Tales of Galaksi

1045 Kata
Si Bagas masih heboh ribut-ribut di depan kelasku, sementara Ucup dan Tiara sedang sibuk menyalin sesuatu dari buku ke papan tulis. Rasanya hidupku tidak akan pernah tenang selama masih ada Bagas dan spesies sejenisnya seperti Ucup. Sungguh, melihat mereka ada di sekitarku saja sudah membuat kepalaku pening, dan sekarang sudah ada di ruangan yang sama. Jangan tanya betapa pusingnya aku, karena kalau boleh, aku pasti sudah berteriak atau memukuli kepala mereka satu persatu. Entah mengapa, rasanya waktu berjalan begitu cepat, karena sepertinya baru kemarin aku naik kelas dari kelas sepuluh ke kelas sebelas dan mendapat kebebasan dengan berpisah kelas dengan Bagas. Tapi minggu depan, ujian semester sudah akan diadakan. Yang sedang ditulis Tiara dan Ucup di papan tulis itu adalah jadwal ujian, dan yang diributkan Bagas adalah tulisan Ucup yang hampir mirip jejak kaki ayam. Bukan sih, itu lebih mirip jejak kaki bebek atau jejak kaki kura-kura. Entahlah! “Sumpah ya kelas kalian nggak ada sekretarisnya? Tulisan si Ucup kayak ceker bebek, mendaki gunung lewati lembah!” komentar Bagas tidak tahu diri. “Tolong ya, murid selundupan keluar dari kelas gue!” Ucup berteriak, bahkan tanpa sedikit pun mengalihkan atensinya dari papan tulis. “Anjim!” Sebelum Bagas menyambar Ucup dan bergulat di depan kelas, aku bergegas keluar. Kepalaku sudah pusing duluan bahkan sebelum ujian dimulai. Ini memang bukan ujian untuk kenaikan kelas, tapi nilaiku harus tetap baik. Setidaknya tidak lebih jelek dari semester lalu. Masa depanku harus terlihat lebih cerah daripada mukanya Bagas, jadi aku harus berusaha. “Ladis, mau ke mana?!” tanya Bagas dari dalam kelas. “Toilet, jangan ikut.” Aku menjawab cepat. Untungnya Bagas percaya begitu saja dengan ucapanku dan lanjut bergulat dengan Ucup. Aku itu sebenarnya anak baik, jujur, rajin menabung dan tidak laknat. Hanya saja, kelamaan berteman dengan Bagas membuatku jadi jago bohong. Harusnya Ibu tahu perihal ini, jadi beliau tidak perlu memaksaku untuk bersikap baik sama Bagas. Tapi aku mana berani menceritakan hal ini sama Ibu, yang ada belum apa-apa aku pasti sudah kena tabok sendal. Sebenarnya aku mau beli es teh di warung Bang Samsul, sekalian beli pulsa dan aku sedang tidak ingin diikuti Bagas. Aku hanya butuh sendiri dan menjauh dari sumber kebodohan dan bencana yang berasal dari manusia bernama Bagas. Jadi, dengan amat sangat terpaksa, aku harus berbohong pada Bagas. Tapi begini jauh lebih baik daripada harus diikuti Bagas plus kelakuan minusnya yang justru malah bikin aku sakit kepala. Aku terus melanjutkan langkahku, menyusuri lorong koridor sekolah yang lumayan ramai di jam istirahat seperti sekarang. Banyak yang berlalu lalang, berlarian, sampai bercocok tanam. Pemandangan absurd yang memang sudah lumrah ada di sekolahku. Begitu sampai, warung Bang Samsul rupanya tidak terlalu ramai. Karena biasanya jam istirahat pertama memang murid-murid lebih senang ke kantin, dan tempat ini akan ramai saat istirahat kedua. Jadi setidaknya aku bisa sedikit tenang dan menikmati waktuku tanpa ada gangguan yang berarti. Namun seseorang yang tiduran di bangku panjang depan warung Bang Samsul sukses menyita atensiku. Dia tiduran pakai pose sok keren ala karakter utama di anime kesukaan Bagas, dengan lengan yang menutupi separuh wajahnya. Baju acak-acakan, rambut acak-acakan, juga muka yang acak-acakan. Kalau ada gembel tiduran di sini, terus aku harus duduk di mana? “Woy, Mas! Jangan tiduran dong, gue mau duduk,” ucapku dengan tidak santai. “Jangan ganggu gue.” “Lah, posisi lo yang ganggu!” ucapku asal, sambil melanjutkan interaksiku dengan Bang Samsul. “Bang, beli pulsa, dong.” “Gue hitung sampai tiga, kalau lo nggak pergi abis lo sama gue,” ucapnya masih dengan posisi yang sama, dan tidak sedikit pun menatapku. “Nggak takut.” Setelah menuliskan nomer ponselku di buku lecek milik Bang Samsul, aku mengambil gorengan dan duduk asal di kursi panjang. “Sama es teh ya, Bang.” “Gila, ya?!” “Apa teriak-teriak? Makanya bangun, gue mau duduk,” ucapku santai sembari mempersilahkan Andaru duduk setelah sebelumnya aku duduki kakinya. “Ladis? Ngapain, sih?” “Lo yang ngapain? Gue mau duduk tau.” Aku memberi jeda sejenak sebelum kembali bertanya. “Muka lo kenapa?” Aku menatapnya lekat, wajahnya penuh lebam dan darah. Hal biasa harusnya untuk berandal selevel Andaru, hanya saja pemandangan itu membuat mulutku tanpa sadar malah bertanya. Dan detik berikutnya, aku malah menyesali kelancanganku. “Maaf, Dis, gue belum bisa jawab.” Andaru berucap pelan. Andaru kemudian tertunduk dalam, kedua tangannya saling bertautan sementara pandangannya menatap ke sembarang arah. Andaru yang biasanya terlihat garang dan menakutkan, kini malah terlihat begitu lemah dan seperti memikirkan sesuatu yang begitu berat. Aku juga tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan, dan kalau boleh jujur, tidak mau tahu juga, sih. Tapi melihatnya sampai seperti itu, sedikit membuatku kasihan padanya. Terutama melihat luka-luka yang terlihat menyakitkan itu. “Lo nggak perlu minta maaf, itu hak lo buat jawab atau nggak. Tapi lo yakin itu nggak perlu diobatin? Makasih, Bang,” ucapku sambil sekilas mengangguk pada Bang Samsul. Andaru hanya menggeleng pelan. Aku tidak tahu dia punya masalah apa, dan aku tidak mau tahu juga. Hanya saja, situasi canggung ini benar-benar tidak menyenangkan. Bahkan es teh manis ini sama sekali tidak terasa manis. Diam-diam, aku menatap Andaru yang masih menunduk. Tatapannya lurus mengarah pada kedua kakinya. “Lo mending ke rumah sakit, atau pulang aja sekalian. Percuma ke sekolah juga yang ada malah diinterogasi sama guru,” ucapku sambil berusaha bersikap tenang. Sampai tiba-tiba sesuatu yang berat sudah menempel di bahuku. Ini bukan beban hidup, dosa apalagi makhluk halus, tapi ini kepalanya Andaru. Entah kenapa bocah gila itu malah dengan seenaknya bersandar pada bahuku. Dia tidak sadar apa, kalau kepalanya itu seberat bola boling?! Sumpah, belum ada lima menit kepalanya menempel pada pundakku, rasanya sudah mati rasa. Mendadak aku histeris, tapi masih mencoba untuk tetap tenang sembari menyeruput es teh manis yang rasanya semakin aku seruput semakin hambar. Sepertinya Bang Samsul tidak niat waktu bikin es ini, karena serius, rasanya tidak enak. Aku curiga kalau Bang Samsul salah memasukan air kobokan ke dalam gelas es teh milikku. “Sebentar aja, Dis.” Andaru berbisik pelan dengan suara yang hampir menyamai embusan angin. Seketika aku merinding, jangan-jangan yang sedang menempeli pundakku sekarang itu setan, bukannya Andaru. Sambil merapalkan ayat kursi di dalam hati, aku melirik cowok gembel yang masih menempelkan kepalanya di bahuku itu. “Lo beneran Daru, kan?!”  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN