Kerja

1365 Kata
Bukan dirimu yang harus kulupakan, tapi harapanku Bukan salah keadaan, tapi perasaan sebab. Hatimu bukan untukku. Dari sisi manapun aku mencintaimu, terluka menjadi bagian kisahku Dalam mencintaimu gaby menghela nafas lega, usai menyelesaikan jadwal kuliahnya hari ini. ditambah lagi mereka sudah menyelesaikan UAS dari dosen killer. Hanya menunggu hasil dan nilai. Tetapi menurut Gaby nilainya sudah bagus. Karena dia sudah belajar. Dan apa yang dipelajarinya itu masuk ke dalam soal tersebut. “Astaga, lega bangat bisa keluar dari penjara yang seangker ini, kamu tau nggak. Aku dari tadi udah mau muntah dan mual lihat soal- soal yang tadi ibu kasih. Itu soal atau uang sih? Soalnya susah bangat buat dicari jawabannya,” ucap salah seorang teman Gaby yang bernama Nando. Anak pendidikan biologi yang paling fashionable. Walaupun hasil pinjaman semuanya sih. Gaby melihat ke arah Nando yang masih bermain ponsel, menunggu waktu buat kerja, “We, Gab lo tadi jawab no 3 itu apa sih? Susah bangat tau nggak, aku aja nyari jawabannya susah bangat. kek beban hidup berat deh susahnya,” semua orang menertawakan perkataan Nando tersebut. gaby hanya tersenyum mendengar ocehan sahabatnya tersebut dengan gemas. “Eum, itu rahasia. Makanya kamu belajar tau, jangan healing mulu. Ujungnya nggak bisa belajar kan?” jawab Gaby dengan singkat. Dan mengemasi barangnya yang ada di mejanya tersebut dengan cepat. Dan keluar dari kelas tersebut. Saat diujung pintu, “WOY!” suara Leo tiba- tiba ada disebelah Gaby, pembuat Gaby bergejolak terkejut, dan memukul bahunya dengan keras, mereka berjalan bersama, dan tampak seperti sepasang kekasih. Karena sangat serasi bangat. “Kenapa sih loe hoby bangat buat orang terkejut,” ucap Gaby. kemudian membenarkan rambutnya tersebut dengan tangannya tersebut. sementara orang yang membuat Gaby terkejut hanya tertawa dengan sumringah. Tanpa ragu Leo meletakkan tangannya tersebut ke bahu Gaby dan mendekatkan tubuh Gaby disampingnya tersebut. seolah- olah tak ada yang boleh mengambil Gaby dari dirinya tersebut. sementara itu Gaby terkejut dan berdiam diri. Dia tak tau apa yang harus Ia lakukan. Karena jantungnya berdetak dengan keras. Bukan Cuma itu mukanya juga memancarkan warna merah seperti tomat yang sudah matang, Gaby menoleh kesamping sebentar dan tersenyum dengan bahagia sekali. “We, gue barusan dapat gebetan yang baru,” Leo memberi laporan untuk kesekian kalinya kalau dia mempunyai gebetan baru yang akan dijadikan korban buaya selanjutnya oleh dirinya tersebut. “LO dengar nggak sih apa yang tadi gue omongin?” tanya Leo yang membuat Gebby terkejut, Gaby menatap Leo dengan menggelengkan kepala. “Tu kan, punya teman gini amat. Gue udah capek ngomong dari A sampai Z tapi lo malah bingung, entah kemana pikiranmu. Padahal cowok ganteng ada disini,” Leo mencubit pipi Gaby yang amat gembul tersebut. dan orang yang mempunyai pipi itu berusaha melepaskan cubitan dari seorang Leo yang amat sadis tersebut, “Lepasin Gali!” Gaby memukul tangan Leo, yang hanya dibalas dengan tawaan oleh Leo. Selepas melepaskan cubitan tersebut. gaby mengusap- usap pipinya yang masih memerah “lo kenapa sih, selalu aja cubitan. Lo pikir ini kue apa yang enak dicubit.” “Hmm, karena lo itu manis tahu. Lebih manis dari kue,” astaga cobaan apa lagi ini. gimana nasib jantung Gaby saat digombalin oleh orang yang dia sukai begini. Namun bukan Gaby kalau pura- pura nggak tertarik dengan gombalan Leo. “Apa Sih, gombalan kamu basi tau. Ngapain sih kamu ikuti aku. Mending kamu pergi deh, aku mau kerja.” “Lah, emang aku nggak boleh apa, antar teman aku. Udah santai, rileks, nggak usah takut aku nggak makan orang tau.” “Terserah kamu lah. Aku nggak mau ribet,” Gaby mempercepat jalannya tersebut. seentara Leo hanya geleng- geleng kepala melihat sahabatnya tersebut. jika Leo melihat- lihat wajah Gaby. dia tak terlalu cantik. Namun hati dan sifatnya yang pekerja keras membuat dia kagum dengan gadis yang menjadi sahabatnya tersebut. *** Sesampai di tempat kerjanya tersebut dia mulai mengganti bajunya menjadi lebih santai dan bisa membuat dia bekerja lebih nyaman. Dia bekerja disalah satu toko penjual kebab dan makanan ringan lainnya. “Gaby, kamu bawa ini ya kemeja nomor 5 sana,” tanpa berfikir panjang Gaby langsung mengangguk dan membawa pesanan seperti yang sudah disuruh oleh teman Gaby tersebut. Disini Gaby bertugas menjadi pelayan dan membawa makanan yang akan diberikan kepada konsumen, “Selamat siang pesanannya sudah datang,” sapa Gaby kepada konsumen dengan tersenyum ke arah mereka. Yang kadang dibalas dan kadang dicuekin. Tetapi Gaby tak mempersoalkan hal tersebut. karena dia hanya menjalankan tugasnya saja. “Selamat datang di kebab sempurna,” sapa Gaby kepada orang yang baru datang dengan memberikan buku yang berisi daftar menu makanan yang disediakan oleh pihak kafe tersebut. “Hmm, saya mau pesan burgernya satu, terus pizza lovenya satu sama minumnya lecy tea ya,” Gaby mengangguk- angguk dan menulis pesanan itu. “Akh maaf sebelumnya, ukuran pizzanya apa ya. Soalnya kami menyediakan ukuran, small, medium dan large.” “Oh ia saya sampai lupa lagi. Saya mau pesan yang ukuran medium saja. Tapi mbak kalau bisa kejunya dibanyakin tapi sosisnya dikurangi ya.” Selepas itu dia memberikan kepada orang yang menangani dalam hal masak. Dan mengambil pesanan yang akan diantar. Begitulah tugas Gaby. Walaupun kadang capek, dan banyak tekanan namun dia lebih memilih bekerja sambil kuliah dibandingkan hanya meminta- minta sama orang tua. Apalagi dia anak pertama yang artian orang tuanya masih banyak tanggungan. Dia berprinsip kalau dia bisa kenapa harus meminta sama orang tuanya yang membuat dia mandiri. Di Tengah mahalnya biaya hidup di kota Papua. Ditengah kesibukan Gaby. bukan Leo namanya kalau tidak membuat Gaby kewalahan atau tak menganggu Gaby dalam sehari. Membuat Gaby hanya bisa bersabar. Awalnya Gaby tak menghiraukan sahabatnya tersebut dengan berusaha tak melihat temannya tersebut yang memandangi dirinya tersebut dengan senyuman jahil, “Fokus Gaby. jangan sampai kamu dibuat kehilangan konsentrasi, ingat dia itu Cuma orang gila untuk saat ini,” gumam Gaby yang berusaha untuk lebih konsentrasi buat kerjanya tersebut. “Maaf mbak saya juga mau pesan,” ucap Leo dengan mengangkat tangannya tersebut. Yang bertujuan memanggil Gaby. tetapi sayangnya Gaby tak mengindahkan dirinya tersebut, “Mba, saya ini pelanggan lomba,” panggil Leo sekali lagi. Gaby melihat ke arah belakang dengan kasar. Ingin sekali Gaby menonjok muka Leo. Karena dia tau jika dia datang, maka permintaan Leo yang selangit itu dengan budget pas- pas an akan membuat Gaby geram, itulah yang ingin dilihat oleh Leo. Entah apa yang membuat dia suka sekali jika sahabatnya tersebut kesal kepadanya. Mau tak mau Gaby harus menanggapi sahabatnya tersebut. walaupun sebenarnya dia malas sekali melayani Leo, dengan kesabaran yang kuadrat dengan melihat Ello masih asik memilih menu sudah setengah jam. Membuat Gaby jenuh dan ingin sekali memaki orang yang ada di depannya tersebut. “Mau pesan apa mas. Tolong dipercepat, karena bukan Cuma mas saja yang harus diladeni,” ucap Gaby dengan penuh penekanan tak lupa gerakan bola mata maas Gaby yang selalu menjadi ciri khas Gaby kalau dia sedang bosan ataupun kesal kepada seseorang. Leo hanya diam dan tak memperdulikan wanita tersebut. Dengan rasa kesal yang sudah menggebu- gebu membuat dia langsung menarik daftar menu dari tangan Leo, “wah, ko diambil? Aku Kan belum siap pilihnya,” dengan santai nya Leo berkata begitu, yang membuat tangan Bayi mengepal, dan dari kuping Gaby datang asab yang sangat banyak. Tetapi dia harus mengundurkan niatnya tersebut untuk memaki Lo. Karena bagaimanapun itu dia masih berada di jam kerja. Dan itu sudah menjadi kewajibannya. “Aku mau pesan kebab satu tapi sayurnya dibanyakin sama danginya terus minumnya itu ice tea yang panas. Sama satu lagi jangan lupakan desert box dengan perpaduan yang creamy dan estetika,” astaga memesan makanan saja seperti memesan jodoh. Entah bagaimana bisa banyak wanita menyukai Leo dengan sifatnya yang seperti itu. Dan sebagai pelayan kafe tersebut yang harus bersikap ramah walaupun pelanggannya seperti Leo. Resenya minta ampun dnegan banyak permintaan yang amat aneh- aneh. Jangan lupakan gaya bicaranya tersebut seperti orang yang serius. Namun memiliki 1000 ide licik untuk menjahili sahabatnya tersebut. “Oke Cuma itu aja, ngga boleh lagi ada penambahan pesanan. Ingat kamu harus hemat. Jangan boros, boros. Nanti kamu jadi gembel disini.” “Dihh, kan aku yang gembel bukan kamu. Kenapa kamu yang larang aku,” Gaby hanya bisa tersenyum dengan kesal kepada sahabatnya tersebut sebelum meninggalkan Leo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN