Sakit Hati?

1055 Kata
”Kamu t*i lihat nggak gimana muka Feby. Kala makan masakan aku? Astaga mukanya itu lucu bangat. aku nggak sanggup lihat. Dia terlalu gemas bangat bukan?” Leo membayangkan muka Febi kala dia makan masakan buatan Leo. Yang dimasak dalam bentuk cinta dan senyuman. Smentara Gaby hanya diam, dia tak berniat menjawab perkataan Leo. Yang nanti akan membuat dirinya terluka namun tak bisa menyalahkan orang. “Kamu tau nggak. Febi adalah orang yang sempurna buat aku. Lihat deh senyumannya itu, indah bukan? Trus cara bicaranya, sopan bangat. dia tipikal orang yang berbicara apa adanya. Itu yang membuat aku suka sama dia,” Gaby melihat kearah Leo dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Kemudian memutar bola malas, dia tak mau mendengarkan apa yang diomongin Leo. Dia berpura- pura sibuk dengan bersih- bersih kostnya itu. Walaupun sebenarnya dia baru membersihkan kamar kostnya. Sementara Leo malah enteng duduk- duduk dengan santai dan curhat kepada Gaby soal Feby. “Menurut lo, gue bisa nggak dekat sama Febi terus jadian deh sama dia?” Gaby diam dan berpura- pura tak mendengar. Namun sebenarnya dia menahan kesakitan yang sangat dalam. Mana ada sih orang yang sanggup mendengar kalau orang yang dia cintai. Mencintai orang lain. Istilahnya sih cinta kita itu bertepuk sebelah tangan. Namun mau gimana lagi itulah konsekuensi dalam mencintai. Gaby masih asik membersihkan dan merapikan. Walaupun caranya sangat sadis kepada barang- barang. Yang kadang menjatuhkan barangnya dengan amat keras. Seperti orang yang marah. Menyapu kamar kecil yang tak seberapa itu. “We, lo dengar gue nggak?” tanya Leo sekali lagi. Karena tak ada jawaban membuat dia melihat dan datang ke arah Gaby. “WE, gue capek bangat ngomong dan lo kacangin gue, sahabat lo yang paling tampan dan membahana ini. wahhhh harga diri gue diinjak- injak lo tau,” ucap Leo yang melipat tangan dengan memasang muka sok kesal. Namun tetap menjaga image orang ganteng. “Akhhh….. lo bicara sama gue?” tanya Gaby balik dengan mimik muka yang berpura- pura tak tau apa- apa. Leo memajukan bibirnya. Membuat Gaby tersenyum karena melihat muka Leo yang amat lucu. Walaupun dia sempat tak suka dan marah. Karena sudah membicarakan Feby langsung di depannya tersebut. Tetapi karena muka Leo. Membuat dia lupa akan segala kekesalanku tersebut. “Apa Sih,” jawab Gaby yang menahan senyuman dan tawa dari bibirnya tersebut. Tetapi bukan Leo namanya jika tak bisa membuat Gaby membuka ketawa dan senyuman sahabatnya tersebut keluar dengan sempurna. “Ciee yang senyum- senyum kenapa aku ganteng ya?” tanya Leo dengan narsis dan terlalu percaya diri sekali. Gaby memukul lengan Leo dengan keras, “Aduuuuuh, sakit bangat tau,” ringis Leo yang kesakitan akibat pukulan seorang Gaby. Gaby langsung lihat dan khawatir kepada sahabatnya tersebut. Dia dengan cepat melihat tangannya Leo. Namun ketika melihat tangan tersebut. Dia baru tersadar kalau Leo tengah ngerjain dirinya tersebut. Sehingga membuat Gaby kesal dan hendak pergi. Tetapi tak semudah itu. Leo menarik tangan temannya dengan cepat, hingga membuat Geby jatuh kedalam pelukan seorang Leo, dia hendak pergi namun Leo terus saja menahan dirinya. Ada rasa bahagia ketika Leo memperlakukan dirinya tersebut kepada dirinya tersebut. Dia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya tersebut dengan menampakan senyuman terbaik dirinya tersebut. Leo meletakan Gaby yang rebahan diatas tubuhnya ke samping dirinya tersebut dengan penuh perasaan dan lembut. Kemudian mengelus rambut Gaby yang halus, “kamu keknya punya banyak masalah ya? Makanya kamu jadi kek gini, kalau kamu butuh teman untuk bercerita. Aku bisa kok tempat curhat kamu. Kamu kan teman aku, dan sebagai teman itu saling berbagi keluh kesah dan bahagia,” Gaby terpaku dengan omongan temannya tersebut. “Aku nggak papa Cuma masalah kecil aja,” Gaby bangun dari posisinya. Dia tak mau berlama- lama melihat wajah Leo yang akan membuat dirinya tersebut semakin cinta dan tak bisa mengontrol perasaannya itu. “Oh ya, terus kenapa muka kek gitu terus. Muka kamu itu ya kek jalan raya, datar aja nggak ada ekspresinya. Sedangkan jalan raya aja punya turunan dan naikan. Masa kamu nggak punya ekspresi. Takut bangat aku.” “Akh, sudahlah mending kamu pulang aja. nggak enak tau dilihat orang disini. Dikira kita itu lakukan yang nggak, nggak,” Gaby mendorong tubuh Leo sampai jauh dari dia. lalu berdiri dan melanjutkan aksi bersih- bersihnya. Leo hanya tersenyum dan tertawa melihat Gaby yang kadang baik, kadang cuek dan kadang aneh saja. “Kamu tu kenapa sih makin hari, makin aneh nggak kek dulu lagi?” pertanyaan Leo tersebut menyadarkan seorang Gaby yang sudah berubah dengan sikapnya. “Apa Sih, kamu aja mungkin yang rasain itu. Kalau aku nggak pernah begitu. Udah deh mending kamu pulang aja. lagian udah magrib khan? Terus kamu udah banyak tugas lagi. Mending kamu kerjakan tugas kamu,” suruh Gaby yang tak mau lihat Leo. Padahal niat mereka dari awal ingin menonton. Namun tak jadi karena Gaby yang mengatakan kalau dia tak enak badan dan butuh istirahat. Namun Leo tau kalau sebenarnya ada yang disembunyikan Gaby masalah dari dia. tetapi karena Gaby tak mau dan tak berniat memberitahukan dia makanya dia tak mau terlalu memaksa kan Gaby untuk bercerita lebih jauh. “yaudah kalau kamu nggak mau nonton. Aku mending nonton sama Natan aja,” ujar Leo. Membuat mata Gaby membulat dengan sempurna. Bagaimana tidak baru dua hari yang lalu Leo berkelahi dengan Natan. Namun sekarang malah mereka mau nonton bareng. Aneh bukan? Bukannya Gaby tak senang namun Cuma merasakan ada yang tak beres dari mereka berdua. “Kenapa? Kamu nggak terima? Masa aku Cuma jalan sama kamu, kan nggak lucu,” gaby memutar bola mata jengah dengan sifat Leo yang amat teramat ngawur. “Apa Sih kamu, tambah hari makin ngawur tau nggak? Kamu tu keknya butu ke pskieater soalnya sifat kamu itu kek orang gila tau nggak?’ “Apa Sih, enggak lah. Aku kan ganteng, kamu aja yang gak pernah akui itu. Padahal semua orang udah gakuin itu. Makanya itu kamu akui aku kau sebagai sahabat kamu yang paling ganteng.” “Apaansih, nggak banget dah, udah deh mending kamupulang sekarang. Soalnya kalau kamu makin lama disini, kamu itu kamu gila tau nggak sih. Aku jadi takut bangat tau.” “Oh jadi kamu usir aku gitu? Kamu nggak kasihan apa sama aku. Aku Kan teman kamu yang paling baik tau, masak kamu tega suruh aku pulang dengan keadaan begini. Kamu bisa suruh aku pulang dengan cara baik- baik kah.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN