Gaby dan Leo pergi dari tempat tersebut menggunakan sepeda motor. Diatas motor Gaby hanya bisa menangis. Tak lupa tangannya yang berada di atas perut Leo dan kepalanya berada di pundak. Dia tak bisa mengendalikan sakit hatinya tersebut. Dan entah bagaimana caranya bisa meluapkan amarah yang sudah disimpan sejak tadi, sakit sekali buat dia tahan.
“Kan, aku sudah pernah bilang sama kamu. Kalau kamu nggak usah cari perhatian atau kek mengemis begitu. Karena apa? Kamu itu Cuma dianggap lelucon saja mereka. Lagian ada aku tau. Kenapa harus mereka yang kamu minta tolong. Aku taukamu keluarga, tapi terkadang dengan keluarga itu sakit bangat,” Ucap leo dengan berteriak, supaya Gaby bisa mendengar.
Namun Gaby tak menjawab atau membalas apapun. Dia hanya pengen melepaskan kesesakannya, yang berada dalam hati. Dia tak mampu mengucapkan kata sepatah pun. Dengan perlahan dia menjauhkan kepalanya dari pundak Leo yang membuat dia tenang. Melihat ke arah samping kanan. Kala melihat jembatan merah, dia menghapus air matanya itu.
Leo juga menghentikan motornya di depan jembatan merah. Gaby sempat bingung dengan apa yang sedang dilakukan sahabatnya itu. Leo menyuruh Gaby turun dari motornya. Gaby hanya melaksanakan apa yang disuruh sahabatnya tersebut kepada dirinya itu. Leo juga dengan cepat menarik tangan Gaby kemudian membawa dia ke pinggir jembatan itu.
Gaby yang tak paham dan mengerti apa tujuan dan maksud Leo tersebut hanya diam saja lalu menatap Leo untuk mencari tahu apa yang dia inginkan sampai membawa Gaby kesini. Leo melepaskan tangannya dari Gaby. Lalu memandangi laut dan memegang pegangan besi jembatan itu. “kamu pasti bertanyakan. Kenapa aku bawa kamu kesini?” Gaby mengangguk dengan cepat.
“Kamu tau nggak kata orang, kalau hati kita sesak, trus kita ingin marah. Tapi nggak tau mau ke siapa disampaikan keinginan kita itu. Karena kita nggak tau siapa yang salah dan benar. Karena kadangkala hati kita ini tak bisa membedakan mana yang benar dan yang salah hal itu wajar, karena kita manusia,” ujar Leo yang masih tengah melihat kearah Laut. Wajahnya yang semakin tampan karena angin yang melintas di wajahnya itu.
Gaby melihat kearh Leo yag berbicara kepadanya. Angin membuat rambutnya ikut terbang dan menambah kecantikan dirinya itu. “trus apa kaitannya kamu bawa aku kesini, uudahlah kita mending pergi aja. aku malas bangat disini. Lagian tugas aku banyak bangat lagi. Mana besok deadline,” Gaby sebenarnya tau apa maksud Leo. Namun dia berpura tak tau apa- apa. Dia hendak pergi tetapi dicegat oleh Leo karena tangannya ditahan.
“Kamu belum paham apa yang dimaksud?” tanya Leo dengan menatap Gaby dan hanya dibalas oleh gelengan kepala. “aku tau kalau kamu itu sama seperti apa yang aku omongin tadi. kamu mau marahkan, karena kalau kamu tahan, itu hanya akan membuat hati kamu semakin sakit. Tapi kamu juga harus tau kalau menahan itu sama saja membunuh kita,” perkataan Leo barusan membuat Gaby sadar bahwa dia sudah salah menahan hal itu.
“Lalu aku harus gimana? Apa kau harus teriak dan bilang kalau aku sakit hati, nggak kan? Trus kalau aku bilang juga apa orang itu peduli? Nggak, justru mereka akan bilang aku orang gila. Lalu aku harus gimana?” isak Gaby memukul bahu Leo karena tak sanggup menahan sesaknya.
Leo tak membalas ataupun mengelak dari pukulan temannya itu. Karena dia tau kalau saat sekarang ini Gaby membutuhkan yang namanya dukungan dan alat pelampiasan kesakitan yang dia omongin itu memang adalah menggambarkan kalau seorang Gaby yang selalu senyum, cuek dan masa bodoh dengan semua masalahnya itu kini menjadi tangis yang tak tertahankan lagi.
Leo menarik tangan Gaby dan memeluk sahabat satu- satunya, “Aku capek Leo. Aku selalu saja salah. Alu cari perhatian salah. Aku cuek, dibilang nggak diajari. Trus aku harus bagaimana, aku mau menghilang untuk saat ini, hiks, hiks,” tangisan Gaby semakin keras membuat hati Leo juga ikut tersayat melihat sahabatnya itu.
“Gali, kamu nggak akan tau. Kalau kamu nggak ngerasain di posisi aku yang serba salah. aku juga pengen bersifat masa bodoh tapi nggak bisa, hiks hiks” Leo hanya diam dan membiarkan Gaby menangis dalam pelukannya. Orang- orang yang berada jembatan merah atau dikenal dengan jembatan jokowi melihat mereka. Banyak orang yang menggosipi mereka. Tetapi Leo dan Gaby masa bodoh.
Leo melepaskan pelukan dari Gaby dan tersenyum serta tak lupa menghapus jejak air mata Gaby yang masih menempel di wajah mulusnya itu, “udah, aku emang gak tau sakitnya gimana, karena aku nggak pernah disana. Tapi satu hal yang kamu tau. Aku nggak akan ninggalin kamu sampai kapanpun. Karena bagi aku. Kamu adalah orang yang spesial dikirimkan tuhan padaku. Karena dari kamu aku belajar bahwa masalah itu diselesaikan bukan didiamkan,” Gaby menatap Leo sebentar lalu memeluk temannya itu dengan erat.
“Kenapa ya tuhan jahat bangat sama aku. Apa ya salah aku, padahal aku dah bersikap biasa aja, tapi pasti tuhan kasih cobaan yang nggak bisa aku selesaikan dengan caraku. Kadang aku berfikir kalau aku ini jahat atau terlalu baik,” Gaby semakin memeluk Leo dengan erat.
“Tuhan nggak jahat, dia Cuma pengen kamu dibentuk aja, pasti ada yang tuhan kasih sama kamu tau sebagai hadiah buat kamu. Dan kamu juga harus tahu juga kalau aku akan selalu ada buat kamu, sampai kapanpun itu,” ucap Leo yang dibahas anggukan.
Setelah beberapa lama Gaby akhirnya tenang dan mereka melanjutkan perjalanan mereka kembali kesot tempat Gaby karena tak tahan dengan sifat keluargaku itu. Dia butuh yang namanya istirahat dan menyendiri untuk menghindari keluarganya.
“Kalau kamu butuh apa- apa kamu tinggalin kabarin aja ya. Ntar aku akan carikan, terus kalau kamu butuh teman curhat kamu telpon aja ya. Aku akan selalu ada buat kamu 24 jam siap siaga,” Leo sejak tadi hanya berbicara bagaikan ibu- ibu yang khawatir kepada anaknya.
“Ia.. bawel bangat tau. Kamu juga hati- hati dijalan jangan singgah lagi ke tempat cewek kamu tau, tapi tetap juga jaga kesehatan jangan suka begadang,” balas Gaby kepada Leo dan melepaskan helm milik Leo dari kepalanya dan menyerahkan kepada pemilik helm itu.
“Hei, aku nggak ada cewek lagi. Lagian siapa juga yang mau singgah malam- malam begini. Mending tidur, lebih berbobot. Akh malas bangat cerita sama kamu mending aku pulang aja deh. Ingat jangan lagi menangis apalagi diingat- ingat biarin aja kejadian tadi itu angin lalang,” Leo berusaha mengingatkan Gaby.
Gaby tersenyum dan mengangguk- angguk kemudian temannya tersebut pergi, dia juga ikut pergi dari tempat itu, untuk beristirahat.