Pacaran?

1097 Kata
“Woy tunggu bentar napa?” teriak Nando yang berlari ke arah Gaby yang berhenti. Ketika Nando memanggil dirinya itu, bukan c*m. Dengan melihat sahabatnya itu berlari dan ditangannya terdapat ponsel yang sedang menyala dan memperlihatkan sosmed yang dari tadi dilihat Gaby. “Hoooooh,” ucap Nando yang ngos ngosan belum sempat bernafas. Gaby sudah berjalan lagi, yang membuat Nando ingin marah namun tak bisa lantaran sudah capek. Bernafas aja susah apalagi memarahi Gaby yang tak mempunyai keprimanusiaan itu, “Makanya kalau mau niat kampus itu ingat bangun. Ini selalu saja terlambat kampus. Heran bangat lihat kamu, ngga ada kerjaan tapi bisa aja terlambat,” ya begitulah Gaby kalau sudah mode cerewet. “Aku bukan terlambat bangun, Cuma kesiangan saja,” elak Nando yang tak terima dikatakan terlambat bangun. Apalagi diomelin oleh mak lampir yang bercosplay menjadi Gaby. “Terserah kamu aja. mending kita kampus aja. udah terlambat ini,” ucap Gaby yang mempercepat jalannya. Sementara Nando hanya bisa mengikuti Gaby dari belakang dan menghapus keringatnya yang sudah bercucuran. Sesampai di kampus. Seperti biasa maka sifat Nando yang suka tebar pesona kembali dengan sok cool dan ganteng. Padahal menurut Gaby mukanya biasa saja. Bahkan menurut Gaby muka Nando mirip kucing yang dipelihara Feby. Tapi yang namanya tampan tak bisa diukur bukan? “Idih, nggak usah gitu juga tahu. Tebar- tebar pesona. Pake acara senyum- senyum segala. Ingat kamu itu bukan seleb, jadi biasa aja,” ucap Gaby yang bergidik ngeri melihat gaya Nando itu. “Dih, sirik aja lo. Bilang saja kalau gue ganteng ya kan? Tapi lo nggak bisa gapai gue. Nggak usah ngelak udah, gue udah tau. Emang rata- rata cewek itu kek gitu. Kalau nggak gengsian bilang kalau dia suka sama gue,” astaga ingin sekali Gaby merobek mulut Nando yang kalau ngomong suka salah. entah mengapa penderitaan Gaby selalu saja ada. Kalau nggak Leo pasti Nando. Yang sabar ya Gaby. “Dihh, najis bangat gue suka sama lo. Kek nggak ada kerjaan amat bangat gue suka sama loe, nggak bangat dah, mending gue jomblo seumur hidup. Daripada pacaran kek lo.” “Alahhhh, lo pikir gue nggak tau, sudahlah akui saja kalau gue lebih ganteng sejagat raya ini, apa susahnya sih.” Kantong mana. Tolong seseorang berikan kantong plastik kepada Gaby. Karena saat ini dia ingin muntah mendengar perkataan temannya yang kepedean itu. Kalau ganteng ia sih, walaupun Cuma di angkatan biologi aja. Cuma tiga komedian yang sudah melampaui batas itu membuat Gebby tak tahan dengan omongan Nando barusan itu, apakah Nando tak punya kaca ya? Sampai dia bisa berkata begitu. “Tau ah mending aku pergi aja. daripada aku harus mati terbujur kaku disini karena kata- kata kamu yang paling innalillahi. Mudah- mudahan kamu cepat sadar dan kembali kejalan yang benar,” selesai mengatakan hal itu Gaby langsung meninggalkan temannya itu disana sendirian. Sementara Nando mendekati mangsa yang akan dijadikan pacar berikutya. Sifat Nando dengan Leo tak jauh berbeda. Bahkan nyaris sama. Makanya itu Gaby tak suka jika Nando dan Leo digabungkan. “Gaby tunggu gue!” Gaby tak menoleh kebelakang. Karena tanpa dilihat pun dia sudah tahu siapa yang memanggil dirinya. Siapa lagi kalau bukan setan yang terdampar di fakultas pendidikan biologi. Siapa lagi kalau bukan Gali, dengan senyuman yang cengar- cengir. Tak usah ditanyakan lagi kenapa dia berada di fakultas yang tak seharusnya dia ada disana. “Bolos?” tanya Gaby dengan malas kepada temannya itu. Yang disambut oleh kekehan dan senyuman manis, hal itu yang paling dibenci sekaligus disukai Gaby. Karena kalau Leo senyum manis dan gantengnya itu nggak ngotak, ibarat kata Gaby bisa saja mimisan kalau melihat Gali seperti itu terus. Namun bukan Gaby namanya yang berusaha sok Cool dan berpura- pura tak suka dengan senyuman itu. “Nggak papa, kan Cuma sekali doang aku bolos. Lagian masih ada waktu 3 tahun lagi buat nuntut ilmu. Kalau aku juga putus kuliah. Bapak aku kaya,” jawaban yang tak masuk akal bukan. Gaby menghela nafas pasrah dengan jawaban yang masuk akal temannya. “Apa hubungannya bapak kamu kaya sama kamu putus sekolah?” “Ya gini aja. kan bapak aku kaya banyak perusahaan terus, aku juga punya yang namanya basic atau skill di bidang ekonomi dan bisnis. Jadi aku bisa deh jadi penerus bapak aku,” jawab Leo dengan bangga. Astaga tadi baru saja Nando yang menyebalkan. Kenapa sekarang Leo datang. “OH, ia. Gab aku bisa nggak minta tolong sama kamu?” tanya Leo kepada Gaby. Gaby mengangguk- angguk dengan cepat. “Gini loh. Gimana ya ceritain sama kamu, aduh. Aku malu bangat lagi,” Gaby menengok kearah Leo. Dia ingin sekali membuang temannya ini dengan cara menendang. Dan berharap beda planet supaya tak kembali lagi buat menyusahkan dirinya itu. “Apakah, bicara itu yang jelas biar aku bisa nolongin kamu. Kalo kek gini kamu kek cacingan tau. Mau aku beli obat cacing, tenang nggak usah bayar pake uang aku aja. soalnya aku baru saja dapat gaji dari tempat aku bekerja,” tawar Gaby kepada teman itu. Namun bukannya menerima tawaran itu. Justru dia malah memasang muka cemberut sekaligus kesal yang membuat Gebby mencubit pipi Leo dengan gemas. Bahkan sampai memerah loh saking gemesnya. “Bukan gitu.” “Trus apa coba makanya kalau mau minta bantuan itu pikirin dulu kata- katanya. Biar nggak kek gini, kan kalo kek gini nggak lucu. Kesannya kek mau ngutang,” ucap Gaby yang tak peduli sekarang dengan mimik muka Gaby yang amat menggemaskan itu. Namun dengan cepat Leo langsung menarik tangan Gaby dan berlari. Mau tak mau membuat Gaby juga harus ikut berlari. Seperti orang yang takut dengan rentenir datang begitu juga dengan larinya Leo. Bahkan Gaby aja sampai tak sanggup dengan kecepatan rata- rata yang dibuat Leo itu. Dan_ Bruk………. Mereka menabrak seseorang karena tak melihat, “Maafkan kami sengaja,” jawab Leo tanpa dosa, bahkan diiringi dengan cengar- cengir. What the hell jawaban apa itu. “Makanya jalan itu pake mata, trus fokus jangan Cuma pacaran doang,” ucap orang yang mereka tabrak tadi. astaga demi apa. Muka Gaby bersemi merah ketika Kating yang ditabrak itu mengatakan kalau dirinya dengan Leo adalah pacaran semoga saja beneran ya. “Akhhh pacaran? Sejak kapan kami pacaran?’ tanya Leo dengan heran. Memang benar sih darimana mereka tahu kalau Leo dan Gaby pacaran. Apa karena mereka yang sering bersama. Sehingga orang tersebut mengatakan hal itu. Kating hanya mengkode dengan cara melihat kearah pegangan tangan mereka berdua. Dengan cepat Leo langsung melepaskan tangannya dari Gaby, “Kami bukan pacaran. Siapa yang mau pacaran dengan singa,” blak. Kata- kata itu berhasil membuat Gebby sakit hati. Perkataan barusan seperti terjatuh dari menara eiffel begitu menyakitkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN