Suasana pagi menjelang siang yang sangat tidak menyenangkan ini masih terus berlanjut. Harusnya aku bisa menikmati waktu istirahat-tanpa-Bagas ini dengan tenang dan damai, namun sepertinya harapanku sia-sia saja. Karena setelah lima menit berlalu, Andaru masih belum bicara apa pun dan masih bersandar pada pundakku. Sumpah, ya, dia itu tidak sadar atau memang b**o aku juga tidak mengerti, tapi sungguh, pundakku sudah mulai mati rasa.
Aku masih pura-pura sibuk main ponsel, sedangkan es teh manis yang aku pesan beberapa menit lalu sudah habis tak bersisa. Bahkan sampai es batunya pun sudah habis kutelan, tapi makhluk gembel ini malah dengan tidak tahu diri menempel seperti ini.
"Ru, pundak gue mulai mati rasa," ucapku pelan.
Namun sepertinya sia-sia saja karena Andaru masih tidak bergerak sama sekali. Atau jangan-jangan dia tewas?! Mendadak aku panik.
Aku tidak tahu apa yang kupikirkan, tapi pikiran gila yang baru saja terlintas dalam benakku membuatku justru refleks menggoyangkan tubuh Andaru yang sebelumnya sama sekali tidak bergerak. Kalau dia benar-benar tewas, aku tidak mau jadi tersangka pembunuhan. Aku belum siap masuk penjara, umurku masih tujuh belas tahun dan hutangku banyak!
"Daru! Lo nggak mati, kan?!" ucapku histeris sembari memukul-mukul pipi Andaru.
"Lo yang bakal bikin gue mati."
"Hah?!"
Apa katanya barusan? Buru-buru aku melepas cengkeramanku pada kerah seragam Andaru dan berhenti memukuli wajahnya. Ah serius, aku malu banget!
"Gu-gue kira lo mati."
"Untungnya lo Ladis," ucapnya sembari terkekeh pelan.
"Maksudnya?"
"Kalau orang lain, pasti situasinya bakal beda. Tapi untungnya yang duduk di samping gue sekarang itu lo, Ladis."
Aku terdiam selama beberapa detik, sementara otak kecilku yang penuh debu ini berusaha untuk berpikir. Sebenarnya apa maksud dari ucapan Andaru barusan? Sungguh aku sama sekali tidak mengerti.
"Gue nggak paham."
"Nggak perlu dipikirin. Dan juga, makasih, ya."
Aku mengangguk pelan. Kalau untuk yang satu itu aku paham. Keterlaluan sekali kalau dia tidak berterimakasih sementara pundakku rasanya mau copot.
"Dis," panggilnya pelan.
"Oy."
"Gue boleh cerita?"
Aku menatap wajah penuh lebam itu sekali lagi, sebelum akhirnya mengangguk yakin. "Kalau itu bisa buat lo lega, atau setidaknya bisa mengurangi beban pikiran lo, silakan."
Dia tersenyum samar, meski pada akhirnya malah meringis sendiri karena luka di ujung bibirnya. Mungkin terasa sakit, nyeri dan perih, entahlah aku tidak tahu bagaimana rasanya.
"Sebenernya gue sama Andrian tinggal terpisah sejak orang tua kami cerai waktu gue kelas satu SMP. Andrian tinggal sama nyokap, sedangkan gue tinggal sama bokap." Aku mengangguk pelan, memberikan perhatian penuh pada setiap cerita yang mengalir dari bibirnya.
"Andrian selalu dapat kasih sayang, sementara gue selalu dapat pukulan dari bokap. Tanpa ada alasan yang jelas, bokap selalu marah tiap liat gue. Katanya gue anak pembawa s**l, katanya gue anak setan. Sebenarnya yang ngelakuin ini sama gue adalah bapak gue sendiri, Dis. Gue masih bisa ngelawan kalau itu orang lain, tapi dia bapak gue sendiri, orang tua gue yang sudah seharusnya gue patuhi dan gue hormati.
"Kadang gue suka iri sama Andrian, tapi di lain sisi, gue juga merasa bersyukur karena adik gue nggak perlu menerima semua perlakuan ini. Gue nggak mau jadi kakak yang jahat. Tapi kenyataannya gue tetap jadi kakak yang buruk, karena gue masih berharap suatu saat posisi gue bisa ditukar sama Andrian."
Aki tidak tahu harus menjawab apa. Semua ini baru pertama kalinya aku dengar, dan langsung dari mulut Andaru pula. Aku tidak tahu kenapa dia menceritakan hal semacam ini padaku, tapi itu lebih baik ketimbang dia tidak menceritakannya sama sekali dan malah memendam semuanya sendirian.
"Lo nggak jahat, kok. Itu manusiawi. Tapi satu hal yang perlu lo tau, lo hebat karena nggak lari dari permasalahan ini. Gue salut sama lo."
"Thanks, Dis."
"Anytime."
"Kalau suatu saat gue butuh tempat cerita lagi, lo bersedia, kan, nampung cerita gue?" tanyanya pelan.
"Kalau gue nggak sibuk."
Dia hanya terkekeh, kemudian kembali meringis pelan. "Mending obatin dulu luka lo, atau mau ke rumah sakit aja? Lo itu pelajar, masa dateng ke sekolah babak belur gitu."
"Nanti gue obatin di UKS aja."
Aku mengangguk, meski masih canggung tapi setidaknya ada sedikit raut lega dari wajah Andaru. Sepertinya benang kusut di pikirannya sudah mulai terurai dan aku cukup senang akan hal itu.
***
Setelah mengantar Andaru dengan selamat sampai di UKS, aku meninggalkannya dan membiarkan petugas kesehatan di sana yang mengurusnya. Kalau di novel romantis, harusnya ada pemeran perempuan yang mengobati luka-luka itu dan adegan romantis pun dimulai. Tapi sayangnya, membayangkan hal itu sama Andaru sudah cukup bikin aku mual. Jadi daripada aku muntah di Koridor lebih baik kalau aku kembali ke kelas yang ramainya persis pusat primata ragunan.
Bagas sudah tidak ada di kelasku, kata Ucup dia diseret Saga kembali ke kelasnya untuk menyelesaikan tugas kelompok. Baguslah, jadi aku tidak perlu repot menjelaskan ke Bagas ngapain saja aku di toilet dari istirahat dimulai sampai bel masuk sudah berbunyi.
"Catat dulu jadwalnya," ucap Tiara yang sedang sibuk mencatat sesuatu.
"Foto aja ah, males nulis gue."
"Terserah." Tiara masih fokus pada catatannya yang ia hias sedemikian rupa.
Aku bergegas mengambil gambar papan tulis yang sebenarnya tulisannya tidak bisa aku baca dengan baik. Tulisan Ucup memang luar biasa sekali. Setelah menyimpan ponselku di dalam tas, pikiranku malah berkelana. Kalau dipikir-pikir, semua hal yang aku tahu tentang Andaru selalu menjadi kejutan. Setelah Andrian, ternyata Andaru masih punya kejutan lain yang sukses membuat kepalaku pening tujuh keliling.
Sebenarnya bukan tanggung jawabku memang untuk memikirkan masalah ini, hanya saja otakku yang kapasitasnya tidak seberapa ini terus-terusan memikirkan masalah itu. Bagaimana bisa seorang remaja menanggung beban fisik seberat itu. Apa Gerard tahu? Apa Andaru pernah menceritakan ini pada orang lain? Atau aku yang pertama?
Mendadak ada banyak pertanyaan yang melintas dalam benakku. Bagaimana aku harus menghadapi Andaru setelah ini. Entah mengapa aku malah pusing karena hal lain. Bahkan aku sama sekali tidak sadar kalau di depan kelas Pak Cahyo, guru Bahasa Indonesia yang baik dan budiman sedang cuap-cuap sendiri.
Sampai sebuah notifikasi di ponsel Tiara, sukses membuatku terkejut. Entah itu pesan berantai, atau teror kelas seperti yang sering aku lihat di film, karena sepertinya beberapa murid di kelas juga mendapat notifikasi seperti Tiara.
"Gila!"
Apa? Siapa yang gila?
"Anak-anak tolong tenang!"
Pak Cahyo mulai kehabisan kesabaran, sementara Tiara malah menatapku dengan tatapan horor. Apa? Memangnya aku genderuwo sampai harus ditatap begitu? Padahal, aku lebih mirip bidadari ketimbang makhluk halus jenis apa pun.
"Apa?"
"Nih liat."
"WHAT?!"
***