Maafkan Aku...

2042 Kata
“ Apa mau kalian?” Tanya Alankar saat beberapa orang menghadang mobilnya yang tiba tiba bermasalah sepulang sekolah sore itu. Regan yang masih duduk di dalam mobil dengan mata sembab hanya menatap dengan wajah menahan marah pada Alankar atas atas apa yang ia lakukan tadi di sekolah “ Mana kunci mobilmu!” Pinta pria sangar bertato mendekati Alankar “ Apa? Mobil? Kenapa meminta milik orang lain? Kalian tidak bisa bekerja?” Bentak Alankar kesal. “ Serahkan atau nyawamu akan melayang!” Ancam preman itu “ Kalian tidak tahu siapa aku kan? Kalau kalian macam macam, kalian akan mendapat akibat yang sangat menyakitkan!” Tunjuk Alankar berani. Sebelum... Bruk Pemuda itu tersungkur memegang perutnya yang baru saja kena tinju. “ Kalaupun ayahmu seorang presiden kami tidak peduli! Hajar dia!” Perintah pria bertato itu pada dua orang di belakang. Mereka pun menghajar Alankar, sebenarnya pemuda itu mencoba melawan tapi rupanya itu kelemahan Alankar Adirangga, ia tidak bisa bela diri dan akibatnya tubuhnya menjadi bulan bulanan masa. Regan menghembuskan napasnya kesal, sepertinya ia harus turun tangan. Maka, gadis itu membuka pintu mobil dan turun sembari membuka almamaternya “ Masuk ke dalam mobil! Ini berbahaya!” Teriak Alankar dengan hidung yang sudah berdarah. Regan tak mendengarkan, ia justru mendekat “ Wow sepertinya kita dapat jackpot, siapa dia? Adikmu? Kalian begitu mirip. Kemarilah cantik! Kalau kau ingin pemuda ini selamat, kau harus menurut pada kami!” Tawa renyah pria itu sebelum... Bug Sebuah tinjuan Regan layangkan ke hidungnya. Tinju yang langsung membuat hidung preman itu berdarah. “ Maaf tapi kamu bukan seleraku!” Celetuk Regan santai. Alankar yang melihat hal itu begitu terkejut, siapa sebenarnya Regan? Kenapa ia begitu berani? “ Hajar gadis ini!” Teriak pria itu marah Dan inilah yang terjadi beberapa menit kemudian... Tiga pria itu terkapar penuh lebam dan luka sebelum akhirnya kabur usai dihajar habis habisan oleh Regan yang terlihat tetap tenang. Alankar bahkan tak mengerjapkan mata karena takjub. Seorang gadis bisa mengalahkan 3 pria bertubuh besar dengan mudah? Pemuda itu membuang muka saat Regan mendekatinya, Regan mengambil sapu tangan lalu mengusap darah yang mengalir dari hidung mancung Alankar. Saat itu... Pemuda itu menatapnya “ Dari mana kau belajar bela diri? Siapa kau ini sebenarnya?” Tanyanya membuka suara “ Aku bukan anak orang kaya yang bisa seenaknya menyuruh orang atau membayar bodyguard jadi sejak kecil, ayah mengajariku bela diri.” Jawab Regan ketus, ia bahkan tak mau menatap Alankar “ Aku tidak pernah memintamu menolongku! Aku bisa melawan mereka sendiri!” Tegas Alankar masih dengan angkuhnya “ Ternyata budaya terima kasih belum ada di zaman ini ya. Apalagi pada orang orang kaya.” Celetuk Regan kemudian berdiri. Ia meringis memegang lengannya yang tampak berdarah, ya, salah satu dari tiga orang tadi sempat melukainya dengan senjata tajam. “ Kau terluka!” Alankar berusaha mendekat. Tapi... Regan melangkah mundur “ Aku baik baik saja, jadi sekarang aku sudah membalas hutangku bukan? Aku tidak perlu ikut denganmu.” Regan kemudian berlari pergi “ Kau masih marah?” Teriak Alankar Tapi gadis itu tidak mendengarnya. Regan justru menyeka air matanya kemudian menghilang di tikungan jalan. Sebenarnya apa yang terjadi hingga Regan menjadi semarah itu? Kembali pada 2 jam sebelumnya di sekolah. Saat jam istirahat... Regan melangkah gontai di koridor menuju ruang OSIS. Ia tahu mungkin Alankar tengah merencanakan hal buruk padanya, tapi ia tetap harus ke sana agar bisa tetap bersekolah. Tak lama kemudian, langkahnya tiba di depan ruangan itu. Tampak Adit dan Jack tengah duduk bersantai bersama beberapa rekan lainnya. “ Kau mencari Al? Dia ada di ruang musik. Dia memintamu ke sana!” Celetuk Adit menggigit apel di tangannya “ Ruang musik di sebelah mana?” Tanya Regan pasi “ Aku akan mengantarmu!” Jack berdiri dari duduknya kemudian menemani Regan melangkah menuju ruang musik “ Terima kasih.” Senyum Regan senang. Pemuda itu memang berbeda, ia terlihat begitu baik dan pengertian. Sama seperti saat ia dewasa kelak. “ Hati hati! Jika Al sedang marah kau diam saja jangan melawan! Lakukan apa yang dia mau! Turuti dia agar tidak terjadi hal buruk!” Tutur Jack menasihati Regan mengangguk kemudian membuka pintu ruang musik pelan. Tapi... Wajahnya langsung berubah masam saat melihat ada Maria di sana. Entah sejak kapan, mereka menjadi begitu dekat, gadis ular itu berdiri di sisi Alankar yang memegang tangannya lembut. Ia mengulas senyum seakan akan mengejek Regan “ Apa aku harus pergi?” Tanya Maria “ Baiklah, sampai bertemu nanti.” Senyum pemuda itu melepas kepergian Maria. Gadis itu kemudian melangkah melewati Regan dengan ekspresi penuh kemenangan sebelum akhirnya menutup pintu rapat. Sejenak, suasana menjadi hening Alankar mengitari Regan yang hanya diam tidak mengatakan sepatah kata pun. “ Kau tidak ingin ke luar dari sekolah ini kan?” Tanya pemuda itu berbisik “ Ya, apa pun akan aku lakukan.” Tutur Regan yakin “ Kenapa kau begitu ingin sekolah di sini?” Tanya Alankar berdiri di hadapannya Regan menatap iris mata pemuda itu lekat “ Aku ingin menyelamatkan seseorang.” Jawabnya berkaca kaca Mendengar itu, Alankar tersenyum “ Menyelamatkan? Kenapa?” “ Karena dia akan merasa kecewa, dikhianati, dan hancur. Dia begitu berharga, aku tidak mau itu terjadi, walaupun dia tidak pernah menganggapku ada!” Tekan Regan dengan suara getir “ Dan kau mau melakukan apa pun untuk itu? Bodoh!” “ TERSERAH! Tapi aku akan tetap di sini sampai kau mencabut keputusan itu.” Balas Regan “ Kalau begitu, lepaskan almamatermu!” Perintah Alankar duduk di kursi piano, menatap Regan yang mengernyit “ Lepaskan!” Perintah Alankar tegas. Maka, dengan berat hati, Regan melepaskan almamaternya dan meletakkannya di bawah. Membuat pemuda itu mengulas senyum “ Buka seragammu!” Perintah Alankar kemudian Deg Regan memucat, bola matanya membundar kaget. Bagaimana bisa Alankar meminta hal itu darinya? “ Kenapa diam? Bukankah kau bilang mau melakukan apa saja?” Tanya pemuda itu dengan senyum sinis Regan mengangguk, ia mulai membuka kancing kemeja bagian atasnya. Tapi... Saat pakaian dalamnya mulai terlihat, Regan berhenti, air matanya menetes. “ Kenapa berhenti? Lepaskan!” Tekan Alankar “ Aku tidak bisa melakukan itu!” Regan mengangkat wajahnya, menatap Alankar tegas. Pemuda itu berdiri dengan wajah marah, ia kemudian mendekati Regan dan mencengkeram dagunya kuat. “ Gadis sepertimu harusnya tidak menolak! Kau selalu mengikutiku bukankah itu artinya kau ingin memilikiku? Kenapa sok jual mahal? Kau ingin aku marah?” Bentak Alankar Tapi... Regan tiba tiba menangis “ Kau...” Ujarnya gugup Alankar mengernyit “ Kau adalah orang yang ingin aku selamatkan! Kau!” Tangis Regan “ Aku? Apa kau bercanda?” “ Tidak! Memang benar, aku berusaha mengikutimu. Aku ada di sini karena aku ingin menyelamatkanmu dari rasa sakit. Sekalipun kau berkali kali menyakitiku, bahkan melupakanku. Aku akan tetap di sini!” Jawab Regan yakin Gadis itu kemudian meraih almamaternya dan berlari ke luar. Melihat penampilan Regan, Maria yang mengintip dari balik tembok menggerutu kesal. Apalagi saat melihat Alankar ke luar dari ruang musik dan mengejarnya. Pemuda itu melihat Regan dari jauh, Regan yang tampak menangis memasuki kelasnya. Apakah ia sudah melakukan kesalahan lagi? Tapi kenapa Regan mengatakan kalau Alankar melupakannya? “ Aarkkh.” Alankar memegang kepalanya yang terasa sakit. Sebuah kenangan yang seakan belum pernah terjadi tiba tiba tergambar di benaknya Kenangan saat seorang gadis berlari dari pagar sekolah, kenangan yang terlihat blur tapi Alankar yakin, itu seorang gadis “ Kenapa kau lakukan semua ini? Kenapa kau menyakiti semua orang? Kenapa harus Jennie? Aku mencintaimu Alankar! Aku mencintaimu!” Teriak suara di dalam ingatannya “ SIAL!” Gumam Alankar duduk di kursi taman. Kepalanya benar benar terasa sakit. “ Apa aku benar benar telah melupakan sesuatu?” Gumamnya yang tanpa sadar meneteskan air mata. Alankar menyeka air mata itu, ia mengernyit heran. Kenapa kenangan itu membuatnya meneteskan air mata. Sementara itu di sana... Regan menangis terisak menidurkan kepalanya di bangku. Saat tiba tiba seseorang melangkah ke arahnya, mendekat dan memegang pundaknya “ Kau.” Regan bergegas menghapus air mata saat melihat Maria berdiri di depannya dengan tangan di depan dada “ Jauhi Alankar!” Perintah gadis itu. Regan berdiri menjajarinya “ Alankar hanya akan menjadi milikku! Dia hanya melihat ke arahku. Jangan coba mendekatinya. Ini peringatan untukmu!” Ancam Maria Regan menatap gadis itu getir kemudian mengulas senyum sinis “ Kau ingin mendapatkan Al? Tapi kau tidak mau melepaskan kak Adit? Kenapa? Kau dan kakakmu begitu ingin harta sampai mengabaikan harga diri?” Celetuk Regan Wajah Maria berubah pucat “ Kau pasti berpikir dari mana aku bisa tahu semuanya kan? Ya, aku tahu semuanya jadi berhati hatilah. Apa pun rencanamu, aku akan menghentikannya!” Regan balik mengancam “ Jangan mengarang cerita!” Maria terlihat marah “ Mengarang? Apa hubunganmu dengan kak Adit juga karangan. Maria, aku tahu kondisimu sulit tapi ingat... Ada harga diri yang harus kau jaga. Jangan karena orang lain memanfaatkanmu, kau lupa bahwa kebaikan harus selalu ada.” Nasehat Regan kemudian mengambil tasnya dan melangkah ke luar kelas. Meninggalkan Maria yang menatapnya marah. “ Awas kau!” Gumamnya mengancam Regan absen dari kelas usai istirahat dan memilih menghabiskan waktu di dalam perpustakaan, membaca buku yang mungkin bisa sedikit membuatnya tenang. Tapi tidak bisa, apa yang dilakukan Alankar baik kemarin atau hari ini membuat gadis itu sakit hati. Ia menangis sesak di atas bukunya. Entah berapa lama Regan berada di perpustakaan dan menidurkan kepalanya di atas buku, ia terlelap dalam sedih. Hingga tiba tiba.. “ Hmmpp.” Regan merasakan ada yang