Secangkir cokelat panas

1105 Kata
Aku tidak menyangka, suasana malam di tepi pantai ternyata sangat indah. Wajar saja kalau aku norak, sebelum-sebelumnya aku tidak pernah menginap di pantai. Paling-paling di Bogor, Puncak dan sekitarnya. Setelah membantu Tante Sora menyiapkan makan malam, aku bergabung dengan yang lain untuk makan. Menu malam ini ikan bakar dan sambal, sederhana tapi rasanya luar biasa. Seperti biasa, Bagas dan Tiara masih meributkan sesuatu. Ditambah Saga yang juga malah bertengkar dengan Bang Adam. Rasanya aku mau pergi saja, tapi perutku masih lapar. Jadi sembari mencoba tidak memedulikan keributan tidak berguna yang masih berlangsung di hadapanku, aku mencoba menghabiskan makanan enak ini. *** Selesai makan malam, aku sempat membantu tante Sora mencuci piring. Sedangkan yang lain, sudah bikin api unggun di depan vila. Sudah pasti ini idenya Bagas, karena dia yang paling heboh sendiri. Daripada aku pusing sendiri melihat kelakuan Bagas, lebih baik aku duduk tenang di samping Tiara sambil makan kripik singkong yang entah milik siapa. “Udah kumpul semua nih?” tanya Saga yang sejak tadi masih sibuk menyalakan api. “udah,” jawab Bang Adam santai. “Lah lu ngapain, Bang? Emangnya lu diajak?” “Adek biadab!” Sambil menendang b****g Saga, Bang Adam kembali melanjutkan aktivitasnya main ponsel sambil menyeruput kopi. Aku masih diam, memperhatikan tingkah teman-temanku yang kelewat absurd sampai Tiara tiba-tiba bersuara. “Emangnya kita mau ngapain, sih?” “Main ToD,” jawab Saga lempeng. Sebenarnya aku malas menjelaskannya, lagi pula siapa, sih yang tidak tahu permainan itu. Truth or dare permainan kejujuran ini sebenarnya cuma dimainkan oleh kumpulan orang-orang gabut. Dan manusia-manusia di hadapanku ini termasuk dalam golongan tersebut. Jadi, sembari makan kripik singkong, aku memperhatikan Saga yang kini tengah mengumpulkan ranting. Di salah satu ranting tersebut, Sagara menaruh karet gelang, kemudian memasukkan semua ranting itu ke dalam wadah bekas keripik kentang. “Ayo, pilih satu. Yang dapet karet, dia yang dapat giliran pertama,” ucap Saga sambil berkeliling menyodorkan ranting-ranting tersebut kepada semua orang. Setelah semuanya mengambil ranting, entah aku yang sedang s**l atau memang hanya kebetulan semata, ranting yang kudapat adalah ranting yang sebelumnya diberi karet oleh Saga. Itu artinya, aku yang dapat giliran pertama menjalankan permainan ini. “Ah s**l!” ucapku pelan. Bagas dan Saga bersorak girang. Memang dua manusia itu paling senang kalau aku sedang menderita. Sambil lari-lari macam kucing pengen kawin, Bagas dan Saga berteriak kompak. “Truth or Dare??!” tanya mereka kelewat semangat. “Truth,” jawabku lempeng. “Ah nggak seru! Lo mah cari aman!” protes Bagas, yang aku tanggapi sambil mengunyah keripik. “Suka-suka gue.” “Ladis, siapa first lope mu?” tanya Saga seraya menirukan vidio yang sempat viral dulu. “Andrian,” jawabku cepat, santai dan tidak peduli juga. Seketika mereka terdiam, hingga kemudian Saga kembali bersuara. “Kayak pernah denger namanya.” “Andrian, adiknya Daru?” tanya Gerard yang membuat Andaru seketika menatapku tajam. Aku hanya mengangguk, sambil kembali memakan keripik singkong. Sumpah keripik ini enak banget! Entah siapa yang membawanya dan di mana orang itu membelinya, karena kalau aku tahu sudah pasti aku akan nitip. Teksturnya yang renyah dengan bumbu balado yang pas rasa manis, pedas dan gurihnya, membuatku tidak bisa berhenti makan. Ini enak banget, serius. Aku bahkan sama sekali tidak peduli lagi pada permainan kejujuran yang sebenarnya menurutku, sama sekali tidak penting ini. Karena fokusku hanya tertuju pada makanan enak ini, sampai kudengar Andaru berbicara. Tatapannya begitu tajam menatapku lurus, begitu juga dengan yang lainnya, kecuali Tiara dan Bagas yang memang sudah tahu perihal ceritaku dan Andrian. “Lo serius, Dis? Kalian, kan, baru ketemu sekali,” ucap Andaru. “Kami satu sekolah waktu SMP, itu udah jadi cerita lama. Nggak usah dibahas.” Sambil kembali mengunyah keripik, si Saga kembali memutar sambil membawa ranting-ranting tadi. Aku tidak begitu memperhatikan, karena serius fokusku hanya tertuju pada keripik ini. Sampai suara Tiara terdengar tidak merdu. Dia memekik macam cewek-cewek alay di sinetron. “Gue yang tanya!” ucapnya penuh semangat. Ternyata sekarang gilirannya Andaru, dan kalau menurut penglihatanku sepertinya dia juga memilih truth alias jujur ketimbang ambil resiko dengan dare, karena aku yakin si Bagas dan Saga sudah menyiapkan tantangan yang aneh dan tidak masuk akal. Aku menatap Andaru dari tempatku, yang entah bagaimana ceritanya dia juga kebetulan sedang melihat ke aarahku Ini aneh, harusnya aku tidak perlu menghindar, tapi bola mataku malah bergerak ke arah lain menghindari tatapan tajam mata Andaru. “Ada orang yang lagi Kakak suka, nggak?” tanya Tiara dengan suara super cemprengnya. Tidak langsung menjawab, Andaru tampak sedikit ragu sebelum akhirnya menjawab, “ada.” “Siapa?!” Yang barusan heboh itu Bagas. Duh, kenapa sih, manusia b***k itu harus menanyakan pertanyaan pribadi semacam itu. “Itu privasi, Bagas. Nggak sopan nanya gitu,” ucapku masih sembari makan keripik. “Kan pengen tahu.” “Dis, itu keripik punya tante gue,” ucap Saga tiba-tiba, yang sukses bikin aku panik setengah mati. “Demi apa?! Eh udah mau abis ini! Kenapa baru bilang, Sagara?! Bodoh!” ujarku panik. “Yaudah abisin aja, gue cuma kasih tau doang.” “Maaf, ya, Bang Adam, gue mau ngatain adek lo,” ucapku pelan. “Katain aja, Dis, gue ikhlas kok.” “Saga, g*b*k!” ucapku sambil melempar ranting yang sejak tadi masih aku pegang. “Nice, Dis.” “Tepat sasaran.” “Mampus! Eh, maaf, Bang Adam,” ucap Tiara sambil pencitraan. “k*****t lo semua!” Saga mengomel, kemudian meringis memegangi kepalanya yang barusan gue lempar pake ranting. “Eh, Tiara patah hati dong, Bang Daru udah ada gebetan,” lanjutnya. Ah iya, aku hampir lupa kalau Tiara itu penggemar beratnya Andaru. Tapi sepertinya sekarang sudah tidak. Sejak aku ceritakan perihal perundungan yang Andaru dan teman-temannya lakukan terhadapku, bukan lagi tatapan kagum yang Tiara tujukan pada cowok itu, melainkan tatapan ngeri. “Eng-enggak, kok!” ucap Tiara terbata. Ya iyalah, lo sekarang udah kepincut sama Bang Adam, kan?! Emosi aku liat Tiara yang segitu gampangnya demen sama cowok. Agak geli sebenarnya, tapi ya, dia temanku. Kalau bukan Tiara, mana ada orang normal yang mau berteman sama aku. Jadi, untuk kali ini, aku biarkan saja Tiara berperilaku seperti apa pun. Biarkan dia bahagia dengan apa yang dia suka, aku tidak mau ikut campur. “Yaudah, kita lanjutin permainannya!” Saga kembali menaruh ranting di wadah dan membiarkan kami mengambilnya satu-persatu. Selanjutnya Bagas memilih tantangan, begitu juga Saga dan Gerard yang sama gilanya, ikut Bagas berenang di pantai. Biar saja mereka dimakan ikan paus atau masuk angin sekalian karena berenang malam-malam begini, karena aku mau segera mencari Tante Sora dan bertanya di mana beliau membeli keripik singkong yang luar biasa enak itu.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN