Sakit

1049 Kata
“Gaby, gimana ya aku mau pulang ini. soalnya tante aku mau bawa motor gimana ya?” tanya Tiara yang tiba- tiba mendatangi Gaby saat makan es krim bersama dengan teman- teman yang lain. Tak ada yang bisa dikatakan Gaby. Bagaimana caranya dia pulang sementara dia masih punya banyak kegiatan yang lain. “Aduh, aku gimana ya? Kalian ada nggak yang motornya kosong, atau mobilnya masih kosong gitu?’ tanya Gaby kepada teman- teman yang juga berada disamping dirinya. Namun tak ada yang masih kosong. “Kenapa kamu nggak sama paman dan bibi kamu kan masih kosong,” usul salah seorang temannya tersebut yang bernama Dion. Cowok berkacamata dengan badan agak kurus. Gaby tak menanggapi, dia malas membahas keluarganya tersebut. “Gini aja deh Gab. Aku bantu kamu cari teman yang bisa kamu tumpangi,” usul Tiara dengan memainkan ponselnya, usulan tersebut tampak bagus karena dia juga tak terlalu akrab dengan satu gerejanya. Dengan cepat Gaby mengangguk- anggukan kepalanya. Tetapi tak ada yang bisa mengantarkan dirinya dengan alasan tak muat dan ada juga dengan tak searah. Hal tersebut dilihat oleh paman Gaby namun tak ada jawaban atau rasa memberi tumpangan kepada dirinya itu. Gaby melihat kerumah pamannya dan berharap bahwa temannya akan memberi tumpangan kepada dirinya. Namun hasilnya nihil yang membuat dirinya sakit hati, ada rasa ingin menangis sekali. Gaby memegang tasnya dengan erat- erat supaya air matanya tak tumpah dengan perlakuan pamannya itu. “Nggak ada yang bisa gimana dong? tapi, kan nggak ada salahnya coba tanya sama paman kamu. Mungkin saja dia bisa memberikanmu tumpangan. Makanan aja kan udah habis, masa kamu nggak muat dengan tubuh kamu yang agak kurus ini?” “Nggak usah. Aku mending telpon teman aku aja. daripada sama mereka, lagian kakaknya teman aku bisa kok jemput aku,” Tiara hanya mengangguk- angguk dan berpamitan untuk pulang, selepas itu Gaby menghubungi Leo supaya bisa menjemput dirinya itu. Walau sakit hati didalam diri Gaby sudah membesar dan mungkin saja tak terbendung lagi gimana sakitnya itu. *** “Leo,” teriak salah seorang temannya, disaat itu Leo tengah berada dalam café tempat Gaby bekerja. Awalnya dia kira Gaby akan tetap bekerja meski sekarang adalah hari libur, tetapi tampaknya kali ini benar kata Gaby kalau dia sedang libur dan mau liburan sekalian healing dengan tujuan mengurangi stresnya yang sudah berlipat- lipat ganda. Jika tak diobati maka yang akan terjadi adalah Gebby akan gila, itu yang selalu dikatakan Gaby kepada Leo. Dan seseorang tadi memanggilnya itu berhasil mengubah kesepiannya itu menjadi sukacita dan bahagia. Karena temannya sudah datang salah satu. Walaupun itu bukan Gaby sih. “Wah, Daniel apa kabar?” tanya Leo ketika melihat temannya itu datang ke arahnya dia menyambut sahabatnya tersebut dengan tangan mereka berdua menumbuk satu sama lain dengan pelan. Itu sudah menjadi tradisi mereka sejak dahulu. “Kamu kok sendirian? Tumben, kemana anak- anak yang lain biasanya kamu sama orang itu. Oh trus gadis yang biasa kamu ajak jalan bersama itu mana? Kok tumben nggak ada?” baru saja bertemu sudah disuguhkan dengan banyak pertanyaan. Membuat Leo bingung mana yang harus dijawab. “Udah siap pertanyaannya?” tanya Leo yang meneguk capucino dinginnya itu. Daniel tertawa sebentar dan mengangguk- anggukan kepala. “Oke aku jawab ya, aku gak tau dimana anak- anak yang lain soalnya tadi aku gak liat grup w******p, terus kalau tentang gadis yang kamu maksud itu Gaby. Dia kalau nggak salah ada ibadah dipantai jadi gak bisa sama deh. Kenapa kamu suka sama Gaby?” “Astaga, ini makanya aku malas nanya- nanya soal cewek ke kamu. Apa- apa suka, nggak banget. Tapi sih kalau tentang Gaby bolehkah dipertimbangkan. Soalnya dia kan cantik, baik tapi kalau dilihat- lihat dia itu cewek manis yang mandiri. Siapa coba yang nggak mau sama dia.” Belum sempat Leo mengatakan sesuatu untuk membalas perkataan Daniel itu. Ponselnya sudah berbunyi dan dengan cepat dia melihat orang yang menelpon dirinya tersebut, “Ya Gaby apaan?” tanya dirinya kepada Gaby. Gaby menyuruh dirinya supaya menjemput Gaby. Tetapi suara Gaby seperti ingin menangis namun ditahan. Leo sudah paham dengan Gaby jika seperti itu. Tanpa berpikir panjang Leo langsung bangkit dan mengambil kunci motornya yang berada di atas meja, membuat Daniel heran dengan Leo yang tiba- tiba seperti ada sesuatu yang ingin didapat Leo dari caranya mengambil kuncinya tersebut. “Lo mau kemana? Heboh bangat,” ucap Daniel. “Aku mau jemput Gaby kasihan dia.” “lah ngapain kasian? Bukannya dia pergi sama teman- temannya kamu bilang?” “Ia tapi sekarang, dia nggak punya teman. Apalagi dia keknya sendirian disana. Aku nggak tega lihat dia terus- terus digituin sama keluarganya. Aku punya hati dan aku tau gimana posisinya dia disana,” perkataan Leo tersebut membuat Daniel semakin heran dan bingung dengan apa maksud perkataannya itu. “Aku bingung deh nggak paham apa yang kamu bilang, coba jelasin pelna- pelan biar aku ngerti. Karena kalau kamu ceritain kek gitu. Aku makin bingung tau,” ucap Daniel. Namun Leo tak mengindahkan dan pergi begitu saja dari tempat tersebut. Dengan menggunakan kecepatan penuh dia pergi menjemput Gaby yang masih berada di pantai perjalanan dari tempatnya itu sampai ke pantai. Tempat Gaby berada memakan waktu kira- kira setengah jam. Sesampai disana, Leo langsung mencari keberadaan Gaby. Memang benar jika suasana di pantai itu bisa dikatakan sudah sepi, ya karena acara mereka sudah selesai. Kemudian juga sudah sore hari. Hanya ada Gaby dan beberapa teman- temannya yang masih duduk menikmati pantai. Gaby duduk sendiri seraya memainkan ponselnya itu. Walau dari mukanya Gaby bersikap biasa saja seperti tak ada masalah. Tetapi sakit hatinya Gaby sudah tak bisa ditahan Gaby, Leo tau dan paham betul dengan temannya itu. Dia pergi menjumpai Gaby yang berada di pondok. “Gaby,” panggil Leo. Gaby mendongak dan tersenyum kepada Leo seperti mendapatkan emas batangan kalau melihat temannya itu. Dia memeluk Leo dengan erat seolah tak mau berpisah dan meminta kekuatan dari temannya itu. Leo membalas pelukan temannya itu dan mengisyaratkan supaya tak menangis disini. Melainkan di tempat yang biasa mereka jadikan sebagai wisata berdua. “Udah, kamu nggak usah jelasin mendingan nanti, trus kamu nggak usah nangis. Ngapain nangisin ha yang nggak penting. Aku ada disini dan nggak akan ada yang bisa nyakitin kamu,” ucap Leo dengan melepaskan pelukannya itu dan menghapus air mata Gaby yang sudah jatuh beberapa bulir dari matanya. Gaby hanya mengangguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN