Api unggun sudah dipadamkan, Bagas, Gerard dan Saga juga sudah masuk ke vila dan berhenti berenang macam ikan dugong. Aku juga sudah menanyakan pada Tante Sora di mana ia membeli keripik singkong yang enak itu. Ternyata tokonya tidak jauh dari vila, dan di perjalanan pulang, Bang Adam bersedia mengantar kami ke tempat itu. Keluarga Saga benar-benar baik, aku curiga kalau yang sebenarnya anak pungut itu adalah Saga. Karena melihat Tante Sora yang baik macam bidadari, dan Bang Adam yang sopan sekali macam good boy di serial drama, sifatnya Saga paling laknat sendiri.
Aku menghirup napas dalam, sekarang aku sedang duduk di teras sambil menikmati suasana malam. Udara malam cukup menyejukkan meski ini bukan di pegunungan. Sampai seseorang duduk di sebelahku dan menyodorkan secangkir cokelat hangat ke hadapanku. Apaan, nih? Aku curiga ada racun di dalamnya.
“Nggak gue masukin apa-apa, cuma bubuk cokelat instan sama air panas,” jelasnya, seolah tahu isi pikiranku.
“Makasih.”
Aku menyeruput cokelat hangat yang barusan diberikan Andaru. Dari aroma dan rasanya, aku sudah tahu kalau ini chocholatos. Sebagai orang yang cukup sering minum cokelat sachet, aku bisa tahu hanya dari bau dan rasanya. Saking seringnya aku stres sama kelakuan Bagas, membuatku mendadak jadi pecinta cokelat.
Andaru masih duduk diam di sampingku, sembari menyeruput cokelat miliknya. Entah ada angin apa, sampai manusia paling barbar sejagad mendadak jadi kalem begini. Pasti ada sesuatu yang sedang dia pikirkan.
“Dis ....”
Tuh, kan! Pasti ada sesuatu.
“Gue nggak tahu, gimana ceritanya Andrian bisa jadi first love lo. Kalau nggak keberatan, lo mau cerita ke gue? Karena Andrian nggak pernah cerita sama gue,” ucapnya pelan.
Ah, bakal panjang kalau aku ceritakan. Tapi tidak tega rasanya kalau aku harus mengabaikan Andaru yang sudah berbaik hati membuatkan aku cokelat.
“Dia cinta pertama sekaligus patah hati pertama gue. Panjang kalau gue ceritain, tapi dulu cinta gue bertepuk sebelah tangan. Dia cuma jadiin gue bahan taruhan.” Aku kembali menyesap cokelat hangat yang mulai terasa dingin.
“Atas nama adik gue, gue minta maaf, Dis,” ucapnya pelan sembari menatapku serius.
“Lo nggak perlu minta maaf, toh Andrian juga udah ratusan kali minta maaf ke gue. Dan udah ratusan kali juga gue maafin dia, cuma memang nggak akan ada yang berubah. Fakta kalau dia udah nyakitin gue dan buka luka itu tiap kali dia minta maaf ke gue, nggak akan pernah berubah, Ru.”
Andaru tidak menjawab, dia hanya diam sambil menatapku lekat. Asli, aku kurang nyaman sebenarnya ditatap begitu, tapi aku diam saja. Pemandangan laut malam ini jauh lebih menarik atensiku ketimbang muka Andaru yang semakin aku liat malah semakin mirip sama Andrian. s**l.
“Seandainya gue bertukar posisi sama Andrian, gue nggak akan pernah nyakitin lo, Dis.”
Pelan, bahkan nyaris tidak terdengar karena tersamarkan suara ombak. Tapi sialnya, ucapan Andaru justru terdengar jelas di telingaku. Terus aku harus jawab apa?! Mendadak aku mabuk cokelat hangat.
***
Tiga hari main di pantai, cukup bikin kulit Bagas gosong. Sumpah, aku jijik banget melihat Bagas pakai kaus warna merah muda dengan kondisi kulit gosong dan rambut yang berubah pirang. Bagas jadi persis jamet yang nari-nari di sosmed.
Hari ini kami memutuskan untuk pulang. Sebenarnya ini adalah waktu yang sangat aku tunggu-tunggu. Selain karena aku bisa beli keripik singkong di perjalanan pulang, akhirnya penderitaanku selama dua hari terakhir akan berakhir. Sejak terakhir kali bicara dengan Andaru malam itu, aku sama sekali belum bicara lagi dengannya. Entah kenapa, rasanya canggung dan tidak nyaman kalau ada di dekatnya. Bahkan kalau papasan dengannya, rasanya aku mau menghilang saat itu juga.
Aku sendiri sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi pada diriku, dan aku juga tidak mau peduli sebenarnya. Tapi, tatapan tajam Andaru itu selalu menggangguku. Seperti saat ini, saat semua orang tengah sibuk membereskan barang-barang mereka, Andaru malah duduk di hadapanku sambil menatapku lekat. Duh, tahu bakal begini harusnya tadi aku berbaik hati membantu Tiara atau Bagas, ketimbang harus selesai duluan dan malah terjebak dalam situasi s****n macam ini.
“Apa?!” tanyaku kesal.
Dia tidak menjawab, hanya menggeleng pelan kemudian menyandarkan diri di sofa sembari memainkan game di ponsel. Sumpah, rasanya aku mau nampol Andaru pakai kopernya Bagas. Aku buru-buru bangkit, sebelum aku pingsan kena darah tinggi, lebih baik aku menunggu semuanya selesai di teras saja. Daripada menunggu di ruang tengah sambil menghadapi sikap Andaru yang aneh bin ajaib.
***
Setelah Tiara dan Bagas selesai dengan perabotan lenong mereka, kami berpamitan dengan Tante Sora. Seperti biasa, Tante Sora masih terlihat cantik dan anggun. Aku masih tidak habis pikir bagaimana wanita seanggun itu bisa punya keponakan yang kelakuannya laknat macam Sagara.
“Udah beres semua, kan?” tanya Sagara memastikan.
“Cek lagi barang-barang kalian, jangan sampai ada ketinggalan.” Kini giliran Bang Adam yang mengingatkan.
“Udah semua, Bang,” jawab Tiara. Dasar caper.
“Nanti jadi mampir ke toko oleh-oleh, Bang?” tanyaku yang segera dapat anggukan dari Bang Adam.
“Iya, lo ikut mobil gue aja. Takutnya Saga lupa, dia kan bego.”
“Bacot!”
Aku segera mengangguk, tanpa menghiraukan perdebatan mereka dan buru-buru masuk ke mobil Bang Adam. Aku bahkan tidak peduli, Bagas mau naik mobil siapa. Yang aku inginkan hanya segera pulang dan istirahat. Aku bahkan tidak tahu siapa yang duduk di kursi belakang, karena jangankan aku peduli, omongan Bang Adam saja tidak ada yang aku jawab. Sepanjang perjalanan yang kulakukan hanya tidur, untungnya Bang Adam hanya menyetel lagu-lagu pop di mobilnya jadi tidak terlalu berisik. Sampai aku mendengar suara Bang Adam, disertai beberapa tepukan di pundakku.
“Dis, bangun, Dis!”
Aku mengerjap beberapa kali, sampai aku menyadari kalau mobil Bang Adam sudah berhenti di parkiran toko oleh-oleh.
“Maaf, Bang gue ketiduran.”
“Nggak pa-pa, lo jadi, kan, beli keripik singkong?”
Aku mengangguk, kemudian segera mengekori Bang Adam yang sudah turun mendahuluiku. Sampai di toko oleh-oleh, aku langsung membeli keripik singkong dan kembali ke mobil, sedangkan Tiara malah memborong camilan.
Entah ini hanya perasaanku, atau memang sejak tadi ada yang meperhatikanku dari kursi belakang mobil. Dan benar saja, Bagas sudah duduk di sana sambil memberikanku tatapan paling menyebalkan yang pernah aku lihat. Kedua tangannya disilang di d**a, bibirnya maju dua senti dan matanya melotot. Sumpah, pose Bagas sekarang sukses bikin aku pingin nampol mukanya.
“Apa?!”
“Lo yang apa?!” tanyanya, masih sambil melotot.
“Apa? Gue nggak kenapa-kenapa.”
“Ada yang lo sembunyiin dari gue, ngaku!” ucapnya lagi. “Lo tau, kan, lo nggak bisa bohong sama gue.”
Aku menghela napas pelan. Memang percuma, sih, menyembunyikan hal ini dari Bagas. Jadi, dengan amat sangat terpaksa, aku menceritakan semua hal yang terjadi antara aku dan Andaru dua hari lalu. Jujur, aku malas mengakuinya, tapi buat aku dan Bagas punya aturan tidak tertulis yang memaksaku, khusunya untuk tidak punya rahasia apa pun di depan Bagas. Tapi anehnya, reaksi Bagas hanya mengangguk pelan sambil berkata, “oh.” Dan serius, aku benar-benar ingin memukul Bagas!
“Terus sekarang lo mau apa?” tanyanya, setelah sebelumnya hanya diam selama beberapa saat.
“Nggak tahu.”
“Lo pernah dilukain sekali sama dia, gue nggak yakin dia nggak akan ngelukain lo lagi, Dis. Lo paham, kan, maksud gue.”
Aku terdiam, tidak tahu harus menjawab ucapan Bagas seperti apa. Kadang tingkahnya memang menyebalkan dan juga sulit diterka, tapi ucapan Bagas yang barusan ada benarnya juga.
Suasana di dalam mobil Bang Adam masih berisi keheningan, sampai tak lama Bang Adam mengisi kursi kemudi, menyalakan musik pop kekinian dan melaju meninggalkan toko oleh-oleh.
***