Ulah Leo

1060 Kata
Setelah kepulangan Leo tersebut, Gaby dengan asik men scroll medsos yang kini bisa diakses lewat handphone, tak lupa dengan memakan mie ayam yang tadi dia pesan lewat online. Ditengah keheningan dan ketenangan yang di impikan Gaby, tiba- tiba saja ponselnya berbunyi. Membuat kedamaian pun berubah menjadi kesal, dia membiarkan panggilan tersebut tanpa menjawab. Karena kalau nanti orang yang nelpon dia tersebut capek. Pasti dia sendiri yang akan matikan panggilan tersebut. Namun tampaknya orang yang menelpon dia itu tak ada capeknya. Justru yang capek malah Gaby mendengar nada deringnya serta getaran ponselnya tersebut. Karena kesal dan capek dia mengangkat panggilan tersebut, “Halo…. Apa Sih, kalian nggak bisa apa buat aku tenang seharian, kalian itu sudah melanggar privasi orang. Seandainya ak…….” “We, teman kamu. Leo berantem lagi sama anak geng motor lain,” seru penelpon tersebut dengan ngos- ngsosan. Mata Gaby membulat dan melebar dengan sempurna kala mendengar bahwa gali sedang berantem. Bagaimana mungkin seorang Leo berantem. Jelas- jelas tadi dia baru saja keluar. “What? Are you seriously?” Gaby langsung bangkit dari posisinya dan berdiri. “Ia makanya lo cepat kesini deh, ntar gue kirim alamatnya,” dengan sepihak Gaby mematikan ponselnya, dan mulai bersiap- siap pergi ketempat Leo tersebut. tak ada jera memang Leo ini suka berantem. Sudah berapa kali Gaby harus berurusan dengan musuhnya Leo. Hanya karena ulah sahabatnya tersebut. Sesampai disana dia melihat Febiola yang duduk sambil kipas- kipas badannya karena kepanasan. Tanpa basa- basi lagi. Febiola bangkit, dan menarik lengan Gaby menuju bagian gedung kosong akibat kebakaran, ditempat Leo dan Natan berantem dengan dua temannya yang sok keren tersebut. mata Gaby langsung mengeluarkan kilat petir. Tak lupa tangan yang dikepal menahan amarahnya tersebut. Gaby menggeram kesal saat melihat Leo yang memukul geng motor lain tersebut, Gaby tak paham dan mengerti dengan jalan berfikirnya Leo. Tadi saja dia barusan pulang dari kost nya Gaby namun sekarang sudah berada di gedung dengan pakaian yang sudah acak- acakan tersebut. Entah bagaimana lagi cara seorang Gaby membuat Leo sadar dengan tingkahnya yang super merepotkan ini. sudah berapa kali Gaby memperingatkan agar Leo hanya fokus kepada kuliah dan nggak buat keributan, tetapi perkataan itu hanya di-iyakan oleh Leo. Namun tak dikerjakan. “GALI!” teriak Gaby nyaring dan melengking, kerasnya suaranya, hampir sama dengan TOA masjid, Leo melihat orang yang memanggil namanya tersebut dan hanya tersenyum serta menyeringai saat melihat Gaby yang sudah berkacak pinggang dengan penuh emosi. “Kamu bisa nggak kurangin kerasnya suara kamu sini? Malu tau,” bisik pelan Febiola kepada Gaby. yang langsung dihadiahi tatapan maut dari seorang Gaby. “Lo nggak tau gimana emosi gue kan, mending lo diem,” ucap Gaby dengan ketus, sementara itu Leo datang ke arahnya dengan berjalan santai. Tak lupa wajahnya yang sudah hancur sekali, banyak lebam dimana- mana. “Lo ngapain disini? Tadi lo usir gua?” ucap Leo dengan tersenyum indah, disambut dengan tonjokan keras di hidungnya oleh Gaby. “Lo, semua mending pergi dari sini. Kalian itu datang merantau buat apa sekolah kan? Jauh jauh dari sumatera ke papua Cuma berantem doang, ingat emak sama bapak kalian itu udah capek cariin uang buat kalian biar bisa sekolah dengan benar. Eh ini malah jadi berantem,” geng motor tersebut pergi begitu saja, dan menunduk. Memang Sih Gaby dikenal dengan orang yang tegas. Tak ada yang bisa melawan kata- katanya. Karena apa yang dibilang dia itu fakta. Sementar itu Leo tak terima karena dia belum puas untuk menghajar mereka. “Lah, kenapa kamu usir dia? kan aku belum puas untuk hajar tu orang,” Gebby mengerutkan keningnya. Seraya menggaruk keningnya yang tak gatal dengan perkataan Leo barusan. Tak tau bagaimana caranya untuk membuat orang yang saat ini paham dengan yang namanya jera. Sudah segala cara dibaut Gaby. tapi tak ada efek sama sekali. Entah bagaimana bisa Gaby menyukai cowok modelan seperti Leo ini. Gaby menatap Leo dengan senyuman yang paling menakutkan, membuat Leo bergidik ngeri ketika menatap temannya tersebut, “belum puas ya…. Ha… ha, ya. Sini aku hajar kau,” ucap Gaby dengan cepat mencubit telinga Leo tersebut, Leo meringis kesakitan. “Oh, ayo,” Leo bersiap dengan mengepal tangannya tersebut. dan bersiap untuk menghajar sahabatnya tersebut. sementara anak buah yang menjadi beban Gaby hanya melihat saja, karena takut salah bicara kepada Gaby. “LO serius mau hajar dia?” tanya seorang temannya tersebut kepada Leo. “Seriuslah, kapan gue boong. Emangnya gue takut apa sama dia, kagakkan?” “Tapi dia cewek toge, masa seorang Leo berani nyakitin cewek? Apa kata dunia nanti?” Gaby hanya diam dengan mendengarkan obrolan dua orang yang sangat aneh bin ajaib. Untung saja Gaby orangnya sabar. “Teman lo aja tau, ternyata pintar juga ya Lo Diego, nggak sia- sia selama ini didikan gue. Dan kamu Gali, mending kamu dengerin kata Diego itu, masa mau lawan cewe. Apa kata dunia nanti, makanya kalau mau buat sesuatu itu pake otak. Jagan pake otot,” Gaby pergi meninggalkan Leo yang kesal lantaran tak terima Gaby mengatakan dia begitu. Febiola yang merasa sudah aman. Akhirnya ikut juga meninggalkan Leo disana dengan berlari untuk mengejar Gaby yang sudah berjalan jauh disana. “Geb, kok lo bisa sih sahabatan sama Leo, dari SMA sampai sekarang. Kenapa kalian nggak pilih kampus beda aja?” “Entah, gue juga bingung. Kenapa gue bisa satu kampus dengan Gali. Padahal tu orang kan kaya, ngapain dia ngikutin aku. Tapi mau gimana lagi, dah nasib tau kalau aku harus ketemu sama yang namanya Galileo. Dan membuat hidup aku nggak nyaman seperti api neraka,” jawab Gaby dengan ceplas ceplos. “Hmmm, kamu hebat bisa dekat dengan Leo. Jarang- jarang loe ada cowok badboy yang nurut sama cewe gitu.” “Maksud kamu apaan?” “Ya, coba deh kamu lihat Leo, da itu tipikal orang yang gak suka diatur ataupun seperti yang kamu buat itu. Tapi kalau sama kamu dia jadi seperti anak kecil yang penuh dengan kata manja. Keknya nanti diantara kalian pasti ada yang jatuh cinta deh. Karena dari buku yang k****a dan pengalaman teman yang aku lihat, kalau temenan sama lawan jenis. Pasti ada salah satu dari mereka yang bawa perasaan,” kata Febi kepada Gaby. Gaby hanya diam, karena apa yang dikatakan oleh Febi tersebut benar. Dan dialah yang jadi korban dari friendzone tersebut. “Nggak taulah Feb. tapi mudah- mudahan aja aku nggak baper sama orang itu. Karena kalau itu terjadi berat nanti.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN