Bingung

1046 Kata
“Gaby bantuin aku dong, kok ini bisa gini. Aku strses dengan hukum perdata,” Galileo membawa banyak buku yang amat tebal tak lupa dengan laptop yang masih belum mati dengan memasang muka yang amat cembverut dan sangat kasihan. Membuat muka Gaby melihat dia heran saja. Namun apa daya yang namanya Leo pasti ada- acda saja tingkahnya. “Perasaan aku bukan jurusan hukum sudah. Aku saja memikirkan AMDAL hammpir mati. Terus kamu suruh aku kerjain kamu hukum kek gitytu. Kamu mau dapat amkikah?” tanya Gaby dengan tersenyum yang semanis mungkin. Dia berusaha bersikap baik- baik saja. Walaupun dalam hati dia ingin memkan temannaya itu. Gtak mungkin kan, seorang Gaby marah- marah kepada Leo hatimnya terlalu lembut, selembut kapas yang masih terbungkus rapi, namun Leo yang amagtlah bangke berusaha membujuk sahabtnhyan itu dengan cara menyengir kuda. “Tapikan kamu pintar. Masa anak pintar nggak tahu pelajaran yang begitu,” ucap Leo yang duduk dengan bagus dalam kelas Gaby lalu melanjutkan main handphone yang masih terlogin dengan ponsel. Gaby hanya bisa menghela nafas yang amat kuat. Karena tingkah temannya yang tak kunjung berubah dari SMA. Kemudian mengambil buku temannya lalu berusaha membacakan tugasnya Leo dan berusaha memahami apa yang diminta dalam tugas itu. Setelah agak paham. Dan tahu mengerti apa yang diminta. Dia mulai mengerjakan tugasnya dengan fokus dia mulai mengetik dan tak butuh lama. Dia siap mengerjakan tugas tersebuty.. leo melihat ytugas itu dengan muka yang sumrigah dan tersenyum. Tanpa sadar Leo memeluk sahabatnya itu. “WE makasih bestiee,” ucap Leo bahkan mengecup kening Gaby tanpa sadar. Mata Gaby langsung membulat sempurna. Dan terdiam. Jantungnya memompa lebih cepat dari biasanya. “Uuuuuuu, tugas ku akhirnya siap juga. Uuuu! Nggak sia- sia aku datang kekelas yang amat membosankan ini,” Leo melihat- lihat dengan penuh kebanggan. Seolah- olah dialah yang mengerjakan tugasnya itu, Gaby hanya bisa mengelus- elus d**a dengan sabar atas sperbuatan temannya itu. “Weee siapa yang bilang kelas kami membosankan?” tanya Nando yang seperti jalangkung. Datang tak diundang pulang tak diantar, bahkan lebih lucunya dia membawa makanan yang banyak gorengan, Leo terdiam dan agak terkejut dengan temannya Gaby. “Dia setankah?” tanya Leo yang tengah berbisik kepada Gaby. Awalnya Gaby melihat keNando dan bersikap masa bodoh dengan pertanyaannya Leo. “sudah pulang saja sana aku mau tidur, semalama aku begadang kerjain tugas,” usir Gaby Leo dari kelasnya. Leo berkacak pinggang dan pergi dari kelasnya Gaby. Dengan muka songong. “Gaby,” panggil Feby. Ya ketenangan Gaby akan segra musnah. Masalah satu akan datang silih berganti. Karfena dia mempunyai 3 teman yang menyebalkan. Dengan menyengir dan tanpa berdosa melihat kearah temannya itu. “Apa?” tanya Gaby yang cuek. Mungkin saja karena dia begadang dan mengantuk sekali. Sehingga matanya hanya berukuran 4 watt saja. “Bisa pinjam uang nggak? Aku mau beli minuman tapi aku lupa bawa uang ini,” ucap G+Feby dengan memelas kepada dia. Gaby dengan kesal memberikan uang harga 10k an. Kemudian bisa duduk dengan tertidur tenang. *** Sepulang dari kelasnya Gaby. Leo langsung pulang kerumahnya. Kenapa rumah kenapa tidak kos? Ya karena Leo orang kaya jadi maklum saja. Orang kaya kan banyak uang. Sebenarnya Leo tinggal dengan kakaknya yang bekerja disalah satu instansi rumah sakit dijayapura kota ini. Sehinghga membuat Leo tak perlu bersusah payah buat mencari kost yang baru lagi seperti Gaby. Sesamapi dirumah, dia masuk kedalam kamar dan menguci pintunya, kemudian duduk diatas kasur sambil bermain ponsel, “Leo,” panggii kakanya dari luar. Leopun tersadar dari kantukinya. “Iya?” tany Leo yang berjalan kearah pintu dan membukakakn pintu kamarnya. Kakaknya sudah berdiri dengan rapi disana sambil tersenyum dengan ramah. “Kamu belum mandi? Astaga bau bangat tahu, sana mandi. Terus kamu siap mandi kamu makan ya. Awas saja kalau kamu nggak makan. Kamu akan menyesaal nanti,” ujar kakanya yang dibalas dengan anggukan malas sebagai jawaban dari Leo. Sebenarnya hari ini Leo berencana mau menonton dengan Gaby. Sebab dia tak punya pacar untuk minggu ini. Sehingga harus mencari peliharaan yang baru dari bioskop. Namun keknya tidak akan jadi karena Gaby hari ini banyak tugas dan matkul untuk satu hari ini. Leo kembali kekasur dan mengambil ponselnya dan mulai mencari nama kontak seseorang. Dan mulai mengetik pesan buat orang itu, memberi tahu kalau hari ini jadwalnya tidak jadi. Dia melihat foto- foto yang ada digaleri sebegai bentuk kegabutan yang hakiki. Dan tak lua tersenyum malu- malu kala melihat kejametannya waktu SMA. “Tapi kok bisa ya aku nggak suka sama Gaby. Ada apa dengan aku. Padahal kalau diihat- lihat dari kecantikan dan kepintaran. Gaby adalah orang yang memenuhi tipe idealnya itu. Dia mlihat foto Gaby dengan lebih jelas dengan cara menzoom membuat dia semakin tersenyum. “ntah kenapa lihat muka di aitu aku jadi makin adem bangat. jtapi kenapa ya aku nggak bisa suka sama dia, aneh bangat. padahal kalau dipikir pikir gue sama dia udah hamper 5 tahun bersahabat. Tapi nggak ada perasaan dihati gue. Apa jangan- jangan gue yang g****k atau emang gue aja yang nggak peka,” batin Leo dengan mengingat- ingat. Flashback. “Kamu nanti kuliah kemana?” tanya Leo dengan menggambar- gambar buku paket dari skolah. Sementara Gaby malah asik mencatat semua matri yang dikasih guru kepada mereka waktu mengajar dia tak mau satu materipun terhapus atau lupa menulisnya dengan sepurna dan rapi. “Kemana ya? Keknya ku mau KePapu aja, soalnya aku punya bibi dan paman disana. Kalau aku kesana kan ada yang ngurus, emang kenapa?” tanya Gaby tanpa melihat kearah temannya itu. “Nggak biar aku bsa tau kalau seandinya nanti aku kuliah kemana, soalnya aku masih bingung dengan yang Namanya kuliah ini. tapo menurut kamu di papua itu ada nggak ya kampus dengan jrusan hukum?” “Kamu mah aneh- aneh bangat tau. Ya pasti adalah, lagian kamu cari toh google. Apa mamfaat handphone maha- mahal tapi lihat interet aja nggak ada.” “Ia sory. Aku yang salah lagi, terus kalau kamu kesana. Kamu mau ambil jurusan apa?” tanya Leo sekali lagi. “Awalnya sih akum au ambil dokter. Tapi setelah dipikir- pikr keknya aku ambil biologi aja. biar aku bisa ngajar gitu, kenapa emangnya kamu mau nanya- naya begitu?” “Soalnya akum au didekat kamu terus- menerus. Aku nggak mau petemanan kita juga LDR, cukup pacarana saja yang LDR. Teman jangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN