Rumor

1090 Kata
Hari belum berakhir, sejak jam pelajaran kelima dimulai, sampai bel istirahat kedua berbunyi aku sama sekali tidak bisa tenang. Ini belum waktunya pulang, tapi rasanya aku mau menghilang saja. Seisi kelas masih menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku deskripsikan. Bisik-bisik bising juga mulai mengganggu pendengaranku. Tiara juga masih menuntut penjelasan sebab sejak tadi, aku sama sekali belum bicara. Setelah teriak di kelas, karena terkejut dengan foto yang ditunjukkan Tiara tadi, sebuah spidol yang dilempar Pak Cahyo sukses mengenai dahiku sampai ada benjolan besar di sana. Aku hanya tidak mau kalau aku bicara lagi, salah-salah penghapus atau meja guru yang dilempar ke wajahku. Ini semua berawal dari sebuah foto yang entah bagaimana bisa tersebar di forum angkatan. Foto yang memperlihatkan Andaru yang sedang menyandarkan kepalanya di bahuku. Entah siapa yang mengambil dan menyebarkan foto itu, tanpa tahu bahwa situasinya tidak seromantis yang mereka pikirkan. Bahuku mau patah, dan bisa-bisanya ada orang yang menyebarkan rumor kalau aku pacaran sama Andaru. Memikirkannya saja aku tidak mau. “Jadi?” tanya Tiara, langsung ke intinya. “Gue nggak ada apa-apa sama dia, sumpah! Ini cuma salah paham.” “Salah paham gimana?” “Duh, si Daru abis dipukulin, kepalanya pusing makanya dia nyender di bahu gue,” jelasku, mencoba jujur. “Dipukulin siapa?” “Itu ....” Aku tidak langsung menjawab, ini masalah yang cukup pribadi untuk aku ceritakan ke orang lain. “Ada, gue nggak tahu siapa orangnya. Daru nggak cerita,” ucapku berbohong, namun Tiara masih menatapku curiga. “Sumpah gue nggak ngapa-ngapain!” teriakku, cukup sampai seisi kelas mendengar. “Kalian semua percaya, kan, sama gue? Ini nggak seperti yang kalian pikirin, gue bahkan nggak mau berurusan sama orang macam dia. Serius!” ucapku lantang. Teman-teman sekelasku masih diam, sampai Ucup mewakili. “Gue percaya kok.” Dan hal itu cukup untuk membuatku merasa lega. Setidaknya ada satu orang yang mau percaya dengan ucapanku. Tatapanku kini beralih pada Tiara, dia masih terlihat ragu sebelum akhirnya menatapku tajam. “Gue juga percaya, tapi kalau memang lo pacaran sama Kak Galaksi, gue nggak mau dengar beritanya dari orang lain. Gue mau dengar dari lo langsung.” Aku mengangguk yakin, “Gue nggak akan terlibat dalam hal apa pun sama dia. Lo nggak perlu khawatir.” Suasana di kelasku sudah cukup kondusif, beberapa murid juga sudah keluar kelas untuk ke kantin, sampai si Bagas dan Saga, biang kerusuhan datang ke kelasku dengan ekspresi menyebalkan. Bagas dengan tampang kesal, sementara Saga malah senyum-senyum macam om-om c***l. “Foto apaan itu di forum angkatan?!” tanya Bagas langsung, tanpa tedeng aling-aling. “Itu emang benar foto gue sama Daru, tapi situasinya sama sekali nggak seperti apa yang dibilang di sana. Daru abis dipukulin orang, dia sakit dan babak belur, makanya butuh sandaran,” jelasku pelan. “Tapi lo nggak apa-apa, kan?” Aku mengangguk pelan, menjawab pertanyaan Bagas barusan. “Oh, iya, Saga, gue mau minta tolong, boleh?” “Apa, Dis?” “Lo kan anak OSIS, bisa tolong bantu gue hapus postingan itu?” tanyaku ragu. Saga belum menjawab, aku tidak tahu lagi harus meminta tolong kepada siapa. Setidaknya salah satu bagian dari organisasi sekolah pasti tahu akses masuk ke forum angkatan di sekolahku. Harusnya Saga tahu dan semoga dia mau menolongku. Karena aku masih takut untuk pergi dari sini. Bahkan aku belum berani keluar kelas saking takut kena labrak cabe-cabean fans Galaksi garis keras. “Gue coba ke ruang OSIS sekarang deh,” jawab Saga yakin. “Makasih banyak, Ga.” “Tenang aja, Dis, gue juga bakalan cari tahu siapa yang nyebarin berita itu.” “Gue ikut!” ucap Bagas penuh semangat. “Gue nggak perlu tahu siapa yang nyebarin foto dan rumor nggak berdasar itu. Asal fotonya dihapus dari Forum, itu udah lebih dari cukup.” Sagara mengangguk, sebelum akhirnya keluar dari kelasku diikuti Bagas. Lagi-lagi kepalaku dibikin pening. Ini hari apa, sih? Kenapa rasanya aku s**l banget hari ini. “Lo tenang aja, Dis, Saga pasti berhasil ngapus foto itu dari forum,” ucap Tiara pelan sembari menepuk pundakku. “Eh, kok?!” “Kenapa?” tanyaku yang bingung dengan kebingungan Tiara. “Fotonya udah nggak ada!” Aku ikut memperhatikan layar ponsel Tiara. Sudah tidak ada apa pun di sana. Sagara cepat sekali menghapus foto itu, aku tidak menyangka dia ternyata sehebat itu. Sampai tak lama, Sagara kembali ke kelasku bersama Bagas. “Makasih Saga–“ “Fotonya udah dihapus, sebelum gue sampai di ruang OSIS!” “Hah?!” *** “Gas, kayaknya besok gue mau bolos aja,” ucapku tanpa semangat. Sekarang aku dan Bagas sedang duduk bersandar di sofa ruang tamu rumahku sembari menyeruput s**u kotak dingin yang sebelumnya dibeli Bagas di warung. Hari ini terlalu banyak hal yang terjadi, dan sumpah, ini membuat hidupku begitu rumit. Bahkan lebih pelik ketimbang sinetron yang sudah tayang ratusan episode. “Terus lo mau lari dari masalah?” tanya Bagas tanpa nada. Sontak aku menoleh, menatap Bagas yang duduk di sampingku sembari melempar pandangan ke sembarang arah. Sesekali makhluk b***k itu menyedot s**u di tangannya, sesekali dia mencongkel kotoran di kuku jempol kakinya. Kelakuan yang sama sekali tidak manusiawi. “Kalau gue diserbu cabe-cabeannya Daru gimana?” “Ada gue, sih. Tenang aja.” “Tenang gigi lo jigongan! Mana bisa gue tenang?! Postingannya emang udah dihapus, tapi kan tetap aja orang-orang udah banyak yang lihat postingan itu. Belum lagi kalau ada yang screenshot, bisa gila gue, Gas!” “Lo nggak usah mikir yang aneh-aneh,” ucap Bagas kelewat santai. Baru saja aku mau menanggapi ucapan Bagas barusan, sampai tiba-tiba saja nada dering alay terdengar dari ponselnya. Bagas bicara serius di telepon, entah siapa yang meneleponnya. Namun tak lama dia kembali duduk di sampingku sambil meminum s**u miliknya. “Lo matiin ponsel?” tanyanya. “Iya, gue takut kena teror.” “Barusan Daru yang nelpon gue, katanya lo nggak usah khawatir, masalah ini udah dia beresin.” Bagas menarik sedotan s**u miliknya kemudian meremas kotak s**u itu. “Mungkin dia juga yang ngapus postingan itu tadi.” “Tapi tetap aja, Gas–“ “Emangnya dia ada masalah apa sampai butuh sandaran? Dia sakit? Kenapa nggak lo bawa ke UKS. Lo sendiri dulu yang bilang kalau nggak mau berurusan sama dia, tapi sekarang lo malah terlibat sama dia.” Aku diam, tidak tahu mau menjawab apa. Ucapan Bagas memukulku telak. Yang diucapkan Bagas memang seratus persen benar, aku yang salah dalam hal ini karena terlibat dengan orang macam Andaru. Kehidupanku sebagai murid biasa, sepertinya tidak akan sama lagi mulai sekarang.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN