”Kamu t*i lihat nggak gimana muka Feby. Kala makan asakan aku? Astaga mukanya itu lucu bangat. aku nggak sanggup lihat. Dia terlalu gemas bangat bukan?” Leo membayangkan muka Febi kala dia makan masakan buatan Leo. Yang dimasaka dalam bentuk cinta dan senyuman. Smentara Gaby hanya diam, dia tak berniat menjawab perkataan Leo. Yang nanti akan membeuat dirinya terluka namun tak bisa menyalahkan orang.
“Kamu tau nggak. Febi adalah orang yag sempurna buat aku. Lohat deh senyumannya itu, indah bukan? Trus cara bicaranya, sopan bangat. dia tipial orang yang berbicara apa adanya. Itu yang membuat aku suka sama dia,” Gaby melihat kearah Leo dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Kemudian memutar bola malas, dia tak mau mendegarkan apa yang diomongin Leo. Dia berpura- pura sibuk dengan bersih- bersi kostnya itu. Walaupun sebenarnya dia baru membersihkan kamar kostnya. Sementara Leo malah enteng duduk- duduk dengan santai dan curhat kepada Gaby soal Feby.
“Menurut lo, gue bisa nggak dekat sama Febi trus jadian deh sama dia?” Gaby diam dan berpura- pura tak mendengar. Namun sebenarnya dia menahan kesakian yang sangat dalam. Mana ada sih orang yang sanggup mendnegar kalau orang yang dia cintai. Mencintai orag lain. Istilahnya sih cinta kita itu bertepuk sebelah tangan. Namun mau gimana lagi itulah konsekunsi dalam mencintai.
Gaby masih asik membersihkan dan merapikan. Walaupun caranya sangat sadis kepada barang- barang. Yang kadang menjatuhan barangnya dengan amat keras. Seperti orang yang marah. Menyapu kamar kecil yang tak seberapa itu. “We, lo dengar gue nggak?” tanya Leo sekali lagi. Karena tak ada jawaban membuat dia melhat dan datang kearah Gaby.
“WE, gue capek bangat ngomong dan lo kacangin gue, sahabat lo yang paling tampan dan mebahana ini. wahhhh harga diri gue diinjak- injak loe tau,” ucap Leo yang melipat tangan dengan memasang muka sok kesal. Namun tetap menjaga image orang ganteng.
“Akhhh….. lo bicara sama gue?” tanya Gaby balik dengan mimik muka yang berpura- pura tak tau apa- apa. Leo memajukan bibirnya. Membuat Gaby tersenyum karena melihat muka Leo yang amat lucu. Walapun dia sempat tak suka dan marah. Karena sdah membicarakan Feby langsung didepannya tersebut. Tetapi karena muka Leo. Membuat dia lupa akan sgala kekesalnya tersebut.
“Apaansih,” jawab Gaby yang menahan senyuman dan tawa dari bibirnya tersebut. Tetapi bukan Leo namanya jika tak bisa membuat Gaby membuka ketawa dan senyuman sahabatnya tersebut keluar dengan sempurna.
“Cieeee yang senyum- senyum kenapa aku ganteng ya?” tanya Leo dengan narsis dan terlalu percaya diri sekali. Gaby memukul lengan Leo dengan keras, “Aduuuuuh, sakit bangat tau,” ringis Leo yang kesakitan akibat pukulan seorang Gaby. Gaby langsung leihat dan kahwatir kepada sahabatnya tersebut. Dia dengan cepat melihat tangannya Leo.
Namun ketika meliat tangann tersebut. Dia baru tersadar kalau Leo tengah mengerjain dirinya tersebut. Sehingga membuat Gaby kesal dan hendak pergi. Tetapi tak semudah itu. Leo menarik tangan temannya dengan cepat, hingga membuat Gaby jatuh kedalam pelukan seorang Leo, dia hendak pergi namun Leo terus saja menahan dirinya. Ada rasa bahagia ketika Leo memperlakukan diinya tersebut kepada dirinya tersebut. Dia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya tersebut dengan menampakan senyuman terbaik dirinya tersebut.
Leo meletakan Gaby yang rebahan diatas tubuhnya ke samping dirinya tersebut dengan penuh perasaan dan lembut. Kemudian mengelus rambut Gaby yang halus, “kamu keknya punya banyak masalah ya? Makanya kamu jadi kek gini, kalau kamu butuh teman untuk brcerita. Aku bisa kok tempat curhat kamu. Kamu kan teman aku, dan sebagaii teman itu salin berbagi keluh kesah dan bahagia,” Gaby terpaku dengan omongan temannya tersebut.
“Aku nggak papa Cuma masalah kecil aja,” Gaby bangun dari posisinya. Dia tak mau berlama- lama melihat wajah Leo yang akan membua dirinya tersebut semakin cinta dan tak bisa mengontrol perasaannya itu.
“Oh ya, trus kenap muka kek gitu terus. Muka kamu itu ya kek jalan raya, datar aja nggak ada ekspresinya. Sedangkan jalan raya aja punya turunan dan naikan. Masa kamu nggak punya ekspresi. Takut bangat aku.”
“Akh, sudahlah mendig kamu pulang aja. nggak enak tau dilihat orang disini. Dikira kita itu lakuin yang nggak, nggak,” Gaby mendorong tubuh Leo sampai jauh dari dia. lalu berdiri dan melanjutkan aksi bersih- bersihnya. Leo hanya tersenyum dan tertawa meloihat Gaby yag kadang baik, kdang cuek dan kadang aneh saja.
“Kamu tu kenapa sih makin hari, makin aneh nggak kek dulu lagi?” pertanyaan Leo tersebut menyadarkan seorang Gaby yang sudah berubah dengan sikapnya.
“Apaansih, kamu aja mugkin yang rasain itu. Kalau aku nggak pernah begitu. Udah deh mending kamu pulang aja. lagian uda magriba kan? Trus kamu udh banyak tugas lagi. Mending kamu kerjakan tugas kamu,” suruh Gaby yang tak mau lihat Leo.
Padahal niat mereka dari awal ingin menonton. Namun tak jadi karena Gaby yang megatakan kalau dia tak enak badan dan butuh istrahat. Namun Leo tau kalau sebenarnya ada yang disembunyikan Gaby masalah dari dia. tetapi karena Gaby tak mau dan tak berniat meberitahukan dia makanya dia tak mau terlalu memaksa kan Gaby untuk bercerita lebih jauh.
“yaudah kalau kamu nggak mau nonton. Aku mending nonton sama Natan aja,” ujar Leo. Membuat mata Gaby membulat dengan semprna. Bagaimana tidak baru dua hari yang lalu Leo berkelahi dengan Natan. Namun sekarang malah mereka mau nonton bareng. Aneh bukan? Bukannya Gaby tak senang namun Cuma meresakan ada yang tak beres dari mereka berdua.
“Kenapa? Kamu nggak terima? Masa aku Cuma jalan sama kamu, kan nggak lucu,” gaby memutar bola matah jengag dengan sifat Leo yang amat teramat ngawur.
“Apaansih kamu, tambah hati makin ngawut tau nggak? Kamu tu keknya butu ke pskieater soalnya sifat kamu tu kek orang gila tau nggak?’
“Apaansih, nggak lah. Aku kan ganteng, kamu aja yang gak pernah akuin itu. Padahal semua orang udah gakuin itu. Makaya itu kamu akuin aku kah sebagai sahabat kamu yang paling ganteng.”
“Apaansih, nggak banget dah, udah deh mending kamupulang sekarang. Soalnya kalau kamu makin lama disini, kamu itu kamu gila tau nggak sih. Aku jadi takut bangat tau.”
“Oh jadi kamu usir aku gitu? Kamu nggak kasihan apa sama aku. Akukan teman kamu yang paling bai tau, masak kamu tega suruh aku pulang dengan keadaan begini. Kamu bisa suuh aku pulang dengan cara baik- baik kah.”