Aku masih bersenandung bahagia, mengabaikan Bagas yang sejak tadi juga sedang menyanyikan lagu aneh di atas motornya. Kedatangan Kak Dika memang sukses membuat suasana hatiku ataupun Bagas mendadak baik, bahkan Bagas sesekali menegur orang yang tidak dikenalnya di jalan. Biasanya aku akan marah dan memukuli pundak Bagas dari belakang, tapi kali ini tidak aku lakukan. Aku juga lagi senang, jadi aku biarkan saja si Bagas menggila hari ini.
Biar kuceritakan sedikit, Kak Dika itu teman kecil aku dan Bagas, meski kami bertemu bukan saat kecil juga, sih. Namanya Ramadika kenanga, kami pertama kali ketemu saat aku dan Bagas masih SMP. Umurnya hanya dua tahun lebih tua dariku dan Bagas, tapi dia punya tubuh mungil yang menggemaskan kalau kata Mas Tama. Dulu waktu pertama kali aku ketemu dengan Kak Dika, aku mengira kalau dia itu bocah SD saking gemasnya. Tapi ternyata bocah SD itu bahkan sudah pakai seragam putih Abu-Abu saat aku sendiri masih pakai putih-biru.
Kak Dika itu orang yang positif, semua orang yang ada di dekatnya pasti akan terkena energi positifnya juga, termasuk aku dan Bagas yang selalu kelewat bahagia kalau sudah ketemu Kak Dika. Rumahnya juga sebenarnya tidak terlalu jauh dengan rumahku atau Bagas, hanya saja Kak Dika sekarang sedang menempuh pendidikan di luar kota, jadi kami jarang ketemu dan main bareng.
“Gas, kita langsung ke rumahnya aja,” ucapku sambil menepuk-nepuk bahu Bagas.
“Oke!”
Baru saja motor Bagas hendak berbelok menuju rumah Kak Dika, orang yang amat sangat kami ingin temui itu malah sedang berjalan santai sembari memakan cimol. Entah bagaimana dia bisa dengan santainya berjalan sendiri, aku tidak mau memikirkannya karena aku dan Bagas sungguh sangat ingin cepat-cepat bertemu dengan Kak Dika.
“Kak Dika!”
Aku segera turun dari motor Bagas, setelah sebelumnya Bagas menghentikan motornya di sisi jalan. Tidak kusangka kalau kami akan bertemu di pinggir jalan seperti ini.
“Ladis, Bagas!”
Buru-buru aku berlari dan menghambur ke pelukan Kak Dika. Sungguh, aku sangat merindukannya. Dulu kami selalu main bareng, dan di antara Bagas dan Mas Tama, Kak Dika adalah yang paling mengerti aku. Mungkin karena kami sama-sama perempuan, jadi dia selalu membelaku saat Bagas atau Mas Tama mulai bertingkah menyebalkan.
“Ladis kangen banget!”
“Aku juga kangen kalian!”
Tanpa aku sadari, si Bagas juga ikutan memeluk Kak Dika, dan sungguh berpelukan macam teletubbies di pinggir jalan ini cukup memalukan. Sampai akhirnya, aku berdehem pelan, menatap wajah berseri Kak Dika yang sama sekali tidak berubah sejak aku SMP. Wajahnya masih imut dan cantik, kalau aku laki-laki, pasti aku sudah sangat menyukai Kak Dika.
“Kak, kita kasih kejutan ke Mas Tama!” ucapku bersemangat.
“Kejutan?”
“Mas Tama belum tau, kan, kalau Kakak pulang?” tanyaku lagi.
“Ini aku beli cimol titipannya Mas Tama, tadi udah ketemu.” Kak Dika terkekeh pelan, sementara aku dan Bagas menghela napas berat. Kecewa.
“Ah nggak seru!”
Biar aku ceritakan sedikit lagi. Sebenarnya, aku dan Bagas sudah tahu kalau Kak Dika itu menyukai Mas Tama. Meski tidak pernah mengatakannya pada kami, jelas sekali kalau Kak Dika itu menyukai Mas Tama. Dari caranya menatap, sampai mau-maunya disuruh beli cimol seperti ini. Entah apa yang dia suka dari si manusia gua itu, tapi aku juga tidak bisa melarang atau ikut campur untuk urusan ini, jadi lebih baik hal ini aku serahkan sepenuhnya pada Kak Dika.
Akhirnya, setelah melepas kangen dengan Kak Dika, aku pulang dengan berjalan kaki. Dan si b**o Bagas, juga ikut-ikutan jalan bareng sambil mendorong motornya. Padahal, kan, dia bisa pulang dulu dan menaruh motornya dulu, baru ke rumahku. Tapi bukan Bagas namanya kalau tidak melakukan hal yang tidak berguna. Jadi aku biarkan saja, terserah bocah sableng itu mau berbuat apa.
“Kakak berapa lama di sini?” tanyaku sembari menggandeng lengan Kak Dika.
“Selama liburan, paling tiga minggu.”
Aku mengangguk girang. Tiga minggu waktu yang cukup untuk menghabiskan waktu bersama. Meskipun aku masih harus sekolah, tapi setidaknya pulang sekolah dan akhir pekan kami masih bisa main bareng seperti dulu. Membayangkannya saja aku sudah senang sekali.
“Nanti kita main ya, Kak!” ucapku bersemangat seraya menggandeng lengan Kak Dika.
“Kalian udah SMA tapi masih aja main terus,” omel Kak Dika.
“Kan jarang kalau main sama Kakak.”
“Ladis nggak jago main game, Kak!”
Buru-buru aku menggeplak kepala Bagas pakai helm. Untungnya Bagas sendiri belum melepas helmnya, kalau tidak kepalanya pasti sudah benjol. Aku kembali menggandeng lengan Kak Dika, mencoba bernostalgia dengan kenangan membahagiakan yang tercipta di antara kami. Punya satu kakak laki-laki yang kelakuannya kayak setan, sudah sukses bikin aku hampir gila. Tapi dengan keberadaan Kak Dika, setidaknya aku bisa merasakan kasih sayang seorang kakak yang sesungguhnya.
***
Sejak kedatangan Kak Dika, aku jadi jarang di rumah setiap pulang sekolah. Kegiatan baruku yaitu main di rumah Kak Dika sampai malam. Ibu tidak mengomel, Bapak juga tidak komentar hanya Mas Tama yang ribut sendiri persis emak-emak di sinetron.
“Gila, ya? Main di rumah orang sampai jam segini? Lo nggak ada kerjaan emang?!” omelnya begitu aku sampai di rumah.
Sekilas aku melirik jam dinding yang seolah menertawakanku. Ini baru jam delapan malam, bahkan sinetron kesukaan Ibu belum tayang di televisi! Mungkin Mas Tama lagi kesambet.
“Baru jam delapan, masih ada waktu buat bikin tugas,” jawabku santai.
“Jangan dibiasain main di rumah orang sampe malem, nggak sopan.”
“Dih, mainnya ke rumah Kak Dika. Bukan orang lain.” Aku masih menjawab, tanpa menyadari tatapan Mas Tama yang mulai berubah menakutkan.
“Nurut kalau dibilangin.”
Setelahnya dia masuk kamar, dan menutup pintu keras-keras. Mendadak aku merinding. Kalau lagi dalam mode setan, Mas Tama bisa lebih menyeramkan dibanding penampakan macam apa pun. Jadi aku memilih diam, masuk ke kamar dan mulai mengerjakan tugas sembari ditemani suara sinetron dari ruang tengah yang sedang ditonton Ibu. Aku yakin sebentar lagi Bapak akan keluar, mengambil remote dan mematikan televisi.
Hidup Mas Tama bahkan sudah lebih ribet dari sinetron, harusnya Ibu menonton kelakuannya saja ketimbang sinetron di televisi. Padahal aku juga tahu kalau Mas Tama suka sama Kak Dika, tapi dia pura-pura. Aku juga tidak mengerti kenapa sikap Mas Tama persis bocah SD yang baru suka sama cewek, tapi aku biarkan saja. Malas rasanya mengurusi abangku yang kelakuannya minus begitu. Biarkan saja dia dan kelakuan anehnya.
***