Rencana Bagas

1055 Kata
Ujian sudah berakhir, dan minggu-minggu remedial yang melelahkan pun sudah hampir setengah jalan. Aku sebagai siswi yang tidak begitu pintar namun juga tidak bodoh-bodoh amat, sudah cukup menjalani beberapa remedial. Terutama pada mata pelajaran matematika dan ekonomi. Sepertinya hanya keajaiban yang bisa membuatku lolos dari remedial kedua mata pelajaran laknat tersebut. Siang ini, aku baru saja menerima hasil ujian remedial matematikaku. Hasil yang sama sekali tidak memuaskan, tapi juga tidak buruk. Setidaknya aku sudah berusaha dan nilaiku juga sudah sedikit lebih tinggi dari rata-rata. Aku masih memegangi kertas ujian remedial yang masih terbubuhi nilai pas-pasan itu sampai si Bagas masuk ke kelasku dengan wajah sumringah. Apa lagi ini? “Dis, gue punya ide!” ucap Bagas dengan riang gembira. Ide tidak penting apa lagi yang akan keluar dari kepal Bagas? Benakku bertanya-tanya. Aku menghela napas pelan sebelum kemudian menjawab, “apaan?” “Liburan semester nanti, ayo kita ke vila!” “Vila? Ngapain? Berdua? Ogah amat!” jawabku tidak santai. Bagas buru-buru menggeleng cepat, itu memang respons yang aku harapkan jadi aku hanya diam sembari menunggu penjelasannya. “Jadi, tantenya Saga itu punya vila di dekat pantai, liburan ini ayo kita ke sana. Lo ajak tuh si Tia, nanti gue ajak Daru sama Gerard juga biar seru!” ucap Bagas semangat. “Lo udah izin sama Saga? Jangan aneh-aneh deh, Gas.” “Duh, Ladisha, justru gue bilang sama lo karena Saga juga udah setuju. Ini idenya dia juga kok, katanya biar sekalian ketemu tantenya. Saga udah tiga tahun nggak ke sana.” Aku mengangguk pelan, sebenarnya masih ada satu hal yang mengganjal pikiranku. “Tapi kayaknya lo nggak perlu ajak Daru sama Gerard, deh, Gas. Mereka udah kelas tiga, udah mau ujian nasional,” ucapku setengah berbisik. “Hah? Kenapa, Dis?” “Nggak usah ngajak Andaru,” ucapku lagi, namun sayangnya Bagas tidak sepemikiran denganku karena detik berikutnya dia sudah membuat grup chat yang isinya kami berenam. Termasuk Andaru dan Gerard. “Gue udah chat mereka dan mereka oke, kenapa lo bilang gitu?” Kalau begitu caranya, buat apa dia mengatakan ini semua padaku. Maksudku, pada akhirnya semua rencana ini dia yang buat dan dia sendiri yang menyusunnya, aku bahkan tidak bisa memberi pendapat apa pun. Emang dasar manusia tidak jelas! Terserah, deh, dia mau berbuat apa, aku bahkan sudah kehabisan energi untuk sekadar berkata-kata. “Terserah lo, deh, Gas.” *** Entah kenapa, di saat aku ingin santai waktu malah berjalan begitu cepat. Rapor semester sudah aku terima, meski dengan hasil yang pas-pasan. Ibu tidak marah sih, dia hanya sedikit ngomel karena aku lupa bayar uang kas kelas selama dua minggu terakhir. Maklum, aku sibuk belajar untuk remedial, mana sempat aku memikirkan uang kas? Dan hari ini, di pagi hari yang cerah ini, aku sudah berada di depan rumah Bagas untuk menunggu mobil jemputan. Ini adalah harinya, hari liburan yang sudah ditunggu-tunggu Bagas. Serius deh, sejak beberapa hari lalu, Bagas mendadak jadi manusia paling ribet di muka bumi. Sibuk ini-itu yang menurutku sama sekali tidak perlu. Padahal untuk transportasi Saga bilang ada mobil ayahnya yang bisa ia pakai. Aku juga sempat dapat masalah, sih. Bapak sempat tidak mengizinkanku pergi, tapi lagi-lagi si Bagas yang ambil repot. Dia berhasil merayu Bapakku! Entah cara apa yang dia pakai sampai Bapak bisa luluh dan akhirnya mengizinkanku pergi begitu saja. Karena ketika aku tanya, Bagas cuma senyam-senyum macam orang i***t. “Bagas!” panggilku sembari duduk di kursi depan rumah Bagas. Dan betapa terkejutnya aku melihat Bagas sudah membawa koper besar di tangannya. Dia sebenarnya mau nginap atau kabur dari rumah? “Lo bawa apaan segitu banyak?” tanyaku yang heran setengah mati dengan kelakuan Bagas. “Ini baju sama peralatan mandi, lo nggak usah protes, pangeran emang bawaannya banyak!” “Kita cuma mau nginap tiga hari dua malam, bukan sebulan. Dasar pangeran b***k!” Aku masih berdebat dengan Bagas, sampai tau-tau Tiara datang dengan penampilan heboh dan koper besar. Ternyata Bagas punya teman satu spesies. “Hello everybody!” ucapnya lebay. Astaga, mendadak aku sakit kepala. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala saat Bagas seketika punya pembelaan atas argumenku. Karena serius, barang bawaan Tiara jauh lebih banyak ketimbang bawaannya Bagas. Untungnya Andaru dan Gerard sudah tiba sebelum aku benar-benar collaps menghadapi dua makhluk alay di hadapanku. Rencana awal kami memang berkumpul di sini, selain supaya Andaru dan Gerard bisa nitip motor, perumahan kami memang tidak jauh dari pintu tol. Jadi, daripada bolak-balik ke rumah Saga, lebih baik kami menunggu di sini untuk kemudian dijemput Saga. Untungnya, mobil Saga tiba tak lama setelah kami berkumpul. “Udah kumpul semua?” tanya Saga tanpa perlu repot turun dari mobil. “Udah, langsung jalan aja,” ucapku sambil buru-buru masuk ke mobil dan duduk di samping kemudi. “Karena mobil ini cuma muat lima orang, jadi kita bagi dua aja. Di belakang ada mobil abang gue, jadi yang bawaannya banyak bisa ikut di mobil abang gue,” ucap Saga. Aku tidak peduli, yang penting bawaanku tidak banyak, dan semoga dengan begini aku bisa terpisah dari Bagas. Tapi sepertinya itu adalah hal yang paling mustahil, karena detik berikutnya Bagas sudah ribut sendiri. “Gue harus sama Ladis! Biar si Tia aja nih yang ikut mobil abang lo.” Bagas mulai protes, tapi aku sama sekali tidak mau ambil pusing. Pikiranku sudah cukup mumet hanya dengan melihat penampilan Bagas. “Gue ikut mobil abang lo aja, Ga,” ucap Gerard santai. “Oke, jadi yang ikut sama gue Bagas, Ladis sama Bang Daru ya, Tiara rempong sama Bang Gerard ikut mobil Bang Adam,” jelas Saga. “Dih siapa yang rempong?!” Sebelum dapat amukan Tiara, Saga buru-buru menunjuk pada mobil di belakangnya. “Tuh mobil abang gue, kalian langsung naik aja.” Setelah menaruh barang bawaan di mobil, dan memastikan sekali lagi bahwa tidak ada yang tertinggal, kami semua berangkat. Aku yang duduk di samping Saga, segera memejamkan mata begitu mobil mulai bergerak. Sengaja, supaya aku tidak perlu mendengar ocehan Bagas atau yang lebih parah, senandung tidak merdu dari mulut Sagara! Karena serius, mendengar Saga menyanyi rasanya seperti mendengar angsa dicekik. Bikin sakit telinga. Di kursi belakang, Andaru hanya diam saja. Tidak mengatakan apa pun, hanya menjawab ketika Bagas menanyakan sesuatu padanya. Entah apa yang terjadi pada cowok tidak jelas itu, aku tidak mau memikirkannya. Lagi pula ini, kan liburan, aku hanya akan memikirkan yang senang-senang saja.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN