Leo Suka Feby

1211 Kata
“ LO itu tambah hari tambah aneh,” Gaby hanya diam dan tak membalas omongan Leo itu, sebab dia tau jika dia menjawab yang ada semakin risih. “Tapi lo tau nggak sih. Tadi gue habis buat anak orang nangis,” Leo mulai menceritakan apa yang ia perbuat kepada kating Gaby. Yang kini menjadi pacar Leo ke 25 sejak masuk kampus. Gaby menoleh sesaat kepada Leo setelah tu dia kemudian dia fokus kepada ponselnya tersebut. Tanpa ditanya dan disuruh menceritakan, dia sudah berbicara. “Tapi, gue heran aja kepada sama diri gue sendiri, kenapa banyak bangat cewe yang suka sama gue. Apa karena gue ganteng? Emang Sih itu fakta. Cuma nggak sampai segitunya juga kali,” hmmm tampaknya Galileo mulai memuji dirinya sendiri. Untung saja orang yang disebelahnya tersebut sudah kebal dengan kepercayaan diri sahabatnya itu yang sudah level 100 deh keknya, saking narsisnya seorang Galileo. Gaby menarik nafas panjang dan melihat ke arah Leo yang mulai mengeluarkan rokoknya tersebut, “Kenapa sih loe demen bangat, ngerokok disamping gue, lo mau buat gue mati cepat?” mendengar hal tersebut Leo kembali memasukan rokoknya tersebut kedalam kotak pembungkus rokok tersebut, seraya terkekeh. Dan mencubit pipi Gaby yang lumayan chubby. Deg Jantung Gaby berpacu dengan cepat, seperti ada api yang membakar pipinya tersebut, sehingga membuat mukanya menjadi merah sekali, entah sejak kapan Gaby sudah menyukai Leo. Namun dia tak mau menunjukkannya. Dikarenakan dia takut jika persahabatan diantara mereka rusak hanya perasaan yang mungkin bisa saja hilang. Leo yang melihat muka Gaby yang sudah memerah, dia tertawa dengan keras, “Muka lu napa merah? Itu muka atau tomat? Merah amat!” mata Gaby melebar dengan sempurna. Gaby melihat ke kamera ponselnya, dan benar saja apa yang dikatakan Leo bahwa mukanya amat merah, dengan cepat dia memegang mukanya tersebut, tak lupa dengan mengerucutkan bibir. Hal tersebut membuat Leo merasa gemas, dan semakin mencubit kedua pipi milik sahabatnya tersebut dengan pelan namun gemas. “Gali!” jika orang biasanya memanggil Galileo dengan sebutan Leo maka berbeda dengan Gaby yang memanggil Galileo dengan sebutan Gali. Dan menurut dirinya tersebut panggilan ‘Gali’ itu hanya boleh disebut oleh Gaby seorang, lain daripada itu. Tak ada yang boleh memanggil dirinya tersebut dengan kata ‘Gali’. “Apa Sih,” pria itu hanya tertawa dengan puas, yang membuat jantung Gaby semakin cepat berdetak, senyuman Leo yang tampan dan manis, siapa saja yang melihatnya pasti tak ingin mengalihkan pandangan. Karena pemandangan terindah itu jatuh ke dalam senyuman Leo. Leo yang merasa terus dipandangi Gaby, menatap balik Gaby dengan heran. Sampai akhirnya temannya tersebut tersadar. Dengan memukul keningnya dengan pelan membuat Gaby semakin lucu. “Lo kenapa? Gue ganteng? memang kok, sebelum gua sadari, dunia udah duluan kasih tau daripada lo,” goda Leo. “Loe itu kalau jadi orang nggak usah terlalu pede deh, ntar jatuh sakit loh. Mending lo ngaca deh, sebelum ntar lo makin tinggi trus jatuh, kan sakit, trus siapa yang mengobati loe kalau sudah begitu? Nggak ada,” ucap Gaby dengan nada gusar, Leo menghentikan permainan game yang dimainkannya di ponsel miliknya itu. “Kenapa gue harus takut, kalau ntar gue jatuh trus nggak ada orang yang nolongin gue. Kan masih ada loe. Orang yang paling pengertian sama gue. Emang lo bisa hidup tanpa gue?” “Bisakah,” jawab Gaby dengan ketus. Leo hanya tersenyum dan melanjutkan permainan yang tenang ia mainkan tersebut. *** Sepulang dari kampus Gaby langsung ke kos tanpa ngelirik kafe, atau tempat nongkrong manapun. Ya, kalian bisa tebak karena apa. Ya karena hari ini adalah akhir bulan. Kost Gaby memang kecil dan tak luas, kostnya tersebut hanya berukuran 3 x 3 meter saja. Namun menurut Gaby. itu sudah cukup yang penting dia bisa makan, dan tak terkena panasnya matahari langsung dan berlindung dari air hujan. Karena prinsip Gaby menganut sistem tetap sederhana diera jiwa sosialita namun dompet miskin. “Ha,,,, capek bangat,” Gaby meletakan tubuhnya di kasur dan bermain sosmed sebentar, namun dia teringat dengan sesuatu bahwasanya jika Galileo menyukai teman satu kelasnya tersebut yang bernama Febiola. Gaby merasa bingung, bagaimana mungkin dia bisa menjodohkan sahabatnya dengan crushnya tersebut. meletakan ponselnya. Kemudian mengambil air dari galon, gaby meminum air tersebut sampai habis, padahal gelas tersebut lumayan besar, “Gimana ya, apa aku harus bantu dia?” gumam Gaby yang bingung. “Kenapa sih harus Febi? Kenapa nggak aku? Padahal aku lumayan cantik, dan aku sayang sama kamu. Tetapi kenapa sih kamu nggak pernah peka dengan perasaan ini? aku capek harus memendam perasaan yang nggak bisa aku ungkapkan,” dengan memegang dadanya yang agak sesak. Ada rasa sakit yang berkecamuk di hati Gaby. saat mengetahui bahwa orang yang dia suka menyukai Febi. Temannya sendiri. Hanya tangisan yang bisa membuat hatinya sedikit lega, walaupun itu hanya sementara, dan tak akan berlangsung lama, gaby memegang kepalanya, “Lo itu bodoh Gaby, kamu nggak seharus nya suka sama Gali. Karena Gali nggak akan pernah suka sama kamu, kenapa sih aku harus alami ini. please lupain dia,” isak Gaby memukul kepalanya tersebut. Dia sudah tak tahan dengan semua yang ada dihatinya tersebut, dia duduk dilantai dengan bersandar di tembok kostnya tersebut seraya memasukan kepalanya dimasukan di antara kedua lutut kakinya. Dan tak lupa dengan tangannya tersebut memegang kakinya tersebut. “Nggak, aku harus lupain Gali, aku nggak mau rusak persahabatan ini. setidaknya aku bisa berteman dengan dia,” Gaby meyakinkan dirinya bahwa dia baik- baik saja. Walaupun sebenarnya itu tidak bisa. karena melupakan tak secepat membalikkan telapak tangan. Kepalanya tersebut tegak dan menghapus air matanya dengan cepat, serta mulai tersenyum, dan mulai berdiri dari posisi duduknya tersebut. dia mengikat rambut sebahunya tersebut. Untuk melupakan masalahnya tersebut, Gaby membersihkan kostnya, mulai dari menyapu, merapikan, serta membersihkan kaca kostnya tersebut yang menjadi rumahnya itu.ya begitulah anak kost. Apapun harus dikerjakan dengan sendiri. Tak ada yang bisa disuruh. Awalnya Gaby numpang di rumah keluarganya. Namun karena segan dan tak mau merepotkan keluarganya, akhirnya dia memilih ngekost. Walaupun dia tahu, kalau ngekos itu akan membuat dia menderita. Namun setidaknya dia bisa mendapatkan ketenangan. “HUwaaa, akhirnya siap juga, fyuuuh,” Gaby mengecup keningnya yang bercucuran keringat. Maklum saja suhu di Papua itu sekitar 320C. dan hanya menggunakan kipas kecil sebagai pendingin ruangan tersebut. Tiba- tiba seseorang masuk langsung ke dalam kostnya, siapa lagi kalau bukan Galileo, “wow, gue tercengang, lo ternyata bisa ya membersihkan rumah kost. Gue kira kerjaan lo dikost itu Cuma. Makan, tidur, makan tidur,” sewot Galileo yang tak lupa diantara jarinya tersebut terselip batang rokok dalam keadaan menyala. “Apa Sih, lagian lo ngapain disini, udah gitu masuk tanpa permisi lagi. Loe itu mau maling ya?” “Maling? Nggak bangat lah ya. Seandainya gue maling juga. Mana mau gue maling di kost loe ini, nggak ada faedahnya,” Gaby memiringkan sedikit bibirnya tersebut. lalu membereskan kulkasnya yang lumayan berantakan dengan banyaknya makanan yang tampaknya sudah lama. Sementara Galileo, dia malah main game di kostnya Gaby dengan santai, seperti tak ada beban sama sekali dia, Gaby hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat temannya yang satu ini. hanya Galileo yang bisa berbuat demikian. “Kamu ngapain sih disini, kek nggak ada rumah aja, mending kamu pulang deh. Aku mau tidur,” suruh sang pemilik kost tersebut. Leo hanya menatap sebentar, selepas itu dia kembali melanjutkan permainan yang ada di gamenya tersebut tanpa merasa bersalah sama sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN