Olahraga

1053 Kata
Aku berusaha menyadarkan diriku bahwa aku tak bisa berharap lebih dari hubungan ini. namun hatiku selalu saja ingin menentang hukum friendzone. Aku tahu jika aku mengubah pertemanan menjadi cinta maka aku harus siap kehilangan keduanya. Tetapi disatu sisi mana ada pertemanan pure antara cowo dan cewe. Karena pasti ada salah satu yang melibatkan perasaan dan itu benar. Aku mengalaminya sekarang “Capek.” Gaby menyeka keringat yang mengalir pelipisnya itu dan membasahi wajahnya tersebut. Begitu juga dengan Leo yang kini sudah ambruk dan berbaring diatas lapangan basket. Tepat dibawah pohon rindang yang membuat mereka sedikit teduh. Mereka baru saja menyelesaikan lari sore. Gay sangat kelelahan. “Lo capek bangat keknya ini minum,” Gaby mendekatkan dirinya kearah Leo dan menyerahkan botol yang berisi air mineral yang tadi dibawanya tadi. tak lupa menatap wajah Leo yang tampannya masih tetap sama bahkan bertambah. Karena dibanjiri keringat. “Nggak lah, ngapain aku capek. Udah biasa tau,” Leo tak mau dicap lemah oleh temannya itu dengan memejamkan mata sebelum menerima air pemberian Gaby dan meneguknya sampai habis. Lalu membuang botol itu kesembarang tempat. Dia tak peduli dengan yang namanya kebersihan dan kerapian. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri. Hal itu kadang membuat Gaby jengkel dengan sifat Leo yang ta mau tau dan bersikap masa bodoh. Gaby melihat sekeliling lapangan. Tampaknya stadion dan lapangan yang sering dijadikan Gaby dan Leo sepi. Tak seperti biasnaya selalu saja ramai dengan pengunjung yang juga suka olahraga. Namun tetap saja banyak pasang mata yang melihat mereka, yang tengah uring- uringan berada dilapangan tersebut. Mereka yang melihat Gaby dan juga Leo tampakya dispatch ya kan. Karena mereka akan dijadikan bahan pembicaraan atau sering disebut dengan gosip. Mungkin kareba Gaby dan Leo sering datang kestadion itu makanya banyak orang yang mengenal mereka. Banyak kaum hawa yang iri kepada Gaby karena menurut mereka Gaby beruntung memiliki cowo setampan dan secool Leo. Banyak orang mengira Gaby dan Leo berpacaran. Padahal seperti yang sudah kalian tau mereka hanya berteman saja. “Yuk!” Leo mencoba berdiri dari posisi tidurnya. Kemudian mengambil air minum dari ransel yang dibawanya dan meneguk sampai tak tersisa sedikitpun. Sementara Gaby heran dengan Leo yang mengajak dirinya itu. Tetapi tak tau kemana. “Kemana?” tanya Gaby yang masih rebahan dan bermain ponselnya itu. “Ke pantai hamadi, baru nanti malam kita pulang,” Gaby mengangguk- angguk dan kemudian ikut berdiri. Kemudian Leo mengambil tasnya Gaby yang berada dibawah tiang bendera. Lalu menyerahkan kepada pemilik tas tersebut. Leo merangkul bahu Gaby. Setelah itu mereka bergegas pergi melangkah menuju arah motor milik Leo yang terparkir disana. *** Sesampai dipantai. Mereka tak langsung pergi mandi atau melihat pantai. Hal yang pertama dilakukan mereka adalah mencari makan. Karena perut Leo yang sudah lapar daritadi mungkin saja bawaan olahraga tadi. setelah mereka menemukan tempat yang cocok untuk makan dan menurut mereka itu enak dan sesuai budget. Mereka pergi kearah situ. Dengan perlahan Leo menarik kursi lalu menyuruh Gaby duduj. Tanpa berbasa- basi Gaby mengikuti apa yang diminta temannya itu. Lalu Leo menarik bangku satu lagi yang berada disamping Gaby, lalu mendudukinya. Suasana ditempat mie ayam itu memenag cukup ramai. Maklum saja banyak wisatawan yang berkunjung dipantai itu, untuk melihat sunset jadi wajar jika suasana ramai. “Kamu mau makan apa?” tanya Gaby yang sangat polos. Padahal sudah jelas- jelas diwarung tersebut bertuliskan hanya satu hidangan. Namun entah dia lupa atau emang hanya berbasa- basi dia menanyakan hal tersebut. “Perkedel campur otak- otak,” jawab Leo dengan ketus. Alhasil membuat Gaby bingung dengan pesanan temannya itu. Dia melihat daftar menu tak ada yang dituliskan apa yang dipesan temannya itu. Membuat Gaby menerutkan kening heran. “Tapi nggak ada,” Leo menggeleng- gelengkan kepala. Dan memukul pelan dahi sahabatnya itu. Yang membuat Gaby memasang muka yang cemberut dengan apa yang barusan dilakukan sahabatnya itu. “i….. apa- apansih main pukul aja. kamu pikir aku samsak apa?” tanya Gaby dengan mendumel. “Makanya otak itu dipake. Kadang otak lo nggak dipake ntah kesesat dimana ini. makanya jadi orang jangan suka bengong terus kalau punya masalah jangan didiamkan. Kan jadi gini kadang eror terus,” dumel Leo yang fokus dengan ponselnya itu. Lalu dihadiahi sebuah pukulan pelan dari Gaby yang lolos ketangannya itu. “Bang, pesan mie ayam dua. Trus ekstra ayam satu trus jangan buat cabe banyak- banyak ya,” Gaby senyum- senyum malu dn tak bisa menghilangkan senyuman manisnya itu. “Makasi Gali, kamu adalah teman terbaik aku. Uuuuuuu banyak banyak sayang. Selalu saja ada buat aku uluh- uluh,”Gaby memeluk Leo dengan erat bahkan sampai membuat Leo hampir mati karena saking eratnya. “Astaaga kamu, itu mau matikan aku ya,” Gaby hanya tersenyum- senyum dengan manja. Dan menarik dirinya buat memeluk temannya tersbaik itu. Entah mengapa hari ini Gaby sangat manja. Paling manja daripada hari biasanya. “Idihhh, ni orang kenapa? Kamu kena rasuk setan apalagi? Horor bangat tau. Mending kamu makan aja deh daripada kamu begituan. Lagian keburu dingin tau makanannya,” suruh Leo yang masih asik dengan gamenya. Sementara Gaby langsung mengangguk dan memakan mie ayam yang tadi dipesannya itu. “Kamu nggak mau makan ini? aku suapin deh biar kau nggak terganggu main gamenya,” Leo menggeleng pelan dengan fokus, “yakin nggak mau, enak tau pake kata bangat, nyesal tau kalau kamu nggak makan. Ini biar aku suapin tau,” Leo yang masih fokus dengan gamenya tetap menggeleng dengan pelan. “Ia, yakin,” Leo melihat kearah Gaby dan mengelus puncak kepala sahabatnya itu, lalu kembali fokus makan lagi. Sementara Gaby hanya fokus makan. Seperti tak mau ketinggalan sesendok saja sisa mka dirinya akan merasa rugi. Ketika asik makan dia melihat datang tukang es krim. “Gali, aku pengen makan es krim yang itu,” tunjuk Gaby kepada tukang es krim yang masih berada disana. Dengan tatapan plos dan amat menggemaskan membuat Leo tak bisa berkata tidak kepada temannya tersebut. Dia tak mau temannya nangis atau ngambek kepada dirinya itu. “Ya udah nanti kita beli. Api kamu habiskan dulu ya, sayangkan mubazir mienya. Udah dibeli mahal- mahal tetap aja nggak habis. Ntar jual kasihan tau,” ujar Leo. Yang diangguki Gaby. Leo merasa gemas kepada sahanbatnya itu. Tapi entah mengapa dirinya tak pernah menyukai temannya itu. Padahal banyak temannya yang menyukai Gaby karena cantik dan bijak tetapi berenda dengan dia yang justru hanya menganggap dia sebagai teman saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN