Senjakala di sekolah memang yang paling indah, seindah kisah romansa di sekolah. Aku dan Tiara masih duduk berdampingan di kursi panjang koridor lantai dua, menyaksikan Bagas dan Kiara yang tengah berbincang di balkon.
Nama gadis kelas satu yang mengaku menyukai Bagas itu Kiara, atau dia lebih suka dipanggil Kia. Aku tidak begitu peduli, sih, tapi ini Bagas lagi ditembak cewek. Ini pertama kalinya ada cewek malang yang menyatakan perasaannya ke Bagas. Momen langka ini harus segera aku abadikan. Buru-buru aku mengeluarkan ponsel dan merekam sebuah video yang nantinya akan aku tunjukkan ke Mas Tama dan Kak Dika. Biar Bagas bisa jadi bahan ledekan selama seminggu.
Tidak lama, Kia pergi setelah sebelumnya Bagas mengacak rambutnya pelan. s****n memang, kalau mengacak rambutku Bagas selalu penuh penekanan sampai rambutku acak-acakan beneran, tapi apaan yang barusan itu? Malah terlihat seperti mengelus. Emang dasar buaya buntung, bisa-bisanya dia bersikap lembut begitu.
“Bagas bisa romantis juga ternyata,” ucap Tiara di sampingku.
“Kadal sawah emang kelakuannya begitu.”
“Yuk pulang!” ucap Bagas sembari menyeretku ke parkiran. “Balik duluan, Tia!”
“Pergi lo!”
Setelah puas meledek Tiara, Bagas kembali menarik tasku sampai ke parkiran. Kelakuannya itu sama sekali tidak bisa dimaklumi, memangnya aku ini kambing?!
“Bisa putus tas gue kalo lo tarik begitu!” omelku pada Bagas begitu kami tiba di parkiran.
“Yang penting hubungan kita nggak putus.”
“Dih! Eh gimana? Lo jadian ama Kia? Ciyeee.” Bagas tampak malu-malu mendengar ledekanku. Jijik, sih, tapi aku ikut senang kalau mereka benar jadian.
“Cemburu lo?”
“Amit-amit! Najisun!”
“C.I.E itu kependekan dari 'cause im envy, lo tau artinya, kan? Berarti lo cemburu,” ucap Bagas sotoy.
“Sotoy banget jadi anak! Yaudah, kalo gitu gue kasih selamat aja, deh. Seneng, kan, lo? Akhirnya ada juga yang naksir.”
“Selamat buat apaan? Emang siapa yang jadian?”
“Ya elo, lah, Bagas Danuartha yang b**o banget kayak beruk!” jawabku, mencoba sekuat tenaga untuk tidak naik pitam.
“Nggak ada yang jadian, gue maunya jadian sama lo,” ucapnya lempeng.
“Gue yang kagak mau jadian sama lo! Buruan lah, pengen pulang gue.”
“Yaudah, tapi nanti nikahnya sama gue, ya?”
“Ngarep.”
Aku tidak lagi menyahuti perkataan Bagas, karena serius, ngobrol sama Bagas itu hanya akan membuang-membuang energi. Jadi, daripada energiku yang berharga terbuang percuma hanya karena meladeni Bagas, lebih baik energi itu kusimpan untuk belajar nanti malam. Besok ada ujian matematika, paling tidak aku harus bisa menjawab dua puluh soal dengan benar. Sisanya aku bisa hitung kancing.
***
Kepalaku pusing!
Baru setengah jam aku belajar soal-soal matematika, tapi kepalaku rasanya seperti mau meledak. Kalau sudah begini, yang aku butuhkan hanyalah udara segar. Jadi aku memutuskan untuk keluar sebentar, sekarang juga masih jam tujuh malam dan harusnya masih banyak tukang jajanan di depan komplek.
Setelah bertemu dengan tukang cilok dan kawan-kawan, kepalaku yang tadinya pusing, mumet, pening tujuh keliling karena soal matematika, mulai terasa lebih baik. Aku memang hanya butuh makanan. Jadi, setelah membeli beberapa jajanan, aku duduk di kursi yang tak jauh dari gerobak penjual cilok. Ternyata malam ini cukup cerah, bahkan bulan bersinar terang ditemani temaram cahaya bintang. Yah, meskipun tidak terlalu jelas terlihat karena langit malam ini diselimuti kabut polusi, setidaknya aku bisa menenangkan pikiran.
Sampai sebuah motor yang entah ini milik siapa, berhenti tepat di hadapanku. Hingga si pemilik turun dari motor dan membuka helm, baru aku tahu kalau orang itu adalah Andaru. Aku sedikit kaget dan sebenarnya bingung juga, mau apa dia ke sini di jam segini.
“Tadinya gue mau ke rumah lo, tapi ternyata gue liat lo di sini,” ucapnya seolah tahu isi pikiranku.
“Mau ngapain ke rumah gue?”
“Gue mau minta maaf sama lo, harusnya lo nggak perlu mengalami ini semua kalau nggak ketemu sama gue. Gue benar-benar ngerasa bersalah sama lo, Dis,” ucapnya pelan.
“Udahlah, gue nggak mau bahas itu lagi. Semuanya udah lewat, nggak perlu dibahas lagi.”
“Tapi lo maafin gue, kan?”
Aku terdiam sesaat. Kenapa dia terus meminta maaf seperti ini, sih? Memangnya dia ada salah apa sama aku.
“Lo nggak salah, ngapain minta maaf.”
“Soalnya lo keliatan marah.”
Aku? Marah? Kapan?
Sumpah aku sama sekali tidak mengerti dengan semua yang keluar dari mulut cowok satu ini. Entah apa karena otakku yang eror karena habis belajar matematika atau memang kata-kata Andaru ini terlalu berbelit, aku masih belum bisa mencerna ucapannya sama sekali.
“Gue nggak pernah marah sama lo, kenapa lo bisa mikir kayak gitu?”
“Gue nggak sengaja dengar omongan lo waktu di kelas minggu lalu, dan chat gue juga belum lo balas,” ucapnya sambil tertunduk.
Astaga, ucapan yang mana?! Mendadak aku histeris, karena serius, aku beneran lupa!
“Lo bilang lo nggak akan pernah berurusan lagi sama orang macam gue, emang di mata lo gue ini orang macam apa, Dis?”
Tubuhku seketika membeku. Apa yang harus aku katakan sekarang?! Ya Tuhan! Kenapa aku harus terjebak dalam situasi semacam ini, sama Andaru pula!
Aku masih memikirkan jawaban apa yang tepat untuk saat ini, tapi lidahku bahkan tidak bisa aku gerakan. Ini semua terlalu tiba-tiba. Bahkan otakku masih belum mampu berpikir. Ayo Ladis, mikir, mikir!
“Ma-maaf.”
Dan akhirnya, hanya satu kata itu yang keluar dari mulutku. Saat ini rasanya aku ingin sekali membenturkan kepalaku ke gerobak abang cilok saking pusingnya. Padahal baru saja aku merasa santai dari soal-soal matematika yang super menyebalkan, dan sekarang datang lagi satu makhluk yang sukses membuatku kembali pusing tujuh keliling.
“Kenapa minta maaf?” Andaru menatapku dengan tatapan bingung.
Arghh! Aku juga tidak tahu!
“Gue bingung gimana ngejelasin situasinya, gue takut salah.”
Andaru hanya diam, tidak merespons ucapanku. Aku juga jadi ikutan diam. Tapi serius, diam-diaman di depan tukang cilok itu sama sekali tidak elite.
“Waktu itu gue cuma bingung gimana cara jelasin ke temen-temen sekelas gue. Gue cuma takut dimusuhi, meskipun cara gue salah, gue terlalu takut dibenci. Gue juga takut, kalau semua cewek-cewek fans lo bakal berkumpul buat mukulin gue. Pikiran gue nggak bisa fokus, ditambah hari ujian bikin pikiran gue terbagi. Gue benar-benar minta maaf.”
Aku tahu Andaru sedang menatapku sekarang, tapi serius, aku lebih memilih menatap sendal Mas Tama yang sekarang sedang kupakai.
“Lo nggak salah, Dis.”
“Di mata gue lo itu berandal, tukang berantem, biang masalah, cowok receh dan nggak jelas. Apa lo masih akan bilang gue nggak salah setelah lo tau apa penilaian gue terhadap lo?”
Andaru tidak menjawab, aku hanya mendengar dia terkekeh pelan padahal ucapanku sama sekali tidak ada lucu-lucunya.
“Ngapain ketawa? Gila lo?”
“Lo orang pertama yang berani blak-blakan begini di depan gue, makasih, Dis.”
“Apa lagi? Ngapain makasih?” tanyaku yang mulai kesal dengan sikap tidak jelas Andaru.
“Nggak tahu. Gue ngerasa ringan aja setelah ketemu dan ngobrol sama lo, kayak ada beban yang terangkat dari bahu gue.”
“Bagus kalau lo ngerasa lega, lo bisa cerita apa pun sama gue, asal nggak pake nempel-nempel. Terakhir lo nempel di pundak gue, hampir gue jadi sasaran cabe-cabean satu sekolah,” ucapku sembari mengunyah cilok yang mulai dingin.
Andaru tidak menjawab, dia hanya terkekeh sambil mengambil cilok milikku. Emang dasar rampok! Entah kenapa, mendengar Andaru bicara seperti itu, membuatku juga sedikit merasa lega. Meski bebanku masih terasa, setidaknya pikiranku jadi bisa lebih tenang.
***