Ikatan Cinta Baru

1938 Kata
“ Maafkan aku.” Tuturnya mengulas senyum. Regan mengernyit, ia bahkan menjauh, memastikan itu khayalan atau bukan. Bagaimana bisa Alankar tiba tiba datang dan mengucapkan kalimat sakral itu? Tapi memang benar, itu Alankar, buktinya... Ia tidak menghilang saat Regan mencubit lengannya sendiri Apa yang terjadi? Beberapa menit yang lalu, saat Alankar tengah bingung dengan mobilnya, tiba tiba sebuah motor berhenti di sisinya. “ Al, kamu kenapa?” Tanya sosok yang tak lain adalah Jack, pemuda itu membuka helmnya “ Mobilku tertancap paku. Preman di sini mengerjaiku.” Jawab Alankar kesal Jack turun dari motornya, memeriksa kondisi ban mobil Alankar yang memang terlihat kempes. “ Ini semua gara gara gadis itu. Setiap kali bertemu dengannya aku selalu mengalami sial.” Gerutu Alankar Benar, bukankah tadi Jack melihat Alankar membawa Regan. Tapi dilihat dimanapun, Regan tidak terlihat. “ Menurutku kamu yang keterlaluan. Regan di mana?” Tanyanya membuat Alankar mengernyit “ Kau membelanya? Dia hanya murid baru! Dia tidak patuh, selalu melanggar ucapanku dan sekarang lihat, dia meninggalkanku sendirian begini. Kurang ajar kan!” Cerita pemuda itu dengan raut kesal. Jack mengulas senyum “ Kalau aku jadi Regan, aku bukan hanya menolak keinginan dan perintahmu tapi aku juga akan menghajarmu habis habisan.” Ujarnya Alankar mengernyit, tidak mengerti kenapa temannya itu justru membela Regan “ Kemarin sore, ada 4 orang preman yang mengganggu Regan, mereka hampir melecehkannya. Kejadian itu terjadi di taman dekat perpustakaanku. Beruntung Regan bisa membela dirinya, preman itu mengaku kalau mereka diperintah olehmu. Bukankah itu keterlaluan Al. Lagi pula, Regan menurutku tidak seperti yang kau nilai. Dia gadis yang baik dan sangat sopan. Kenapa aku tahu? Karena dia menginap di rumahku. Jika dia mau dia bisa menggodaku, tapi tidak, dia tidak memanfaatkan kebaikanku. Dia sendirian di kota ini, dia kabur dengan alasan yang tidak jelas, aku melihat sesuatu, sepertinya dia memiliki tujuan yang membuatnya kuat walaupun sendirian. Jadi jangan terlalu jahat dan kasar padanya, kasihan.” Cerita Jack yang justru membuat sosok di depannya mengernyit heran. “ Tapi aku tidak mungkin serendah itu menyuruh orang untuk melecehkan seorang gadis.” Bantahnya “ Apa? Lalu siapa?” “ Pantas saja! Gadis itu seperti memiliki dendam padaku. Sial! Ada yang memanfaatkan namaku!” Alankar mengusap rambut coklat terangnya ke belakang. Ia benar benar kesal “ Ya sudah, ini sudah sore. Aku mencari Regan, karena dia belum pulang. Niatnya tadi mau ke rumahmu.” Tutur Jack “ Kau tidak melihat Regan? Tadi dia ke arah sana!” Tunjuk Alankar Jack mengulas senyum “ Ikut aku! Sepertinya aku tahu dia di mana!” Ajak pemuda itu “ Naik motor?” Alankar tak yakin Seumur hidup, ia tidak pernah menaiki motor semurah itu. Entah apa keamanannya terjamin atau tidak. Tapi... “ Ini!” Jack menyerahkan helm ke tangan Alankar “ Kau tidak mati hanya menaiki motor satu kali.” Imbuhnya. Alankar terpaksa ikut. Jack membawanya ke sebuah bukit tak jauh dari sana. Benar saja, ia melihat Regan di atas bukit, mencoba menyambut hujan dan hampir saja basah kuyup. Sekarang... “ Kau pikir aku setan hah? Aku benar benar minta maaf meskipun aku tidak merasa bersalah.” Celetuk Alankar Barulah Regan yakin, sikap setengil itu tidak mungkin berasal dari khayalan “ Kau tidak perlu meminta maaf. Aku pikir orang kaya bisa melakukan apa pun karena mereka memiliki banyak uang.” Celetuk Regan masih dengan wajah kesal. “ Ya sudah! Kalau memang tidak mau memaafkan tidak perlu menghina!” Tunjuk Alankar dengan wajah memerah “ Sial! Sampai kapan kalian mau bertengkar hah?” Teriak Jack yang akhirnya muncul dari bawah bukit. Melihat kondisi tidak baik baik saja, Regan dan Alankar bagai air dan minyak yang tidak bisa disatukan. “ Regan, bukan Al yang kemarin menyuruh orang untuk menyakitimu. Ada orang yang menggunakan namanya untuk melakukan hal itu.” Jack menjelaskan. “ Bagaimana itu mungkin?” Regan mengernyit, preman preman itu tidak mungkin begitu saja menyebutkan nama Alankar. Tapi kemudian ia mengerti, pasti Radit atau Qian yang melakukan semua ini agar ia menjauh dari Alankar. Karena mereka ingin Alankar dekat dengan Maria. “ Terserah, mau percaya atau tidak! Kenapa aku harus menyuruh preman preman untuk melecehkanmu! Lebih baik aku sendiri yang melakukannya.” Celetuk Alankar asal “ Apa?” Regan berkacak pinggang “ Tapi kau bukan typeku. Jadi jangan bermimpi!” Regan menghembuskan napasnya kesal, Alankar di dunianya benar benar menyebalkan. Tapi kemudian... Pemuda itu mengulurkan tangannya “ Apa ini?” Regan mengernyit “ Sudahlah, akhiri saja perdebatan tidak penting ini. Aku ingin berterima kasih karena kau telah menyelamatkanku tadi.” Tutur Alankar. Regan melirik ke arah Jack “ Jabat saja! Dengan begitu kau lebih aman di sekolah.” Ujarnya bercanda Regan pun mengulas senyum kemudian menjabat tangan putih Alankar. Rasanya sangat hangat, Regan begitu bahagia hanya dengan bisa menjabat tangannya saja. Ia semakin yakin, kalau suatu saat nanti, ia pasti bisa merubah takdir Alankar, walaupun itu artinya... Regan akan musnah. Sementara itu, Jack mengulas senyum menatap wajah cantik Regan yang basah terkena air hujan sore itu. Ada perasaan yang begitu lega melihat Regan baik baik saja. Benar, takdir telah membuat cinta yang lain, membentuk hubungan yang baru, Jack menyukai Regan. Hatinya berjanji akan melindungi Regan dari air mata dan luka. “ Bagaimana kalau kita pulang? Hujannya sangat deras.” Ajak Jack Regan menatap Alankar dalam dalam. Pemuda itu tampak sibuk mengusap rambutnya yang basah, ia benar benar terlihat tampan. “ Ayo!” Ajak Jack membangunkan Regan dari lamunannya “ Jalan kaki?” Tanya Alankar ragu “ Kau mau apa? Terbang? Kalau mau kita bonceng 2 saja!” Celetuk Jack sembari berjalan menuruni bukit diikuti Alankar dan Regan di belakangnya. “ Aku tidak akan pernah mau melakukan itu! Tidak akan!” Tekan Alankar menolak “ Atau begini saja, aku akan mengantarkan Regan ke rumah dulu. Setelah itu aku akan kembali dan menjemputmu di sini.” Usul Jack saat tiba di tempat motornya terparkir “ Ide bagus.” Celetuk Regan setuju “ Tidak! Aku tidak mau sendirian di sini. Bagaimana jika ada preman lagi?” Lagi lagi Alankar menolak Jack menghela napas panjang, begitu merepotkan memiliki teman yang seumur hidupnya tidak pernah merasakan takut. “ Baiklah kalau begitu, kau bisa membawa motor ini bukan? Antarkan Regan ke tempatku lalu jemput aku di sini. Bagaimana?” Tawar Jack mengalah, melihat wajah Regan yang mulai kedinginan dengan bibir membiru Alankar menatap motor itu, ia tampak berpikir “ Bagaimana?” Tanya Jack lagi. Menunggu Alankar berpikir hanya akan menghabiskan waktu saja. “ Baiklah! Ayo!” Alankar akhirnya mau menaiki motor itu walaupun dengan berat hati. “ Hati hati ya.” Jack memakaikan Helm ke kepala Regan yang mengulas senyum senang. Jack memang sangatlah baik bahkan dari ia masih muda. “ Kak Jack benar benar tidak apa apa sendirian?” Tanya Regan cemas “ Tidak apa apa. Tenanglah, aku akan berjalan sampai ke jalan raya dan mencari angkutan jika memang kalian lama. Jangan cemas, aku sudah terbiasa.” Senyum Jack manis Regan pun menaiki boncengan motor itu dengan jantung berdegup kencang. Untuk pertama kalinya, ia berada sedekat itu dengan Alankar. Berboncengan di tengah hujan, bukankah itu sangat romantis. Jack melambaikan tangan saat Alankar mulai menjalankan mesin motor dan melaju pergi. Cinta ini bagai hujan yang mengalir begitu saja, Tanpa tahu ia telah mengikis awan hingga binasa... Cinta ini bagai api yang menyala begitu besar, Tanpa tahu ada kayu yang berkorban hingga lapuk menjadi abu... Mungkinkah... Semuanya akan berjalan seperti malam yang membawa fajar? Atau justru seperti senja yang membawa malam pekat untuk datang? Hanya waktu yang bisa menjawab “ Aduh.” Regan hampir saja terjungkir saat Alankar tanpa sengaja melewati jalan berlubang. Gadis itu ragu untuk memegang Alankar, ia masih grogie. Hingga... Alankar menghentikan laju motornya, “ Turunlah!” Ucapnya membuat Regan mengernyit “ Maksudku jangan membonceng dengan posisi seperti ini. Naik seperti anak laki laki. Motor ini sangat butut, aku tidak mau repot jika kau terjatuh!” Perintahnya. Regan tersenyum, itu artinya Alankar mulai mencemaskannya. Reganpun menurut dan merubah posisi boncengnya. “ Mana tanganmu!” Pinta Alankar kemudian kembali menyalakan mesin motor Dengan jantung berdebar kencang, Regan menyelipkan tangannya di pinggang pemuda itu. Alankar menggenggam tangannya hangat, mempererat pelukannya “ Pegang yang erat. Rasa dinginnya akan berkurang.” Ujar pemuda itu membuat Regan berbunga bunga Dingin? Bagaimana bisa Regan merasa dingin saat posisi seperti itu? Rasanya dunia bersaljupun akan terasa begitu hangat. Alankar tidak tahu, Regan meneteskan air mata di belakangnya, menidurkan kepalanya di punggung pemuda itu. Rasanya begitu senang merasakan kehidupan di diri orang yang sangat ia cintai, walaupun Alankar bahkan tidak mengenalinya. Beri aku sedikit waktu, aku akan membuatmu mencintaiku. Aku akan merubah takdirmu, walaupun itu artinya aku akan lenyap. Aku bisa membuatmu mencintaiku, dengan caraku... Aku bersumpah, Alankar Adirangga. Kau tidak akan pernah menjadi hantu kesepian... Tidak akan... Kau akan hidup sampai tua dan menikmati hari harimu kelak, walaupun tidak ada aku di sana ~ Regan. Sementara itu, Alankar mengulas senyum sembari menggenggam lengan dingin Regan yang memeluknya erat. Kenapa ia bisa selalu bertengkar dengan gadis semanis Regan? Entah kenapa, rasanya begitu nyaman. Tak lama kemudian, mereka tiba di depan perpustakaan Jack. Regan turun dari boncengan dan menyerahkan helm ke tangan Alankar. “ Terima kasih kak.” Ucapnya manis. “ Sama sama, masuklah! Aku akan menjemput Jack terlebih dulu.” Ujar Alankar, sebelum tiba tiba ia bersin. Regan mengurungkan niat untuk membuka pintu “ Kak Alankar baik baik saja?” Tanyanya cemas. Alankar mungkin tidak terbiasa mengendarai motor di bawah guyuran hujan. Benar saja, pemuda itu bersin beberapa kali. “ Mungkin hanya flu! Aku pergi dulu!” Celetuk pemuda itu hendak menstater motor “ Tunggu sebentar! Tunggu! Jangan berangkat dulu!” Regan bergegas masuk, membuat Alankar mengernyit. Tak lama kemudian, gadis itu kembali dengan gelas di tangannya. “ Minumlah! Kau akan merasa lebih hangat.” Pintanya “ Apa ini higienis?” Tanya pemuda itu mengernyit “ Tenang saja dan minumlah! Aku tidak akan meracunimu!” Celetuk Regan Alankar mengangguk kemudian menyesap isi dari gelas itu yang tak lain adalah teh jahe hangat. Rasanya begitu segar. Ia mengulas senyum. “ Ayah selalu memintaku membuat ini kalau dia terpaksa ke luar saat hujan.” Tutur Regan “ Terima kasih.” Alankar menyerahkan gelas yang sudah kosong ke tangan Regan “ Kak.” “ Hmmm?” “ Hati hati.” Pinta Regan dengan pipi merona. Alankar tersenyum kemudian menyalakan mesin motor dan melaju pergi. Regan menatap gelas di tangannya kemudian memeluknya erat. Ia merasa sangat bahagia akhirnya hubungannya dengan Alankar baik baik saja. Gadis itu pun berbalik hendak memasuki perpustakaan, sebelum tiba tiba... Brak “ Masuk!” Seseorang tiba tiba datang kemudian mendorong Regan masuk ke dalam hingga gadis itu terjatuh dengan gelas yang sudah pecah “ Berani sekali kau mencoba mendekati Alankar.” Celetuk suara itu yang tak lain adalah... Maria Gadis itu terlihat basah kuyup dengan silet yang tampak tergenggam erat di tangannya. Apa mungkin Maria mengikuti mereka sejak tadi Alankar membawa Regan dari sekolah? Apakah ia segila itu? Regan mencoba berdiri dan melawan. Tapi... “ Hmmpp.” Seseorang yang mungkin sudah menunggu sejak tadi tiba tiba membekap Regan dari belakang dengan sapu tangan yang berbau aneh. Ia juga menyuntikkan sesuatu ke leher gadis itu, sesuatu yang membuat Regan lemah. Bahkan ia tidak bisa berteriak saat Maria menginjak kakinya berkali kali. Rasanya sangat sakit. Maria mendekati Regan kemudian menarik rambutnya kasar. “ Lakukan itu padanya! Buat dia menjadi sehina mungkin hingga Alankar bahkan tidak mau menatap wajahnya!” Tutur suara Qian yang tampak berada di balik layar “ Dengan senang hati kak! Gadis sok cantik ini harus dibuat sadar, posisinya tidak terlalu penting.” Celetuk Maria mengarahkan silet itu ke rambut Regan, kemudian ke wajahnya “ Tidak akan ada yang menatapmu dengan kagum lagi.” Senyum Maria sinis Seseorang... Tolong aku! Apa yang akan terjadi pada Regan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN