Setelah balik ke warung Ujang untuk membeli sampo lagi, aku bergegas pulang. Kucing ini sudah kedinginan, semoga tidak mati di perjalanan.
“Dis, yang lembut pegangnya, kasihan itu dia,” ucap Andaru mengomentari caraku membawa si buluk bau got ini.
Ya lagian, memangnya aku harus membawanya seperti apa? Digendong sembari dipeluk begitu? Yang ada bajuku ikutan bau dan sampai di rumah justru kena omelan Ibu. Lagi pula rumahku juga sudah dekat, sebentar saja, kucing ini pasti bisa bertahan.
“Yaudah lo aja yang bawa!”
“E-eh, lo aja, kan udah terlanjur tuh tangan lo basah.”
“Nggak usah komentar kalo gitu!”
Terserah dia mau kesal sama aku atau bagaimana, karena aku juga kesal! Niatnya, kan, aku ke warung mau beli sampo, bukan bawa pulang anak kucing kecebur got. Habis ini pasti aku kena omel Ibu. Belum lagi sama celanaku yang sedikit kotor.
Begitu sampai di rumah, aku segera menyalakan keran yang ada di depan rumah. Untungnya dulu Bapak sempat membuat keran di depan rumah untuk keperluan mencuci motor atau menyiram tanaman. Waktu kecil, aku juga sering menyiram Bagas dari sini, dan saat ini, keran ini juga cukup membantuku untuk memandikan si kecil buluk bau got ini.
“Mas Tama, nih titipan lo!” ucapku, sambil menaruh bungkusan plastik berisi sampo titipan Mas Tama di depan pintu.
Satu sachet sampo yang lain, aku pakai untuk memandikan kucing ini. Semoga bulunya tidak rontok karena aku mandikan pakai sampo manusia, bukan sampo kucing. Ya, setidaknya, dia jadi enggak bau got lagi.
“Lo ngapain, Dis?” tanya Mas Tama.
“Mandiin kucing, lah! Menurut lo gue lagi mandiin apa?!” tanyaku sewot.
“Santai dong.”
“Udah deh, lo mandi sana! Bau kambing!” ucapku yang sama sekali tidak menatap Mas Tama, aku masih fokus memandikan kucing.
“Pacar lo nggak disuruh duduk dulu? Bikinin teh gitu.”
“Tolong pegang.” Aku sama sekali tidak merespons ucapan Mas Tama, hanya menyerahkan kucing kecil itu kepada Andaru sebelum kemudian mengambil handuk kecil di dalam.
“Lo belum mandi juga?! Ketombe lo jatuh-jatuh gitu!”
“Bentar dulu kenapa, sih!” ucap Mas Tama sembari mengelus anak kucing tadi yang masih tiduran di pangkuan Andaru.
Capek rasanya kalau aku masih harus berdebat dengan Mas Tama, ditambah ada Andaru di sini. Aku hanya tidak ingin, aib keluargaku diketahui orang lain. Biar Bagas saja yang tahu kelakuan absurd keluargaku, orang lain jangan sampai tahu. Setelah mengeringkan bulu si kucing kecil buluk tadi, penampilannya sudah lebih bersih. Ternyata bulunya berwarna oranye sekujur tubuhnya.
“Terus, siapa yang mau rawat?” tanyaku sembari menatap Andaru.
“Lo aja,” ucapnya santai.
“Lo kira gampang, ngerawat kucing?! Nggak mau!”
Di saat aku masih berdebat dengan Andaru perihal siapa yang akan merawat kucing oren ini, Ibu keluar dan menatapku dan Mas Tama penuh curiga.
“Kalian ngapain? Ada tamu bukannya disuruh masuk.”
“Ini, Bu, Ladis sama pacarnya nemu kucing,” ucap Mas Tama yang buru-buru aku hadiahi tabokan.
“Siapa yang pacar gue?!”
“Kenalin Tante, Abang, saya Andaru, kakak kelasnya Ladis di sekolah,” ucap Andaru sopan sembari mencium tangan Ibu dan Mas Tama.
“Ganteng ya kakak kelasnya Ladis, masuk dulu, yuk.”
Aku hanya mendengkus kesal, sambil berlari menuju dapur dan mencari kardus bekas mi instan. Setelah menemukan tempat tidur yang pas buat si Oren, aku menaruhnya di teras. Sedangkan di ruang tamu, Ibu sudah asyik ngobrol dengan Andaru. Entah apa yang mereka obrolin, aku terlalu tidak mau tahu. Sampai suara paling mengganggu sekecamatan, sudah memenuhi rumahku.
“Itu apaan?”
“Anak kadal!”
“Elo, dong!”
“Ba*gsd!”
“Astagfirullah, Ladis! Ngomongnya kok begitu?!” ucap Ibu dari arah dalam rumah.
“Bagas tuh, Bu!”
“Lah, kok gue?” Si Bagas pura-pura b**o.
“Udah, sini masuk! Bikinin teh buat Nak Daru.”
Ah, sebal banget aku hari ini. Selain jadi babu Mas Tama, jadi babu kucing, ternyata aku juga masih harus jadi babunya Andaru. Rasanya aku mau tenggelam saja di palung Mariana, biar tenggelam beneran!
***
“Umurnya sekitar dua bulan, harusnya dia masih minum ASI induknya, tapi karena induknya nggak ada, gimana kalau Ladis aja yang nyusuin,” ucap Bagas sok tahu.
“Mau mati lo?!”
Bagas ketawa, di samping gue, Andaru juga tertawa garing. Apaannya yang lucu, sih?! Bagas barusan memang bikin thread di twitter soal si Oren, dan banyak pecinta kucing yang nge-retweet postingannya Bagas makanya dia jadi sok tahu begitu. Maklum saja, dari kecil, kami memang tidak pernah memelihara hewan, kecuali ayam warna-warni yang dijual di sekolah. Itu pun bakal mati setelah dua minggu, karena selalu diajak Bagas ke mana-mana. Termasuk saat tidur dan mandi. Makanya pengetahuan kami soal kucing sangat minim. Salah-salah, si Oren juga bakal berumur pendek seperti ayam warna-warni milik Bagas.
Sebentar lagi hujan, di rumahku juga nggak ada ikan asin atau sejenisnya yang bisa aku kasih buat si Oren, terus dia harus aku kasih apa? Enggak mungkin aku kasih nasi plus sambal dan tempe orek bikinan Ibu, kan? Itu sih Bagas yang doyan.
“Gas, kasih makan apa nih dia?”
“Oh, gue ada ini. Sementara kasih ini aja dulu,” ucap Andaru sambil memberikan makanan kucing sachet dari dalam tasnya.
Aku bahkan tidak menyangka kalau cowok sangar macam Andaru ternyata pecinta hewan.
Sambil menerima makanan kucing dari Andaru, aku mangangguk kemudian segera memberikannya pada si Oren yang kelaparan. Soal izin, entah apa yang Andaru katakan ke Ibu sampai-sampai aku diperbolehkan memelihara kucing kecil ini. Gue masih fokus dengan sifat menggemaskan si Oren sampai tiba-tiba Bagas kembali bersuara.
“Betewe, Bang Daru ngapain? Ada urusan apaan ke sini?”
Nah! Itu juga yang mau aku tanyakan sama dia, hampir aja aku lupa karena sibuk sama si Oren dekil ini.
“Ta-tadinya gue mau ngajak lo sparring futsal, Gas. Tapi kayaknya mau hujan,” ucap Andaru.
Aku tahu dia bohong. Dari gerak-geriknya yang mencurigakan, tatapan yang tidak fokus juga tangan yang menggaruk tengkuk itu, aku tahu Andaru sedang berbohong. Lagi pula, memangnya ada di muka bumi ini orang yang mau main futsal pakai kemeja lengan panjang, celana bahan plus ransel besar. Daripada orang mau futsal, Andaru lebih cocok jadi preman yang mau pergi ke tempat les.
“Mendingan kita main P.S aja, di rumah gue, jangan di sini nanti Ladis ganggu,” ucap Bagas sambil menarik lengan Andaru ke rumahnya.
“Pergi lo! Jangan balik lagi!”
Si Bagas cekikikan setelah sebelumnya menjulurkan lidahnya ke arahku dan masuk ke rumahnya. Kenapa, sih, hari ini aku cuma ketemu sama manusia-manusia menyebalkan yang sukses bikin kadar kesabaranku menipis?!
***