Senja dan Laut

1097 Kata
Perjalanan dari rumah Bagas sampai Anyer ternyata memakan waktu hampir dua jam. Selain karena jalanan yang cukup macet karena sedang musim liburan, vila milik tantenya Saga juga memang terletak cukup jauh dan lebih dekat dengan pantai. Dan berita buruknya, aku sama sekali tidak bisa tidur! Entah ini memang aku yang lagi s**l atau karena aku terjebak dengan tiga makhluk i***t ini, karena sumpah, aku menyesal sudah satu mobil dengan mereka. Mobil abangnya Saga pasti jauh lebih tenang ketimbang mobil ini. Biar aku ceritakan, ini memang kesalahanku karena tidak sadar di mobil ini ada gitar. Sagara membawa gitar! Dan hal itu adalah bencana buatku. Karena selama satu dua jam perjalanan, yang dilakukan Bagas dan Saga adalah bernyanyi dengan suara sumbang, sedangkan Andaru sibuk memainkan gitar sambil terus-terusan tertawa. Kalau sudah begitu, jangankan tidur, bahkan mataku tidak bisa terpejam. Tapi untungnya semua kegilaan itu tidak berlangsung lama, karena mobil Saga sudah memasuki area vila dan aku segera turun dari mobil laknat itu. Aku benar-benar bisa gila kalau bertahan lebih lama dengan manusia-manusia gila itu. “Ladis!” Tiara langsung memelukku begitu aku turun dari mobil, seolah kami sudah puluhan tahun tidak bertemu. Sambil memelukku, Tiara berbisik pelan, “Bang Adam ganteng banget.” Sialan! Cepat-cepat aku melepas pelukan Tiara, semua orang juga sudah turun dari mobil. Dari arah dalam vila, seorang wanita muda keluar dengan penampilan anggun. Dress cokelat sederhana dengan rambut yang tergerai indah. Apa mungkin itu tantenya Saga? Dia lebih cocok jadi kakaknya Saga ketimbang tantenya. “Oh, iya, ini tante gue. Tante Sora. Tante, ini teman-teman Saga,” ucap Saga. “Halo semuanya, tante senang Saga dateng ke sini sama teman-temannya. Kalau ada perlu apa-apa langsung panggil tante aja, jangan sungkan.” “Makasih tante, yang paling ngerepotin paling si Bagas,” ucap Tiara yang segera dapat tatapan maut dari Bagas. “Terus yang ini Bang Adam, dia anak pungut emak gue, nggak usah dianggep.” “Adek sableng!” ucap Bang Adam sembari menjitak kepala Saga. “Gue di kamar atas, kalau butuh apa-apa panggil aja, oke!” Setelahnya Bang Adam berlalu ke kamarnya. Sementara kami berpencar menuju kamar masing-masing. “Jangan nyampur! Ladis sama Tiara di kamar ujung, sisanya terserah mau tidur di mana,” ucap Saga sebelum kemudian berlalu begitu saja. Aku segera mengangguk dan buru-buru masuk kamar, rasanya aku mau langsung tidur. Ngantuk sekali, dan kali ini sepertinya tidak bisa kutahan lagi. Sementara Tiara sibuk membereskan barang-barangnya dari dalam koper, aku sudah menghempaskan tubuhku di kasur. Padahal pemandangan laut yang terlihat dari jendela kamar sangat indah, tapi apa daya, buatku kasur ini lebih menarik. Tapi baru saja aku memejamkan mata, suara cempreng Bagas sudah terdengar dan sukses bikin aku sakit telinga. Tiara yang mendengar pun segera membukakan pintu. “Apaan, sih?!” “Ayo berenang!” Ah, serius, aku hanya ingin tidur sekarang. *** Setelah sukses menolak ajakan Bagas yang amat sangat memaksa itu, aku bisa tidur sampai sore. Lumayan untuk mengumpulkan tenagaku yang cukup terkuras selama perjalanan tadi. Tapi, begitu aku bangun, malah tidak ada seorang pun di dalam vila. Aku ditinggal sendirian! Asli, aku panik. Saking paniknya aku langsung lari keluar kamar dan sambil teriak-teriak mencari keberadaan teman-temanku yang lain. “Tiara! Saga!” panggilku yang masih belum dapat jawaban. “Bagas! Gerard! Daru–“ ucapanku terhenti begitu juga gerakanku yang sebelumnya tengah membuka pintu kamar sebelah. “Ma-maaf! Gue nggak liat apa-apa, sumpah!” Aku masih terpaku di depan pintu kamar yang kini sudah tertutup rapat, sembari memegang kenop dengan erat. Aku benar-benar terkejut dengan pemandangan yang baru saja aku lihat, sumpah aku tidak bermaksud apa-apa. Aku pikir setidaknya di ruangan itu ada Bagas atau Saga, tapi yang aku dapati malah Andaru yang sedang mengganti kemejanya dengan kaus putih polos. Aku sama sekali tidak sengaja memergokinya saat tengah berganti baju, apalagi sengaja melihat lebam-lebam juga luka di seluruh tubuhnya. “Liat juga nggak papa, toh lo juga udah tau siapa pelakunya,” ucap Andaru dengan santai begitu keluar kamar. “Yang lain lagi main di pantai,” lanjutnya sambil berjalan mendahuluiku. “Udah lo obatin? Luka lo?” “Nanti juga ada luka yang baru, percuma gue obatin.” “Tapi–“ “Kita ke sini buat liburan, senang-senang. Jadi lo nggak perlu mikirin masalah gue, pikirin yang senang-senang aja, oke?” Entah kenapa, ucapan Andaru barusan bagai mantra sihir yang begitu mujarab, karena tanpa menunggu hitungan detik aku sudah mengangguk patuh. Meski rasanya masih ada yang mengganjal, tapi aku tetap memaksakan tersenyum. Setidaknya, aku juga tidak ingin Andaru ikutan memikirkan masalah ini. “Pikirin yang senang-senang aja.” Aku mengulangi kalimat terakhir Andaru, rasanya berat tapi aku mencoba untuk tidak memikirkannya. *** Bagas sedang main layangan dengan Gerard, Saga sedang lari-larian dikerjar Tiara sedangkan aku hanya bisa duduk di dekat pantai dan menjauh dari mereka. Untungnya lokasi ini agak jauh dari pintu masuk pantai yang memang adalah lokasi wisata, tempat kami main sekarang letaknya persis di belakang vila milik tantenya Saga, jadi kami tidak perlu khawatir ada orang lain. Kecuali beberapa masyarakat sekitar yang tidak sengaja lewat. Tapi tetap saja, aku malu melihat kelakuan teman-temanku sendiri. “Mati lo Saga!” teriak Tiara sambil terus mengejar Saga yang malah tertawa girang. “Teman-teman lo asik, ya?” ucap Andaru yang entah sejak kapan sudah duduk di sampingku. “Bukan asik, tapi aneh,” jawabku yang hanya dapat kekehan pelan. Setelah itu, suasana sore yang khidmat ini kembali diisi dengan hening yang panjang. Meski kadang, suara teriak-teriakan Tiara masih terdegar menyebalkan. Sampai kemudian, Andaru bicara lagi. “Gue tau lo masih kepikiran,” ucapnya pelan sambil menatap lurus pada lautan lepas di hadapan kami. “Soal omongan gue yang tadi,” lanjutnya. “Dih, sotoy!” Dia tertawa pelan, tanpa sama sekali menatapku. Tatapannya masih lurus menatap lautan, atau mungkin ombak di hadapan kami. Wajahnya terbiaskan cahaya matahari terbenam, ada sorot kesedihan dari matanya tapi aku tidak berani bertanya. Entah, hanya rasanya seperti ada sesuatu yang menahanku. “Makasih, Dis.” “Untuk?” Tidak langsung menjawab, Andaru hanya menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku deskripsikan. Tatapannya terlihat sendu, atau entahlah! Aku sama sekali tidak bisa menggambarkannya. “Untuk selalu ada, di sini,” ucapnya sambil menunjukku. “di sisi gue.” Rasanya darah mengalir cepat ke kepalaku, karena serius kepalaku langsung pusing! Bulu kudukku juga merinding seketika, jantungku berdetak tidak seirama. Aku geli sebenarnya dengan ucapan Andaru barusan, tapi anehnya aku malah tersenyum. Bodoh, kan? Ini bahkan bukan cerita romantis! Terserahlah, aroma laut sore ini sudah cukup membuatku mabuk. Cukup mabuk sampai-sampai tidak bisa untuk sekedar bangkit dan menjauh dari manusia kumal bernama Andaru.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN