Hari semakin sore ketika kami meninggalkan toko oleh-oleh, pantai, dan segala yang terjadi dua hari ke belakang. Ucapan Bagas masih terngiang dalam benakku. Ya lagi pula, aku juga sama sekali tidak ada niatan suka sama Andaru, apalagi pacaran dengannya. Ewh, sama sekali enggak! Hanya saja aku sedikit takut. Entah apa yang aku takutkan, rasanya ada yang mengganjal di hatiku.
Begitu sampai di rumah, aku langsung masuk ke dalam kamar. Merapikan barang-barangku, kemudian mandi. Sampai Mas Tama keluar dari kandang dan menatapku tajam.
“Mana oleh-olehnya?”
“Tuh, baju kotor,” jawabku asal.
“Dih, abis liburan bukannya hepi, malah cemberut. Aneh lo!”
“Bawel, ah! Pergi lo!”
Aku buru-buru masuk kamar, takut keburu gila kalau terlalu lama menghadapi Mas Tama. Jadi, sebelum aku benar-benar gila, aku sudah tiduran di kamar sembari membuka chat yang baru saja masuk ke ponselku.
***
Setelah jalan-jalan bareng teman-teman ke pantai tempo hari, yang aku lakukan di rumah hanya tidur-tiduran saja sampai masa liburan hampir habis. PR liburan juga sudah aku kerjakan semua, termasuk dua pelajaran laknat, matematika dan ekonomi. Semuanya sudah selesai kukerjakan dengan usaha ekstra, tanpa nyontek. Kadang aku juga bingung, kenapa aku bisa rajin mengerjakan PR kalau lagi gabut di rumah. Padahal biasanya, aku jarang bikin PR kecuali guru yang bersangkutan galak plus mematikan macam Pak Ri.
Aku masih asyik tiduran di sofa sembari makan kripik singkong dan nonton sinetron siang yang sama sekali tidak jelas alurnya, sampai suara Ibu menggema dari arah dapur.
“Dis, kayaknya mau hujan deh. Tolong angkat jemuran, dong!”
“Hmm.”
Aku hanya menggumam pelan, sambil beranjak dengan gerakan slow motion. Serius, rasanya bokongku sudah menempel di sofa.
“Ladis, dengar nggak Ibu minta tolong!”
“Iya, Bu!”
Ibuku memang begitu, kalau aku belum menjawab teriakannya dengan teriak juga, pasti dia akan mengira aku tidak mendengar. Padahal, kan, aku hanya malas teriak, bukan malas mengerjakan apa yang di suruh. Jadi maklum saja, kalau selama aku libur, rumah tidak pernah sepi. Selalu terdengar berisik dengan teriakan-teriakanku dan Ibu. Untungnya tetangga tidak protes. Ya iyalah, Bagas malah senang kalau rumahku ramai penuh keributan, apalagi baku hantam.
Selama liburan, hampir tiap hari Bagas menginap di rumahku. Untungnya aku masih punya kakak laki-laki yang siap ditumpangi Bagas kapan saja, kalau tidak, pasti sudah sejak lama aku mengusir Bagas supaya jauh-jauh dari keluargaku.
“Mas Tama! Keripik gue!” teriakku, begitu melihat Mas Tama dengan tampang tidak berdosa sedang memakan kripik singkong milikku.
Buru-buru aku menghampiri Mas Tama dan melempar tumpukan cucian yang baru saja aku angkat dari jemuran ke wajahnya. Cobaan apa lagi ini, ya Tuhan. Kenapa aku harus dilahirkan setelah makhluk laknat ini, kenapa aku harus jadi adiknya?!
“Aduh! Dilipat lah itu cuciannya!”
“Kripik gue!” ucapku sambil merebut toples keripik dari tangan Mas Tama.
“Pelit amat jadi manusia.”
“Bodo!”
Setelah menutup toples dan menyimpannya di tempat aman dan jauh dari jangkauan Mas Tama, aku duduk di sebelah Mas Tama sembari melipat baju-baju yang baru saja aku angkat dari jemuran. Sampai abang laknatku ini mulai melancarkan serangan dadakan.
“Dis, kok lo cantik banget deh hari ini, mandi pake apa? Pake skin care, ya?” ucapnya sambil menatapku.
“Mandi pake sabun batangan yang kemaren lo beli di warung! Cuci muka juga pake sabun itu. Ngapain, sih nanya begitu? Jijik!”
“Jangan galak-galak, Ladis harus jadi anak baik. Ladis, kan, adik Mas Tama yang baik hati dan tidak sombong,” ucapnya lagi, sekarang aku sudah tahu niat busuknya.
“Ah, berisik! Mau apa lo?!”
“Beliin sampo di warung, sekalian beli pulsa juga. Mas belom keramas nih tiga hari, sampo abis.”
“Ogah, ah, mau ujan. Beli sendiri aja.”
“Bawa payung, Ladis, biar nggak kehujanan. Lagian ini baru mendung doang, belom ujan,” ucap Mas Tama lagi, dan sumpah aku benar-benar ingin memukulnya pakai gantungan baju.
“Nanti kembaliannya buat Ladis, deh. Buat jajan di warung.”
“Yaudah, tapi lanjutin lipat cuciannya,” jawabku akhirnya. Karena kalau tidak segera dituruti, aku bisa kejang karena terus-terusan dengar Mas Tama ngomong sok lembut begitu.
“Oke! Samponya yang anti ketombe, ya! Yang biru. Jangan beli yang seribu dapet empat, yang seribu dapet satu sachet aja, nggak pa-pa mahal, yang penting kepala gue nggak ketombean.”
“Astaga, banyak maunya!”
“Pulsanya yang dua puluh ribu, ke nomer gue! Jangan sampe salah nomer!”
Aku tidak lagi menjawab, dengan cepat aku mengambil uang dari Mas Tama dan keluar rumah. Itu orang memang kalau nyuruh bawelnya setengah hidup, kalau banyak maunya begitu kenapa tidak ke warung sendiri, sih?! Nyusahin adik juga, kan ada batasnya.
Sepanjang jalan, yang aku lakukan hanya misuh-misuh sendiri. Warungnya juga sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumah, hanya perlu melewati dua blok dan aku sudah sampai di warung Ujang yang serba ada. Mulai dari sembako, keperluan rumah tangga, pulsa dan token listrik, sampai benang layangan pun tersedia lengkap di sini. Mini market depan komplek enggak ada apa-apanya dibanding warung ini.
“Jang, beli sampo sama pulsa,” ucapku pada si Ujang, anak yang punya warung.
Setelah memberi instruksi, sampo macam apa yang diinginkan Mas Tama, dan juga memberikan nomor ponsel Mas Tama, aku bergegas pulang. Mendung, membuat jalanan komplek yang biasanya ramai dipenuhi bocah-bocah ngejar layangan, kini terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang dan pengendara motor yang lewat.
Sampai langkahku terhenti saat melihat seseorang yang tengah berjongkok di pinggir got tak jauh dari warung. Motornya, sih, sepertinya aku kenal, cuma aku lupa siapa pemiliknya. Tanpa sadar, aku malah mendekati orang itu yang sepertinya sedang kesulitan mengambil sesuatu.
“Ngapain, Mas, ngorek-ngorek got?” tanyaku.
“Eh, Ladis?”
Aku terdiam sesaat, sebelum akhirnya menyesali perbuatanku barusan. Kenapa, sih, aku harus kepo?! Padahal aku bisa langsung pulang tanpa harus ketemu manusia satu ini.
“Ada anak kucing kecemplung tadi, waktu ada mobil lewat dia minggir terus malah nyebur got. Ini mau gue tolongin,” ucap Andaru sambil berusaha meraih anak kucing tersebut.
Tadinya aku mau bilang “semangat” terus lanjut pulang, tapi rasanya tidak tega. Ditambah suara anak kucing itu seperti berteriak minta tolong. Sebenarnya selokan ini tidak dalam, tapi juga agak sulit untuk menolong kucing itu karena dia terjebak di area selokan yang ada tutupnya. Dan tangan Andaru terlalu besar untuk bisa masuk di antara sela tutup selokan.
“Sini gue bantu.”
Entah apa karena tanganku yang kecil, atau karena anak kucing itu paham akan kebaikan hatiku yang bersedia menolongnya, tidak butuh waktu lama sampai aku berhasil mengeluarkan anak kucing itu dari dalam got. Bulu anak kucing itu basah semua, dan jangan tanya baunya seperti apa, karena serius, aku sedang tidak ingin berbuat jahat dengan melempar anak kucing ini ke muka Andaru.
“Nih, bawa pulang sana!” ucapku sembari menyodorkan anak kucing barusan kepada Andaru.
“Gue nggak bakal diizinin melihara kucing sama bokap. Bawa ke rumah lo aja, ya? Kan rumah lo lebih dekat.”
Mendadak kepalaku pening. Kenapa pula aku harus berurusan dengan manusia-manusia laknat hari ini? Dan kenapa pula Andaru harus berkeliaran di sekitar rumahku?! Rasanya aku benar-benar mau melempar anak kucing ini ke muka Andaru.
***