Ginger Milk

1084 Kata
Sekali lagi, aku memastikan kalau Oren tidur dengan nyaman di kardus. Meskipun Ibu mengizinkan aku memeliharanya, Bapak tidak mengizinkan untuk membawa masuk Oren ke rumah. Aku juga sepemikiran, sih dengan Bapak. Takutnya Oren buang hajat sembarangan di dalam rumah, yang ada bisa geger dunia persilatan. Akhirnya, setelah memastikan Oren dalam keadaan aman dan cukup hangat untuk tidur, aku bergegas masuk. Sampai suara notifikasi di ponsel menghentikan langkahku. [Andaru: lo belum tidur, kan? Ada yang mau gue omongin.] Belum sempat aku membalas, orangnya sudah berdiri di depan pagar rumahku. Ini belum terlalu malam, sih, harusnya Ibu masih sibuk nonton sinetron, jadi aku bisa minta ijin keluar sebentar. “Bentar, gue ijin dulu,” ucapku kemudian. Setelah meminta izin dari Ibu untuk beli s**u jahe di depan komplek, aku menghampiri Andaru yang masih setia menunggu di depan pagar. Sesekali aku menatap ke sekitar, mencari keberadaan Bagas. “Bagas ketiduran pas lagi main, makanya gue tinggal,” ucap Andaru, seolah tahu isi kepalaku. Aku mengangguk pelan, sebelum kemudian menanyakan tujuan cowok itu. “Lo mau ngomongin apa?” “Kita bisa ke tempat lain dulu nggak?” “Ke depan aja, deh, gue mau beli s**u jahe.” “Oke.” Sepanjang jalan, Andaru lebih banyak diam dan aku juga terlalu malas untuk memulai pembicaraan. Jadi begitu sampai di kedai s**u jahe, aku segera menanyakan kembali maksud dan tujuan cowok tidak jelas ini. “Jadi?” “Gue mau minta maaf soal omongan gue terakhir kali sama lo waktu di pantai. Anggap itu nggak pernah terjadi.” Wow! Setelah dia bikin aku merasa tidak nyaman selama liburan, dengan seenak udel dia ngomong begitu! Aku benar-benar tidak habis pikir dengan orang ini. Sambil menyesap s**u jahe yang masih hangat, aku mengangguk pelan. Memangnya aku harus bereaksi seperti apa? “Lo nggak marah?” tanyanya pelan. “Nggak, lagian gue juga udah lupa lo ngomong apaan waktu itu.” Dia tidak menjawab ucapanku, tapi aku tahu kalau sejak tadi diam-diam dia memerhatikanku. Sambil pura-pura main game slither di ponsel, aku kembali menyeruput s**u jahe yang aku enggak tahu kenapa bisa nikmat banget diminum malam-malam begini. “Apaan lagi yang mau lo omongin?” tanyaku lagi, tanpa sedikit pun menatap Andaru. Aku bisa kalah main game kalau tidak fokus. “Nggak ada.” “Gue mau pulang kalau gitu,” ucapku lagi, kali ini sembari menghabiskan s**u jahe yang tinggal sedikit. Namun, baru saja aku hendak meninggalkan tempat, jemari dingin Andaru malah menahan lenganku. Sambil menatapku dengan tatapan melas, dia berucap pelan, “Temanin gue dulu, sebentar aja.” Kalau sudah begini, aku tidak akan bisa menolak. Bahkan tampang melasnya lebih parah dari tampang Oren waktu aku selamatkan dari selokan tadi. Meski kadang cuek dan tidak peduli sekitar, kalau ada orang yang meminta tolong padaku dengan tatapan begitu aku benar-benar tidak tega. Kecuali itu Bagas. Aku harus tega dengan manusia laknat itu, kalau tidak yang ada dia malah makin tidak tahu diri. “Yaudah, tapi jangan lama-lama, takut dimarahin Bapak,” ucapku sambil kembali duduk di sampingnya. “Makasih, Dis.” “Oh iya, kucingnya gue kasih nama oren aja ya, soalnya, kan, bulunya warna oren, biar gampang aja.” “Iya, oren juga bagus, kok.” Kemudian dia diam, entah karena apa. Tampangnya terlihat muram, sama sekali tidak seperti Andaru si manusia receh. Jangankan senyum-senyum tidak jelas, dia bahkan hanya menunduk saja seperti orang yang sedang menanggung masalah hidup sebesar gunung es. “Gue pernah bilang, lo boleh cerita apa pun sama gue, kan?” ucapku pelan. “asal nggak pake nempel-nempel.” Dia terkekeh pelan, sebelum akhirnya menatapku lama. Lagi-lagi Andaru sukses bikin aku enggak nyaman dengan ditatap begitu, tapi aku juga tidak bisa berkata apa-apa. Yang bisa aku lakukan hanya diam, sembari menunggu dia siap untuk bercerita. Meskipun aku tahu, kalau aku sama sekali tidak bisa memberi solusi atas masalahnya. “Gue harus lulus tahun ini, kalau nggak, bokap bakal ngebuang gue,” ucapnya sambil tertunduk. “Maksudnya?” “Pak Ri udah nggak mau ngasih kesempatan, kalau semester ini gue masih sering bolos, terpaksa gue nggak akan lulus tahun ini. Tapi di sisi lain, bokap maksa gue harus lulus tahun ini, kalau nggak, gue bakal dititipin ke orang tua bokap di Medan.” Aku terdiam. Lagi-lagi aku menyesal sudah menawarkan diri untuk mendengar ceritanya. Karena serius, masalahnya lebih krusial ketimbang aku yang harus menyisihkan uang jajan buat beli makanan si Oren. Sambil terkekeh, Andaru mengacak pelan rambutku. “Udah lo nggak usah pikirin, dengerin aja abis itu lupain.” “Masih ada satu semester, harusnya lo bisa perbaiki,” ucapku. “Bisa, tergantung. Kalau bokap gue lagi emosi, nggak tau karena apa, dia bisa jadiin gue pelampiasan kapan aja. Dan lo juga udah pernah liat kondisi gue kalau abis dipukulin, nggak mungkin gue masuk sekolah dalam kondisi begitu.” Lagi-lagi, aku dibuat diam oleh perkataannya. “Gue juga nggak mau pindah ke Medan, gue mau tetap di sini, di tempat yang sama, sama lo.” “Apaan sih, geli!” Aku memukul pundaknya keras, sementara si bodoh itu malah tertawa. “Lagian kenapa lo nggak bikin kesepakatan juga sama bokap lo?” “Kesepakatan apa?” “Minta dia buat nggak mukulin lo selama satu semester ini, apa pun yang terjadi. Meski lo nggak bisa memperbaiki nilai, karena gue tau itu mustahil, seenggaknya absen bisa lo perbaiki,” ucapku yakin. “Gini-gini gue pinter loh!” jawabnya penuh percaya diri. “Nggak percaya!” Andaru malah tertawa lagi. Bisa-bisanya orang ini ketawa di situasi seperti ini. Jujur saja, kalau aku jadi dia, rasanya aku mau lompat dari gedung bertingkat. Punya bapak random macam bapakku saja rasanya kepalaku mau pecah. Apalagi kalau punya bapak galak dan emosian suka pukul macam bapaknya Andaru, bisa-bisa aku kabur dari rumah. “Udah, yuk, balik. Gue anterin,” ucapnya sembari bangkit dari tempat duduk. Aku hanya mengangguk, kemudian mengekor di belakangnya. “Makasih ya, Dis. Meskipun kesan pertemuan pertama kita nggak bagus, gue harap kita bisa terus ketemu,” ucap Andaru, sambil terus berjalan di depanku. Aku terkekeh pelan, kalau diingat-ingat, memang harusnya cowok yang sedang berjalan di depanku ini adalah musuhku. Tapi sama sekali tidak kusangka, kalau orang yang tadinya amat kubenci, bisa jadi orang yang selalu curhat sama aku. “Padahal telur sebanyak itu bakal enak kalau dibikin martabak,” kataku pelan. Dan seperti yang kuduga, manusia receh macam Andaru pasti ketawa. Meski aku tidak bisa melihat tawanya, karena dia yang masih membelakangiku, setidaknya ada perasaan lega dalam benakku. Entah mengapa, rasanya seperti ada satu beban yang terangkat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN