Seminggu berlalu sejak kejadian tersebarnya foto diriku dan Andaru di forum angkatan. Ujian semester juga sudah dimulai dan sejak saat itu aku sama sekali belum bicara dengan Andaru. Jangankan bicara, bertemu saja tidak. Tepatnya, aku yang tidak mau bertemu dengannya. Entah ke mana hilangnya Andaru, karena aku sendiri sama sekali tidak mau memikirkannya. Urusan ujian semester sudah cukup bikin aku sakit kepala, Bagas juga masih jadi gangguan terbesar dalam hidupku, jadi aku tidak mau menambah beban pikiranku dengan memikirkan makhluk tidak jelas macam Andaru.
Sejak terakhir kali aku menyalakan ponsel, memang ada beberapa pesan dan juga panggilan telepon dari Andaru. Tapi aku sama sekali tidak mau membaca apalagi membalas pesan-pesan itu. Terakhir kali aku berurusan dengan yang namanya Andaru, tidak hanya berkilo-kilo telur yang membuat tubuhku babak belur, tapi satu sekolah jadi memperhatikan aku.
Aku hanya ingin jadi murid biasa yang bahkan keberadaannya saja tidak disadari orang-orang. Tapi mengapa yang datang di hadapanku malah manusia-manusia penuh masalah.
“Lo di sini, Dis?”
Aku benar-benar terkejut begitu menyadari tuan muda Gerard sudah duduk santai di mejaku. Ah, aku lupa kalau sekolahku akan mengacak tempat duduk semua siswa saat ujian semester. Murid kelas dua akan ditempatkan di ruangan yang sama dengan murid kelas satu atau kelas tiga, tidak ada yang tahu. Dan tahun ini, kelasku ditempatkan di ruangan 14 dan 15 yang berarti satu ruangan dengan kelasnya Gerard dan Andaru. Untungnya sejak tadi aku tidak melihat Iwan, jadi aku tidak perlu melakukan tindak k*******n.
Aku yang tadinya sedang membaca-baca LKS seketika mengangguk pelan. Sama sekali tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana, masalahnya yang ada di hadapanku sekarang itu Gerard, bukan Bagas. Jadi aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
“Soal postingan minggu lalu ... lo udah tahu siapa pelakunya?”
Sontak aku menatap Gerard, di pagi ujian yang menyebalkan ini, haruskah Gerard membahas permasalahan itu lagi? Kepalaku sudah cukup pening dengan materi ujian hari ini, dan Gerard malah membahas hal yang tidak mau aku pikirkan lagi.
Aku menggeleng pelan, sebelum kemudian menjawab, “gue nggak perlu tahu itu kerjaan siapa, yang penting sekarang postingannya udah nggak ada.”
Gerard mengangguk paham, kemudian mengatakan satu kalimat yang bikin aku tidak bisa berkata-kata.
“Lo punya pemikiran yang simpel, tapi sayangnya Daru sama sekali nggak berpikiran begitu,” ucapnya sambil bangkit dan berjalan santai keluar kelas.
Aku bahkan belum sempat bertanya apa maksud dari ucapannya barusan, tapi si tuan muda itu selalu saja bersikap seenaknya. Saat aku masih memikirkan perkataan Gerard barusan, si Bagas masuk ke ruanganku sembari membawa peralatan tempur, yaitu tempat pensil beserta isinya.
“Apa?” tanyaku sebelum Bagas mulai nyerocos tidak penting.
“Mau contekan nggak? Gue dapet dari kelas sebelah,” ucapnya sambil berbisik.
“Nggak minat. Mending lo pergi deh, gue mau belajar dulu mumpung belum bel masuk.” Aku mengibaskan tanganku di depan wajah Bagas, berusaha mengusirnya.
“Yakin nggak mau? Lumayan ini buat jaga-jaga aja.”
“Nggak, Gas. Gue nggak mau cari masalah.”
Bagas mengangguk mengerti, kalau sudah bersikap sok begini biasanya dia akan mengulurkan tangannya untuk mengacak rambutku dan mengucapkan kata-kata mutiara yang dia pungut dari Google. Tapi tepat sebelum hal itu terjadi, aku sudah menaruh LKS di kepalaku untuk menghalangi Bagas menyentuh rambutku.
“Semangat deh, gue mau boker dulu mumpung belum masuk,” ucap Bagas kelewat santai.
Ternyata tidak seperti dugaanku, si Bagas malah menarik hidungku kuat-kuat.
“Ah! Sakit! Dasar beruk!” teriakku kesal.
Dan bukannya merasa bersalah, bocah sableng itu malahan kiss bye di depan kelas. Emang dasar urat malunya sudah putus, atau memang Tuhan tidak menciptakan urat malu untuk Bagas. Entahlah aku tidak mau ambil pusing.
***
Hari-hari ujian masih berlangsung, Bagas juga masih sering mengacau di ruang ujian. Atau tepatnya selalu mengacau. Hampir setiap hari dia menggambar mural acak-acakan di ruang ujianku, yang pada akhirnya penghuni ruangan ini juga yang harus membersihkannya.
Kadang Gerard mengajakku ngobrol, tapi tidak lama, karena obrolanku dan Gerard paling hanya sebatas membicarakan soal ujian yang aneh-aneh dan tidak sesuai dengan kisi-kisi. Tapi rasanya ada yang aneh, karena aku merasa seperti ada yang memerhatikanku. Entah siapa orangnya, karena tiap kali aku berhasil menyadari keberadaannya, dia pasti sudah kabur duluan.
Mendadak aku jadi merinding sendiri.
“Maksudnya lo diikutin setan?” tanya Tiara ketika aku selesai menceritakan hal itu padanya.
“Tapi kayak orang, bukan setan. Mungkin stalker?”
“Tenang aja, ada Bagas! Cowok ganteng ini akan menjaga Ladis dari makhluk halus, setan, jin atau stalker, psikopat atau apa pun itu!” ucap Bagas sambil berdiri di kursi ruang ujianku.
“Turun! Jangan rusuh di sini!” ucapku sembari memukuli kaki Bagas pakai tempat pensil Tiara.
“Lagian lo ada-ada aja, Dis. Di sekolah mana ada yang begituan? Lo keseringan nonton film horor,” ucap Tiara santai.
“Betul! Mendingan sekarang kita pulang deh, laper gue!”
Tepat setelah Bagas mengatakan hal itu, seperti ada bayangan di balik jendela ruangan. Bel pulang memang sudah berbunyi sejak beberapa menit lalu, kebanyakan penghuni ruangan ini juga sudah pulang duluan jadi tidak banyak orang di sini. Buru-buru aku keluar kelas, mencari keberadaan sosok yang mengintip dari balik jendela barusan.
Tapi betapa terkejutnya aku saat yang kudapati adalah seorang gadis imut berambut pendek yang aku duga adalah siswi kelas satu. Penampilannya lucu, dia pakai jaket warna hijau tosca, dengan bando yang punya warna serupa. Kulitnya putih bersih, tubuhnya mungil dan punya wajah yang menggemaskan. Sebenarnya dia itu adik kelasku atau tuyul jenis baru, aku juga kurang paham.
“Lo yang tadi ngintip di jendela?” tanyaku sembari memegangi lengannya.
Ada sedikit rasa lega di hatiku, karena setidaknya yang menguntitku itu bukan setan. Tapi mau apa anak kelas satu menguntitku, bahkan aku juga tidak kenal dengannya. Sekilas aku sempat membaca sebaris nama di nametag yang ia gunakan, tapi nama itu masih terlalu asing buatku. Tak lama, Bagas dan Tiara mengikuti aku keluar, dan tepat setelah melihat wajah Bagas gadis itu hendak pergi lagi, tapi Bagas buru-buru memegangi lengannya.
“Lo siapa? Kenal sama Ladis?” tanya Bagas pelan, mungkin supaya gadis itu tidak takut.
“A–aku ... aku ... nggak kenal,” jawabnya terbata.
“Lo cari siapa? Kali aja kita bisa bantu cari,” ucapku, mencoba setenang mungkin supaya gadis ini juga tidak takut.
“Aku nggak cari siapa-siapa.” Dia menunduk dalam, mencoba menghindari tatapanku.
“Terus kenapa–“
“Aku ... suka Kak Bagas!”
“Hah?!”
“Apa?!”
***