Nasi Goreng

1048 Kata
Febi dan Gaby sedang sibuk mengerjakan tugas mereka tentang penling yang dimana membuat makalah yang berisi sampah masyarakat dan penanggulangannya, muka Gaby yang cantik tampak semakin cantik ketika fokus dengan tugas mereka. Sedangkan Febi sedang memikirkan bagaimana caranya dengan budget pas- pasan bisa nongki di malam minggu. Karena jika dia tak nongki maka dipastikan besok dia akan gila. “Lihat deh. Menurut kamu mana sih yang lebih cocok dibuat, ini atau ini?” tanya Gaby memberikan lembaran yang berisi banyak sekali ateri. Feby mengambil kertas tersebut dan mengamati seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Karena dia tak mengerti sama sekali masalah beginian. Gaby melihat Kearah Feby dan berharap bahwa temannya tersebut dapat membantu dirinya dan juga kelompok mereka dari serangan dosen yang amat killer. Namun, harapannya tak bisa ia bua kepada Feby melihat aksi Feby memandangi lembaran tersebut. Seolah menandakan bahwa dia tak mengerti dengan apapun. Gadis itu tersenyum kearah Gaby dengan malu- malu da memberikan kertas tersebut kepada Gaby. Tak lupa dengan kepala menggeleng- geleng dengan lambat. Gaby hanya bisa menarik nafas panjang melihat temannya tersebut. Dan mengambil ponsel untuk melihat referensi atau sumber yang bisa membantu mereka dalam mengerjakan tugas kelompok mereka yang deadlinenya hitung hari lagi. “Aduh, dari internet juga nggak ada lagi. Gimana ya?” Gaby mengotak atik ponselnya dan sesekali melihat soal mereka. “Tenang, santai, rileks kan masih ada 4 hari lagi. Ngapain dipusingin sih. Mending kita berdua cari boba sama makanan. Kamu pasti laparkan?” ajak Febi dengan tersenyum. Namun, Gaby tak bisa diam. Karena dia merasa deadline tugas semakin mendekat. Dan kalau mereka terlambat nilainya pasti akan anjlok. “Kamu tu ya, masih aja makanan yang kamu pikirkan bisa fokus nggak sih?” ucap Gaby, yang membuat Feby diam dan tak mau mengeluarkan suara sama sekali. Karena dia takut jika Gaby akan marah lagi. walaupun dia sekarang dalam kondisi yang amat lapar sekali. Gaby mengetik tugas mereka dengan lihai. Tak heran sih karena dia sudah pandai dan lincah dalam mengelola istilah ketik mengetik yang sangat ia tekuni sekarang ini. sementara Feby. Dia hanya duduk dan sesekali mengecek ponselnya apakah ada pesan yang masuk kepada dia. walaupun dia sadar pasti tak ada yang chat dia. Ditengah kesibukan mereka. Datanglah Leo dengan membawa makanan dan minuman ketempat Gaby dan Feby. Untuk kali ini kita tak bisa mengatakan kalau Leo adalah malaikat ataupun iblis. Leo tersenyum kearah Febi dengan semanis mungkin. Yang dibalas Febi dengan senyuman juga. “Hello, aku bawa makanan buat kalian. Karena aku tau kalian belum pada makan kan? Apalagi Jerry ini,” Febi hanya tersenyum melihat wajah Leo yang amat tampan. Bagaikan mimpi jika bisa menggapai dirinya tersebut. Beda hal dengan Gaby yang masih bersikap bodo amat dengan kedatangan Leo sahabatnya sendiri. “aku bawain nasi goreng kesukaan kalian berdua,” sambung Leo yang membuka isi bungkusan yang tadi dia bawa. “Sejak kapan aku bilang, aku suka makan nasi goreng?” tanya Gaby, membuat Leo bingung dengan jawaban apa yang harus ia sebutkan kepada Gaby. Karena yang sebenarnya menyukai nasi goreng adalah Feby. Dan itu hanya alasan basa- basinya menggunakan kata ‘kalian berdua’ supaya Feby tak tahu kalau sebenarnya Leo menyukai Febby. “A……,……. Maksud aku…. It…. U…. loh aku suka makan nasi goreng bukan kalian berdua. Lagian santai aja kali nggak usah ngegas tau.” “NGegas? Siapa yang ngegas? Lagian bukannya kamu bilang kalau kamu nggak suka nasi goreng, terus kenapa tiba- tiba kamu bilang kalau kamu suka nasi goreng. Yang aku tau sejak kita berteman. Kamu paling kesal dengan yang namanya nasi goreng,” Gaby mengatakan semua itu dengan cepat. Bagaikan orang yang sedang nagih utang saja. Sementara itu orang yang layaknya di introgasi hanya diam dan tak tau apa yang harus dia omongin. Karena apa yang dikatakan Gaby tersebut benar. Dan tak ada sedikitpun kesalahan yang diucapkan Gaby. Feby yang sudah tak tahan dengan bau nasi goreng yang harum. Ditambah juga dengan itu adalah makanan kesukaan Febby sehingga dia tak bisa menahan lagi, “udahlah. Lagian kita harus bilang makasih loh sama Leo yang udah bawain kita nasi goreng ini,” lerai Feby yang tak ingin Gaby selalu memarahi Leo hanya karena makanan saja. Harus diributkan. “Apa makasih? Biasa aja kali ngapain bilang makasih sama Gali, emang dia pernah bilang makasih sama aku, nggak tuh lagian dia datang kesini pasti ada maksud tertentu. Aku udah tau kok gimana sifat Gali,” cerca Gaby yang tak terima jika dia harus mengatakan makasih kepada seorang Galileo atas makanan yang dibawa Galileo. “Kamu itu kenapa sih Gab? PMS kamu? Tanya Leo dengan sifat Gaby yang tampaknya tidak baik- baik saja bahkan ingin membawa pertengkaran. Entah mengapa dia sekarang. Dengan muka ketus dan tampak tak suka, Gaby hanya diam saja, dia malas menjawab omongan dari seorang Leo yang dianggap tidak penting. Dengan cepat dan sigap Leo langsung memberikan nasi goreng tersebut kepada Feby. Berbeda dengan Gaby, dia harus mengambil sendiri. Padahal kan yang sahabatan adalah Leo dan Gaby. Lalu mengapa yang diberikan pertama oleh Leo adalah Feby. Namun mau gimana lagi, dia sudah malas berdebat dengan sahabatnya tersebut. Dan mengambil serta memakan sendiri, “Gimana enak nggak?” tanya Leo kepada Gaby. Hanya anggukan yang dilontarkan seorang Gaby. Membuat Leo tersenyum, akibat senyum tersebut Gaby salah tingkah. Entah mengapa setiap kali Lo tersenyum. Pasti ada saja penyakit yang keluar dari tubuh Gaby. Leo duduk didekat Gaby dan mengambil sendok. Kemudian dengan sigap menyuapi sahabatnya dengan penuh perasaan. Hati gadis mana coba yang tak meleleh dengan perhatian yang seperti itu, begitu juga yang dirasakan Gaby. Kala Leo menyukai dirinya. Smepat bengong dan tak tau harus berkata atau reaksi apa yang harus dia berikan. Gaby dengan ragu menerima suapan tersebut, karena ada yang nyangkut nasi tersebut dujung bibir Gaby. Leo membersihkan tanpa merasa jijik. Ada rasa campur aduk di dalam hati Gaby, “astaga kalau aku begini terus. Yang ada aku akan mati. Aku harus gimana?” batin Gaby yang ribut. “Bagaimana nasi gorengnya enak?” tanya Leo dengan lembut dan tersenyum kala melihat temannya tersebut. Dengan cepat dibalas dengan anggukan. “Kamu tau aku yang memasak ini buat kamu, kareana aku tau kamu banyak bangat tugas dan beban pikian kamu. Kalau aku nggak bisa bantu kamu, setidaknya aku bisa melupakan masalah kamu. Walaupun itu sejenak,” astaga. Tak bisa berkata- kata lagi ini woy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN