur Maria memancing
“ Cantik?” Irene terlihat menggenggam cutter itu erat, emosinya mulai terpancing.
“ Iya dia seperti datang dari masa depan. Wajahnya sedikit mirip dengan Al, mungkin mereka berjodoh.”
“ Diam!” Bentak Irene marah. Kini Maria yakin, Irene memang tidak menganggap Alankar adik, ia menyukai Alankar.
“ Kau pikir aku akan percaya padamu begitu saja? Hmm?” Tanyanya
“ Baiklah, aku akan membuktikannya. Aku akan menunjukkannya padamu. Bagaimana kepedulian kak Al pada Regan. Aku akan menunjukkannya, kak Al hanya kasihan padaku, karena itu dia mengizinkanku tinggal di sini.”
“ Baik, kali ini aku akan mendengarkanmu. Buktikan padaku kalau semua ucapanmu benar, atau kau akan mati dan jasadmu akan dikuburkan di halaman rumah ini. Kau pikir akan ada yang tahu?” Ancam Irene
Maria menelan ludah kemudian mengangguk cepat.
Beralih ke lain tempat... Sepanjang perjalanan ke rumahnya sebenarnya pikiran Alankar masih tertuju pada Regan. Kenapa gadis itu dan Jack tidak masuk sekolah. Setahu Alankar, Jack orang yang sangat disiplin, bahkan terkadang walaupun dalam kondisi sakit, ia masih tetap masuk sekolah. Pasti ada hal mendesak yang membuatnya memilih izin, tapi apa? Apa ini ada hubungannya dengan Regan?
Tak lama kemudian, mobil berwarna putih itu tiba di halaman megah kediaman Adirangga. Alankar memberikan kunci mobilnya pada satpam parkir kemudian bergegas menuju pintu rumah. Sedikit mengernyit saat melihat ada sebuah sepeda kayuh yang bertengger manis di halaman. Pemuda itu pun membuka pintu dan melangkah masuk, benar saja, tampak ibunya tengah berbicara dengan seseorang di ruang tamu.
“ Al, kau sudah pulang nak? Kemarilah!” Panggil ibunya dengan lemah lembut. Alankarpun menurut dan melangkah santai ke sana.
Saat itulah, takdir ke dua datang. Tampak seorang gadis tengah duduk dengan senyum lebar saat melihat wujud siswa les yang akan diajarinya. Siapa yang tidak akan terpesona saat bertemu dengan Alankar. Gadis itu pun tak bisa menyangkal bahwa Alankar jauh lebih indah dari pada yang diceritakan orang orang dan ayahnya.
“ Ini Jennifer, dia guru les barumu!” Tutur ibunya
Jennifer pun berdiri mengulurkan tangannya ke hadapan Alankar, walaupun sebenarnya ia sudah merasa begitu gugup
“ Saya Jennifer, panggil saja Jenn. Untuk sementara saya yang akan menggantikan ayah mengisi les private di sini.” Tuturnya ramah
Alankar memperhatikannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Guru les barunya terlihat anggun, kulitnya yang eksotis, rambut panjang hitam yang dibiarkan tergerai, serta balutan dress selutut yang membuatnya terlihat anggun seakan menampilkan jati dirinya, bahwa ia adalah wanita yang telaten dan penyabar.
“ Alankar! Tidak perlu bersikap formal, aku rasa kita hampir seumuran bukan?” Senyum pemuda itu menjabat tangan Jenn
“ Oh iya Al, di mana Irene? Tadi dia bilang mau ke sekolahmu? Apa dia tidak bersamamu? Ibu sudah mencoba menghubunginya berkali kali, tapi ia tidak mengangkat ponselnya.” Tanya Ibunya cemas
Mendengar itu, Alankar mengernyit
“ Tapi aku tidak melihat kakak di sekolah. Kenapa dia ke sekolahku?”
Deg
Ibunya memucat. Benar, bukankah Alankar tidak tahu apa pun tentang perasaan kakaknya? Kenapa ia bertanya pada Alankar, harusnya ia diam saja.
“ Bu, ada apa?”
“ Tidak apa apa. Tapi ibu meminta kakakmu menyusul ke sekolahmu, membawakan bekal karena kau tidak sarapan. Ya sudah lupakan saja, sana mandi, makan siang lalu belajarlah yang rajin dengan Miss. Jenn ya, ibu ke dapur dulu untuk membuatkan camilan.” Ibu muda itu bergegas melangkah ke dapurnya sebelum Alankar bertanya lebih jauh. Di dapur, ia menyeka air matanya. Bagaimana caranya mencegah agar Irene berhenti menyukai adiknya sendiri? Ia tidak ingin putrinya menghancurkan kehidupan Alankar kelak.
Sore itu untuk pertama kalinya, Miss. Jenn memberikan Les pribadi pada Alankar. Benar dugaan Alankar, gadis di depannya begitu anggun, baik dan juga telaten, kecerdasannya terlihat dari caranya menjelaskan. Komunikasi diantara mereka pun cukup nyambung. Sebelum...
Brak
Tiba tiba Irene datang, masuk ke ruangan itu begitu saja dengan senyum lebar.
“ Kak bukankah sudah aku bilang, ketuk pintu dulu jika mau masuk ke dalam ruanganku.” Alankar berdiri dari duduknya, menatap saudarinya itu kesal. Sebaliknya, Irene menatap guru baru itu dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan pandangan tak suka.
“ Saya Jennifer, guru les private Alankar yang baru.” Miss. Jenn mengulurkan tangannya. Tapi, Irene justru mengabaikan uluran tangan itu dan menatap adiknya getir
“ Katakan padaku apa rahasianya? Kenapa kau dikelilingi oleh gadis gadis seperti ini? Hmm? Yakin dia hanya guru les? Bukankah terlalu muda?” Tanyanya dengan nada curiga.
Alankar mengulas senyum sinis
“ Berhenti mengurusi urusanku. Aku ingin belajar! Ke luarlah!” Pinta pemuda itu. Raut wajah Irene berubah datar, ia menatap adiknya itu penuh kecemburuan.
“ Kau tahu kabar tentang salah satu siswi baru di sekolahmu Al? Itu membuatku merinding.” Ucapnya. Alankar mengernyit
“ Aah jadi kau belum mendengar kabarnya? Tadi aku lewat di sekolahmu dan aku mendengar beberapa siswi berbicara. Katanya, seorang gadis dari kelas 1A Biologi mengalami perampokan dan penganiayaan. Siapa sih namanya, aku lupa. Re.. Re.. duh siapa ya?” Irene semakin memancing.
Benar saja, wajah Alankar berubah menjadi pucat
“ Regan?” Tebaknya
“ Nah iya Regan. Mereka menyebutkan nama itu. Kau kan ketua OSIS, masa tidak tahu sih?” Tanya Irene mengulas senyum licik
“ Entahlah, aku tidak begitu peduli tentang gosip gosip seperti itu. Sudahlah! Sekarang ke luar dari ruang belajarku, aku ingin belajar.” Pinta Alankar menunjuk ke arah pintu
Aneh, kenapa pemuda itu tidak terlihat cemas? Apakah Maria sudah membohongi Irene? Bukankah kata Maria tadi, saat mendengar berita ini.. Alankar pasti akan panik?
“ Ke luar!” Pinta Alankar lagi
“ Iya iya, aku ke luar! Huft!” Irene pun bergegas ke luar dengan wajah kesal bercampur kecewa.
Seperginya Irene...
“ Dia kekasihmu ya? Sepertinya dia cemburu makanya tadi tidak mau menjabat tanganku. Mungkin dia sangat menyayangimu.” Celetuk Jenn membuka buka lembar LKS di tangannya
Deg
Alankar terdiam, ini untuk kesekian kalinya orang mengira Irene menyukai Alankar karena sikapnya.
“ Bukan, sama sekali bukan. Dia kakakku.” Jawab pemuda itu getir
“ Oh maaf. Kalian lebih terlihat seperti pasangan kekasih dari pada saudara.” Tawa Jenn bercanda.
Sebaliknya, Alankar tiba tiba menjadi pendiam. Yang ada di pikirannya adalah kondisi Regan. Benarkah Regan mengalami kecelakaan? Benarkan ia dirampok?
“ Kau baik baik saja?” Tanya Jenn menyadari perubahan sikap siswanya itu. Alankar mengangguk pelan
“ Bisakah pelajaran ini disudahi dulu? Aku memiliki banyak urusan yang harus diselesaikan.” Ujarnya dengan raut tak sabar
“ Baiklah, kita sudahi saja. Sampai bertemu besok.” Jenn pun merapikan buku bukunya.
“ Terima kasih.” Alankar kemudian berdiri dan bergegas menuju ke kamarnya.
Saat Jenn hendak ke luar dari ruangan itu, tiba tiba seseorang menarik lengannya kasar. Orang yang tak lain adalah Irene, ia menatap Jenn tajam.
“ Ada apa ya?” Tanya Jenn berusaha tenang
“ Jangan berani mendekati adikku. Kau boleh menjadi gurunya tapi jangan macam macam!” Tekan Irene dengan nada mengancam
Jenn mengernyit,
“ Saya tidak mungkin melakukan hal yang buruk nona. Saya di sini hanya sementara, untuk menggantikan ayah yang sedang sakit.” Ujarnya berusaha mengulas senyum
“ Jangan sok baik! Aku tahu kau pasti menyukainya kan?”
“ IRENE!” Tegas suara yang seketika membuat Irene melepaskan Jenn
Ia melihat ibunya dengan raut tak suka.
“ Permisi nyonya Sabina, saya pulang dulu.” Jenn segera bergegas.
“ Ibu apa apaan sih!” Irene menghentakkan kakinya kesal kemudian berlari ke kamarnya dan menutup pintunya keras.
Meninggalkan Sabina yang mengusap dadanya. Sampai kapan putrinya akan bersikap seperti ini?
Tak lama kemudian... Alankar tampak ke luar dari kamarnya dengan tampilan yang sudah rapi. Putranya itu selalu terlihat menawan sama seperti almarhum suaminya. Wajahnya terlihat gusar
“ Ibu aku pergi dulu.” Tuturnya berjalan cepat menuruni tangga
“ Al, kau mau ke mana?” Teriak Ibunya mengejar. Tapi sia sia, Alankar tampak buru buru menaiki mobilnya dan melaju pergi
Mendengar teriakan ibunya, Irene langsung ke luar dari kamar.
“ Al mau ke mana?” Tanyanya penasaran
“ Ibu tidak tahu, dia terlihat sangat panik.” Tutur ibunya
“ Aku harus mengikutinya.” Irene hendak bergegas. Tapi, Ibunya menahan pergelangan tangannya
“ Lepaskan aku ibu! Dia mungkin akan menemui gadis bernama Regan itu! Lepaskan aku! Aku harus tahu!” Irene mencoba melepas genggaman ibunya. Tapi semakin ia berusaha, semakin kuat genggaman itu menahannya
“ Hentikan ini! Jangan mengganggu adikmu! Berhentilah Irene! Alankar berhak hidup sesuai kemauannya!” Bentak Sabina akhirnya.
“ Aku tidak akan berhenti!” Bantah Irene dengan mata berkaca kaca
“ Sadarlah Irene, dia adikmu! Adik kandungmu! Apa kata orang jika melihat sikapmu ini? Semua orang akan mencemooh keluarga kita. Berhenti mengikuti Alankar! Dia saudaramu! Kalian tidak akan bisa bersama, kau sadar itu?” Tekan Sabina yang seketika membuat air mata Irene menetes turun. Wajah cantiknya memucat, ia menatap ibunya getir.
“ Kau tahu ibu? Jika aku tidak bisa memilikinya maka tidak ada siapa pun yang boleh bersamanya.” Ujarnya terdengar mengerikan
“ Jika Alankar mencintai orang lain, apa yang akan kau lakukan? Itu adalah hidupnya. Alankar berhak bahagia. Sayang, dengarkan ibu. Kau ini cantik, kau bisa menjalani hidupmu dengan baik, memiliki orang yang kau cintai dan bisa mencintaimu. Dengarkan ibu nak, ibu hanya ingin kalian bahagia.” Pinta ibunya dengan mata berkaca kaca
Tapi...
“ Terlambat ibu, ini sangat terlambat. Apa kau pikir aku ingin seperti ini? Jika ada laki laki yang lebih sempurna dari adikku, mungkin aku bisa melupakan ini. Lepaskan aku, atau aku akan membunuh diriku sendiri!” Ancam Irene
Maka, dengan terpaksa, Sabina melepaskan genggamannya. Ia tahu senekat apa putrinya itu. Satu tahun yang lalu Irene bahkan pernah meminum banyak obat penenang agar seluruh keluarga panik dan Alankar gagal disekolahkan di luar negeri. Ia bisa melakukan apa pun demi Alankar.
“ Jangan pernah menghalangiku.” Tunjuk gadis itu kemudian berlari ke kamarnya, mengambil kunci motornya dan berlari ke luar. Ia tidak mau kehilangan jejak Alankar.
Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada Regan?
Di sana, Jack tampak sibuk menyiapkan kompres, bergegas menuju kamar utama di rumahnya dan mengompres kening Regan yang sejak kemarin tidak juga membuka mata. Ia dengan telaten menyelimuti Regan kemudian menggenggam tangannya erat, menyesal karena membiarkan Regan sendirian. Harusnya kemarin ia mengantarkan Regan dulu, kenapa ia malah menuruti apa kata Alankar, Jack menyesal tidak meninggalkan Alankar saja, atau berjalan bertiga saja sampai tiba di rumahnya. Seandainya mereka berjalan bersama saja, hal buruk tidak akan terjadi pada Regan.
Pemuda itu melihat ceceran rambut Regan yang masih berceceran di lantai, entah siapa yang begitu tega melakukan semua itu. Ada luka luka goresan juga di pipi dan lengannya.
“ Bangunlah, aku mohon! Bukankah kau sangat kuat. Aku berjanji, setelah ini aku akan menjagamu. Bangunlah Regan, aku menyukaimu.” Tutur pemuda itu sedih
Aku menyukaimu...
Next part