“Woy, kau udah siap tugas bahasa igris belum?” tanya Nando ketika Gaby baru saja sampai kampus. Cara pandang Gaby kala melihat Nandopun hanya planga plongo. Dan tak lupa dengan ponsel yang dia pegang. Karena lucunya ekspresi gadis itu. Membuat Nando dengan cepat memotret Gaby. Dengan muka yang menahan tawa.
“Apaansih kamu Nando, itu melanggar privasi orang. Harusnya kalau kamu mau ambil gambar itu. Kamu ngomong dulukah, jadi aku bisa atur gaya tau. Kalau gini kan aku bingung terus ekspresi aku jadi jelek bangat, iyuuuhhhh. Nggak sesuai dengan realnya,” Gaby berceloteh dengan ria. Tak seperti bisanya dia begitu. Ditambah lagi dengan mukanya serta ekspresi yang amat menjiwai.
Muka Nando seketika melihat cara Gaby berbicara yang seolah- olah diatur membuat dirinya tersebut jijik. Dan ingin membunuh Gaby saat ini juga. Nando pergi meninggalkan Gaby yang masih saja crewet dan banyak cakap dengan dirinya itu. Namun sebelum itu tak lengkap rasanya jika dia tidak mempost aib sahabatnya itu kedalam story i********:, w******p dan lain- lain. Tak lupa untuk mentag nama orang yang akan dia post itu.
Sementara itu Gaby yang belum sadar dengan kepergian Nando masih saja asik dengan cerwetnya itu, “Ja_” Gaby seperti orang yang lingung. Ketika dia berbalik, tetapi tak melihat Nando disampingnya itu. “Tu kan kebiasaan bangat, kalau pas ngomong didiamin,” Gaby mebenarkan rambutnya dan pergi dari situ untuk mencari bangku kosong tempat dia akan belajar.
Ting
Suara dari ponselnya yang menandakan ada nontifikasi masuk membuat Gaby buru- buru mrlihat ponselnya itu. Dia melihat mukanya yang tertampang jelas yang tadi diupload oleh Nando, “Cihhh, tu orang mau mati kali ya, bisa- bisanya dia upload muka aku yang penuh dengan keburikan ini,” Celote Gaby dengan tersenyum malu. Melihat mukanya yang begitu terpampang dengan pose yang sangat aneh. Tanpa sengaja dia menscroll media sosial dan melihat story orang oran yang dia ikuti.
Sampai dia melihat story bibinya yang perg jaan- jalan semalam. “Pantas, ternyata orang itu jalan- jalan. Tapi buat apa juga aku kesal sama orang itu. Ituka hak mereka, terserah mereka dong. mau dia pakai apapun itu,” batin Gaby yang melanjut melihat story dari temannya yang lain.
Kemudian Febi datang dengan senyuman yang paling indah. Entah mengapa dia bisa membuat raut wajah yang begitu menyenangkan itu. Seperti tak ada masalah sama sekali,”hay guys. Aku datang, kalian kangen sama aku tidak?” tanya Febi dengan keras. Ketika dia masih berada diluar pintu kelas itu. Tak lupa membawa buku binder tempat dia akan mencatat materi kuliahnya itu.
“Kesambet apa lu?” tanya Nando yang heran dengan tingkah Febi tak lazim. Bisa- bisanya dia mengubah tampilan dan gayanya bicara. Gaby meihat dari kejauhan juga merasa heran dengan sikap Febi yang hari ini tampak lebih semangat dan juga lebih feminim. Dia merasa bahwa Febi untuk saat ini pacaran atau PDKT an dengan orang lain.
“Apaansih. Emangnya aku salah apa kalau gaya aku begini? Nggak kan. Harusnya kamu bersyukur kalau teman kamu udah berubah dan jaga penampilan. Karena kecantikan paripurna aku semakin nampak dan jelas,” ucap Feby yang bangga dengan tampilannya sekarang. Sementara temannya Nando melihat dia dari atas sampai bawah. Yang membuat bulu kuduk merinding. Nando merasa bahwa kedua temannya saat ini dirasuki oleh penunggu pohon sebelah
Nando mengangkat kedua bahunya dan memgang tangannya seperti menggigil dan merasakan aura negatif datang mendekati dirinya itu untuk sekarang. “Kok dingi bangat ya, apa jangan- jangan ada setan kali ya disini. Aku merasa bahwa aura negatif dari sini sangat pekat dan amat pekat,” Feby menatap Nando yang masa bodoh dengan apa yang dikatakan Sahabatnya itu memilih pergi dan menemui Gaby yang masih asik dan sibuk dalam ponsel yang dipegangnya. “Hei, Gaby kamu udah siap nggak tugas Biomolekul sel?” tanya Febi yang memindahkan tas dari kursi yang berada didekat Gaby. Dan duduk dikursi tersebut lalu mengambil kaca.
Gaby melihat sebentar kemudian kembali menatap ponselnya itu. Nando juga ikut dan bergabung dalam obrolaln dua wanita itu juga, “Dih, ko gue dicuekin. Kalah saing nih ceritanya?” goda Feby yang masih stay dengan kaca yang dia pegang ditangannya itu.
“Nggak juga. Siapa juga yang kalah saing. Cuma heran aja. seorang Febi bisa juga dandan. Ntah gimana caranya dia bisa sampai begitu. Setan mana lagi yang kunjungi kamu?” tanya Gaby balik dengan nada ketus. Membuat Feby memukul lengannya Gaby dengan pelan.
“Apaansih kamu! Bisa aja deh, harusnya kalian senang kalau aku catik begini. Itu artinya aku udah bisa jaga dan rawat diri aku. Daripada aku kek sebelumnya rambut acak- acakan sama pakian yang penting berpakaian. Kan kren. Emangnya Cuma Nando aja yang bisa fashion able? Kan nggak. Aku juga bisa tau,” jawab Feby.
“Dih. Kok jadi bawa- bawa aku. Lagian aku dari masuk kampus emang udah kren tau. Kamu aja yang nggak tau, makanya mata tu dipakai buat yang bagus- bagus. jangan Cuma dipake buat lihat keburukan orang lain, trus dujadiin bahan gibah dan gosip kan aneh bangat,” Ucap Nando yang ta terima jika dia dibawa- bawa ataupun dikaitkan dengan gayanya yang hits amat itu.
Gaby hanya bisa melihat dan menghela nafas kasar. Tak lupa tangannya yang berada didahi. Ketika menyaksikan acara perdebatan kedua temannya yang tak pernah akur iu. Ada- ada aja perdebatan yang dilakukan mereka berdua. Dan dia juga tak bisa membela dari dua orang tersebut.
“Helllow! Sejak kapan aku begitu? Nggak pernah ya, aku adalah orang yang tak suka dengan hal begituan. Lagian ngapain coba capek- capek gibahin orang. Kek nggak ada kerjaan lain aja. mending tidur,” jawab Feby yang tak mau kalah dari Nando. Karena jika dia tak bisa mengalahkan perkataann Nando. Dia merasa bahwa dia itu gagal menjadi seorang Feby.
Gaby mengusap- usap telinganya yang sudah sakt dengan segala perdebatan yang terjadi dengan sahabatnya itu. Dan membuat dia tak tahan lagi, “Udah woyyy, kalau kalian mau berantem mending dilapangan futsal aja. biar lebih luas dan besar tempatnya” usul Gaby yang mengeraskan atau berteriak kepada temannya itu.
“Nggak sekalian lapangan bola yang ada distadion dekat sentani itu. Kan biar lebih gede. Jadi lebih puas gitu,” usul Nurul yang tiba- tiba saja datang ketika melihat Gaby berteriak kepada Febi dan Nando. Sementara dua muka orang yang tengah berdebat itu hanya memasang muka sok tak pedui dan ngambek. Ya egitulah mereka kalau tak suka dengan usulan orang terebut