membekap mulutnya. Tangannya diikat ke belakang, saat sadar, tubuhnya diseret ke salah satu sisi rak. Seseorang mengikatkan kain di mulutnya dan menutup matanya dengan kain hitam. Tapi... Regan masih bisa mengenali suaranya. “ Kau mencoba mengancam Maria? Aku akan membuatmu tidak pantas bahkan berada di sisi Alankar!” Bisiknya yang tak lain adalah suara Qian, pamannya Kenapa semua orang begitu jahat? Kenapa semua orang ingin menyakiti Regan? Padahal Regan tidak melakukan kesalahan apa pun di masa itu. Qian berusaha melepas kancing seragam Regan, membukanya dan tersenyum penuh nafsu melihat Bra putih yang membalut d**a indahnya, Qian hendak menyentuh kulit gadis itu. Sebelum... Regan menangis. Tangisan yang entah kenapa membuat hatinya tercubit. Tentu saja, bukankah di masa depan, Qian sangat menyayangi Regan? Qian mencoba menepis ragu kemudian hendak melecehkan Regan yang menangis sejadi jadinya. Berharap seseorang datang menolongnya. Hingga ... “ Hei!” Teriak seseorang mendekat. Lalu... Bug Ia meninju wajah Qian yang ketakutan. Sosok itu tak lain adalah Alankar. Regan mengambil napas lega apalagi saat pemuda itu melepas almamaternya dan menutupkannya ke tubuh Regan “ Al, maaf! A- aku! A-aku tidak bermaksud melakukannya. A- aku!” Qian kemudian berdiri dan berlari pergi Dia memang tidak pernah memiliki keberanian “ b******k!” Ucap Alankar kemudian melepaskan tali yang mengikat kuat tangan Regan, melepaskan sumpalan di mulut dan kain yang menutupi matanya. Regan menangis sejadi jadinya sembari mengenakan seragam. Ia masih tidak menyangka, Qian akan melakukan hal sekeji itu padanya. Jika Alankar tidak datang, mungkin Regan akan kehilangan harga diri di masa itu. “ Kau berhutang padaku.” Senyum Alankar sinis “ Jangan sok baik, tadi kau juga hampir melakukan hal yang sama.” Tutur Regan masih terisak Pemuda itu mengulas senyum sinis “ Kau tetap harus membayar hal ini. Rapikan dirimu! Jangan menangis! Ikut aku!” Perintahnya “ Apa kau sangat suka memerintah?” “ Patuhi saja! Ikut aku! Kau harus menjelaskan apa yang tadi kau katakan.” Tunjuk Alankar kemudian melangkah ke luar. Regan mengikutinya. Entah Alankar akan membawanya ke mana, setidaknya... Jika ada Regan di sisinya, Maria tidak akan memiliki kesempatan bukan? Ya, itulah yang terjadi hingga tiba tiba mobil Alankar mengalami ban bocor akibat ulah preman tadi. “ AAAARRRKKHH!” Teriak Regan saat tiba di atas bukit. Meluapkan segala kekesalan dan kekecewaan di hati. Sejak kemarin ia mengalami kejadian buruk terus menerus Aku sendirian... Merasa kesepian.... Bahkan sosok yang aku pedulikan, bersikap sewenang wenang Bagaimana caranya aku kuat? Aku bahkan lupa caranya tertawa... Kesedihan ini terlalu pekat Langit seakan menyambut tangisnya, perlahan... Hujan rintik turun menyapa, membuat seragam Regan basah dalam dingin. “ Ayah, aku rindu ayah yang dulu ” Gumamnya sedih. Sebelum tiba tiba... Selalu ada ikatan yang bisa menciptakan celah, untuk melawan takdir “ Jangan berdiri di sini saat hujan, kau bisa sakit sama seperti rindu yang menyiksa perasaan.” Ucap seseorang menyelimutkan jaket kulit ke tubuhnya Regan menoleh pucat, ia terisak saat melihat Alankar mengulas senyum di sisinya. “ Maaf.” Ucapnya Apakah itu hanya khayalan Regan semata?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN