Takdir Dimulai

2183 Kata
Malam itu, Alankar tidak bisa memejamkan mata, entah kenapa bayangan saat membonceng Regan tadi sore masih membekas dan terasa cute. “ Sayang.” Sapa ibunya membuka pintu kamarnya dengan segelas s**u. “ Iya Bu.” “ Susunya.” Wanita berumur 38 tahun itu meletakkan s**u di tangannya ke atas meja Alankar “ Oh iya, guru lesmu mengalami kecelakaan. Dia tidak bisa datang besok, jadi anaknya yang akan menggantikan untuk sementara. Namanya Jennifer, dia alumni terbaik di sekolahmu.” Tuturnya mengusap lembut lengan Alankar. “ Baiklah, terima kasih. Aku akan meminum susunya dan segera tidur.” Jawab Alankar. Ia begitu manis jika berhadapan dengan ibunya. Wanita itu pun mengecup kening Alankar penuh kasih sayang sebelum akhirnya beranjak ke luar. “ Dih, dasar anak mama.” Celetuk seorang gadis kemudian duduk di atas ranjang Alankar begitu saja. “ Kak, ini kamarku. Jangan masuk tanpa izin.” Pemuda itu menghembuskan napas kesal kemudian meraih s**u tadi dan meminumnya. Alankar tidak menyadari kalau Irene memperhatikannya, benar benar memperhatikannya kemudian mengulas senyum. Entah sejak kapan perasaan itu ada, tapi.. perasaannya berbeda saat berada di dekat Alankar. Apakah mungkin ia menyukai adik tirinya sendiri? “ Memang kenapa kalau aku masuk ke kamarmu? Bukankah kita saudara?” Celetuk Irene mendekati Alankar lalu mengambil gelas di tangannya. “ Biar aku yang meletakkannya di dapur. Kau kan pemalas!” Imbuhnya kemudian turun dari ranjang Alankar “ Cih dasar sok baik.” Gerutu pemuda itu kemudian merapikan selimutnya dan bergegas tidur. Walaupun ia tetap tidak bisa memejamkan mata, tak sabar menantikan hari esok di sekolah dan bertemu dengan Regan untuk bertengkar dengannya. Benar saja, di luar kamar... Irene menatap gelas itu kemudian memeluknya, beraba bekas bibir Alankar tadi. Hanyut dalam bayangan perasaan terlarangnya... Tiba tiba seseorang memegang pundaknya, membuatnya kaget hingga menjatuhkan gelas itu ke lantai. “ Ibu!” Teriaknya kesal “ Hentikan itu Irene! Dia adikmu, anak yang ibu lahirkan.” Pintanya sendu “ Aku tidak melakukan apa pun yang membuat semua ini salah Bu, memangnya siapa yang mengatur perasaan ini.” Balasnya dengan tatapan runcing “ Kalian saudara, ibu tidak suka kalau kau diam diam memiliki perasaan khusus pada Alankar. Kau dan Alankar sama sama terlahir dari rahim ibu.” Nasehat ibunya Irena hanya mengulas senyum sinis, tak menjawab, kemudian beranjak pergi Memangnya siapa yang ingin memiliki cinta seperti ini? Tumbuh bersama dan berbagi duka bersama tapi tidak bisa memiliki... Tidak ada yang ingin seperti ini. Lalu apakah aku berdosa jika menyukainya? Irene kembali ke kamarnya, membuka pintunya pelan. Saat menyalakan lampu.. ia mengulas senyum melihat banyak sekali barang kenangan Alankar yang dikoleksinya. Mulai dari mainan saat ia kecil dulu, baju bekasnya, topi dan masih banyak lagi. Itu sebabnya, Irene melarang siapa pun masuk ke dalam kamarnya kecuali ibunya yang memang tanpa sengaja melihat semua itu. Pagi pun menjelang, tak seperti biasanya, Alankar tampak sudah rapi sejak pagi buta. “ Al, sarapan dulu nak!” Teriak ibunya dari meja makan “ Nanti saja Bu, jajan di kantin!” Balas Alankar berlari ke mobilnya. Irene mengernyit melihat hal itu, tidak biasanya Alankar melewatkan sarapan. Pemuda itu terlihat tergesa gesa melaju bersama mobil sport putih kesukaannya “ Apa yang membuat Alankar begitu bahagia dan semangat ke sekolah Bu?” Tanyanya mengernyit “ Entahlah, mungkin ada anak baru yang ia suka.” Jawab Ibunya mengulas senyum Krak Irene meletakkan garpu dan sendoknya, menatap ibunya tak suka. “ Kenapa Irene? Bukankah Alankar berhak bahagia. Diusia nya sekarang sudah berhak punya pacar kan?” Senyum sang ibu mencoba menyadarkan “ Gak lucu!” Irene berdiri dari duduknya kemudian berlari ke kamarnya Ibunya hanya bisa menghela napas panjang, berharap putrinya akan sadar dan berhenti. Tapi tidak, ternyata Irene justru ke luar dari kamarnya dalam keadaan yang sudah rapi “ Kau mau ke mana?” Tanya ibunya berdiri “ Ke sekolah Al.” Jawab Irene dengan wajah kesal “ Untuk apa? Ibu tidak akan mengizinkanmu ke sana! Jangan ganggu hidup adikmu!” Tekan wanita itu mencoba menghadang. Tapi.. Irene mendorongnya menyingkir kemudian berlari ke luar. “ Irene!!!” Teriak ibunya mencoba mengejar, tapi terlambat. Gadis itu sudah pergi dengan mobilnya, menyusul Alankar ke sekolah. Setibanya di sekolah Adirangga, Irene mengepalkan jari jarinya melihat banyak gadis yang menyambut kedatangan adiknya. Ia begitu marah, hal itu masih saja terjadi, sejak Alankar masih di sekolah dasar bahkan sampai detik ini, ia masih jadi pusat perhatian para gadis. Tapi Irene harus menahan emosinya, ia harus tahu gadis seperti apa yang disukai Alankar. Alankar turun dari mobilnya, menatap ke sekitar... Ia tidak melihat Regan sama sekali. Bagaimana caranya agar tahu di mana Regan tanpa bertanya? Alankar melangkah cepat ke ruang OSIS “ Di mana Jack?” Tanyanya tak melihat Jack diantara teman temannya “ Aku tidak tahu, dia izin tidak masuk hari ini.” Jawab Adit mengernyit “ Oh begitu, ya sudahlah.” “ Kenapa Al?” Tanya Adit heran. Tak biasanya Alankar menanyakan seseorang “ Tidak apa apa, kemarin sore aku terjebak hujan dengan Jack di jalan. Takutnya dia sakit, ada banyak hal yang harus dikerjakan OSIS sebelum acara kesenian minggu depan.” Jawab Alankar beralasan. “ Oh begitu.” Adit memilih tak menanyakan apa pun lagi. Padahal ia tahu dari Maria, kalau Alankar tidak hanya bersama Jack melainkan juga dengan Regan, si murid baru itu. “ Bagaimana persiapan pentas seni minggu ini? Proposalnya sudah siap?” Tanya Alankar mengubah topik. “ Iya, oh ya murid baru yang bernama Maria, dia sangat pintar di seni musik. Bagaimana kalau dia tampil, dia bisa memainkan piano, kau di gitar dan kita hanya membutuhkan vokalisnya. Kelompok kita akan menjadi yang terbaik.” Usul Adit Alankar mengulas senyum “ Ya, aku tahu dia sangat mahir bermain piano. Ide yang bagus.” Jawabnya “ Tapi ada masalah. Gadis itu tidak mau di ajak bergabung di pentas seni. Dia tidak percaya diri, aku sudah mendatangi dan bertanya ke kelasnya kemarin. Mungkin kau bisa meyakinkannya, secara tidak ada yang bisa menolak Alankar bukan?” Celetuk Adit “ Baiklah, biar aku saja yang urus.” Tutur Alankar mengiyakan. Adit mengulas senyum senang, rencananya berhasil. “ Ini proposalnya!” Adit menyerahkan proposal ke tangan Alankar yang kemudian berdiri merapikan almamater di tubuhnya. “ Aku akan menemui gadis itu dulu.” Ujarnya lalu beranjak membawa proposal itu. “ Ya, pergilah.” Gumam Adit senang. Alankar melangkah menuju ruang kelas 1A Biologi. Kehadirannya membuat seluruh siswi berteriak kegirangan. Tapi, ia tidak menemukan Maria di sana. “ Kakak mencari siapa?” Tanya siswi mencoba menyapa “ Maria, di mana dia?” Tanya Alankar mengernyit “ Tadi ada kak, terus dia pamit ke toilet tapi belum kembali. Apa perlu saya susul?” Tanya siswi itu “ Tidak, biar saya yang ke sana.” Dengan sikap Cool seperti biasanya, Alankar ke luar dari kelas itu dan mencoba mencari Maria. Tapi... Langkahnya terhenti saat tiba di koridor depan ruang musik. Lagi lagi, ia mendengar suara lantunan piano dimainkan. Senyum merebak di bibir Alankar. Ia tahu, pasti Maria yang tengah memainkannya. Maka dengan segera, pemuda itu masuk ke dalam. Benar saja, ia melihat Maria di sana. Gadis cantik itu terlihat memejamkan mata, menikmati alunan nada yang tercipta dari lantunan jari jarinya. “ Bagaimana kabarmu?” Tanya Alankar menghentakkan lamunan Maria yang langsung berhenti bermain. “ Eh kak, maaf lagi lagi suara musikku mengganggumu dan membawamu ke sini.” Ujarnya manis “ Tidak apa apa, baca ini!” Alankar menyerahkan proposal ke tangan Maria. Gadis itu mengernyit “ Kak tapi... “ Kau harus tampil, bakat sepertimu tidak boleh disia siakan. Sampai kapan kau hanya akan bermain piano di balik layar.” Tekan Alankar “ Maaf kak, tapi bibi tidak akan setuju. Dia tidak akan mau jika aku tampil di acara ini dan membuang buang waktu.” Senyum gadis itu getir, membawa kisah sedihnya agar Alankar iba. “ Duduklah ke mari!” Ajak pemuda itu akhirnya. Mereka pun duduk di sebuah kursi kayu panjang di dalam ruangan. “ Kenapa kau masih tinggal dengan bibimu? Kenapa tidak menyewa sebuah rumah atau kos?” Tanya Alankar, wajah Maria terlihat sedih “ Sebenarnya itu rumah kami kak. Tapi kata bibi, ayah berhutang padanya. Jadi rumah itu dia ambil. Aku masih mengumpulkan uang untuk pindah.” Cerita Maria “ Karena itu kau mengajar les malam hari?” “ Iya.” “ Begini saja, aku memiliki sebuah Villa yang baru kubeli minggu lalu, tempatnya tidak jauh dari sini. Kau bisa tinggal di sana sesukamu. Tapi ikut pentas seni ini! Jangan menolakku! Aku bisa melakukan apa pun jika aku mau.” Tawar Alankar gak main main. Ia bahkan menawarkan sebuah rumah demi persetujuan Maria. “ Tapi kak... “ Dan satu lagi, jangan membawa Qian ke sana. Tinggallah sendirian! Aku tidak suka pemuda itu!” Potong Alankar. Memang, sejak melihat perbuatan Qian pada Regan waktu itu... Alankar semakin tidak menyukainya. Maria mengulas senyum kemudian menggenggam tangan Alankar ragu. “ Terima kasih. Kakak sangat baik, tapi rasanya ini terlalu berlebihan. Aku tidak bisa menerima rumah itu.” Tuturnya begitu sederhana “ Kalau begitu aku memaksa. Kau harus menerimanya! Lagi pula, ini tidak gratis. Kau harus membayarnya dengan ikut di pentas seni ini.” Tutur Alankar Maria tersenyum menatap proposal di tangannya. Alankar memang dermawan, hanya demi sebuah acara, ia memberikan sebuah rumah secara Cuma Cuma. Mungkin memang pemuda itu sudah tertarik padanya. Setidaknya, sekarang Maria tidak merasa punya saingan lagi. “ Terima kasih kak, kakak begitu baik.” Ujar gadis itu terharu “ Pulang sekolah nanti, aku akan mengantarkanmu ke rumah itu. Sekarang kembalilah ke kelas! Sebentar lagi bel masuk berbunyi!” Alankar berdiri dari duduknya hendak beranjak. Tapi... Deg Langkahnya terhenti saat tiba tiba Maria memeluknya dari belakang, gadis itu terisak. “ Terima kasih kak, mungkin bagimu ini tidak begitu berarti, tapi bagiku... Kau orang terbaik ke dua setelah ayah tiada. Aku akan melakukan apa pun untuk membalas kebaikanmu di masa depan.” Ujarnya membuat Alankar mengulas senyum Apakah takdir itu terulang lagi? Alankar jatuh cinta pada Maria? Pemuda itu kemudian melangkah ke luar dan kembali ke ruang OSIS meninggalkan Maria yang menyeka air matanya kemudian mengulas senyum senang “ Rumah baru...” Gumamnya “ Bagaimana Al?” Tanya Adit penasaran “ Seperti yang kau bilang, tidak ada yang bisa menolak Alankar.” Jawab Alankar bangga. Adit memberikan tepuk tangan. Alankar tidak tahu, sebenarnya ia dipermainkan orang orang terdekatnya. Di dalam hati, Adit tersenyum senang. Bukankah itu sangat jahat? Beberapa jam kemudian Benar saja, Alankar menunggu Maria di depan mobilnya. Tapi, gadis itu tidak kunjung ke luar dari kelas. Karena penasaran, ia pergi ke kelas itu, melihat apa yang terjadi. Senyumnya mengembang saat melihat Maria terlihat sibuk menjelaskan materi di depan kelas pada sebagian teman temannya dengan begitu telaten dan sabar. Tak hanya cantik, berbakat, Maria juga ternyata juga sangat baik. Ia rela mengajarkan ilmu yang tidak temannya mengerti dengan lapang hati. Alankar mengira, Maria tidak melihat kedatangannya. Maka ia memutuskan menunggu Maria di mobil saja. Saat Alankar pergi, Maria mengulas senyum. Ya, ia tahu Alankar memperhatikannya. Tak lama kemudian, ia menyudahi materi itu kemudian melangkah ke luar menghampiri mobil Alankar “ Maaf kak, pasti kakak menunggu lama kan?” Tanyanya merasa bersalah “ Tidak, ayo masuk!” Alankar justru tersenyum senang. Maria pun dengan senang hati masuk ke mobil Alankar yang kemudian melaju membawa mereka menyusuri jalan, hingga akhirnya tiba di halaman sebuah rumah yang cukup megah. Alankar menghentikan laju mobilnya. “ Itu rumahnya!” Tunjuknya Tentu saja, Maria membulatkan mata. Rumah itu jauh dari kata sempurna untuk diberikan secara Cuma Cuma. Itu rumah mewah dengan halaman yang luas. “ Kak ini beneran? Aku boleh tinggal di sini?” Tanya Maria seakan tidak percaya “ Ya turunlah, kita lihat ke dalam.” Ajak Alankar. Mereka pun turun dari mobil itu dan masuk ke dalam rumah bernuansa putih itu. Melihat Maria yang benar benar takjub, Alankar tersenyum senang. Gadis bergigi kelinci itu memang terlihat sangat cantik saat tersenyum. “ Kak rumah ini bagus sekali!” Serunya bahagia “ Ada kolam renangnya. Kau mau lihat?” Tanya Alankar mengulurkan tangan. Maria menjabatnya hangat, sebelum... Tok tok tok Terdengar suara pintu diketuk “ Biar aku yang buka.” Pemuda itu bergegas ke arah pintu dan membukanya. Tapi.. tidak ada siapa pun di sana. “ Siapa kak?” Tanya Maria menyusul “ Tidak ada siapa pun. Oh ya, ini jam 2 siang. Ada guru les yang akan datang ke rumah. Sebaiknya aku pulang. Kau bisa tinggal di sini. Ini kuncinya!” Alankar menyerahkan kunci rumah itu ke tangan Maria “ Kau tidak apa apa kan tinggal sendirian?” Tanya pemuda itu “ Tidak apa apa kak, terima kasih. Aku juga ingin melihat lihat, setelah itu pulang dan mengambil baju bajuku.” Jawab Maria Alankar mengulas senyum memegang pipinya kemudian berlari pergi ke mobil. Entah kenapa, Maria merasa nyaman saat Alankar menyentuh pipinya. Gadis itu kemudian menutup pintu rumah itu. “ Yes, benar kata Adit dan kak Qian. Jika aku bisa mendapatkannya. Aku akan mendapatkan semuanya.” Serunya bahagia. Tak lama kemudian, Maria hendak melangkah menuju kolam renang. Tapi tiba tiba.. Tok tok tok Terdengar suara ketukan pintu. “ Dia kembali?” Pikir Maria bergegas ke arah pintu dan membukanya. Namun.... Plak Sebuah tamparan keras langsung mengenai pipinya. Irene berdiri dengan tatapan penuh kemarahan Benar, bukankah sejak pagi ia mengikuti Al?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN